Wonderful Indonesia
KOLOM ALINEA
Mengkhianati Bahasa Nasional
Minggu, 26 Maret 2017 - 02:27 WIB > Dibaca 1215 kali Print | Komentar
Mengkhianati Bahasa Nasional
Berita Terkait

Mengapa Harus Sastra?



Oleh Riki Utomi

SEJAUH mana masyarakat Indonesia peduli dengan bahasa nasionalnya? Adakah sikap peduli itu tertanam kokoh di hati sehingga mampu ke tingkat menjaga atau merawatnya? Sejumlah pertanyaan sejenis itu akan beranak-pinak sejauh kita masih belum memiliki kepercayaan diri sebagai pengguna bahasa itu. Pertanyaan seperti itu sebenarnya cukup ironis sekaligus pesimis, namun penulis rasa, perlu diungkapkan di tulisan kecil ini, mengingat bahasa juga bukan perkara yang main-main karena menyangkut persoalan yang sangat mendasar dalam kehidupan manusia.

Mengapa “mengkhianati” dan siapa pula yang dikhianati? Sebelum menjawab hal itu, kita lihat beberapa contoh penggunaan bahasa dalam masyarakat dewasa ini. Orang yang sedang dalam perjalanan menggunakan akronim “OTW” singkatan dari on the way (dalam perjalanan). Ada pula akronim sejenis yang juga populer digunakan yaitu “BTW” (by the way) yang berarti “omong-omong” yang menjurus kepada memberi kesan berbasa-basi sebelum memulai pembicaraan. Singkatan-singkatan kata itu kita tahu adalah berasal dari bahasa Inggris. Akan tetapi, masyarakat kita—entah mengapa—begitu sering dan bangga untuk mengucapkan dan menuliskan bahasa asing.  Seolah-olah akronim itu sesuatu yang pas dan berkesan di hati. Mungkin juga karena merasa lebih “bergengsi” atau memiliki prestise yang lebih tinggi dibandingkan menggunakan bahasa nasional.

Fenomena sejenis dengan masalah tersebut dapat juga ditemukan di acara-acara formal baik yang diadakan oleh instansi atau forum-forum organisasi. Beberapa kali penulis menjumpai baliho suatu acara dengan tulisan bahasa asing terpampang besar seperti: TOT (training of trainer), IHT (in house training), TO (try out), atau smart learning training, dan lain-lainnya. Pengambilan tulisan bahasa asing itu untuk diposisikan sebagai topik utama kegiatan—dalam hal ini oleh instansi dan organisasi—tampak gencar dilakukan tanpa menimbang akan bahasa nasional sendiri (atau memang tidak peduli sama sekali?). Ironis sekali! Seolah-olah kita tidak sedang berada di negeri sendiri.

Tidak dapat dimengerti mengapa penggunaan tulisan bahasa asing itu begitu gencar seolah-olah “memang harus begitu” dalam menamakan kegiatannya. Bahkan anehnya tidak pernah kita jumpai penulisan judul besar dengan menggunakan bahasa Indonesia, baru di bawahnya diberi tambahan dengan penulisan bahasa asing. Dengan demikian, masyarakat kita sejatinya memang belum memiliki rasa bangga dan antusiasme dalam menggunakan bahasa nasional, tapi lebih mendahulukan bahasa asing dan membangga-banggakannya. Kecuali —penulis tahu persis— kegiatan yang diadakan oleh pihak Balai Bahasa Riau, akan tertib dan teratur dalam penggunaan bahasa nasional ini.

Kita patut prihatin pada sikap berbahasa masyarakat, sebab sebenarnya kita telah memiliki bahasa nasional tapi masih belum menjunjung tinggi bahasa ini. Bagi masyarakat yang tidak memiliki kesadaran untuk bangga pada bahasa nasionalnya sebenarnya telah menjurus kepada “mengkhianati”, bukankah mereka lebih bangga dengan mengedepankan bahasa asing?
Bandingkan dengan Thailand dan Jepang. Thailand sangat kental dengan budaya dan bahasa. Bahasa Thai dengan tulisannya yang unik itu, memiliki pengaruh bagi masyarakat Thailand, juga oleh orang asing yang berada di sana. Orang asing malah seperti “mau tidak mau” harus mengerti bahasa Thai (Siam) tersebut.

Jepang, negeri yang memiliki pesona dan ciri khas budaya, juga mampu mempertahankan segala sesuatu—termasuk bahasa—dalam segala lini kehidupannya. Sikap mengedepankan bahasa nasional tetap mereka pertahankan; meski memang tak dapat dielak oleh “gempuran” bahasa asing. Lihatlah, mereka juga begitu gencar menggunakan bahasa nasionalnya baik dalam bentuk ujaran atau bentuk aksara. Tulisan-tulisan yang terpampang besar seluas mata memandang di tiap deretan bangunan selalu menggunakan aksara Hiragana. Bahkan, nyaris, tanpa keterangan embel-embel bahasa asing. Namun begitu, apakah mereka (baca: orang Jepang) meninggalkan bahasa asing atau menyepelekan bahasa asing? Tentu tidak. Sikap mereka seperti itu sejatinya menunjukkan rasa kecintaan yang matang dan dewasa terhadap nasionalisme bangsa—dalam hal ini bahasa.

