Wonderful Indonesia
CERPEN BAYU PRATAMA
Benjor, Pistol, dan Sebutir Peluru
Minggu, 23 April 2017 - 01:36 WIB > Dibaca 1593 kali Print | Komentar
Benjor, Pistol, dan Sebutir Peluru
Benjor hanya punya satu peluru. Pistolnya yang diselipkan di celana bagian belakang membuatnya tak nyaman duduk sedari tadi. Seorang wanita duduk di sebelahnya, bertubuh besar dan tercium seperti bumbu dapur –membuatnya mual. Seorang pengamen bernyanyi di depan. Bus melaju, membawa orang-orang ke tempat tujuannya masing-masing. Kecuali Benjor, yang masih belum tahu ingin pergi ke mana. Benjor terus berhitung, “satu, cuma satu.”

Di dalam bus, Benjor tetap tak bisa diam karena sela pantatnya terasa dingin-dingin geli oleh moncong pistolnya. Wanita berbau bumbu dapur di sebelahnya tertidur sejak melewati daerah B, tubuhnya bergoyang setiap kali bus berbelok. “bagaimana kalau ibu ini saja?” tanya benjor dalam hati. “Satu, cuma satu,” tukasnya kemudian pada pertanyaannya itu. Benjor melihat ke luar jendela bus, banyak orang di luar. “Bagaimana jika mereka?” tanyanya lagi.

Hari ini Benjor bangun dari tidurnya karena alasan yang tak menyenangkan. Setelah sepuluh hari terkena serangan insomnia, di hari ke sebelas tidurnya yang tak terlalu nyenyak juga diganggu oleh suara dua ekor kucing yang bertengkar saling sahut di gang belakang apartemen. Di telinga Benjor, kucing-kucing itu mengeong macam suara meja digebrak. Menggiring Benjor pada satu mimpi buruk tentang sebutir peluru yang ditembakkan, berputar perlahan menuju batok kepalanya dan kemudian menembusnya. Mata Benjor tiba-tiba terbuka, dan setiap Benjor membuka mata tiba-tiba seperti itu, dia mendengar suara kaca pecah. Tubuhnya lemas, tentu saja. Sepuluh hari tidak tidur membuat dirinya merasa tak jelas sudah mati atau hidup. Kalau bukan amarahnya yang memuncak karena pertengkaran kucing-kucing itu, mungkin Benjor tak akan bisa bangun dari pembaringannya.

Dengan pasti, diangkatnya kursi duduk yang ada di kamarnya. Dibukanya jendela, kucing-kucing itu masih mengeong. Benjor melempar kursinya sekuat tenaga. Tapi karena tenaganya entah hilang ke mana, jangankan mengenai kucing-kucing itu, kursi yang dilempar Benjor malah lebih mirip terlepas begitu saja dari tangannya, tanpa usaha untuk melempar. Kursi itu jatuh menimpa besi penutup tempat sampah, menimbulkan suara yang lebih keras dari suara pertengkaran kucing-kuncing itu. Benjor hanya melongo, kepalanya tak bisa berpikir lagi. Matanya mengerjap-ngerjap. Suara kursinya yang jatuh menimpa besi penutup tempat sampah membuat kepalanya berdengung. Dilihatnya lampu-lampu di lantai bawah, apartemen depan dan juga jendela-jendela sekitarnya mulai menyala. Orang-orang mulai berteriak dan menyumpah-nyumpah. Saat itulah, satu tembakan, dan satu desingan peluru memecahkan kaca jendela Benjor. Benjor mundur ke belakang.

“Siapa yang menembak?” Benjor bertanya. Tubuhnya lemas. Tapi kalau bukan karena adrenalinnya yang terpicu oleh tembakan itu, mungkin Benjor tidak akan bisa bergerak. Cepat Benjor tiarap, kemudian merangkak ke sudut kamar, bersembunyi di bawah tempat tidur. Dia khawatir ada tembakan lagi. Sepuluh menit, Benjor menduga-duga. Keringatnya deras, napasnya terengah-engah. Menit ke sebelas, tidak terjadi apa-apa. Benjor mengintip.

