Wonderful Indonesia
CERPEN DEDI SUPENDRA
Dunia di Bawah Payung
Minggu, 28 Mei 2017 - 02:02 WIB > Dibaca 1292 kali Print | Komentar
Dunia di Bawah Payung
Tempat hidup kita serupa payung maha besar, yang di dalamnya terdapat ribuan payung kecil-kecil.

Kukatakan padamu yang sebenarnya bahwa pesisir itu memang ada penjaganya. Mereka berupa hantu laut yang sering bermunculan pada malam-malam pasang akan surut. Bila bujang-bujang pelaut tak tampak lagi menghela jaring, maka meletuplah mereka dari ketiadaan; seperti dari bola-bola gelembung sabun yang meletus. Tiap letusan berisi sepasang hantu. Hantu yang berupa-rupa. Mata-mata besar mereka yang terbakar, membuat malam itu menjadi sedikit gerah dan lembab. Mata-mata bundar yang bagai bola menyala itu tak sepadan dengan tubuh-tubuh mereka yang kurcaci, dengan telinga anjing yang terkulai. Juga gigi-gigi depan yang menancap agak keluar, seukuran biji-biji jagung masak.

Kemudian, dari keheningan malam itu pula, satu-dua ketukan buaian nada berderit-cericit dari pepasir yang mereka injak. Lalu, menarilah mereka, sambil mengetuk-ngetukkan kaki ke pepasir. Memang bukan tarian yang riuh, hanya seperti gerakan yang rapuh, patah-patah dan kaku.

Kukatakan padamu yang sebenarnya bahwa kebenaran yang kusampaikan adalah benar adanya. Aku tak sedang bercerita bual belaka. Atau mengarang khayal. Aku hanya tengah menyampaikan sebuah pesan dari penjaga pantai yang malang; seseorang yang kebetulan pernah melihat mereka dengan mata telanjang.

Lelaki itu sekarang gila, karena dua minggu setelah itu ia dipecat dari pekerjaannya. Berbulan-bulan ia luntang-lantung mencari kerja apa saja, tak ada yang mau menerimanya. Usaha-usaha yang ia rintis sendiri; menganyam topi bambu, jangankan mendatangkan untung malah memelorotkan saku celananya lebih dalam, hingga tak bersisa. Ia akhirnya stress dan suka bicara sendiri.

“Yang tidak terlihat, bukan berarti tidak ada,” begitu selalu Ia bersenandung, sembari kadang diiringi dengan irama-irama aneh dari mulutnya.

“Antara hidup dan tak hidup kadang tak ada beda,” lanjutnya lagi.

“Mengapa orang-orang senang berpura-pura tidak percaya agar mereka tak disangka gila?”

“Mengapa orang-orang berpura-pura tidak melihat hanya agar orang-orang percaya mereka buta dan tidak tahu apa-apa?” Ia berjalan sepanjang malam, seperti pemabuk yang meneguk botol minuman keras yang kosong. Bila sekali-sekali kau mendengarnya, mungkin kau akan terkagum-kagum dengan kelihaiannya memilih kata-kata, dengan keindahan suaranya, dan mungkin saja kau akan berpikir bahwa Ia masih waras-waras saja. Tapi, percayalah, Ia sangat tidak baik-baik saja, apalagi setelah menemukan keramaian yang tak pernah dibayangkan manusia, bentuknya itu.

Tak usahlah kau tanya, mengapa aku bisa begitu detail mendapatkan berita itu dari seorang yang gila. Apakah kau berprasangka aku adalah orang gila yang lain? Sudahlah, jangan berprasangka. Prasangka dapat membawamu kemana saja, tak peduli jurang maupun neraka. Dengarkan saja, sebab ini adalah amanat amat berharga, agar kau tak terjebak pula karenanya.

