Wonderful Indonesia
KOLOM ALINEA
Mengapa Harus Sastra?
Minggu, 02 April 2017 - 00:15 WIB > Dibaca 1032 kali Print | Komentar
Mengapa Harus Sastra?
Berita Terkait

Komik dan Pesan Moral



DALAM rangka menginisiasi Permendikbud No. 23 tahun 2015 tentang penumbuhan budi pekerti, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) mempunyai program unggulan bernama “Gerakan Literasi Bangsa (GLB)” yang bertujuan untuk menumbuhkan budi pekerti anak melalui budaya literasi (membaca dan menulis). Hal ini disampaikan oleh Kepala Pusat Pembinaan, Prof. Dr. Gufran Ali Ibrahim, M.S., pada Oktober tahun lalu di Jakarta.
Secara kultural masyarakat Indonesia memang belum memiliki budaya literasi yang tinggi. Minat baca masyarakat Indonesia masih sangat rendah. Mencermati hal itu, GLB dirancang untuk membiasakan anak gemar membaca dan menulis. Bentuk nyatanya adalah, membaca, mengontruksi, dan menulis kembali hasil bacaan. Bahan bacaan yang disediakan harus relevan dengan perkembangan psikologi dan kecerdasan siswa.

Untuk itu, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa melakukan berbagai kegiatan dalam rangka menyukseskan Gerakan Literasi Bangsa. Salah satu upaya nyatanya adalah dengan menyediakan bahan bacaan bagi siswa mulai dari tingkat SD, SMP, sampat tingkat SMA. Pada tahun 2016, Badan Bahasa mengadakan sayembara penulisan cerita rakyat dari seluruh nusantara. Kegiatan ini berhasil memperoleh 155 buah naskah cerita rakyat dari Sabang sampai Merauke.

Untuk tahun 2017, Badan Bahasa kembali mengadakan sayembara serupa, yakni Sayembara Penulisan Bahan Bacaan Gerakan Nasional Literasi 2017.  Sayembara ini  bisa diikuti oleh masyarakat umum dan komunitas sastra di seluruh Indonesia. Naskah yang akan dipilih berjumlah 190 naskah, terdiri dari cerita anak, cerita rakyat, lanskap, perubahan sosial masyarakat perkotaan dan pedesaan, kekayaan bahasa daerah, pelajaran penting dari tokoh-tokoh Indonesia, kuliner Indonesia,  dan arsitektur tradisional Indonesia. Semua naskah yang akan diterima harus dikemas dengan bahasa anak-anak, yakni usia 7 – 12 tahun (usia sekolah dasar).

Begitu besarnya perhatian Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa terhadap kesuksesan literasi di negeri ini, terutama dalam ketersediaan bahan bacaan bagi anak khususnya anak di usia sekolah dasar. Hal ini menurut Bapak Gufron sejalan dengan yang diungkapkan oleh Mendikbud, bahwa ada tiga hal penting yang berkaitan dengan tumbuh kembang literasi, yakni (1) tersedianya bahan bacaan yang memadai, (2) model-model pembelajaran literasi yang bisa meningkatkan indeks literasi bangsa, dan (3) pembiasaan membaca (bisa karena biasa).
Bahan bacaan yang diharapkan untuk siswa adalah bacaan-bacaan sastra. Hal ini tidak lain karena anak-anak sebenarnya membutuhkan sastra untuk pengembangan dirinya. Di dalam sastra terdapat unsur dan fungsi pendidikan yang bisa diambil hikmahnya oleh anak.  Lewat buku sastra yang sengaja dikreasikan untuk bacaan anak diharapkan pembaca anak memperoleh sesuatu yang baik bagi perkembangan kejiwaanya.

Melalui tokoh dan alur cerita yang menarik, anak sekaligus memperoleh sesuatu yang berharga tanpa harus disadari olehnya. Pesan-pesan yang terdapat di dalam sebuah cerita secara tidak disadari akan masuk ke hati dan pikiran seorang anak. Pesan-pesan dan nilai-nilai tersebut akan menjadi sebuah pembelajaran yang positif bagi anak tersebut. Pembelajaran melalui karya sastra akan lebih mudah masuk dan diterima oleh seorang anak dibanding pembelajaran tersebut diberikan seperti proses belajar mengajar oleh seorang guru di depan kelas. Oleh sebab itu, salah satu kriteria pemilihan buku bacaan sastra anak yang harus menjadi pertimbangan utama dan pertama adalah adanya unsur didaktis, tema-tema didaktis.

Akan tetapi, pesan dan nilai-nilai didaktis yang diharapkan dapat dipahami dan diterima oleh anak, tidak disampaikan dengan cara-cara yang menggurui. Prinsip tidak menggurui adalah suatu hal yang mesti menjadi karakteristik bacaan sastra. Melalui tema dan sikap tokoh di dalam sebuah karya sastra, anak akan bisa memahami mana yang baik dan mana yang tidak baik. Tokoh baik akan menjadi teladan bagi seorang pembaca anak. Maka wajar jika anak-anak mengidolakan seorang tokoh yang menjadi jagoan dalam sebuah cerita.

