Wonderful Indonesia
Ceramah Ustaz Amir
Tersedu
Kamis, 15 Juni 2017 - 10:03 WIB > Dibaca 3328 kali Print | Komentar
Berita Terkait

Mari Kembali pada Alquran



PEKANBARU (RIAUPOS.CO)Berkali-kali Mak Joyah mengusap air matanya. Sarung sembahyang yang dikenakannya berkali-kali di bolak-balekkan, ia mencari yang kering. Sementara ibu-ibu di sampingnya juga sibuk sendiri. Rat-rata menangis, terharu. Ceramah Ustaz Amir di malam Nuzul Quran itu memang sangat menyentuh. Tidak hanya menceritakan bagaimana Alquran diturunkan, tapi juga bagaimana seharusnya mengalamkan Alquran.

Hal yang paling menyentuh hati Mak Joyah ketika ustaz Amir menyinggung kewajiban salat dan berbakti kepada orangtua. Mak Joyah langsung terbayang Abah dan Maknya yang sudah lama meninggal. Terbayang kakak dan adeknya yang jauh di mata. Sebagian di kampung halaman, Meranti Bunting, sebagian lagi  menyebar jauh-jauh. Bahkan ade yang di negara lain. Lame memang sudah tak kumpul dengan sanak keluarga.

Tangis Mak Joyah semakin menjadi-jadi ketika ustaz menyampaikan hal-hal yang seharusnya atau kewajiban yang mesti dibuat seorang anak ketika orangtuanya masih hidup. Itu betul yang tidak bisa lakukan Mak Joyah. Begitu menikah dengan Wak Atan, ia langsung meninggalkan kampung halaman, pergi Merantau dan lama tinggal di Balai Karimun, Kepri. Bahkan ketika ibunya sakit parah, ia juga tidak bisa merawatnya.

‘’Ya Allah, ampunkanlah saye. Tak sempat saye berbakti banyak pade Mak dan Abah.’’ Mak Joyah bicara sendiri. Sedannya makin kuat. Kain sarung yang dipakainya lembab oleh air mata.

‘’Sudahlah tu Mak Joyah, tak elok menangisi orangtua yangs sudah tidak ada. Doakan saja agar mereka tenang di surga Allah.’’ Lela, jemaah masjid lain yang juga tinggal satu RT dengan Mak Joyah, menenangkan Mak Joyah yang sudah mulai tidak bisa mengontrol kesedihannya.

‘’Iye, Lela. Tapi sedih betol ceramah ustaz ni, Lela. Aampun saya, saye memang tak banyak berbuat untuk Mak dan Abah saye. Saye menyesal, menyesal Lela..’’

Mak Joyah merebahkan kepalanya ke pangkuan Lela. Tangisnya semakin kuat. Tersedu-sedu macam anak kecil. Ibu-ibu lain di masjid malam itu terkejut. Semuenya melihat ke arah Mak Joyah.

‘’Eh  kenapa Mak Joyah. Mak Joyah tu kenapa. Mengapa dia nangis seperti itu?’’ tanya seorang ibu yang duduk agak jauh dari Lela dan Mak Joyah.

‘’Tak apa, dia hanya sedih saja mendengar ceramah ustaz. Teringat ayah dan ibnya,’’ kata Lela kepada jamaah masjid lainnya. Ibu-ibu itu ada yang maklulm. Tapi ada juga yang berbisik-bisik sambil meneggelengkan kepala dan menganggap Mak Joyah berlebihan.

‘’Mak Joyah, sudahlah tu. Malu dengan ibu-ibu yang lain. Malu juga pada anak-anak. Lihat tu, mereka semuanya melihat Mak Joyah. Lihatlah.’’

Mak Joyah bangun dari rebahnya. Alangkah terkejutnya dia. Anak-anak sudah duduk di sekelilingnya. Sambil mengusap air mata, Mak Joyah meminta anak-anak itu pergi.

‘’Eisss sane.. saneee.. ngape pulak berkerumun macam niiii. Budaaak.. budak.’’ Mak Joyah duduk seperti biasa. Matanyaa terlihat sembab. Setelah berkali-kali menyuruh pergi, anak-anak itu meninggalkan dirinya jauh-jauh dan duduk di tempat semula.

Ceramah agama oleh Ustaz Amir masih berlangsung. Mak Joyah juga mulai tenang. Ia menyimak satu persatu apa yang disampaikan ustaz. Kepalanya mengangguk-angguk serius. Kadang ia juga istigfar dan bertakbir sebagai tanda ingat dengan apa yang disampaikan ustaz. Kadang pula tersenyum sendiri kalau ustaz menyampaikan hal-hal lucu sebagai bumbu dalam ceramahnya.

