Wonderful Indonesia
CERPEN MUSTAFA ISMAIL
Perempuan di Laut Tawar
Minggu, 14 Mei 2017 - 02:52 WIB > Dibaca 1406 kali Print | Komentar
Perempuan di Laut Tawar
SUDAH sore. Air danau Laut Tawar telah berubah kemerah-merahan diterpa matahari. Tetapi perempuan itu belum beranjak. Ia duduk menghadap danau yang dipagari deretan bukit-bukit yang hijau. Rambutnya yang sejengkal melewati bahu dibiarkan terurai, diterbangkan angin yang basah oleh hawa sejuk kota Takengon.

Saya sudah tiga sore melihat perempuan itu. Selalu sendiri. Di tempat yang sama. Tempat bersantai berbentuk payung dengan enam kursi mengelilinginya yang letaknya agak ke pojok kiri hotel yang menghadap danau itu. Entah kenapa perempuan itu selalu memilih tempat agak ke pojok. Padahal hari-hari biasa begini, bukan akhir pekan, banyak teratak payung yang kosong.

Setiap hari hanya beberapa payung yang terisi. Sebab hari-hari biasa tamu di hotel itu tidak sebanyak akhir pekan. Saya sendiri lebih menyukai saat-saat yang tidak ramai. Toh berlibur ke situ bukan untuk melihat orang, tetapi untuk menikmati suasana danau dan pegunungan. Saya jauh-jauh datang dari Banda Aceh khusus untuk menghindari keramaian.

Mungkin perempuan itu juga berpikir seperti saya: benar-benar ingin berlibur dan menikmati suasana danau itu dengan sepuas-puasnya, tanpa dihalangi oleh keramaian dan hiruk-pikuk orang lain di akhir pekan. Karena itu ia memilih berlibur pada hari-hari biasa. Tentulah ia seorang yang romantis.

Tentulah ia seorang yang menyukai hal-hal jauh dari hiruk pikuk dan suasana yang bisa bikin tentram, kenyamanan hati, pikiran dan perasaaan. Mungkin semacam perasaan bahagia dan kerinduan. Atau kasmaran. Ketika perasaan-perasaan semacam itu bercampur, duh betapa indahnya suasana liburan.

Mungkin pikiran saya terlalu jauh. Tetapi jujur saja, ini pengalaman pribadi sebenarnya. Tepatnya tujuh tahun lalu ketika pertama kali menginap di hotel ini untuk mengikuti sebuah pelatihan yang diadakan oleh sebuah lembaga swadaya masyarakat. Di sini, saya mengenal Nanik. Ia cantik, pintar, dan ramah. Saya menyukainya. Kami akrab. Sangat akrab. Sangat dekat.

Ia tidak pernah jauh dari saya. Kami selalu bersama-sama: duduk di bawah teratak payung yang dikeliling enam kursi dan kami selalu memilih yang agak pojok sebelah kiri hotel yang menghadap ke danau itu. Ke cafe untuk berkaroke sehabis jadwal pelatihan. Atau sekedar duduk dan ngobrol-ngobrol di lobi sehabis makan malam. Kami juga sempat jalan-jalan ke luar hotel, mengikuti jalan raya yang naik-turun bukit di pingiran Danau Laut Tawar itu, lalu balik ketika kami merasa lelah.

Tapi itu hubungan yang aneh. Entah mengapa saya tidak pernah mendefinisikan bagaimana sebetulnya hubungan kami. Cinta lokasi? Ah, mungkin itu terlalu sentimentil. Tapi hal semacam itulah yang terjadi pada kami. Nanik pun tidak pernah berusaha merumuskan apa arti sebetulnya kedekatan kami. Seperti saya, ia pun tidak pernah membicarakan arti kedekatan itu.

Tapi pada sebuah sore, aku terkejut mendengar pertanyaannya. “Apakah kesetiaan harus dibuktikan dengan memagari diri dari perasaan-perasaan khusus terhadap orang lain?” Nanik berucap tiba-tiba. Saya memandangnya sejenak, membuktikan apakah pertanyaannya sungguh-sungguh: dan ia mengangguk.

Hawa sejuk mulai merasuk hebat ke pori-pori. Matahari sudah tenggelam di balik bukit. Sambil terus melangkah menuruni tangga bukit menuju ke hotel, aku berujar, “Itulah logika umum dan hidup. Tetapi semua itu terserah kepada masing-masing orang. Kalau kamu sendiri bagaimana,” tanya saya.

“Lho, justru aku bertanya kepadamu.”

“Aku sudah menjawab.”

“Tetapi kamu belum menjawab pertanyaanku itu. Ya atau tidak?”

Pertanyaan Nanik membikin saya terkesiap. Langkah saya tiba-tiba terhenti. Nanik juga menghentikan langkah. “Ada apa?”

“Nggak. Nggak apa-apa,” kata saya sambil kembali menyeret langkah. Saya mulai berpikir jawaban bagaimana harus saya katakan kepada Nanik. Kalau saya menjawab “ya”, berarti saya menyutujui sikap menyandra seseorang dengan embel-embel cinta, sehingga tidak bisa mengekspresikan dirinya dengan bebas.

Sementara kalau saya menjawab tidak, berarti saya sepakat dengan sikap gonta-ganti pacar. Ketika kaki kami menginjak lobi hotel, Nanik kembali bersuara. “Kamu belum menjawab pertanyaanku. Apakah terlalu sulit?”

“Apakah perlu dijawab?”


Graha Pena Riau Space for Rent
KOMENTAR
Berita Update

PLN P3B Sumatera Mandirikan SMK Taruna
Rabu, 13 Desember 2017 - 14:35 wib
TEMBILAHAN
ASN Harus Terus Berinovasi
Rabu, 13 Desember 2017 - 13:45 wib
Sidang Perdana Kasus KTP-el Digelar Hari Ini
Waspada Manuver Setnov
Rabu, 13 Desember 2017 - 13:26 wib
LAMR Keluarkan Warkah Amaran
Adukan Dalang Persekusi Ustaz Abdul Somad ke BK
Rabu, 13 Desember 2017 - 12:23 wib
TEMBILAHAN
Wabup Minta Kades Pro Aktif Urus Soal Warga
Rabu, 13 Desember 2017 - 12:22 wib

Distribusi Tertutup Elpiji Gas 3 Kg Ditunda
Rabu, 13 Desember 2017 - 11:51 wib
TEMBILAHAN
Kalangkaan Elpiji 3 Kg Mesti Ditelusuri
Rabu, 13 Desember 2017 - 11:20 wib

Terduga Teroris Diduga Beli Senjata
Rabu, 13 Desember 2017 - 11:15 wib

RAPP Inginkan Kepastian Hukum dari KLHK
Rabu, 13 Desember 2017 - 10:49 wib
HUKUM & KRIMINAL
Jambret Mahasiswi, Resedivis Ditangkap
Rabu, 13 Desember 2017 - 10:41 wib
Cari Berita
Kebudayaan Terbaru
Dari Pekan Rantau Melayu di Hotel Sri Indrayani

Senin, 11 Desember 2017 - 09:55 WIB

Jefri Antoni Beri Motivasi Umat untuk Bangun Masjid

Senin, 11 Desember 2017 - 09:29 WIB

Riset dan Proses Kreatif

Minggu, 10 Desember 2017 - 19:48 WIB

Kostum Tiara Tembus Enam Besar  Miss Ambasador

Minggu, 10 Desember 2017 - 19:40 WIB

Tiga Hari Mengenal Melayu

Jumat, 08 Desember 2017 - 09:40 WIB

sumatranet
Sagang Online
loading...
Follow Us