Wonderful Indonesia
Mengunjungi Peninggalan Laksamana Raja di Laut
Inilah Rumah Laksamana Penjaga Pesisir Selat Malaka
Jumat, 28 April 2017 - 10:45 WIB > Dibaca 5717 kali Print | Komentar
Inilah Rumah Laksamana Penjaga Pesisir Selat Malaka
Rumah peninggalan Datuk Laksamana Raja di Laut IV di Bukit Batu, yang terkait erat dengan sejarah Kerajaan Siak. (Sahrul Yunizar/JPG)
Peran Selat Malaka jadi rebutan penguasa dari masa ke masa. Salah satunya Kerajaan Siak zaman dulu. Melalui beragam peninggalan, sultan pertama sampai terakhir kerajaan itu menorehkan sejarah kejayaan mereka. Selain kompleks istana, ada juga rumah peninggalan Laksamana Raja Dilaut IV, sang Penjaga Pesisir Selat Malaka

SAHRUL YUNIZAR
, JPG, Siak-Bengkalis (Riau)

SEBAGAI salah satu kerajaan yang pernah berkuasa hingga Selat Malaka, Kerajaan Siak Sriindrapura tidak hanya meninggalkan jejak di sekitar aliran Sungai Siak. Kediaman Datuk Laksamana Raja di Laut yang masuk wilayah Desa Sukajadi, Kecamatan Bukit Batu, Kabupaten Bengkalis, juga bagian dari warisan Kerajaan Siak.

Untuk mengamankan pesisir pantai di Selat Malaka, Kerajaan Siak menugaskan Datuk Laksamana Raja di Laut. Ada empat Datuk Laksamana Raja di Laut yang pernah mendapat tanggung jawab menjaga pesisir Selat Malaka. Mereka adalah Datuk Ibrahim, Datuk Khamis, Datuk Abdullah Shaleh, dan Datuk Ali Akbar.

Kediaman Datuk Laksamana Raja di Laut di Bukit Batu merupakan peninggalan Datuk Ali Akbar yang juga dikenal sebagai Datuk Laksamana Raja di Laut IV. Berbeda dengan Istana Siak yang berada di pusat pemerintahan Kabupaten Siak, peninggalan Datuk Ali Akbar berada di wilayah pesisir. Butuh waktu sekitar tiga jam lewat jalur darat dari Siak menuju tempat itu.

Bukan hanya posisinya yang jauh dari kota, kediaman laksamana terakhir di Kerajaan Siak itu juga tampak kurang mendapat perhatian. Bangunannya masih berdiri, tapi beberapa bagiannya sudah tidak lengkap. Meski begitu, masyarakat sekitar tetap berusaha menjaga warisan sejarah tersebut dari kehancuran.

Ketika rombongan guru peserta Internalisasi Nilai Kebangsaan di Wilayah Perbatasan yang diadakan Direktorat Sejarah Dirjen Kebudayaan Kemendikbud berkunjung ke rumah Datuk Laksamana Raja di Laut IV , 17 April lalu, masyarakat menyambut dengan antusias.

Empat penari zapin asal Desa Sukajadi menunjukkan kebolehan mereka. Berbagai produk olahan dan buah kreasi warga sekitar juga dipamerkan. Mereka tampak berusaha keras menunjukkan bahwa peninggalan Datuk Laksamana Raja di Laut IV patut mendapat perhatian khusus.

Syamsul Bahri, sejarawan lokal yang masih memiliki pertalian darah dengan Datuk Laksamana Raja di Laut IV, mengaku tidak tahu persis garis keturunan sang datuk hingga dirinya. ’’Saya sendiri tidak tahu persis bagaimana garis keturunan Datuk Laksamana Raja di Laut IV. Perlu studi lagi,’’ ujarnya.

Dia berharap ada peneliti yang bersedia menelusuri lebih dalam silsilah keluarga laksamana yang mendapat titah langsung menjaga pesisir Selat Malaka oleh Kerajaan Siak itu.

’’Kalau perlu hasilnya nanti dibukukan. Sebab, sampai sekarang belum ada yang menulis tentang beliau,’’ jelas Syamsul Bahri.

Tidak jauh dari kediaman Datuk Laksamana Raja di Laut IV, terdapat dua makam yang letaknya persis di samping Masjid Jami Al Haq. Masjid itu merupakan peninggalan Datuk Laksamana Raja di Laut IV untuk masyarakat di sekitar rumahnya. Dua makam di samping masjid merupakan tempat peristirahatan terakhir Datuk Laksamana Raja di Laut III dan IV. Dua makam itu terawat dengan baik. Masyarakat rutin berdoa untuk kebaikan kedua laksamana.

Lewat suara lengking penyanyi Iyeth Bustami, kisah Laksamana Raja di Laut membahana di mana-mana. Namun, tak banyak yang mengerti kisah datuk penjaga pesisir Selat Malaka tersebut. Bahkan, bukan tidak mungkin ada yang belum tahu bahwa tokoh dalam lagu itu adalah nyata. Dia hidup dan pernah menjadi bagian penting dari Kerajaan Siak.


Graha Pena Riau Space for Rent
KOMENTAR
Berita Update

Bulog Tetap Ngotot Lakukan Impor Beras
Rabu, 21 Februari 2018 - 13:02 wib

Proyek Jalan Layang-Jembatan Dihentikan Sementara
Rabu, 21 Februari 2018 - 12:40 wib
8 Hari Kejar Kapal Pembawa Narkoba
Sabu 1,6 Ton Dikemas dalam 81 Karung
Rabu, 21 Februari 2018 - 12:32 wib
Terbesar Rp1 Miliar, Terkecil Rp1 Juta

Terbesar Rp1 Miliar, Terkecil Rp1 Juta
Rabu, 21 Februari 2018 - 11:59 wib
Letusan Sinabung Tak Berdampak ke Riau

Letusan Sinabung Tak Berdampak ke Riau
Rabu, 21 Februari 2018 - 11:57 wib

Rp57,15 M Dana PSR Masuk ke Rekening Petani
Rabu, 21 Februari 2018 - 11:50 wib

Hanya Ingin Miliki Handphone, ABG Nekat Membunuh
Rabu, 21 Februari 2018 - 11:44 wib
BNPB Belum Penuhi Peminjaman Helikopter

BNPB Belum Penuhi Peminjaman Helikopter
Rabu, 21 Februari 2018 - 11:42 wib

Pelalawan Krisis Air Bersih
Rabu, 21 Februari 2018 - 11:42 wib

UAS: Di Balik Gelar Itu Ada Pembelaan
Rabu, 21 Februari 2018 - 11:26 wib
Cari Berita
Feature Terbaru
Membuang Asam, Menjaga Payau

Minggu, 18 Februari 2018 - 11:25 WIB

Bangunan Rusak dan Rumput Semakin Meninggi

Selasa, 06 Februari 2018 - 10:18 WIB

Negeri yang Tak Pernah Disentuh Ban Mobil

Minggu, 04 Februari 2018 - 12:16 WIB

KTP-el Dibuatkan, Lahan Diperjuangkan

Sabtu, 03 Februari 2018 - 11:51 WIB

Relokasi 5.000 Jiwa atau Lepaskan Status Lahan

Jumat, 02 Februari 2018 - 15:57 WIB

sumatranet
Sagang Online
loading...
Follow Us