Wonderful Indonesia
KOLOM ALINEA
Mengkhianati Bahasa Nasional
Minggu, 26 Maret 2017 - 02:27 WIB > Dibaca 1043 kali Print | Komentar
Mengkhianati Bahasa Nasional
Berita Terkait

Mengapa Harus Sastra?



Oleh Riki Utomi

SEJAUH mana masyarakat Indonesia peduli dengan bahasa nasionalnya? Adakah sikap peduli itu tertanam kokoh di hati sehingga mampu ke tingkat menjaga atau merawatnya? Sejumlah pertanyaan sejenis itu akan beranak-pinak sejauh kita masih belum memiliki kepercayaan diri sebagai pengguna bahasa itu. Pertanyaan seperti itu sebenarnya cukup ironis sekaligus pesimis, namun penulis rasa, perlu diungkapkan di tulisan kecil ini, mengingat bahasa juga bukan perkara yang main-main karena menyangkut persoalan yang sangat mendasar dalam kehidupan manusia.

Mengapa “mengkhianati” dan siapa pula yang dikhianati? Sebelum menjawab hal itu, kita lihat beberapa contoh penggunaan bahasa dalam masyarakat dewasa ini. Orang yang sedang dalam perjalanan menggunakan akronim “OTW” singkatan dari on the way (dalam perjalanan). Ada pula akronim sejenis yang juga populer digunakan yaitu “BTW” (by the way) yang berarti “omong-omong” yang menjurus kepada memberi kesan berbasa-basi sebelum memulai pembicaraan. Singkatan-singkatan kata itu kita tahu adalah berasal dari bahasa Inggris. Akan tetapi, masyarakat kita—entah mengapa—begitu sering dan bangga untuk mengucapkan dan menuliskan bahasa asing.  Seolah-olah akronim itu sesuatu yang pas dan berkesan di hati. Mungkin juga karena merasa lebih “bergengsi” atau memiliki prestise yang lebih tinggi dibandingkan menggunakan bahasa nasional.

Fenomena sejenis dengan masalah tersebut dapat juga ditemukan di acara-acara formal baik yang diadakan oleh instansi atau forum-forum organisasi. Beberapa kali penulis menjumpai baliho suatu acara dengan tulisan bahasa asing terpampang besar seperti: TOT (training of trainer), IHT (in house training), TO (try out), atau smart learning training, dan lain-lainnya. Pengambilan tulisan bahasa asing itu untuk diposisikan sebagai topik utama kegiatan—dalam hal ini oleh instansi dan organisasi—tampak gencar dilakukan tanpa menimbang akan bahasa nasional sendiri (atau memang tidak peduli sama sekali?). Ironis sekali! Seolah-olah kita tidak sedang berada di negeri sendiri.

Tidak dapat dimengerti mengapa penggunaan tulisan bahasa asing itu begitu gencar seolah-olah “memang harus begitu” dalam menamakan kegiatannya. Bahkan anehnya tidak pernah kita jumpai penulisan judul besar dengan menggunakan bahasa Indonesia, baru di bawahnya diberi tambahan dengan penulisan bahasa asing. Dengan demikian, masyarakat kita sejatinya memang belum memiliki rasa bangga dan antusiasme dalam menggunakan bahasa nasional, tapi lebih mendahulukan bahasa asing dan membangga-banggakannya. Kecuali —penulis tahu persis— kegiatan yang diadakan oleh pihak Balai Bahasa Riau, akan tertib dan teratur dalam penggunaan bahasa nasional ini.

Kita patut prihatin pada sikap berbahasa masyarakat, sebab sebenarnya kita telah memiliki bahasa nasional tapi masih belum menjunjung tinggi bahasa ini. Bagi masyarakat yang tidak memiliki kesadaran untuk bangga pada bahasa nasionalnya sebenarnya telah menjurus kepada “mengkhianati”, bukankah mereka lebih bangga dengan mengedepankan bahasa asing?
Bandingkan dengan Thailand dan Jepang. Thailand sangat kental dengan budaya dan bahasa. Bahasa Thai dengan tulisannya yang unik itu, memiliki pengaruh bagi masyarakat Thailand, juga oleh orang asing yang berada di sana. Orang asing malah seperti “mau tidak mau” harus mengerti bahasa Thai (Siam) tersebut.

Jepang, negeri yang memiliki pesona dan ciri khas budaya, juga mampu mempertahankan segala sesuatu—termasuk bahasa—dalam segala lini kehidupannya. Sikap mengedepankan bahasa nasional tetap mereka pertahankan; meski memang tak dapat dielak oleh “gempuran” bahasa asing. Lihatlah, mereka juga begitu gencar menggunakan bahasa nasionalnya baik dalam bentuk ujaran atau bentuk aksara. Tulisan-tulisan yang terpampang besar seluas mata memandang di tiap deretan bangunan selalu menggunakan aksara Hiragana. Bahkan, nyaris, tanpa keterangan embel-embel bahasa asing. Namun begitu, apakah mereka (baca: orang Jepang) meninggalkan bahasa asing atau menyepelekan bahasa asing? Tentu tidak. Sikap mereka seperti itu sejatinya menunjukkan rasa kecintaan yang matang dan dewasa terhadap nasionalisme bangsa—dalam hal ini bahasa.