Sungguh naas, malam itu, dua orang rekannya tak bisa ikut berkeliling karena sakit dan alasan lain, ada kendurian keluarga. Sendiri ia berpatroli, melihat-lihat kalau-kalau ada sepasang anak manusia yang bersunyi-sunyian dalam kegelapan tepi pantai yang melenakan. Ia menyusuri tepi-tepi pantai yang sudah beraspal menggunakan sepeda. Senter berdaya baterei tergantung di stang sepedanya. Lampu-lampu di kiri-kanan jalan berwarna kuning remang-remang. Beberapa patung buaya, kura-kura dan katak ditanam di taman bermain anak-anak, tak jauh dari bibir pantai. Sebuah panggung besar tampak lengang.

Ia tak tahu waktu itu pukul berapa, ketika Ia melihat beberapa anak kecil bermain-main di tepi pantai.

“Mereka buruk. Buruk. Dan mengerikan!” Katanya berulang-ulang kepada saya. “Matanya itu. Giginya. Wajahnya. Percaya tidak, mereka bersinar!” Ia menangis dan menekuk kepala ke dalam pangkuannya. Suaranya bergetar. Tubuhnya yang membulat itu bergoyang-goyang ke depan-belakang.

“Awan-awan gelap mengawang di atas kepala-kepala mereka. Gelap sekali, seperti tudung hitam yang sangat tebal.” Ketakutannya itu mengalir sampai ke roma saya yang tiba-tiba berdiri. Saya merinding, sebab saya percaya hal-hal seperti itu pasti ada, dan bisa saja menjadi bala.


Graha Pena Riau Space for Rent
KOMENTAR
Berita Update
TERKAIT ISU PEMBANGUNAN APARTEMEN
RJA DPR di Kalibata Ternyata Berhantu, tapi...
Rabu, 23 Agustus 2017 - 21:00 wib
TARGETKAN TUNTAS PADA MASA SIDANG INI
Pembahasan Perppu Ormas Akan Dipercepat Komisi II DPR, Alasannya...
Rabu, 23 Agustus 2017 - 20:45 wib
DINILAI BERTANGGUNG JAWAB PENUH
Pansus Angket KPK Didesak Panggil Jokowi ke DPR
Rabu, 23 Agustus 2017 - 20:30 wib
TERKAIT ISU PEMBANGUNAN APARTEMEN
Hanya untuk Kalangan Dewan, Staf Ternyata Tak Boleh Tempati RJA DPR
Rabu, 23 Agustus 2017 - 20:15 wib
DIDATANGI BRPD DAN DITLANTAS
Soal Tunggakan Pajak Mobil Mewah, Begini Klarifikasi Raffi Ahmad
Rabu, 23 Agustus 2017 - 20:00 wib
LA LIGA SPANYOL
Di Maria Gabung Barcelona? Ternyata Ulah Hacker
Rabu, 23 Agustus 2017 - 19:48 wib
SEMPAT DIWACANAKAN SEBELUMNYA
Pengamat: Anggota DPR Seperti Menghina Rakyat jika Jadi Buat Apartemen
Rabu, 23 Agustus 2017 - 19:41 wib
TERUS DIBURU TIM BARESKRIM POLRI
Buronan Korupsi Aset Pertamina Ini Masuk Daftar Cekal Imigrasi
Rabu, 23 Agustus 2017 - 19:37 wib
PERMENHUB DICABUT MA
Organda Khawatir Angkutan Konvensional dan Online Kembali Bergejolak
Rabu, 23 Agustus 2017 - 19:33 wib
PASCA-PENANGKAPAN TARMIZI
Empat Panitera Ini Pernah Terjaring OTT KPK, Berikut Daftarnya
Rabu, 23 Agustus 2017 - 19:27 wib
Cari Berita
Kebudayaan Terbaru
Pesan dalam Liuk Tubuh

Minggu, 20 Agustus 2017 - 13:17 WIB

Perkenalkan Budaya  untuk Jaga Persatuan

Minggu, 20 Agustus 2017 - 11:55 WIB

Afrizal, Modernitas dan Kecemasan

Minggu, 20 Agustus 2017 - 11:46 WIB

Rasa Merdeka

Minggu, 20 Agustus 2017 - 11:30 WIB

Tradisi Masyarakat  Warnai Pelepasan JCH

Minggu, 20 Agustus 2017 - 11:16 WIB

sumatranet
Ranggi Riau Pos
loading...
Follow Us