Wonderful Indonesia
FLORENSIA CRISTY
Penasaran dengan Medali Emas
Sabtu, 18 Maret 2017 - 00:49 WIB > Dibaca 584 kali Print | Komentar
Penasaran dengan Medali  Emas
Florensia Cisty saat melakukan selebrasi ketika memperkuat Riau di PON XIX 2016 Jawa Barat lalu. (HARY B KORIUN/RIAUPOS.CO)
Florensia Cristy masih penasaran dengan medali emas yang belum juga didapatkannya di iven internasional bersama timnas Indonesia. Di SEA Games 2017 Kuala Lumpur, dia bertekad dan bekerja keras untuk mendapatkannya.

Oleh Hary B Koriun, Pekanbaru

RASA penasaran Florensia Cristy seperti berada di ubun-ubun. Bersama timnas Indonesia, dia sudah bermain di berbagai iven internasional, baik turnamen maupun multiiven seperti SEA Games dan Asian Games. Namun, semuanya belum membuahkan medali emas.

Tahun ini, kesempatan untuk mendapatkan medali juara pertama itu terbuka. Bersama pesepaktakraw putri Riau lainnya, Sutini, Flo –begitu ia disapa— dipanggil masuk Pelatnas persiapan SEA Games 2017 di Kuala Lumpur, Malaysia, Agustus mendatang. Ia berharap, kali ini medali emas yang diinginkannya itu bisa digenggam.

“Penasaran jadinya, menjadi sedikit obsesi malah,” ujar gadis kelahiran Pekanbaru yang pada 19 Maret 1992 ini.

Flo sudah turun membela Merah Putih di berbagai iven internasional sejak 2010. Iven bergengsi pertama yang diikutinya adalah meraih medali perunggu di Asian Games 2010 Guangzhou, Cina. Empat tahun kemudian, 2014, di Asian Games Incheon, Korea, dua perunggu didapatkannya.  Di SEA Games, Flo turun pertama kali pada SEA Games 2011 di Palembang dengan perolehan 1 perak. Kemudian, di SEA Games Myanmar 2013, mendapat 2 perunggu.

“Selalu, kalau tidak kalah dari Thailand, pasti Myanmar,” jelas anak bungsu (keempat) dari  pasangan Dorlan dan Maria ini.

Rasa penasaran inilah yang membuatnya terobsesi untuk bertarung habis-habisan di Kuala Lumpur nanti. Setelah pulang dari PON XIX 2016 Jabar, dia tak mau istirahat lama. Ketika banyak teman-temannya tak latihan, dia tetap ikut latihan bersama pemain-pemain PPLP Dispora Riau di bawah asuhan Supardi yang juga pelatihnya waktu di PON Jabar.

Untuk persiapan SEA Games 2017 ini, Pengurus Besar Persatuan Sepaktakraw Indonesia (PB PSTI) hanya memanggil masing-masing enam pemain putra dan putri. Dua dari enam pemain putri itu asal Riau. Indonesia sendiri akan turun di tiga nomor, yakni beregu, double event, dan 4 lawan 4. Dengan hanya membawa enam pemain di Pelatnas, seluruh pemain akan dimaksimalkan potensinya.

Untuk posisi killers (smes), Flo akan bersaing dengan pemain asal Jawa Barat, Lena. Flo mengaku akan bekerja keras untuk merebut posisi sebagai penyemes utama, dan ingin turun di semua nomor yang dipertandingkan.

Menurut pelatih Riau, Supardi, untuk saat ini di posisinya, Flo adalah penyemes paling lengkap yang dimiliki Indonesia. Dia memiliki postur paling jangkung, jangkauan kaki panjang, bisa memukul bola dari posisi manapun, punya kemampuan blok yang maksimal, dan memiliki pukulan kepala (sundulan) yang mematikan yang tak dimiliki pemain lainnya. Tingkat akurasi pukulan Flo juga sangat tinggi, di atas 80 persen.

“Dengan semua kelebihannya itu, Flo pantas menjadi pemain utama di timnas,” ujar Supardi.