Bercermin pada hal di atas, ada baiknya (atau tidak ada salahnya) kita juga memupuk rasa cinta seperti itu. Kecintaan yang menjurus kepada rasa bangga memiliki bahasa nasional sebagai anugerah dari Tuhan untuk kemudahan dalam pergaulan di dalam negara ini. Hal yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana cara memupuk rasa bangga itu, rasa cinta, dan kepedulian itu? Atau yang lebih prinsipil lagi, rasa tanggung jawab sebagai pengguna bahasa Indonesia? Hal itu tentu tidak semudah membalik telapak tangan, mengingat masyarakat semakin tidak menghargai bahasa nasionalnya.

Bagaimana dengan kemampuan para pemakai bahasa Indonesia dalam memahami makna setiap makna kata? Sebagai contoh, penggunaan kata “siap” dan “selesai”, kenyataannya masih banyak tumpang tindih yang berujung kepada kebablasan makna. Hampir semua masyarakat kita—kecuali yang mengerti—menyebut kalimat yang menunjukkan sesuatu yang telah diakhiri dengan kata “siap”.

Oleh sebab itu, “kecerdasan” menggunakan bahasa Indonesia ini sejatinya sudah harus  dimiliki oleh masyarakat. Masyarakat semestinya sudah punya rasa bangga akan bahasa nasional, bukan sebaliknya malah “meruntuhkan”. Mental yang masih menganggap enteng bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional akan berakibat buruk bagi generasi pengguna yang akan datang. Bisa-bisa generasi kita nantinya tidak merasa penting lagi dalam menggunakan bahasa Indonesia dan menganggapnya remeh hingga butir ketiga Sumpah Pemuda yang dicetuskan oleh datuk nenek-moyangnya hanya sebatas menjadi seremonial belaka, sebab kesan “menjunjung” itu seperti menjadi “mengkhianati”. Ini yang perlu kita khawatirkan dari sekarang, dan sudah sepantasnya kita harus khawatir. ***

Riki Utomi adalah guru Bahasa Indonesia SMA Negeri 3 Tebingtinggi-Selatpanjang



Graha Pena Riau Space for Rent
KOMENTAR
Berita Update
DAKWAAN JPU KPK
Dua Pejabat Kemendes Terancam 5 Tahun Penjara dalam Kasus Suap
Rabu, 16 Agustus 2017 - 19:57 wib
DITARGETKAN SELESAI TAHUN DEPAN
Kirim Jutaan Blanko, Mendagri Minta Masyarakat Segera Rekam e-KTP
Rabu, 16 Agustus 2017 - 19:52 wib
SIDANG TAHUNAN
Kritik Pidato Jokowi soal Lembaga Negara, Fadli Singgung Pembubaran Ormas
Rabu, 16 Agustus 2017 - 19:48 wib
DIJADWALKAN MEMBACA PIDATO
Absen di Pembukaan Masa Sidang DPR, Setnov Dikabarkan Sakit
Rabu, 16 Agustus 2017 - 19:44 wib
SIDANG TAHUNAN
Ternyata, Ketua MPR Sudah Izinkan Tifatul Doakan Jokowi Supaya Gemuk
Rabu, 16 Agustus 2017 - 19:38 wib
SIDANG TAHUNAN
Tidak Sesuai Realita, Pidato Jokowi soal Ekonomi Dikritik Fadli Zon
Rabu, 16 Agustus 2017 - 19:27 wib
PIDATO JOKOWI DI SIDANG TAHUNAN
Kepercayaan Tinggi dari Rakyat Harus Didapatkan Semua Lembaga Negara
Rabu, 16 Agustus 2017 - 19:24 wib
PIDATO KENEGARAAN DI SIDANG TAHUHAN
Ketika Komitmen Jokowi Perkuat KPK Terganjal Pansus dan Revisi UU
Rabu, 16 Agustus 2017 - 19:00 wib
SEA GAMES 2017
Jelang Kontra Filipina, Timnas Tiba-tiba Ubah Jadwal Latihan, Alasannya...
Rabu, 16 Agustus 2017 - 18:35 wib
DIDUGA KABUR KE LUAR NEGERI
Pencegahan Komisaris First Travel Ternyata Belum Dilakukan, Ini Alasannya
Rabu, 16 Agustus 2017 - 18:15 wib
Cari Berita
Kebudayaan Terbaru
Pengurus IKBSD Dikukuhkan

Selasa, 15 Agustus 2017 - 10:35 WIB

Pantun Menuntun Santun

Minggu, 13 Agustus 2017 - 20:56 WIB

Integritas tak Sepintas

Minggu, 13 Agustus 2017 - 17:27 WIB

Sajak-Sajak Hang Kafrawi

Minggu, 13 Agustus 2017 - 01:10 WIB

Bahasa Ibu dan Anak-Anak Milenial

Minggu, 13 Agustus 2017 - 00:54 WIB

sumatranet
Ranggi Riau Pos
loading...
Follow Us