Bercermin pada hal di atas, ada baiknya (atau tidak ada salahnya) kita juga memupuk rasa cinta seperti itu. Kecintaan yang menjurus kepada rasa bangga memiliki bahasa nasional sebagai anugerah dari Tuhan untuk kemudahan dalam pergaulan di dalam negara ini. Hal yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana cara memupuk rasa bangga itu, rasa cinta, dan kepedulian itu? Atau yang lebih prinsipil lagi, rasa tanggung jawab sebagai pengguna bahasa Indonesia? Hal itu tentu tidak semudah membalik telapak tangan, mengingat masyarakat semakin tidak menghargai bahasa nasionalnya.

Bagaimana dengan kemampuan para pemakai bahasa Indonesia dalam memahami makna setiap makna kata? Sebagai contoh, penggunaan kata “siap” dan “selesai”, kenyataannya masih banyak tumpang tindih yang berujung kepada kebablasan makna. Hampir semua masyarakat kita—kecuali yang mengerti—menyebut kalimat yang menunjukkan sesuatu yang telah diakhiri dengan kata “siap”.

Oleh sebab itu, “kecerdasan” menggunakan bahasa Indonesia ini sejatinya sudah harus  dimiliki oleh masyarakat. Masyarakat semestinya sudah punya rasa bangga akan bahasa nasional, bukan sebaliknya malah “meruntuhkan”. Mental yang masih menganggap enteng bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional akan berakibat buruk bagi generasi pengguna yang akan datang. Bisa-bisa generasi kita nantinya tidak merasa penting lagi dalam menggunakan bahasa Indonesia dan menganggapnya remeh hingga butir ketiga Sumpah Pemuda yang dicetuskan oleh datuk nenek-moyangnya hanya sebatas menjadi seremonial belaka, sebab kesan “menjunjung” itu seperti menjadi “mengkhianati”. Ini yang perlu kita khawatirkan dari sekarang, dan sudah sepantasnya kita harus khawatir. ***

Riki Utomi adalah guru Bahasa Indonesia SMA Negeri 3 Tebingtinggi-Selatpanjang



Graha Pena Riau Space for Rent
KOMENTAR
Berita Update

DPRD Bentuk Pansus Bahas 7 Ranperda Retribusi
Kamis, 14 Desember 2017 - 09:14 wib
TEMBILAHAN
Jelang Natal, Peredaran Miras Diperketat
Kamis, 14 Desember 2017 - 09:13 wib
PEKANBARU
DAK BOKB Riau 2018 Capai Rp51,8 Miliar
Kamis, 14 Desember 2017 - 09:13 wib

Pretzel, si Kue Gurih Manis Asal Eropa
Kamis, 14 Desember 2017 - 09:12 wib

STMIK Hang Tuah-Multimatics Jalin MoU
Kamis, 14 Desember 2017 - 09:09 wib

OSIS SMAN 12 Pekanbaru Taja Lomba Antar Kelas
Kamis, 14 Desember 2017 - 09:05 wib

Dinas Koperasi dan UKM Pekanbaru Gelar FGD Ranperda
Kamis, 14 Desember 2017 - 09:00 wib
SEMPAT DIRAWAT DI RUMAH SAKIT
AM Fatwa Pagi Tadi Wafat
Kamis, 14 Desember 2017 - 07:53 wib
YANG KENA PECAT DIREHABILITASI
Airlangga Beri Jabatan pada Kader yang Dicopot Setya Novanto
Kamis, 14 Desember 2017 - 01:12 wib
GANTIKAN SETYA NOVANTO
Rabu Tengah Malam, Airlangga Hartarto Ditetapkan Jadi Ketua Umum Golkar
Kamis, 14 Desember 2017 - 00:55 wib
Cari Berita
Kebudayaan Terbaru
Dari Pekan Rantau Melayu di Hotel Sri Indrayani

Senin, 11 Desember 2017 - 09:55 WIB

Jefri Antoni Beri Motivasi Umat untuk Bangun Masjid

Senin, 11 Desember 2017 - 09:29 WIB

Riset dan Proses Kreatif

Minggu, 10 Desember 2017 - 19:48 WIB

Kostum Tiara Tembus Enam Besar  Miss Ambasador

Minggu, 10 Desember 2017 - 19:40 WIB

Tiga Hari Mengenal Melayu

Jumat, 08 Desember 2017 - 09:40 WIB

sumatranet
Sagang Online
loading...
Follow Us