Wonderful Indonesia
PERISA YUSMAR YUSUF
Marawi
Minggu, 04 Juni 2017 - 01:19 WIB > Dibaca 1318 kali Print | Komentar

SEBUAH kota molek, tergeletak di pinggir danau berawan. Kota muslim di pegunungan menawan, dan dia menamai diri sebagai Marawi. Kota ini berada di titik tengah pulau Mindanao yang berbudaya (bahasa) Maguindanao. Marawi adalah pusat dan benteng peradaban Maguindanao-muslim. Di sini berdiri universitas dengan mengambil nama pulau itu sendiri; Mindanao State University. Benteng peradaban ini punya kampus utama di kota Marawi. Terbaring di sebuah punggung gunung nan sejuk, di kepung pohon-pohon tropis rimbun dalam tegakan menjulang. Sebuah kampus nan cantik dan ideal kala dialamatkan dengan makna leksikon kampus (campus) itu sendiri. Marawi adalah sebuah ibukota Provinsi. Nah, coba bandingkan dengan kita. Tak satu pun  ibukota Provinsi dibangun di pinggir danau di Indonesia.  Semuanya menjauh dari danau.

Terkenang akan Marawi, saya teringat pada posisi Takengon yang bertengger di tepi danau Laut Tawar. Namun Takengon hanya setingkat ibukota Kabupaten. Bukan Provinsi.  Marawi seakan sadar sebagai kota pedalaman yang menjadi ‘laci’ penyimpan, perawat tradisi dan peradaban tinggi bangsa Maguindanao, maka dia dengan bangga berada di wilayah yang terpencil, di kawasan pegunungan, jauh dari fenomena maritim. Namun, konsekuensi dari pedalaman itu sendiri, dia bisa menjadi basis “peliaran’ ideologi dan penamanan doktrin yang tak biak di tanah-tanah bergemuruh seperti laiknya negeri dan kota-kota di tepi pantai yang dengan mudah muai diserbu oleh serangkaian perbuatan metropolitanisme.

Kota-kota pinggir pantai Mindanao bagian utara itu yang besar dan bergemuruh secara pasar dan maritim antara lain, Cagayan de Oro yang memiliki teluk menekuk berbenteng gunung. Bahkan, uniknya bandar udara Cagayan de Oro terletak di atas gunung. Untuk menuju pusat kota dan pelabuhan, kita meluncur turun dari gunung setelah melewati penerbangan jarak terdekat dari Cebu City yang berada di bagian tengah kepulauan Filipino itu. Dari Cagayan de Oro, kita bisa menuju Marawi melalui jalur melingkar sepanjang pantai menusuk sebuah kota maritim yang dihiasi puncak menara gereja sepanjang pantai bernama Iligan City. Dari kota Iligan inilah ditarik garis lurus menuju kawasan pegunungan mengarah ke selatan dalam jarak rengkuh 5 jam perjalanan darat, kita menuju arah kota Marawi. Saya berkesempatan hadir dalam sebuah majelis persidangan (seminar) tentang “discovery of our roots” (mencari akar Melayu) pada 1996 silam, di MSU (Mindanao State University) yang dibuka langsung oleh Rektor yang juga seorang perempuan berilmu dan berwibawa. Pada malam hari, rombongan seminar diperkenalkan dengan seorang Senator asal Marawi yang berkantor di Manila.

Marawi adalah kota lembut dan menawan. Tiada kekerasan yang dibangun dalam tradisi orang-orang pegunungan tepi danau di kawasan tengah pulau Mindanao ini. Marawi adalah juwita Melayu di pulau Mindanao. Mereka seakan sudah terbiasa dan terbuka dengan keragaman sebagai produk Tuhan ini. Pembangunan MSU (universitas) itu sendiri menandakan bahwa tanah lembut bernama Marawi itu adalah sebuah tapak tanah perundingan dan perjumpaan dengan sejumlah hal yang serba lain dan siap dengan serangkaian dialog. Memang, walau dalam kondisi damai 1996-1997, wilayah ini terasa mencekam, karena tarik-menarik politik antara Manila dengan kawasan Mindanao. Dan Marawi adalah satu juru kunci perdamaian itu. Sebab, bagi orang di pulau Mindanao, ada anggapan awam, bahwa telah terjadi migrasi besar-besaran orang Luzon  (utara) dan orang Cebuano (tengah) membangun kota-kota baru di pinggang-pinggang pantai Mindanao; sebut saja misalnya kota yang besar di selatan; Davao City dan Zamboanga City. Di kota-kota ini jumlah populasi muslim amat kecil, karena tak berimbang dengan migran dari utara dan tengah Filipina. Begitu juga halnya dengan kota Cagayan de Oro dan Iligan yang bertengger di pantai utara Minadanao.

