Wonderful Indonesia
KOLOM ALINEA
Komik dan Pesan Moral
Minggu, 11 Juni 2017 - 00:55 WIB > Dibaca 1795 kali Print | Komentar
Komik dan Pesan Moral
Oleh Marlina

Komik merupakan salah satu alternatif bacaan yang menarik buat anak. Bacaan ini memiliki keunikan tersendiri dibanding jenis bacaan lainnya. Tampil dengan deretan gambar dalam kotak-kotak kecil dan dilengkapi sedikit tulisan yang ditempatkan dalam balon-balon. Gambar yang ditampilkan dalam komik sebenarnya sudah “berbicara” dan memiliki alur cerita. Oleh sebab itu, gambar dalam komik memang harus dibuat semenarik mungkin untuk mengikat pembaca.

Komik memiliki kesamaan dengan film animasi, yakni sama-sama menampilkan gambar-gambar secara berurutan. Bahkan ada yang mengatakan, film animasi adalah komik yang difilmkan. Kenyataannya memang banyak ditemukan komik yang dianimasikan dan ditampilkan di layar televisi sebagai film animasi (film kartun). Sebut saja Doraemon, Crayon Sinchan, Sponge Bob, Tom and Jerry, Kapten Tsubasa, dan sebagainya. Dan kita tahu, bahwa pada umumnya anak-anak memang menyukai film animasi karena tampilan gambarnya yang menarik. Begitu juga halnya dengan komik, sebagian besar anak-anak bahkan sampai orang dewasa menyukai komik.

Menurut Nurgiyantoro, komik dikategorikan sebagai salah satu genre sastra anak. Genre sastra anak tentu berbeda dengan genre sastra orang dewasa, terutama dalam hal penggunaan gambar. Pada sastra anak, unsur gambar masih sangat dominan sehingga wajar pada buku bacaan anak sering terdapat gambar yang bertujuan untuk menarik minat baca anak. Buku bacaan yang hanya terdiri dari tulisan demi tulisan, seperti halnya buku bacaan orang dewasa, tentu akan membosankan bagi anak.

Sebagai  salah satu genre sastra anak, di dalam komik bisa dimasukkan pesan-pesan moral yang ingin disampaikan pada anak. Meski sejak awal kemunculannya, komik identik dengan hal-hal yang santai dan lucu, tetapi tidak tertutup kemungkinan untuk memasukkan pesan-pesan moral tersebut ke dalam komik. Hal ini sejalan dengan hakikat sastra yang selain memberikan kesenangan dan hiburan juga memberikan pemahaman tentang kehidupan. Komik sebagai salah satu genre sastra anak tentu bisa melakukan hal yang sama, memberikan pemahaman yang lebih baik tentang kehidupan.

Seperti jenis sastra lainnya, komik dapat bercerita tentang apa saja. Temanya dari yang masuk akal sampai yang tidak masuk akal (bagi orang dewasa). Akan tetapi, bagi anak-anak, semua bisa diterima oleh akal mereka. Contohnya, tokoh-tokoh binatang yang bisa berbicara, tokoh nenek sihir yang bisa melakukan apapun, ataupun kisah tentang peri baik hati yang memiliki kekuatan untuk membantu semua orang. Imajinasi dan daya pikir seorang anak bisa menerima semua itu, bahkan mereka menyukainya.

Namun sayangnya, jika komik-komik yang berasal dari mancanegara bisa begitu  digemari oleh anak-anak di seluruh dunia dan juga oleh anak-anak di Indonesia, komik karya dalam negeri tidak pernah bisa sukses menarik hati pembaca anak bangsanya sendiri. Anak-anak lebih kenal komik Doraemon, Crayon Sinchan, Sponge Bob, Tom and Jerry, Dragon Ball, dan Kung Fu Boy ketimbang komik-komik Indonesia seperti “Paman Kikuk” (cerita bergambar pada majalah Bobo), “Serial Jodi”, “Panji Koming”, “Komik Legenda” (Kids Fantasi), “Giga, Monika, dan Nelson” (Kompas Minggu), dan komik-komik KKPK (Kecil-Kecil Punya Karya).

Akan tetapi, tokoh komik karya anak negeri mungkin tidak sekuat tokoh-tokoh di dalam komik yang berasal dari mancanegara tersebut. Belum ada komik karya negeri sendiri yang bisa menyamai kepopuleran Dragon Ball, Kung Fu Boy, Doraemon, Donal Bebek, dan sebagainya itu. Padahal, komik-komik yang berasal dari luar tersebut belum tentu memiliki nilai-nilai kebaikan yang bisa dijadikan sebagai teladan bagi anak-anak Indonesia yang membacanya.

Salah satu contoh adalah komik Crayon Sinchan. Komik dari negeri sakura ini mengundang kontroversial. Banyak yang menganggap komik dengan tokoh utama Sinchan ini, tidak layak untuk anak-anak. Tokoh Sinchan tampil sebagai anak yang usil dan nakal, yang terkadang juga bisa bersikap seperti layaknya orang dewasa. Dikuatirkan sikap dan perilaku Sinchan akan dicontoh oleh anak-anak, meski semua itu dikemas dengan kata-kata dan situasi yang lucu dan mengundang tawa. 

