Wonderful Indonesia
Depan >> Berita >> Perca >>
CATATAN SEPAKBOLA
Keberuntungan atau Kecerdasan Zidane?
Kamis, 20 April 2017 - 03:04 WIB > Dibaca 2890 kali Print | Komentar
Keberuntungan atau Kecerdasan Zidane?
Oleh Hary B Koriun

UNTUK ketujuhkalinya secara berturut-turut, Real Madrid lolos ke semifinal Liga Champions. Dari ke tujuh pencapaian itu, Madrid dua kali merebut gelar. Tahun 2014 saat mengalahkan Atletico Madrid 4-1 di Estadio da Luz, Lisabon. Ketika itu Madrid ditangani Carlo Ancelotti. Lalu tahun 2016 lalu saat menang adu penalti dengan lawan yang sama di Stadion Giuseppe Meazza, Milano, tapi kali ini Zinedine Zidane (asisten Ancelotti tahun 2014) yang mengendalikan tim.

Sebelum gelar yang dipersembahkan oleh Don Carlo –panggilan Ancelotti— Madrid masih menjadi pemegang gelar terbanyak kompetisi yang sebelumnya bernama Piala Champions tersebut. Sebelum 2014, Madrid terakhir juara tahun 2002 saat menang tipis 2-1 atas Bayer Leverkusen di Hamden Park, Glasgow. Perlu waktu 12 tahun bagi Madrid untuk mendapatkan la decima (gelar ke-10). Dan, setelah meraih gelar ke-11 tahun lalu, nampaknya perlu waktu lama bagi tim-tim seperti AC Milan (7 gelar), Bayern Muenchen (5),  Barcelona (5) dan  Liverpool (5)  --tiga tim dengan perolehan gelar di bawah Madrid--  untuk bisa menyamai pencapaian Los Galacticos.

Don Carlo tetap seorang yang spesial bagi Madrid dan pendukungnya. Puasa gelar yang dianggap “terlalu lama” di Liga Champions, berhasil didapat oleh lelaki asal Italia itu bersama sang asisten, Zidane. Ketika di musim berikutnya dia harus dikeluarkan dari Madrid setelah nirgelar dalam semusim (gelar Piala Dunia Antarklub dan Piala Super Spanyol nampaknya tak dihitung), banyak orang tetap menyayanginya. Bukan hanya persoalan reputasi ketika memberikan gelar kepada klub-klub yang ditanganinya --Reggiana, Parma, Juventus, AC Milan, Chelsea, dan Paris St Germain-- atau ketika masih menjadi gelandang cadas di Parma, AS Roma, dan AC Milan, tetapi bagaimana dia mampu meredam konflik internal di klub-klub besar yang ditanganinya.

Di Madrid, dia mewarisi konflik internal yang sepertinya sengaja dibuat oleh Jose Mourinho. Dan semuanya beres di tangannya. Zidane juga banyak belajar darinya saat mengendalikan Madrid saat ini.

Di Stadion Santiago Bernabeu, Rabu (19/4/2017) dini hari, Ancelotti kembali ke “rumahnya” sebagai lawan dalam leg kedua 8 Besar. Di leg pertama, tim yang kini ditanganinya, Bayern Muenchen, kalah 1-2 di kandang sendiri, Allianz Arena. Jelas, itu bukan modal yang baik untuk melawan Madrid yang terkenal menjadi salah satu klub “paling tega” terhadap lawan-lawannya saat bermain di kandang sendiri. Namun, dengan kepercayaan diri tinggi, Ancelotti menyuntikkan semangat: “Aku bahkan tahu di mana lubang tikus di Santiago Bernabeu. Tak ada yang tak mungkin dalam sepakbola!”

Para pemain Muenchen kemudian memperlihatkan determinasinya. Di sepanjang babak pertama, Madrid tidak diberi celah untuk mengancam gawang Manuel Neuer. Madrid berada dalam tekanan. Puncaknya adalah ketika Casemiro melakukan kesalahan saat menginjak kaki Arjen Robben di kotak penalti menit ke-52. Tak mau mengulangi kesalahan dengan memberikan penalti kepada Arturo Vidal yang gagal mengeksekusinya di leg pertama, Robert Lewandowski berhasil membuat 78.364 pendukung Madrid di stadion dan jutaan lainnya di seluruh dunia, menjadi ketar-ketir. Sebab, setelah itu, Muenchen tak mengendorkan tekanan. Satu gol lagi, dan Madrid tak bisa membalas, selesailah.