Kepalanya mencuat dari bawah tempat tidur. Tidak terjadi apa-apa. Benjor merangkak mendekati jendela. Kepala Benjor mencuat lagi, perlahan dan tidak pasti. Matanya berusaha memperhatikan sekeliling. Lampu-lampu di lantai bawah, apartemen depan dan juga jendela-jendela sekitarnya telah padam. “Siapa yang menembak?” Benjor mengeluarkan kepalanya dari jendela, berusaha melihat sesuatu. Matanya memicing, tapi dia tahu, sebenarnya dia tidak melihat apa-apa. Karena badannya terlalu condong, Benjor terjatuh dari jendela, tubuhnya membentur besi penutup tempat sampah dan tiba-tiba Benjor membuka mata.

Setelah sepuluh hari terkena serangan insomnia, di hari ke sebelas tidurnya yang tak terlalu nyenyak juga diganggu oleh suara dua ekor kucing yang bertengkar saling sahut di gang belakang apartemen. Tubuhnya sudah lemas dan terasa melayang. Kalau bukan karena amarahnya yang naik karena kucing-kucing itu, mungkin Benjor tak akan bisa bangun dari pembaringannya. Dengan pasti diambilnya lampu tidur di sampingnya. Berjalan ke jendela, dan membukanya. Dengan sekuat tenaga Benjor melempar lampu tidur itu ke arah kucing-kucing yang bertengkar. Satu ekor kucing berhasil melarikan diri, yang satu lagi tak seberuntung kawannya. Benjor berlari ke luar apartemen, menuju gang belakang. Tak ditemukannya mayat kucing itu, padahal pisaunya telah siap dan berkilat-kilat. Dia ingin memotong-motong kucing itu, dia merasa pasti harus melakukannya. Lampu jalan di atasnya byar-pet. Benjor mendongak. Kaca di salah satu jendela pecah tiba-tiba. Benjor merasa jatuh dan membuka mata.


Graha Pena Riau Space for Rent
KOMENTAR
Berita Update

Pemberantasan Korupsi Tidak Jalan di Tempat
Rabu, 17 Oktober 2017 - 15:22 wib

DKV SMKN 4 Pekanbaru Unjuk Gigi dengan Karya
Rabu, 17 Oktober 2017 - 15:00 wib

PKS Beroperasi, Dongkrak Ekonomi Danau Lancang
Rabu, 17 Oktober 2017 - 14:53 wib
Kabupaten Indragiri Hilir
Verifikasi Kebenaran Informasi Media Sosial
Rabu, 17 Oktober 2017 - 12:51 wib
Kabupaten Indragiri Hilir
Komisi II Banyak Terima Aduan Konflik Agraria
Rabu, 17 Oktober 2017 - 12:34 wib
EKONOMI BISNIS
Dukung Pemerintah Registrasi Pelanggan Prabayar
Rabu, 17 Oktober 2017 - 12:28 wib

Buruh Melawan Suarakan Aspirasi, Cabut Permen LHK 17
Rabu, 17 Oktober 2017 - 12:01 wib

Akom Beri Sinyal Setnov Terlibat Kasus Proyek KTP-el
Rabu, 17 Oktober 2017 - 11:39 wib
Cari Berita
Kebudayaan Terbaru
Gubri Dijadwalkan Hadiri Haul 100 Tahun Ma’rifat Mardjani
Istri Pangkostrad Kagumi  Oleh-oleh Khas Riau

Rabu, 11 Oktober 2017 - 10:26 WIB

Ratusan Seniman Gelar Aksi untuk Rohingya

Jumat, 06 Oktober 2017 - 10:01 WIB

Kerajinan Khas Daerah Terus Dipopulerkan

Minggu, 01 Oktober 2017 - 12:50 WIB

Tanjak Semakin Digemari Masyarakat

Minggu, 01 Oktober 2017 - 12:35 WIB

sumatranet
Sagang Online
loading...
Follow Us
Populer hari ini