Menjelang akhir ceramah, terdengar suara orang-orang sedang mempersiapkan konsumsi. Terdengar juga suara piring yang sedang disusun. Pertanda ceramah sudah akan berakhir. Dan benar, tak lama kemudian, ustaz menutup ceramahnya.

‘’Alhamdulillah. Sedaaaap ceramah ustaz malam ni ye, Lela,’’ kata Mak Joyah kepada Lela.

‘Ustaz Amir ini memang terkenal Mak Joyah. Biasanya ia ceramah di masjid-masjid besar. Selalunya di Majid raya. Beruntung kita malam ni datang karena ustaznya beliau itu,’’ jawab Lela pula.

Sambil berbincang-bincang, Lela dan Mak Joyah kemudian menikmati kue dan teh yang dihidangkan panitia. Kue itulah yang dibawa jamaah dari rumah, termasuk kue yang dibeli Wak Atan, buah melaka. Tapi, tak satu pun ada kue melaka di antara piring-piring itu. Penasaran dengan kue yang dibawanya tadi, Mak Joyah masih mencari ke sana kemari. Matanya memandangi semua piring yang terjangaku oleh pandangannya. Hal itu sempat membuat menarik perhatian Lela.

‘’Tadi saye bawa buah melaka, tapi macam tak ade. Mungkin di sebelah jamaah lelaki,’’ Mak Joyah menjelaskan kue yang dibawanya kepada Lela sebelum Lela sendiri mengeluarkan pertanyaan. Lela pun tak menjawab, dan keduanya kembali menikmati kue-kue itu sambil berbincang.i.(bersambung)
Graha Pena Riau Space for Rent
KOMENTAR
Berita Update
DIRILIS PASCA-KECELAKAAN
Serunya Game Tiang Listrik, Sesulit KPK Tangkap Setya Novanto
Sabtu, 18 November 2017 - 21:00 wib
MENUJU USIA 40 TAHUN
BPJS TK Gelar Pasar Murah dan Donor Darah
Sabtu, 18 November 2017 - 21:00 wib
PEMENANG HADIAH CENDERUNG MENOLAK
Uang Sayembara Tangkap Setnov Akhirnya Disumbangkan
Sabtu, 18 November 2017 - 20:45 wib
KKB DIPUKUL MUNDUR
TNI-Polri Banjir Pujian usai Berhasil Bebaskan Sandera di Papua
Sabtu, 18 November 2017 - 20:30 wib
SUDAH DITETAPKAN SEBAGAI TERSANGKA KPK
Politikus Golkar Ini Sebut Setnov Sebenarnya Sudah Siap Ditahan, tapi...
Sabtu, 18 November 2017 - 20:00 wib
MASIH DALAM PERAWATAN RSCM
Tahun Politik, Setya Novanto Diramalkan Kena Penyakit Berat Ini
Sabtu, 18 November 2017 - 19:00 wib
DUKUNGAN KE JOKOWI TERANCAM BATAL
Kata Pengamat, JK Berpotensi Capres jika Jadi Ketum Golkar
Sabtu, 18 November 2017 - 18:30 wib
TERKAIT KASUS E-KTP
Ketika Citra NTT dan DPR Tercoreng karena Sikap Setya Novanto
Sabtu, 18 November 2017 - 18:00 wib
BERSIKAP KOOPERATIF DALAM PEMERIKSAAN
Sopir Setya Novanto Resmi Dibebaskan, tapi...
Sabtu, 18 November 2017 - 17:50 wib
MINTA KPK TAK BERIKAN IZIN
Pengamat: Setnov Cuma Benjol, Tak Perlu Dibawa ke Singapura
Sabtu, 18 November 2017 - 17:40 wib
Cari Berita
Liputan Khusus Terbaru
Harus Dimulai dari Sekarang

Minggu, 01 Oktober 2017 - 13:54 WIB

Organik Masa Depan Dunia Pertanian

Minggu, 01 Oktober 2017 - 12:49 WIB

Baja Sahabat Alam

Minggu, 01 Oktober 2017 - 12:40 WIB

Terganjal karena Kepentingan?

Minggu, 24 September 2017 - 11:22 WIB

 Tidak Ada Intimidasi

Minggu, 24 September 2017 - 11:18 WIB

sumatranet
Sagang Online
loading...
Follow Us