Perjuangan Keras

Untuk mencapai seperti sekarang, Flo harus berjuang dan melupakan indahnya masa remaja dengan hanya fokus berlatih. Di usia 14 tahun saat duduk di bangku kelas 2 SMP 10 Pekanbaru, Flo sudah masuk PPLP Dispora Riau. Orang yang merekomendasikannya adalah guru olahraganya, Tri Winarto. Flo sangat berterima kasih kepada gurunya itu yang membukakan jalannya hingga menjadi pemain nasional yang sangat disegani seperti sekarang.

Yang lucu, menurut pengakuannya, saat itu dia tidak tahu apa itu sepaktakraw. Bahkan memainkannya saja belum pernah. Namun, PPLP yang ketika itu (2006) baru dibuka, tetap menerimanya. Dia seangkatan dengan Sofriyanti dan Mala Endah Sari.

Tiga pelatih PPLP ketika itu, yakni Supardi, Suhartoni, dan Edi Isnanto, yakin jika digembleng keras, Flo akan menjadi pemain bagus. Seperti diceritakan Supardi, Flo memang berlatih keras tak kenal lelah. Dia selalu mengambil porsi tambahan setelah latihan. Ketika yang lain sudah mandi dan istirahat, Flo masih berlatih memukul bola maupun menambah latihan fisik.

“Saya ingat ketika itu, pipi dan bibir saya harus berdarah terkena bola rotan. Tapi saya tak boleh mengeluh dan terus berlatih. Para pelatih bilang, saya tak boleh manja. Ingin nangis rasanya, tapi harus ditahan,” kenang Flo.

Flo hampir putus asa ketika itu karena merasa tak kuat dengan tekanan tinggi saat latihan. Apalagi usianya masih sangat muda. Namun, dia tetap bertahan. Di kemudian hari, dia baru menyadari bahwa latihan keras itulah yang membuatnya seperti sekarang.

 “Saya berterima kasih kepada para pelatih PPLP atas apa yang mereka telah berikan kepada saya,” tambah Flo.


Graha Pena Riau Space for Rent
KOMENTAR
Berita Update

CSR, Whiz Hotel Santuni Panti Asuhan
Sabtu, 23 Juni 2017 - 15:38 wib
ERATKAN SILATURAHMI JELANG IDUL FITRI
Novotel Undang Warga Sekitar dan Anak Yatim Piatu Buka Puasa Bersama
Sabtu, 23 Juni 2017 - 14:49 wib
Edy Langsung Jadi Petugas Mengatur Kendaraan
Melancarkan Arus Mudik, Polisi Berjaga di Garuda Sakti
Sabtu, 23 Juni 2017 - 13:37 wib
Polresta Pekanbaru Kembali Suguhkan Opor Sahur
Jalin Kemitraan dengan Masyarakat
Sabtu, 23 Juni 2017 - 13:33 wib
Polisi Bersenjata Lengkap Berjaga di Pasar Ramayan
Jelang lebaran, Sat Sabhara Gencar Lakukan Patroli Premanisme
Sabtu, 23 Juni 2017 - 12:47 wib
TEMBILAHAN
Keberadaan Anak Yatim-Piatu Didata
Sabtu, 23 Juni 2017 - 09:08 wib
Cari Berita
Olahraga Terbaru
Tumbang di Tangan Lin Dan, Jonatan Susul Ginting

Kamis, 22 Juni 2017 - 20:35 WIB

Ketika Anthony Ginting Kalah karena Kesalahan Sendiri
Spanyol Melaju Euro U-21 2017 JAKARTA

Kamis, 22 Juni 2017 - 10:25 WIB

Torino Tertarik Datangkan Balotelli

Kamis, 22 Juni 2017 - 10:16 WIB

Bukan Pitbull Lagi, Tapi Garosky

Kamis, 22 Juni 2017 - 09:25 WIB

sumatranet
Ranggi Riau Pos
loading...
Follow Us
Populer hari ini