Biarkan pembaca anak memahami dan menemukan sendiri unsur-unsur didaktis itu, bukan dengan cara ditunjukkan secara langsung. Biarkan anak menikmati cerita itu, yang secara tidak langsung juga terbantu untuk memahami berbagai persoalan kehidupan yang diangkat menjadi tema, dan biarkan anak menemukan jati dirinya. Berbagai persoalan yang diangkat di dalam sebuah cerita sastra anak tentu memiliki sebab, akibat dan penyelesaian masalahnya. Liku-liku timbulnya masalah, cara para tokoh menyikapi dan menyelesaikan masalah tersebut akan menjadi sebuah pembelajaran berharga bagi pembaca anak.

Oleh sebab itu, sudah sepatutnya, sekolah dan orang tua juga mendukung dan membantu gerakan literasi bangsa ini. Agar gerakan gemar membaca dan rajin menulis ini diminati oleh anak-anak, terutama usia 7-12 tahun, orang tua dan sekolah harus bersinergi menciptakan lingkungan yang cinta akan buku. Jadikan membaca sebagai kegiatan yang menyenangkan, dan jadikan menulis sebagai kegiatan yang menggembirakan.

Di sekolah, guru bisa menjadikan pembelajaran sastra anak dengan memberikan buku-buku sastra anak untuk dibaca dan dipahami oleh anak didik mereka. Buku-buku yang diberikan kepada siswa tentu saja buku-buku sastra yang mengandung nilai didaktis. Setelah itu, guru bisa mendiskusikan isi cerita tersebut dengan siswa. Baik itu mengenai tema, penokohan, amanat maupun alur ceritanya.

Selain membaca buku sastra, dalam upaya meningkatkan minat baca dan tulis siswa, guru juga bisa memberikan tugas menulis karangan kepada siswa. Hal ini memungkinkan siswa belajar berimajinasi sekaligus belajar menuangkan imajinasinya tersebut dalam bentuk tulisan. Oleh sebab itu, membaca dan menulis memiliki kaitan yang erat, dengan membaca siswa bisa menambah wawasan dan memperluas imajinasinya. Wawasan serta imajinasi yang didapatnya dari kegiatan membaca ini bisa dituangkannya dalam bentuk tulisan.***

Marlina adalah peneliti di Balai Bahasa Provinsi Riau.




Graha Pena Riau Space for Rent
KOMENTAR
Berita Update
Lusa,  DLHK Kampanye Peduli Sampah di CFD

Lusa, DLHK Kampanye Peduli Sampah di CFD
Jumat, 23 Februari 2018 - 09:48 wib
Belanja Lebih Hemat di Informa Wow Sale

Belanja Lebih Hemat di Informa Wow Sale
Jumat, 23 Februari 2018 - 09:47 wib
Pengawasan Peredaran Barang Ilegal Terus Diperketat

Pengawasan Peredaran Barang Ilegal Terus Diperketat
Jumat, 23 Februari 2018 - 09:46 wib
Pemkab Lelang Aset Kendaraan

Pemkab Lelang Aset Kendaraan
Jumat, 23 Februari 2018 - 09:42 wib

P3E Sumatera Gelar Aksi Bersih DAS Siak
Jumat, 23 Februari 2018 - 09:41 wib
Lampu Jalan Hilang Bukan Tanggung Jawab Dishub

Lampu Jalan Hilang Bukan Tanggung Jawab Dishub
Jumat, 23 Februari 2018 - 09:18 wib

Waspada! Jangan Tinggalkan Uang Dalam Mobil
Jumat, 23 Februari 2018 - 08:45 wib
DIGELAR DI ASIT
Suku Teater Mulai Pementasan Perdana "Dilanggar Todak"
Jumat, 23 Februari 2018 - 01:20 wib
DIBERIKAN ANDI NAROGONG
Mengejutkan! Kasus e-KTP, Novanto Ternyata Dapat Jatah USD 1,8 Juta
Jumat, 22 Februari 2018 - 21:00 wib
JADI POLEMIK
Soal Perppu MD3, Bamsoet Akui Sepakat dengan Jokowi, Ini Alasannya
Jumat, 22 Februari 2018 - 20:50 wib
Cari Berita
Kebudayaan Terbaru
Suku Teater Mulai Pementasan Perdana "Dilanggar Todak"

Jumat, 23 Februari 2018 - 01:20 WIB

 Berita Hoaks dan Kesantunan Berbahasa Menjadi Perhatian
55 Situs Budaya Diusulkan Jadi WBTB

Selasa, 20 Februari 2018 - 10:51 WIB

Lelaki Tua dan Boneka

Minggu, 18 Februari 2018 - 11:15 WIB

Metonimia

Minggu, 18 Februari 2018 - 11:08 WIB

sumatranet
Sagang Online
loading...
Follow Us