Cristiano Ronaldo kemudian muncul sebagai pembeda. Umpan lambung Casemiro berhasil disundulnya dan berbuah gol di menit ke-76. Namun, semenit kemudian, sebuah sapuan pelan kapten Sergio Ramos malah masuk ke gawang sendiri yang membuat kedudukan menjadi 1-2. Sekali lagi, satu gol lagi bagi Muenchen, maka selesailah Madrid.

Yang terjadi kemudian, semuanya seperti déjà vu seperti leg pertama. Jika di Allianz Arena Javi Martinez yang harus keluar lapangan karena dua kartu kuning, kini giliran pemain “badak” Arturo Vidal yang harus keluar setelah tekelnya kepada Marco Asensio menit ke-84. Dan, sepertinya Ancelotti mulai menyadari, “lubang tikus” yang diketahuinya di Santiago Bernabeu, mulai tertutup dan tak terlihat. Pelan tapi pasti, Madrid mengendalikan permainan.

Yang terjadi kemudian, Ronaldo menggila dengan dua golnya, plus satu gol  cantik dari Asensio yang menyudahi perlawanan FC Holywood. Skor akhir 4-2, dan Madrid menatap semifinal dengan kemenangan agregat cukup besar, 6-3.

Apakah hasil ini cukup adil bagi Ancelotti dan Muenchen? Bukankah ini keberuntungan yang besar bagi Madrid?



    
    
    


Graha Pena Riau Space for Rent
KOMENTAR
Berita Update
NASIONAL
Keluarga Tak Percaya Ichwan Pelaku Bom
Senin, 29 Mei 2017 - 11:40 wib
Gangguan Tiroid Bisa  Sebabkan  Hamil Anggur
KESEHATAN
Gangguan Tiroid Bisa Sebabkan Hamil Anggur
Senin, 29 Mei 2017 - 11:37 wib
In Memoriam H Mulyadi, Wartawan Senior dan Tokoh Pers Riau
Loyal dan Berdedikasi Tinggi terhadap Profesi
Senin, 29 Mei 2017 - 11:33 wib
LINGKUNGAN
Masyarakat Perkampungan Tua Sidomulyo Balimau Kasai di Lapangan
Senin, 29 Mei 2017 - 11:31 wib
KESEHATAN
Hindari Makanan Gorengan Ketika Berbuka Puasa
Senin, 29 Mei 2017 - 10:56 wib
Abdul Somad Alumnus Darul Hadits Maroko
Bulan Pelatihan
Senin, 29 Mei 2017 - 10:50 wib
KESEHATAN
Cokelat Menurunkan Risiko Gangguan Irama Jantung
Senin, 29 Mei 2017 - 10:48 wib
POLITIK
Usul Kursi Pimpinan Wakil Rakyat Membengkak
Senin, 29 Mei 2017 - 10:44 wib
KESEHATAN
Sering Menyetir Berjam-jam Ganggu Kesehatan Mental
Senin, 29 Mei 2017 - 10:37 wib
KESEHATAN
Merokok Berdampak pada Gigi dan Bau Mulut
Senin, 29 Mei 2017 - 10:27 wib
Cari Berita
Perca Terbaru
Diapresiasi Mampu Jaga Kemajemukan

Senin, 10 April 2017 - 09:05 WIB

Setiap Bulan, Warga Desa Pandan Sari Inhil Berkurang Drastis
Kuliah Umum Panglima TNI- KAHMI Riau 5 April

Senin, 03 April 2017 - 10:53 WIB

Distribusi Soal UN Bertahap

Kamis, 30 Maret 2017 - 09:53 WIB

Ada Apa dengan Belanda?

Senin, 27 Maret 2017 - 00:34 WIB

sumatranet
Ranggi Riau Pos
loading...
Follow Us