Wonderful Indonesia
CERPEN DEDI SUPENDRA
Dunia di Bawah Payung
Minggu, 28 Mei 2017 - 02:02 WIB > Dibaca 1482 kali Print | Komentar
Dunia di Bawah Payung
Tempat hidup kita serupa payung maha besar, yang di dalamnya terdapat ribuan payung kecil-kecil.

Kukatakan padamu yang sebenarnya bahwa pesisir itu memang ada penjaganya. Mereka berupa hantu laut yang sering bermunculan pada malam-malam pasang akan surut. Bila bujang-bujang pelaut tak tampak lagi menghela jaring, maka meletuplah mereka dari ketiadaan; seperti dari bola-bola gelembung sabun yang meletus. Tiap letusan berisi sepasang hantu. Hantu yang berupa-rupa. Mata-mata besar mereka yang terbakar, membuat malam itu menjadi sedikit gerah dan lembab. Mata-mata bundar yang bagai bola menyala itu tak sepadan dengan tubuh-tubuh mereka yang kurcaci, dengan telinga anjing yang terkulai. Juga gigi-gigi depan yang menancap agak keluar, seukuran biji-biji jagung masak.

Kemudian, dari keheningan malam itu pula, satu-dua ketukan buaian nada berderit-cericit dari pepasir yang mereka injak. Lalu, menarilah mereka, sambil mengetuk-ngetukkan kaki ke pepasir. Memang bukan tarian yang riuh, hanya seperti gerakan yang rapuh, patah-patah dan kaku.

Kukatakan padamu yang sebenarnya bahwa kebenaran yang kusampaikan adalah benar adanya. Aku tak sedang bercerita bual belaka. Atau mengarang khayal. Aku hanya tengah menyampaikan sebuah pesan dari penjaga pantai yang malang; seseorang yang kebetulan pernah melihat mereka dengan mata telanjang.

Lelaki itu sekarang gila, karena dua minggu setelah itu ia dipecat dari pekerjaannya. Berbulan-bulan ia luntang-lantung mencari kerja apa saja, tak ada yang mau menerimanya. Usaha-usaha yang ia rintis sendiri; menganyam topi bambu, jangankan mendatangkan untung malah memelorotkan saku celananya lebih dalam, hingga tak bersisa. Ia akhirnya stress dan suka bicara sendiri.

“Yang tidak terlihat, bukan berarti tidak ada,” begitu selalu Ia bersenandung, sembari kadang diiringi dengan irama-irama aneh dari mulutnya.

“Antara hidup dan tak hidup kadang tak ada beda,” lanjutnya lagi.

“Mengapa orang-orang senang berpura-pura tidak percaya agar mereka tak disangka gila?”

“Mengapa orang-orang berpura-pura tidak melihat hanya agar orang-orang percaya mereka buta dan tidak tahu apa-apa?” Ia berjalan sepanjang malam, seperti pemabuk yang meneguk botol minuman keras yang kosong. Bila sekali-sekali kau mendengarnya, mungkin kau akan terkagum-kagum dengan kelihaiannya memilih kata-kata, dengan keindahan suaranya, dan mungkin saja kau akan berpikir bahwa Ia masih waras-waras saja. Tapi, percayalah, Ia sangat tidak baik-baik saja, apalagi setelah menemukan keramaian yang tak pernah dibayangkan manusia, bentuknya itu.

Tak usahlah kau tanya, mengapa aku bisa begitu detail mendapatkan berita itu dari seorang yang gila. Apakah kau berprasangka aku adalah orang gila yang lain? Sudahlah, jangan berprasangka. Prasangka dapat membawamu kemana saja, tak peduli jurang maupun neraka. Dengarkan saja, sebab ini adalah amanat amat berharga, agar kau tak terjebak pula karenanya.

Sungguh naas, malam itu, dua orang rekannya tak bisa ikut berkeliling karena sakit dan alasan lain, ada kendurian keluarga. Sendiri ia berpatroli, melihat-lihat kalau-kalau ada sepasang anak manusia yang bersunyi-sunyian dalam kegelapan tepi pantai yang melenakan. Ia menyusuri tepi-tepi pantai yang sudah beraspal menggunakan sepeda. Senter berdaya baterei tergantung di stang sepedanya. Lampu-lampu di kiri-kanan jalan berwarna kuning remang-remang. Beberapa patung buaya, kura-kura dan katak ditanam di taman bermain anak-anak, tak jauh dari bibir pantai. Sebuah panggung besar tampak lengang.

Ia tak tahu waktu itu pukul berapa, ketika Ia melihat beberapa anak kecil bermain-main di tepi pantai.

“Mereka buruk. Buruk. Dan mengerikan!” Katanya berulang-ulang kepada saya. “Matanya itu. Giginya. Wajahnya. Percaya tidak, mereka bersinar!” Ia menangis dan menekuk kepala ke dalam pangkuannya. Suaranya bergetar. Tubuhnya yang membulat itu bergoyang-goyang ke depan-belakang.

“Awan-awan gelap mengawang di atas kepala-kepala mereka. Gelap sekali, seperti tudung hitam yang sangat tebal.” Ketakutannya itu mengalir sampai ke roma saya yang tiba-tiba berdiri. Saya merinding, sebab saya percaya hal-hal seperti itu pasti ada, dan bisa saja menjadi bala.


Graha Pena Riau Space for Rent
KOMENTAR
Berita Update

Pemberantasan Korupsi Tidak Jalan di Tempat
Rabu, 17 Oktober 2017 - 15:22 wib

DKV SMKN 4 Pekanbaru Unjuk Gigi dengan Karya
Rabu, 17 Oktober 2017 - 15:00 wib

PKS Beroperasi, Dongkrak Ekonomi Danau Lancang
Rabu, 17 Oktober 2017 - 14:53 wib
Kabupaten Indragiri Hilir
Verifikasi Kebenaran Informasi Media Sosial
Rabu, 17 Oktober 2017 - 12:51 wib
Kabupaten Indragiri Hilir
Komisi II Banyak Terima Aduan Konflik Agraria
Rabu, 17 Oktober 2017 - 12:34 wib
EKONOMI BISNIS
Dukung Pemerintah Registrasi Pelanggan Prabayar
Rabu, 17 Oktober 2017 - 12:28 wib

Buruh Melawan Suarakan Aspirasi, Cabut Permen LHK 17
Rabu, 17 Oktober 2017 - 12:01 wib

Akom Beri Sinyal Setnov Terlibat Kasus Proyek KTP-el
Rabu, 17 Oktober 2017 - 11:39 wib
Cari Berita
Kebudayaan Terbaru
Gubri Dijadwalkan Hadiri Haul 100 Tahun Ma’rifat Mardjani
Istri Pangkostrad Kagumi  Oleh-oleh Khas Riau

Rabu, 11 Oktober 2017 - 10:26 WIB

Ratusan Seniman Gelar Aksi untuk Rohingya

Jumat, 06 Oktober 2017 - 10:01 WIB

Kerajinan Khas Daerah Terus Dipopulerkan

Minggu, 01 Oktober 2017 - 12:50 WIB

Tanjak Semakin Digemari Masyarakat

Minggu, 01 Oktober 2017 - 12:35 WIB

sumatranet
Sagang Online
loading...
Follow Us
Populer hari ini