Menurut Nurgiyantoro, biografi seorang tokoh juga bisa ditulis dalam bentuk komik. Jadi, komik tidak terbatas pada tema-tema yang bersifat fiktif saja, tetapi bisa juga untuk tema-tema yang ilmiah. Biografi seorang tokoh tentu akan lebih menarik dan tidak membosankan bagi anak jika ditulis dalam bentuk komik. Selain tidak membutuhkan waktu lama untuk membacanya, anak juga terhindar dari rasa jenuh dan bosan. Tokoh-tokoh dunia telah banyak yang ditulis ke dalam bentuk komik, seperti Sidharta Gautama, Isaac Newton, Napoleon Bonaparte, Alfred Bernard Nobel, Thomas Edison, Mahatma Gandhi, Albert Einstein, dan lain-lain. Di Indonesia telah ditulis biografi mantan presiden RI, Gus Dur, dalam bentuk komik yang ditulis oleh Prasetya dan Edi Jatmiko.

Seperti hakikat sastra yang juga memberikan ilmu pengetahuan, selain sebagai hiburan dan memberikan pemahaman tentang nilai-nilai kehidupan, komik juga dapat berupa informasi tentang ilmu pengetahuan. Kompas Minggu pernah menampilkan komik yang berisi informasi dan ilmu pengetahuan bagi anak seperti “Pintar Bersama Ceko”. Walau pendek, komik ini menampilkan cerita dan uraian ilmiah yang mengandung informasi yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari bagi anak.

Begitu banyak pilihan bacaan bagi anak, begitu banyak juga pilihan komik yang bisa dibaca oleh anak. Akan tetapi, tidak semua bahan bacaan dan buku komik layak dan baik untuk  anak. Apa yang dibaca dan disimak oleh anak tentu akan berpengaruh pada sikap dan pola pikir mereka. Oleh sebab itu, orang tua sebaiknya jeli dan hati-hati dalam memilihkan bacaan bagi anak, termasuk komik. Untuk anak, pilih dan pilah yang terbaik demi masa depan yang cemerlang.***

Marlina adalah peneliti sastra di Balai Bahasa Riau.

Graha Pena Riau Space for Rent
KOMENTAR
Berita Update
DAPAT PERHATIAN KHUSUS
Tak Ingin Ada Konflik di Pemilu 2019, Kapolri Ambil Langkah Ini
Jumat, 19 Oktober 2017 - 21:00 wib
UNTUK NAIKKAN ELEKTABILITAS
Isu Pribumi Harus Terus Dimainkan Anies? Ini Penjelasan Pengamat
Jumat, 19 Oktober 2017 - 20:45 wib
MASUKI TAHUN POLITIK
Pengamat Ungkap Tiga Tokoh yang Berpeluang Bertarung di Pilpres 2019
Jumat, 19 Oktober 2017 - 20:30 wib
MASUKI TAHUN POLITIK
Fahri Tantang Prabowo Segera Deklarasi Sebagai Capres, Alasannya...
Jumat, 19 Oktober 2017 - 20:15 wib
SAMBUT BAIK USAHA PEMBERANTASAN KORUPSI
Terkait Pembentukan Densus Tipikor, Begini Sikap MUI
Jumat, 19 Oktober 2017 - 20:00 wib
MASA JABATAN BERAKHIR
Akhir Tahun Ini, KPK Kembalikan Dua Penyidik dari Polri
Jumat, 19 Oktober 2017 - 19:30 wib
SOAL ISTILAH PRIBUMI
Mabes Polri Pastikan Kaji Semua Laporan Terkait Pidato Anies
Jumat, 19 Oktober 2017 - 19:20 wib
PASCA-PEMBUBARAN
HTI Jelaskan Khilafah di DPR karena Merasa Dizalimi Pemerintah
Jumat, 19 Oktober 2017 - 19:10 wib
UNTUK SATU POSTINGAN INSTAGRAM
Soal Endorse Rp100 Juta, Syahrini Akui Hanya Bercanda
Jumat, 19 Oktober 2017 - 19:00 wib
PILPRES 2019
Saingi Jokowi, Apa yang Sudah Diperbuat Prabowo?
Jumat, 19 Oktober 2017 - 18:45 wib
Cari Berita
Kebudayaan Terbaru
Pertunjukan Budaya Meriahkan Pelantikan Pengurus Pamor Riau
Gubri Dijadwalkan Hadiri Haul 100 Tahun Ma’rifat Mardjani
Istri Pangkostrad Kagumi  Oleh-oleh Khas Riau

Rabu, 11 Oktober 2017 - 10:26 WIB

Ratusan Seniman Gelar Aksi untuk Rohingya

Jumat, 06 Oktober 2017 - 10:01 WIB

Kerajinan Khas Daerah Terus Dipopulerkan

Minggu, 01 Oktober 2017 - 12:50 WIB

sumatranet
Sagang Online
loading...
Follow Us
Populer hari ini