Wonderful Indonesia
Depan >> Berita >> Hukum >>
NASIONAL
Modus Pencucian Uang Makin Rapi
Senin, 20 Maret 2017 - 11:18 WIB > Dibaca 574 kali Print | Komentar
Modus Pencucian Uang Makin Rapi
Pencucian Uang
JAKARTA (RIAUPOS.CO) - Uang dan aset menjadi jalan untuk menemukan sebuah kejahatan ekonomi. Namun, ternyata ada banyak cara yang dirancang sedemikian rupa untuk menghilangkan jejak. Dari membeli tanah di pelosok, rekening pinjaman hingga kirim uang ke luar negeri.

Pelaku kejahatan sudah mahfum bahwa uang hasil kejahatan yang nilainya fantastis bisa mengundang bahaya. Mau tidak mau, pelaku kejahatan harus melakukan pencucian uang. Seperti halnya, yang dilaporkan Koordinator Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) Boyamin Saiman ke Bareskrim beberapa waktu lalu.

Boyamin melaporkan adanya penegak hukum berinisial MIB yang menyembunyikan asetnya dengan nilai sekitar Rp90 miliar. Aset itu berupa tanah yang dibeli daerah pelosok Tegal dan Brebes, Jawa Tengah. Aset tanah itu terbagi dalam enam titik.

”Pembelian itu tidak diatasnamakan MIB, melainkan seorang makelar berinisial SUB,” tuturnya.

Ada tanah seluas 100 hektare di Kubangsari, Ketanggungan, Brebes dibeli pada 2013/2014. Lalu, ada tanah yang jumlahnya juga 100 hektare di kota yang sama. Lalu, empat tanah terakhir berada di Tegal, dengan luas 3 ribu meter, 1.500 meter, 3,5 hektare dan rumah dengan lahan seluas 600 meter. ”Semua itu dibeli SUB yang profil keuangannya sangat tidak tidak cocok dengan asetnya,” ungkapnya.

Upaya untuk mengetahui bagaimana modus pencucian uang dengan membeli tanah itu dilakukan, Jawa Pos (JPG) Jumat lalu (17/3) bertemu dengan sejumlah pihak yang mengetahui teknis pembelian tanah tersebut, di antaranya notaris dan salah satu makelar.

Salah satu makelar tanah yang tidak ingin disebut namanya, mengungkapkan inisial SUB itu bukan sembarang makelar, melainkan makelar tanah kelas kakap di Tegal dan Brebes. SUB ini awalnya makelar peliharaan dari seorang kepala daerah. Namun, karena terjadi konflik antara keduanya, akhirnya dia beralih. ”Sekarang dia menjadi makelar untuk seorang penegak hukum itu,” tuturnya.

Dalam menyasar tanah, SUB ini dibantu oleh dua anak buahnya. Keduanya berinisial A dan C. Ketiganya itu secara bersamaan mencari informasi tanah yang dijual.

”Salah satu yang ditemukan itu yang 100 hektare itu di Kubangsari, Brebes,” jelasnya.

Untuk kepentingan penegak hukum itu, SUB lalu membeli tanah 100 hektare itu. Untuk tiap meternya harganya sekitar Rp20 ribu hingga Rp40 ribu. Masyarakat menjual tanahnya secara bersama-sama karena lokasinya jauh dari tempat tinggal.

”Lahan itu bekas perkebunan jaman penjajahan,” ujarnya.
Pembelian tanah itu dilakukan secara bertahap. Terkadang pada 20 orang dulu, Lalu disusul 20 orang lainnya. Entah mengapa tidak langsung dibeli semua sekaligus. ”Pembayarannya dilakukan secara tunai dengan mencairkan cek dari bank,” tuturnya.

Hampir tidak pernah pembelian dilakukan dengan transfer antar bank. Dia mengatakan, pernah suatu kali dirinya melihat sendiri adanya tiga cek yang dipegang SUB tersebut.

”Kalau SUB menyebut, ini dari bos yang profesinya penegak hukum di Jakarta. Pernah juga suatu kali penegak hukum ini mengajak SUB dan dua makelar bertemu di Hotel Bahari Inn,” tuturnya.

Belakangan, ternyata diketahui di tanah yang dibeli SUB untuk penegak hukum itu akan dilewati jalan tol. Dengan begitu harganya akan meningkat drastis. Bahkan, ada perusahaan dari Korea yang ingin membeli tanah itu dengan harga Rp100 ribu per meter. ”Mungkin mereka sudah mengetahui duluan kalau lokasi itu akan dipakai untuk jalan tol,” jelasnya.

Untuk enam tanah tersebut, semua sertifikat diatasnamakan SUB. Namun, sertifikat itu tidak dipegang oleh SUB, melainkan oleh penegak hukum tersebut.

”Bisa dicek di Badan Pertanahan Nasional (BPN), enam tanah itu tercatat milik SUB,” paparnya.
Graha Pena Riau Space for Rent
KOMENTAR
Berita Update
WAKILI ASPIRASI WARGA
Usul Bentuk Fraksi di DPR, MUI Klaim Tak Berpolitik
Kamis, 26 April 2017 - 20:41 wib
TERUS DIGESA, TERJUNKAN TIM KHUSUS
Penjelasan Wakapolri Terkait Pengungkapan Kasus Novel Baswedan
Kamis, 26 April 2017 - 20:32 wib
BERBEDA DENGAN KESAKSIAN ANAK BUAH
Soal Proyek Satelit Monitoring, Kepala Bakamla Bantah Minta Fee
Kamis, 26 April 2017 - 20:25 wib
TERKAIT PENYIRAMAN AIR KERAS
Polisi Ungkap Perkembangan Terbaru Kasus Novel Baswedan
Kamis, 26 April 2017 - 20:19 wib
KASUS SATELIT MONITORING
Akui Kenal, Kepala Bakamla Sempat Kunjungi Rumah Fahmi
Kamis, 26 April 2017 - 20:15 wib
PERNAH DIGUNAKAN SAAT TETAPKAN CALON KAPOLRI
Fahri: Usulan Hak Angket Bukan karena Kasus e-KTP
Kamis, 26 April 2017 - 20:05 wib
PILGUB DKI 2017
Anies Kenang Risma saat Syukuran Kemenangan
Kamis, 26 April 2017 - 20:01 wib
TERUS BERDATANGAN SEJAK KEMARIN
Kebanjiran Karangan Bunga, Ahok: Saya Foto Aja
Kamis, 26 April 2017 - 19:56 wib
LEWAT JALUR LAUT
Polisi Ungkap Modus Baru Penyelundupan Narkoba dari Cina
Kamis, 26 April 2017 - 19:47 wib
TERKAIT INPRES ERA MEGAWATI
Jokowi soal Kasus BLBI: Bedakan Kebijakan dan Pelaksanaan
Kamis, 26 April 2017 - 19:41 wib
Cari Berita
Hukum Terbaru
Penjelasan Wakapolri Terkait Pengungkapan Kasus Novel Baswedan
Soal Proyek Satelit Monitoring, Kepala Bakamla Bantah Minta Fee
Polisi Ungkap Perkembangan Terbaru Kasus Novel Baswedan
Akui Kenal, Kepala Bakamla Sempat Kunjungi Rumah Fahmi
Jokowi soal Kasus BLBI: Bedakan Kebijakan dan Pelaksanaan
sumatranet
Ranggi Riau Pos
loading...
Follow Us
Populer hari ini