Wonderful Indonesia
CERPEN AGUS S NUR
Bayi Ular di Rahim Thambi
Minggu, 07 Mei 2017 - 01:17 WIB > Dibaca 2682 kali Print | Komentar
Bayi Ular di Rahim Thambi
Tidak ada kunci terbuka, atau tanda-tanda kerusakan di sana-sini, segala pintu dan jendela tertutup rapat semua, sama posisinya seperti saat menjelang lampu dimatikan tadi malam, tapi kenapa sesuatu kembali hilang dari tempatnya?

“Ini sungguh aneh.”

Berulang-ulang dia periksa kembali, siapa tahu terselip di antara lipatan baju-baju, tapi sebagian baju dalam lemari sudah diperiksa, tetap tidak ada.

“Apakah di sekitar sini ada yang memelihara tuyul?”

“Bagaimana aku harus mengatakan ini pada Sokra?”

Sambil berpikir keras, Thambi mengingat-ingat kembali apa yang hilang: dua hari lalu cincin emas, kemarin kalung emas, dan sekarang uang yang hilang. Semakin ingat, sedih semakin mengembang di wajahnya.

“Andai dia tahu, pasti akan marah.”

Thambi bingung mencari cara untuk berterus terang. Andai harus bicara sejujurnya, belumlah tentu  sikap baik akan diterima. Tapi yang terang, batin Thambi berbicara, Sokra akan marah kalau sampai tahu. Dalam benak Thambi terbayang dua kemungkinan jika memilih cara bicara sejujurnya: (1) Sokra datang bersama pasukannya dengan celurit di masing-masing tangan mereka, lalu mengancam semua tetangga agar mengembalikan barang dan uang yang hilang dengan paksa, (2) Sokra tidak percaya kalau benda dan uang hilang begitu saja, lalu menuduh Thambi telah menggunakan harta hanya untuk besenang-senang . Atas dasar dua kemungkinan itu, yang belum ditentukan mana yang akan terjadi, maka Thambi memilih menyimpan rahasia kehilangannya.

Hampir satu tahun kiranya Thambi tinggal di Kampung Kosambi, baru beberapa hari ini dia alami kehilangan beruntun dan masih belum tahu apa sebabnya. Rumah di depan rumah Thambi adalah rumah Marda, laki-laki beranak satu yang istrinya sudah lama tiada. Tiada dalam hal ini bukanlah meninggal dunia, tapi tiada karena pergi entah ke mana dan sampai sekarang belum diketahui keberadaannya. Namun Marda pernah menjelaskan kepada tetangga, istrinya pergi kabur bersama jin peliharaannya. Menurut Marda—ini menurut pengakuannya saja—ada satu jinnya yang berkhianat, diam-diam menaruh suka pada istrinya, lalu pada malam yang dihamburi hujan deras, istrinya lenyap begitu saja. Memang tidak masuk akal dan untuk percaya sepenuhnya dalam waktu singkat juga sangat sulit. Tapi anehnya, semua tetangga Marda percaya, termasuk Thambi.

Antara Thambi dan Marda, hingga saat ini, kelihatannya, hubungan mereka baik-baik saja. Marda sering memberi bantuan cuma-cuma pada Thambi, walau tahu Thambi itu pelitnya minta ampun. Dan soal kehilangan yang dialami Thambi,  dia juga tahu walau Thambi tidak pernah mengatakannya.  

