Wonderful Indonesia
CERPEN DEVI EKA
Wanita yang Memeluk Lautan Teduh
Minggu, 11 Juni 2017 - 00:01 WIB > Dibaca 1654 kali Print | Komentar
Wanita yang Memeluk Lautan Teduh
Berita Terkait



“Mamak! Daeng Sira kena bom!” Ided berteriak dari pintu depan.

Astaga, cepat-cepat kutinggalkan kupasan kerang hijauku. Dari jauh kulihat orang kampung sudah ramai berkumpul di Puskesmas pulau. Aku bergegas turun dari rumah mengikuti Ided yang berlari ke keramaian.

“Mati?” Murni rupanya di belakangku.

“Tidak tahu, belum kulihat. Ayo, Mur.” Kugandeng tangan Murni lebih cepat menyusur paving block ke Puskesmas yang tinggal beberapa langkah lagi. Siang itu terik dan jalanan semen ini panas bukan main. Tapi dalam keadaan begini orang-orang pulau tak peduli bertelanjang kaki. Bukan kejadian sekali dua kali nelayan celaka kena bom ikan, sudah berpuluh-puluh kali dan kami hanya menunggu kabar mati.

Terdengar suara teriakan Daeng Sira kesakitan dari dalam ruangan. Aku tidak bisa membayangkan apa yang sedang terjadi. Entah bagian tubuh yang mana yang pecah, entah apa sedang dijahit menjadi satu lagi di dalam sana atau dilepas satu persatu sampai bersih. Dari kaca jendela kulihat Jul, si perawat keluar-masuk ruangan beberapa kali dengan noda berwarna merah kental di seragam putih-putihnya.

“Kena tangan. Waktu dilempar, meledak.” Jamal memberitahuku. Rupanya ia berada di kerumunan itu pula. “Untung botol minuman bekas pakai. Kalau besar, habis itu,” tambahnya.
“Di mana?” Murni bertanya penasaran pada Jamal.

“Di sana, Karang Luara. Sebelah Pulau Karanrang,” sahut Jamal sambil mengulurkan lengan buntungnya ke arah lautan.

Murni menoleh ke arah utara. Raut wajahnya mencoba memetakan lokasi yang Jamal katakan.
“Mana kau tahu, Mur. Pergi ke luar Pulau Samatel saja kau tidak pernah.” Jawabanku mengagetkan Murni yang tengah berpetualang dengan peta di awang-awangnya. Jamal terkekeh melihat Murni.

“Karena aku tidak tahu, maka aku bertanya,” jawab Murni membela diri sambil mencubit lengan Jamal keras-keras.

Aku, Murni, dan Jamal memang seperti keluarga dekat. Meski pulau ini sempit, yang dari ujung ke ujung hanya sepelemparan batu, tapi Murni dan Jamal hampir setiap hari berkunjung ke rumah kayu milikku yang kecil. Jamal kadang-kadang datang membawakan seikat ikan, cumi-cumi, atau keranjang bambu kecil berisi udang. Murni lebih sering datang membantuku mengupas kerang hijau dan bermain dengan Ided di teras panggung. Murni kehilangan bapak dan dua kakak laki-lakinya tujuh tahun lalu. Bom itu meledak di lambung kapal saat dibawa.

Kapal kayu itu jebol, lalu tenggelam bersama semua penumpang di atasnya. Sedang si Jamal menjadi duda ditinggal istrinya lari, pulang ke daratan karena tak kuasa menanggung malu bersuami cacat. Bom meledak di tangan Jamal sesaat hendak dilempar. Kini, ia tidak lincah lagi memegang kemudi kapal, tidak bisa menarik jaring cepat, dan tidak bisa memancing cumi-cumi sendiri. Sehari-hari Jamal membantu Mamak Murni mengurusi ikan-ikan kering untuk dikirim.

Tidak hanya kami, masih banyak nelayan yang sudah menjadi korban. Tapi, di pulau ini seolah tidak ada yang belajar dari kehilangan kami. Pupuk-pupuk itu masih saja berdatangan dengan kapal dari daratan.

“Mamak!” Ided tiba-tiba sudah ada di sampingku. Sepertinya ia tadi berusaha melihat ke dalam dari jendela sisi barat bangunan Puskesmas.