Marawi 2017; jelang ramadhan kita dikejutkan oleh tragedi berdarah dan pemberlakuan darurat militer. Kota yang terbaring mengikuti kotur gunung tepi danau ini menjadi perhatian dunia. Di sini berlangsung sejumlah kekerasan dan penekuk peradaban. Sebuah garis waktu peradaban yang terinterupsi dan diringkus oleh kekerasan dan pengepungan. Tak sedikit dari warga kota ini harus mengungsi, dan tak sedikit pula yang menjadi tawanan. Marawi berubah menjadi Mosul di negeri tropis. Sebagian besar wilayah kota ini sudah dikuasai oleh lawan politik yang membawa klaim agama dan sentimen keagamaan. Di tanah Mindanao, bukan hal baru tentang sentimen ini, namun kali ini, jadi kian mencekam ketika dia berlangsung di sebuah kota yang redup, sebuah kota yang menyandang prediket benteng peradaban Maguindanao (ditandai kehadiran universitas besar) dengan keperkasaan kajian Islam modern. Kenapa Marawi menjadi titik didih yang mengkhawatirkan? Karena dari Marawi ini bisa membangun efek domino ke wilayah lain di Asia Tenggara. Dia bukan lagi sebuah perang dengan alasan melepaskan diri dari kekuasaan Manila, namun dia menjadi katalis (pengungkit) kekerasan regional yang berdampak menggetar pada negeri-negeri jiran, tak terkecuali Indonesia. Wilayah yang terdekat dengan Mindanao ini adalah Sulawesi (Utara).

Kita yang merindukan damai, adalah sekumpulan manusia yang menjahit benang damai dengan rasa yang damai pula. Ketika memetik “kembang” damai hasil  dari penanaman benih kekerasan, maka kedamaian itu akan berpembawaan semu. Kita yang mengimpikan damai di tanah ini, hanya bisa memetik ranumnya damai, lewat jalan dialogis yang serba damai dan berkeadaban. Ketika damai dipetik dari  darah, maka damai ini sendiri akan berisi ‘kesumat’ dan dendam tentang darah yang tumpah. Dan, darah yang tumpah adalah sebuah persaksian tentang kehilangan dan sejumlah kehilangan yang tak dirindukan oleh setiap peradaban. Kehilangan bagi peradaban hanya bisa ‘diterima’ oleh karena “kehendak alam”; tersebab alam yang menyergah, alam yang memuntah, alam yang menggulung, alam yang menampar dan menempeleng. Namun, bukan oleh sebuah paksaan di atas meja-meja politik-kekuasaan,  apatah lagi, meja kekuasaan-ekonomi. Dan Marawi tengah didera oleh  tekanan dan kekerasan dari beragam penjuru angin. Yang cedera dan teringkus itu siapa? Ya, tetap saja warga sipil yang tak tahu menahu tentang politik global, tentang politik regional. Kekerasan apapun yang terbangun, dia akan bermuara pada perbuatan perang: Sebuah tindakan yang tak mudah dimengerti kenapa memulai, dan bagaimana menyudahi. Saya kutip ucapan seorang ahli strategi Vo Nguyen Giap: kalaupun kita terpaksa berperang, tujuan utamanya bukanlah membunuh orang, tetapi memenangkan perdamaian pasca perang (not to kill people but to win the postwar peace). Marawi tengah meratap...***
   

Graha Pena Riau Space for Rent
KOMENTAR
Berita Update
PEKANBARU
DAK BOKB Riau 2018 Capai Rp51,8 Miliar
Kamis, 14 Desember 2017 - 09:13 wib

Pretzel, si Kue Gurih Manis Asal Eropa
Kamis, 14 Desember 2017 - 09:12 wib

STMIK Hang Tuah-Multimatics Jalin MoU
Kamis, 14 Desember 2017 - 09:09 wib

RESEP PRETZEL RUMAHAN
Kamis, 14 Desember 2017 - 09:06 wib

OSIS SMAN 12 Pekanbaru Taja Lomba Antar Kelas
Kamis, 14 Desember 2017 - 09:05 wib
SEMPAT DIRAWAT DI RUMAH SAKIT
AM Fatwa Pagi Tadi Wafat
Kamis, 14 Desember 2017 - 07:53 wib
YANG KENA PECAT DIREHABILITASI
Airlangga Beri Jabatan pada Kader yang Dicopot Setya Novanto
Kamis, 14 Desember 2017 - 01:12 wib
GANTIKAN SETYA NOVANTO
Rabu Tengah Malam, Airlangga Hartarto Ditetapkan Jadi Ketua Umum Golkar
Kamis, 14 Desember 2017 - 00:55 wib
BERPOTENSI MEMBERIKAN ANCAMAN
Sabtu Lusa Ada Asteroid Bergerak Mendekati Bumi
Kamis, 14 Desember 2017 - 00:32 wib
SIGRA DI POSISI TERATAS
Jelang Tutup Tahun, Daihatsu Jual Mobil 173.353 Unit
Kamis, 14 Desember 2017 - 00:12 wib
Cari Berita
Kebudayaan Terbaru
Dari Pekan Rantau Melayu di Hotel Sri Indrayani

Senin, 11 Desember 2017 - 09:55 WIB

Jefri Antoni Beri Motivasi Umat untuk Bangun Masjid

Senin, 11 Desember 2017 - 09:29 WIB

Riset dan Proses Kreatif

Minggu, 10 Desember 2017 - 19:48 WIB

Kostum Tiara Tembus Enam Besar  Miss Ambasador

Minggu, 10 Desember 2017 - 19:40 WIB

Tiga Hari Mengenal Melayu

Jumat, 08 Desember 2017 - 09:40 WIB

sumatranet
Sagang Online
loading...
Follow Us