Wonderful Indonesia
CERPEN MUSTAFA ISMAIL
Perempuan di Laut Tawar
Minggu, 14 Mei 2017 - 02:52 WIB > Dibaca 1260 kali Print | Komentar
Perempuan di Laut Tawar
SUDAH sore. Air danau Laut Tawar telah berubah kemerah-merahan diterpa matahari. Tetapi perempuan itu belum beranjak. Ia duduk menghadap danau yang dipagari deretan bukit-bukit yang hijau. Rambutnya yang sejengkal melewati bahu dibiarkan terurai, diterbangkan angin yang basah oleh hawa sejuk kota Takengon.

Saya sudah tiga sore melihat perempuan itu. Selalu sendiri. Di tempat yang sama. Tempat bersantai berbentuk payung dengan enam kursi mengelilinginya yang letaknya agak ke pojok kiri hotel yang menghadap danau itu. Entah kenapa perempuan itu selalu memilih tempat agak ke pojok. Padahal hari-hari biasa begini, bukan akhir pekan, banyak teratak payung yang kosong.

Setiap hari hanya beberapa payung yang terisi. Sebab hari-hari biasa tamu di hotel itu tidak sebanyak akhir pekan. Saya sendiri lebih menyukai saat-saat yang tidak ramai. Toh berlibur ke situ bukan untuk melihat orang, tetapi untuk menikmati suasana danau dan pegunungan. Saya jauh-jauh datang dari Banda Aceh khusus untuk menghindari keramaian.

Mungkin perempuan itu juga berpikir seperti saya: benar-benar ingin berlibur dan menikmati suasana danau itu dengan sepuas-puasnya, tanpa dihalangi oleh keramaian dan hiruk-pikuk orang lain di akhir pekan. Karena itu ia memilih berlibur pada hari-hari biasa. Tentulah ia seorang yang romantis.

Tentulah ia seorang yang menyukai hal-hal jauh dari hiruk pikuk dan suasana yang bisa bikin tentram, kenyamanan hati, pikiran dan perasaaan. Mungkin semacam perasaan bahagia dan kerinduan. Atau kasmaran. Ketika perasaan-perasaan semacam itu bercampur, duh betapa indahnya suasana liburan.

Mungkin pikiran saya terlalu jauh. Tetapi jujur saja, ini pengalaman pribadi sebenarnya. Tepatnya tujuh tahun lalu ketika pertama kali menginap di hotel ini untuk mengikuti sebuah pelatihan yang diadakan oleh sebuah lembaga swadaya masyarakat. Di sini, saya mengenal Nanik. Ia cantik, pintar, dan ramah. Saya menyukainya. Kami akrab. Sangat akrab. Sangat dekat.

Ia tidak pernah jauh dari saya. Kami selalu bersama-sama: duduk di bawah teratak payung yang dikeliling enam kursi dan kami selalu memilih yang agak pojok sebelah kiri hotel yang menghadap ke danau itu. Ke cafe untuk berkaroke sehabis jadwal pelatihan. Atau sekedar duduk dan ngobrol-ngobrol di lobi sehabis makan malam. Kami juga sempat jalan-jalan ke luar hotel, mengikuti jalan raya yang naik-turun bukit di pingiran Danau Laut Tawar itu, lalu balik ketika kami merasa lelah.

Tapi itu hubungan yang aneh. Entah mengapa saya tidak pernah mendefinisikan bagaimana sebetulnya hubungan kami. Cinta lokasi? Ah, mungkin itu terlalu sentimentil. Tapi hal semacam itulah yang terjadi pada kami. Nanik pun tidak pernah berusaha merumuskan apa arti sebetulnya kedekatan kami. Seperti saya, ia pun tidak pernah membicarakan arti kedekatan itu.

Tapi pada sebuah sore, aku terkejut mendengar pertanyaannya. “Apakah kesetiaan harus dibuktikan dengan memagari diri dari perasaan-perasaan khusus terhadap orang lain?” Nanik berucap tiba-tiba. Saya memandangnya sejenak, membuktikan apakah pertanyaannya sungguh-sungguh: dan ia mengangguk.

Hawa sejuk mulai merasuk hebat ke pori-pori. Matahari sudah tenggelam di balik bukit. Sambil terus melangkah menuruni tangga bukit menuju ke hotel, aku berujar, “Itulah logika umum dan hidup. Tetapi semua itu terserah kepada masing-masing orang. Kalau kamu sendiri bagaimana,” tanya saya.

“Lho, justru aku bertanya kepadamu.”

“Aku sudah menjawab.”

“Tetapi kamu belum menjawab pertanyaanku itu. Ya atau tidak?”

Pertanyaan Nanik membikin saya terkesiap. Langkah saya tiba-tiba terhenti. Nanik juga menghentikan langkah. “Ada apa?”

“Nggak. Nggak apa-apa,” kata saya sambil kembali menyeret langkah. Saya mulai berpikir jawaban bagaimana harus saya katakan kepada Nanik. Kalau saya menjawab “ya”, berarti saya menyutujui sikap menyandra seseorang dengan embel-embel cinta, sehingga tidak bisa mengekspresikan dirinya dengan bebas.

Sementara kalau saya menjawab tidak, berarti saya sepakat dengan sikap gonta-ganti pacar. Ketika kaki kami menginjak lobi hotel, Nanik kembali bersuara. “Kamu belum menjawab pertanyaanku. Apakah terlalu sulit?”

“Apakah perlu dijawab?”


Graha Pena Riau Space for Rent
KOMENTAR
Berita Update

Pemberantasan Korupsi Tidak Jalan di Tempat
Rabu, 17 Oktober 2017 - 15:22 wib

DKV SMKN 4 Pekanbaru Unjuk Gigi dengan Karya
Rabu, 17 Oktober 2017 - 15:00 wib

PKS Beroperasi, Dongkrak Ekonomi Danau Lancang
Rabu, 17 Oktober 2017 - 14:53 wib
Kabupaten Indragiri Hilir
Verifikasi Kebenaran Informasi Media Sosial
Rabu, 17 Oktober 2017 - 12:51 wib
Kabupaten Indragiri Hilir
Komisi II Banyak Terima Aduan Konflik Agraria
Rabu, 17 Oktober 2017 - 12:34 wib
EKONOMI BISNIS
Dukung Pemerintah Registrasi Pelanggan Prabayar
Rabu, 17 Oktober 2017 - 12:28 wib

Buruh Melawan Suarakan Aspirasi, Cabut Permen LHK 17
Rabu, 17 Oktober 2017 - 12:01 wib

Akom Beri Sinyal Setnov Terlibat Kasus Proyek KTP-el
Rabu, 17 Oktober 2017 - 11:39 wib
Cari Berita
Kebudayaan Terbaru
Gubri Dijadwalkan Hadiri Haul 100 Tahun Ma’rifat Mardjani
Istri Pangkostrad Kagumi  Oleh-oleh Khas Riau

Rabu, 11 Oktober 2017 - 10:26 WIB

Ratusan Seniman Gelar Aksi untuk Rohingya

Jumat, 06 Oktober 2017 - 10:01 WIB

Kerajinan Khas Daerah Terus Dipopulerkan

Minggu, 01 Oktober 2017 - 12:50 WIB

Tanjak Semakin Digemari Masyarakat

Minggu, 01 Oktober 2017 - 12:35 WIB

sumatranet
Sagang Online
loading...
Follow Us
Populer hari ini