“Apa, Nak?” Kuusap rambutnya yang kemerahan terpapar matahari. Lalu kugendong pulang. Dagunya yang kecil bergerak-gerak di pundak kiriku. “Apa, Nak? Bilang apa maumu?” Kutepuk-tepuk pelan punggungnya.

“Kata Om Jamal, bapak juga kena bom?” Ia diam sejenak, lalu bertanya lagi, “Tapi, kenapa Daeng Sira tidak pergi?”

Tak terasa mendung di mataku lekas berubah menjadi gerimis. Kuusap rambut Ided, lalu turun ke punggungnya pelan-pelan. Ided menegakkan punggungnya dalam gendonganku, jarinya memainkan cincin emas yang menjadi mata kalung di dadaku. Sulit menjaga Ided untuk tidak mendengar cerita kematian bapaknya di pulau ini, meski berkali-kali kuceritakan tentang bapaknya yang pergi berlayar ke lautan teduh di timur. Nalar kecilnya berusaha memahami dengan mengkait-kaitkan tentang cerita yang ia dengar dari orang dan dariku, ibunya. Logika tersambung. Baginya, jika orang kena bom ikan maka orang itu akan pergi ke lautan teduh di mana bapaknya juga pergi.

“Kau rindu bapakmu-kah, Ded?”


Graha Pena Riau Space for Rent
KOMENTAR
Berita Update
TERKAIT ISU PEMBANGUNAN APARTEMEN
RJA DPR di Kalibata Ternyata Berhantu, tapi...
Rabu, 23 Agustus 2017 - 21:00 wib
TARGETKAN TUNTAS PADA MASA SIDANG INI
Pembahasan Perppu Ormas Akan Dipercepat Komisi II DPR, Alasannya...
Rabu, 23 Agustus 2017 - 20:45 wib
DINILAI BERTANGGUNG JAWAB PENUH
Pansus Angket KPK Didesak Panggil Jokowi ke DPR
Rabu, 23 Agustus 2017 - 20:30 wib
TERKAIT ISU PEMBANGUNAN APARTEMEN
Hanya untuk Kalangan Dewan, Staf Ternyata Tak Boleh Tempati RJA DPR
Rabu, 23 Agustus 2017 - 20:15 wib
DIDATANGI BRPD DAN DITLANTAS
Soal Tunggakan Pajak Mobil Mewah, Begini Klarifikasi Raffi Ahmad
Rabu, 23 Agustus 2017 - 20:00 wib
LA LIGA SPANYOL
Di Maria Gabung Barcelona? Ternyata Ulah Hacker
Rabu, 23 Agustus 2017 - 19:48 wib
SEMPAT DIWACANAKAN SEBELUMNYA
Pengamat: Anggota DPR Seperti Menghina Rakyat jika Jadi Buat Apartemen
Rabu, 23 Agustus 2017 - 19:41 wib
TERUS DIBURU TIM BARESKRIM POLRI
Buronan Korupsi Aset Pertamina Ini Masuk Daftar Cekal Imigrasi
Rabu, 23 Agustus 2017 - 19:37 wib
PERMENHUB DICABUT MA
Organda Khawatir Angkutan Konvensional dan Online Kembali Bergejolak
Rabu, 23 Agustus 2017 - 19:33 wib
PASCA-PENANGKAPAN TARMIZI
Empat Panitera Ini Pernah Terjaring OTT KPK, Berikut Daftarnya
Rabu, 23 Agustus 2017 - 19:27 wib
Cari Berita
Kebudayaan Terbaru
Pesan dalam Liuk Tubuh

Minggu, 20 Agustus 2017 - 13:17 WIB

Perkenalkan Budaya  untuk Jaga Persatuan

Minggu, 20 Agustus 2017 - 11:55 WIB

Afrizal, Modernitas dan Kecemasan

Minggu, 20 Agustus 2017 - 11:46 WIB

Rasa Merdeka

Minggu, 20 Agustus 2017 - 11:30 WIB

Tradisi Masyarakat  Warnai Pelepasan JCH

Minggu, 20 Agustus 2017 - 11:16 WIB

sumatranet
Ranggi Riau Pos
loading...
Follow Us