Sengaja memang, Sokra membelikan Thambi rumah di perkampungan padat rumah. Ini dimaksudkan demi menjaga rahasia agar Thambi tidak terlacak oleh istri tua Sokra. Sebenarnya, Thambi pernah dibelikan rumah di sebuah dusun yang penduduknya sedikit, rumah yang cukup jauh letaknya dari keramaian, bahkan, untuk sampai ke sana pun harus menempuh perjalanan cukup rumit dan melelahkan. Hampir semuanya jalannya berbatu, banyak tanjakan tajam, tak mudah dilalui dengan kendaraan bermesin. Thambi pernah protes dan tak mau tinggal di rumah itu, tapi karena Sokra mengancam, akhirnya Thambi tidak punya pilihan selain tinggal. Anehnya, Aminah, istri Sokra yang pertama, dengan sangat cepat mencium keberadaan Thambi. Entah bagaimana ceritanya, tiba-tiba, beberapa hari setelah kepindahan Thambi ke dusun itu, Aminah sudah sampai di depan rumah Thambi dan mereka bertengkar seperti kucing dan tikus.

“Dasar sondel (pelacur), sukanya mengganggu rumah tangga orang, aku bunuh kau sekarang.”
Andai tak ada tetangga melerai, pasti Thambi sudah raib nyawanya. Sebab celurit yang terhunus di tangan Aminah sudah siap melayang ke mana suka, bisa ke batang leher, bisa ke lengan, bisa ke perut, bisa ke dada, atau ke kepala. Untung seribu untung, Tuhan masih berkenan memberi lindung pada nyawa Thambi.

Tapi entah kenapa, untuk yang sekarang, Aminah tidak bisa mencium keberadaan Thambi  dengan cepat. Semisal dia mau berusaha, pasti akan segera menemukannya, bahkan akan lebih mudah ketimbang sebelumnya. Mungkin, ini kemungkinan saja, Aminah sudah lelah meladeni selir Sokra, sehingga lebih senang menanam pikir, kalau kebutuhannya sudah terpenuhi, buat apa berontak dan mengejar-ngejar selir Sokra?

Sesungguhnya Sokra tidak benar-benar suka pada Thambi. Niatnya waktu itu, hanya menjadikan Thambi tempat pelampiasan saja, tempat bercumbu saja, yang habis dibayar selesai perkara. Namun, menjadi rumitlah cerita, ketika lain waktu Sokra menjadi sangat tidak terkendali, dan mungkin, ini kemungkinan saja, dari semua selirnya, termasuk istri sahnya, si Aminah, pada berhalangan semua, sehingga pelampiasan satu-satunya adalah Thambi, yang kemudian tanpa bisa dibendung berakhir pada cerita tentang janin yang ada dalam perut Thambi. Sebab itu, Thambi menuntut  dinikahi. Kebodohan terbesar Sokra adalah, mudah percaya kalau janin di dalam perut Thambi itu adalah semata-semata hasil karyanya. Dia tidak pernah curiga, atau paling tidak menimbang-nimbang sedikit saja, apa mungkin hubungan badan cuma sekali langsung bisa hamil? Ini sebuah perkara, tapi entah, Sokra tidak mau berpikir panjang dan mengabulkan tuntutan Thambi dengan segera. Dua hari setelah menikah, Thambi bilang, “Aku keguguran.” Bahagia pun mengembang di wajah Sokra sehari penuh. “Untung diriku. Tak bisa dibayangkan, serupa apa bentuk bayi itu kalau lahir dari rahimmu, hai, Si Buruk Bentuk?” Kejam nian memang kata-kata kalau Sokra sudah tak suka pada seseorang.

Tetangga sekitar sudah sangat akrab dengan tabiat Thambi. Selain pelit, juga dikenal  kasar. Makhluk lembut yang kasar. Sampai ada yang bilang, mungkin di masa kecil dia tidak mendapatkan didikan yang baik dari orang tuanya, atau mungkin sudah mendapatkan didikan yang baik tapi memang Thambi sudah terlampu bengal. Setiap hari pasti ada tetangga menggunjingnya. Kalau pun tak menemukan bahan untuk digunjingkan, maka tetangga cari-cari sendiri dan mengarang-ngarang, dicocok-cocokkan, yang penting tokoh utamanya adalah Thambi. Gunjingan paling parah adalah Thambi dituduh memelihara jin. Kata salah seorang tetangga, “Aku pernah mendengar suara-suara tidak wajar yang berasal dari rumahnya.”  Padahal yang mengatakan ini tidak pernah mendengar apa-apa.

