Wonderful Indonesia
KOTA PEKANBARU
HARI INI LANGIT MENDUNG
Jumat, 02 Juni 2017 - 10:03 WIB > Dibaca 4174 kali Print | Komentar
HARI INI LANGIT MENDUNG
RIAUPOS.CO - Hari ini langit mendung. Hampir tiga hari belakangan, Kota Pekanbaru memang dilanda hujan. Kalau tidak siang, malam. Meski mendung, bahkan rintik gerimis mulai turun siang ini, Wak Atan tetap bersiap untuk pergi jalan-jalan. Kaos oblong putih dan celana kain hitam, itulah pakaian kesukaan Wak Atan kalau pergi berjalan. Tak ketinggalan kupiah hitam yang sudah hampir berwarna coklat. Dengan cepat ia mengambil kupiah yang terletak di atas televise tersebut.

‘’Cepat Joyah, hari dah nak hujan. Lambat siket, habeslah kene hujan kite, ni,’’ seri Wak Atan sambil berulang kali melihat ke luar rumah.

‘’Tunggulah sekejap, bang. Sabar. Joyah belum siap lagi,’’ jawab Mak Joyah dari dalam kamar.

‘’Usah cantik-cantik betol. Bedak tipis aje. Kite kan nak cari angina dekat-dekat sini aje sambil menunggu petang.’’

‘’Eh, kalau cantik kan bini abang juge.’’

Sambil menunggu Mak Joyah, Wak Atan membaca buku doa-doa yang memang tak dipindahkannya dari meja tamu. Setiap hari, buku itulah yang dibaca. Macam-macam. Doa tolak bala, sampai menghafal surah-surah dalam Alquran. Kadang Wak Atan membaca dengan suara lembut, bahkan tak terdengar. Kadang-kadang dengan suara sangat keras, lebih keras dari suara orang mengaji dalam radio yang diputar di masjid-masjid.

‘’Nak kemane, Bah. Bukan main harum lagi.’’ Tiba-tiba Awang keluar dari kamarnya sambuk menggaruk-geruk kepala dan menguap lebar. Masih lusuh. Sejak pagi, Awang memang belum ada keluar rumah. Padahal jam di dinding sudah hampir menunjukkan pukul 14.30 WIB.

‘’Tak ade, nak cari angina kejap,’’ jawab Wak Atan tanpa melihat wajah Awang.

‘’Mane mak, tak pergi?’’

‘’Tengah besolek. Dah setengah jam dah Abah nunggu. Tak siap-siap.’’

Melihat Ayahnya sibuk membaca doa-doa, Awang pun duduk di kursi sambil membaca Koran. Awalnya malas, tapi kemudian Awang berteriak Histeris. Wak Atan pun ikut terkejut bukan main.

‘’Eiss.. pembunuhan? Ini dekat rumah kite ni, Bah. Gang sebelah sane tu, ha. Ngape pulak ade suami sampai hati membunuh istri. Dibuang pulak di belakang ruko. O, sebab selingkuh. Alahmaak. Ape pulak puase-puase ini ade kejadian macam ni.’’

‘’Wang, bace betol-betol. Tengok baik-baik. Itu Koran lame. Dah sebulan lalu dah. Dikau ni, naseb baik tak lepas jantung Abah tadi.’’

‘’Joyah dah siap. Mari kite pergi.’’ Tiba-tiba pulak Mak Joyah memukul bahu Wak Atan dari belakang. Wak Atan langsung berjingkat. Terkejut bukan kepalang.

‘’Eh siap.. eh mari, mari.. pergi!’’ Latah Wak Atan keluar seketika. Semakin terkejut Wak Atan ketika melihat gaya Mak Joyah yang luar biasa. Bedak tebal. Bibir merah. Alis melengkung seperti arit. Kipas di tangan kanan, tas di tangan kiri. Kacamata hitam yang tak tanggung, tergantung di baju bagian depan.

‘’Astagfirullah Joyah. Melebeh-lebeh gaya dikau ni, Joyah. Tengok tu. Alis, bibir, kacemate…Ya Allaaaah…’’ Wak Atan tak sanggup berkata-kata lagi.

