Wonderful Indonesia
HM Nazir Karim Ketua MUI Riau
Bermanfaat
Rabu, 21 Juni 2017 - 10:55 WIB > Dibaca 3968 kali Print | Komentar
Bermanfaat
RIAUPOS.CO - Tujuan puasa adalah mencapai ketakwaan. Ketakwaan adalah memelihara diri dari segala yang membahayakan dan menyengsarakan hi­dup, dengan melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Ketakwaan dapat dipandang sebagai ukuran derajat kemanusiaan manusia. Semakin tinggi ketakwaan seseorang, semakin tinggi derajat kemanusiaannya.

Ketakwaan dalam arti sebenarnya mencerminkan bukan hanya ketakwaan pribadi, tetapi juga ketakwaan yang mampu melahirkan kebajikan komunitas, yang berguna bagi orang banyak.

Dapat dikatakan bahwa manusia yang mulia di mata Allah adalah manusia yang bermanfaat bagi dirinya dan orang banyak. Orang yang tidak bermanfaat bagi orang banyak bukan orang saleh dan bukan pula orang bertakwa.

Manfaat bagi orang banyak adalah ukuran atau bukti kebaikan, yang sekaligus adalah ukuran ketakwaan dan kesalehan. Rasulullah SAW mengatakan bahwa manusia yang paling baik adalah yang paling bermanfaat bagi orang banyak. Tetapi harus diingat bahwa semua perbuatan yang dilakukan untuk kesalehan harus disertai dengan niat untuk mengabdi kepada Tuhan. Jika suatu perbuatan tidak disertai niat untuk mengabdi kepada Tuhan, akan timbul godaan kuat untuk pamer diri (riya’).

Puasa yang berhasil mencapai tujuannya, yaitu ketakwaan, melahirkan sifat-sifat terpuji seperti kejujuran, kesabaran, ketabahan, kepedulian sosial, kedermawanan, kasih sayang, keramahan, dan toleransi. Puasa yang lebih tinggi kualitasnya bukan hanya menahan diri dari perbuatan yang membatalkannya, tetapi juga menahan diri dari perbuatan-perbuatan tercela seperti: berbohong, menipu, memfitnah, bergunjing, mendengar yang tidak bermanfaat, melakukan kekerasan, menghina, dan mencaci-maki.  

Pesan takwa dalam puasa ini perlu dipahami di tengah gejala menguatnya sentimen di kalangan barat terhadap Islam. Bahwa Islam adalah musuh Barat pascakeruntuhan komunisme di Eropa Timur. Jauh masa sebelum keruntuhan komunisme, sentimen permusuhan itu sebenarnya juga telah ada, tetapi penguatan sentimen itu belum mendapat tempat, sebab ketika komunisme masih berdiri kokoh, barat mempunyai dua musuh, Islam dan komunisme.
Graha Pena Riau Space for Rent
KOMENTAR
Berita Update
NEYMAR JR
Sakit, Diragukan Tampil di Le Classique
Minggu, 25 Februari 2018 - 14:53 wib
Puskesmas dan RS Harus Ramah Anak

Puskesmas dan RS Harus Ramah Anak
Minggu, 25 Februari 2018 - 14:51 wib

Taman Alam Mayang Sejuk dan Asri
Minggu, 25 Februari 2018 - 14:00 wib
GUNA HINDARI PERCERAIAN
Perlunya Bimbingan Menjaga Ketahanan Keluarga
Minggu, 25 Februari 2018 - 13:52 wib

Juni, Cak Imin Putuskan Maju Cawapres
Minggu, 25 Februari 2018 - 13:48 wib
Mobil ’’Presiden’’ Dipecah, Uang dan Laptop Raib

Mobil ’’Presiden’’ Dipecah, Uang dan Laptop Raib
Minggu, 25 Februari 2018 - 12:49 wib
ALAMAK
Bertemu Mantan, Antar ke Butik Kebaya
Minggu, 25 Februari 2018 - 12:44 wib
MASUK WILAYAH TARGET BRG
70 Ha Lahan Gambut di Dumai Terbakar
Minggu, 25 Februari 2018 - 12:43 wib

Taman Bunga Pinggiran Sungai
Minggu, 25 Februari 2018 - 12:39 wib
KOMUNITAS PILOT DRONE RIAU
Wadah Edukasi dan Berbagi Informasi
Minggu, 25 Februari 2018 - 12:35 wib
Cari Berita
Petuah Ramadhan Terbaru
Syamsuar: Tadi Saya Gambar Pohon Durian

Jumat, 12 Januari 2018 - 16:54 WIB

Riau Pos Dukung Wujudkan Pekanbaru Smart City

Jumat, 06 Oktober 2017 - 10:44 WIB

Jalan Menuju Takwa

Jumat, 23 Juni 2017 - 06:44 WIB

Membingkai Persatuan

Kamis, 22 Juni 2017 - 10:26 WIB

Bupati Inhil Ajak Bersinergi Bangun Daerah

Kamis, 22 Juni 2017 - 09:35 WIB

sumatranet
Sagang Online
loading...
Follow Us