Beberapa hari lalu, ada utusan dari Ketua RT datang ke rumah Thambi, meminta sumbangan untuk rehab jalan kampung, yang jalan itu adalah satu-satunya jalan ketika hendak menuju ke mana saja, dan sepeser pun dia tidak mau memberinya. Parahnya, dia malah mengusir utusan itu. Kebencian tetangga memuncak ketika salah satu tetangga sakit, sakit parah, dan keluarga dari yang sakit datang ke Thambi untuk meminjam uang. Apa yang didapat? Bukan uang didapat, tapi kemarahan Thambi melesat.

“Makanya kerja. Sukanya merepotkan orang saja. Jangan dikira aku mendapatkan semua ini dengan hanya duduk-duduk saja. Sudah banyak yang kukorbankan, termasuk hidupku sendiri.”

Keluarga dari si sakit itu pulang dengan memeram panas benci di dadanya, dan bersumpah akan membuat Thambi terusir dari Kampung Kosambi dengan cara tidak terhormat, dan seluruh tetangga ikut mendukung sumpah itu.

Salah seorang tetangga datang kepada Marda dan melakukan pertemuan rahasia yang tidak akan pernah bisa didengar telinga Thambi. Sudahlah bisa ditebak apa yang dinginkan oleh seorang tetangga itu, yakni ingin mencelakai orang.

“Perempuan ini sudah layak keluar dari kampung ini.”

“Tapi sebelum keluar, dia harus menanggung malu, malu yang tak tertanggungkan. Kalau perlu selepas dari kampung ini, dia langsung bunuh diri.”

“Kita tak perlu mengusirnya dengan kasar. Karena kampung ini sudah dikenal dengan kampung yang sopan dan santun. Kita buat dia enyah sendiri dari kampung ini.”


Graha Pena Riau Space for Rent
KOMENTAR
Berita Update

Pemberantasan Korupsi Tidak Jalan di Tempat
Rabu, 17 Oktober 2017 - 15:22 wib

DKV SMKN 4 Pekanbaru Unjuk Gigi dengan Karya
Rabu, 17 Oktober 2017 - 15:00 wib

PKS Beroperasi, Dongkrak Ekonomi Danau Lancang
Rabu, 17 Oktober 2017 - 14:53 wib
Kabupaten Indragiri Hilir
Verifikasi Kebenaran Informasi Media Sosial
Rabu, 17 Oktober 2017 - 12:51 wib
Kabupaten Indragiri Hilir
Komisi II Banyak Terima Aduan Konflik Agraria
Rabu, 17 Oktober 2017 - 12:34 wib
EKONOMI BISNIS
Dukung Pemerintah Registrasi Pelanggan Prabayar
Rabu, 17 Oktober 2017 - 12:28 wib

Buruh Melawan Suarakan Aspirasi, Cabut Permen LHK 17
Rabu, 17 Oktober 2017 - 12:01 wib

Akom Beri Sinyal Setnov Terlibat Kasus Proyek KTP-el
Rabu, 17 Oktober 2017 - 11:39 wib
Cari Berita
Kebudayaan Terbaru
Gubri Dijadwalkan Hadiri Haul 100 Tahun Ma’rifat Mardjani
Istri Pangkostrad Kagumi  Oleh-oleh Khas Riau

Rabu, 11 Oktober 2017 - 10:26 WIB

Ratusan Seniman Gelar Aksi untuk Rohingya

Jumat, 06 Oktober 2017 - 10:01 WIB

Kerajinan Khas Daerah Terus Dipopulerkan

Minggu, 01 Oktober 2017 - 12:50 WIB

Tanjak Semakin Digemari Masyarakat

Minggu, 01 Oktober 2017 - 12:35 WIB

sumatranet
Sagang Online
loading...
Follow Us
Populer hari ini