‘’Tak apelah, bang. Santai. Enjoy. Di luar kan panas, sebab tu lah Joyah bawa kipas dan kacama hitam. Cantek Joyah macam ni kan, bang?’’ Mak Joyah sibuk memutar-mutar badannya yang gemuk. Wak Atan semakin tak dapat bicara apa-apa.

‘’Wang, pergi dikau dengan Mak. Ni, ambek kunci Honda. Cari angin sampai dapat, sampai puas. Bawa Mak dikau pusing-pusing. Jika perlu transmart sane, tu.’’ Tiba-tiba Wak Atan menyerahkan kunci sepedamotor kepada Awang. Awang yang tertawa terkekeh-kekeh melihat gaya Mak Joyah, langsung terdiam.

‘’Eh, ngape pulak Awang, bah. Awang belom lagi mandi. Belum ganti baju. Tak nak lah.’’

‘’Pergi. Usah banyak cakap dikau. Abah tak sanggup pergi. Sakit punggung abah melihat kelaku mak dikau, ni.’’

‘’Apelah abang, ni. Joyah ni cume nak cantek saje, bang. Kalau cantek, kana bang yang senang, abang yang bangga. Tak usahlah marah merajuk macam tu, bang.’’ Mak Joyah dengan sigap mengambil kunci motor dari tangan Awang dan menyerahkan kepada Wak Atan lagi.

‘’Aku tak nak pergi, fahaaam!!!’’ Wak Atan mendekatkan mulutnya ke telinga Mak Joyah. Suaranya keras, setengah berteriak. Lalu ia pergi ke arah dapur. Mak Joyah dan Awang same-same terdiam.(bersambung)
Graha Pena Riau Space for Rent
KOMENTAR
Berita Update
TERKAIT KASUS E-KTP
Ada Politik "Belah Bambu" dalam Kasus Novanto, Ini Penjelasan Pengacara
Minggu, 16 Desember 2017 - 21:00 wib
TAHU ALIRAN DANA
Gawat, Status Tersangka e-KTP Mengancam Nyawa Setya Novanto
Minggu, 16 Desember 2017 - 20:30 wib
BANYAK PIHAK TERLIBAT
Bongkar Korupsi e-KTP, Setnov Didoakan Dapat Hidayah
Minggu, 16 Desember 2017 - 20:00 wib
TERJADI DI TIGA PROVINSI DI JAWA
Pantau Gempa Tanpa Tidur, Jokowi Bersyukur Tak Ada Tsunami
Minggu, 16 Desember 2017 - 19:30 wib
DIGELAR BESOK
Aksi Bela Palestina, Polisi Terjunkan Pasukan Asmaul Husna
Minggu, 16 Desember 2017 - 19:00 wib
DILAKUKAN LEWAT FACEBOOK
Hukuman 6 Tahun Bui Mulai Mengancam Dokter yang Hina Jokowi
Minggu, 16 Desember 2017 - 18:00 wib
TERKAIT KASUS E-KTP
Novanto Diminta "Bernyanyi" agar Tak Sendirian di Penjara
Minggu, 16 Desember 2017 - 17:50 wib
TERKAIT KASUS E-KTP
Setnov Jadi Tersangka, Golkar Sengaja Dijatuhkan di Pilpres 2019?
Minggu, 16 Desember 2017 - 17:40 wib
TERKAIT KASUS E-KTP
Wow, Setya Novanto Dianggap Seorang Negarawan, Ini Alasannya
Minggu, 16 Desember 2017 - 17:30 wib
TERMASUK FASILITAS UMUM
Dahsyatnya Gempa Tasikmalaya hingga Robohkan 23 Rumah
Minggu, 16 Desember 2017 - 17:20 wib
Cari Berita
Feature Terbaru
Pesan Wawako, Jangan Lupa Jaga Kebersihan

Jumat, 01 Desember 2017 - 09:04 WIB

Takjub Keindahan Baiturrahman

Selasa, 28 November 2017 - 12:08 WIB

Setiap Hari dapat Kiriman Air Limbah

Minggu, 10 September 2017 - 13:34 WIB

Nyala Hari Puisi Ini Pun Tak Akan Pernah Padam

Minggu, 13 Agustus 2017 - 00:08 WIB

Filosofi Hidup dalam Permainan Tradisi

Minggu, 13 Agustus 2017 - 00:03 WIB

sumatranet
Sagang Online
loading...
Follow Us
Populer hari ini