Depan >> Berita >> Perca >>
CATATAN SEPAKBOLA
Anomali Leicester
Kamis, 16 Maret 2017 - 16:09 WIB > Dibaca 521 kali Print | Komentar
Anomali Leicester
Gambar ini menunjukkan ketika gelandang Sevilla, Samir Nasri, menanduk penyerang Leicester City, Jamie Vardy, dalam leg kedua 16 besar Liga Champions, Rabu (15/3/2016) lalu. Nasri dikartu merah dan Sevilla tersingkir. (DAILY MAIL)
Oleh Hary B Koriun

LOLOSNYA Leicester City ke perempatfinal Liga Champions musim ini, menjadi sebuah anomali. Secara mengejutkan, tim yang baru saja memecat “sang pahlawan” Claudio Ranieri –yang untuk pertama kali mengantarkan Leicester menjadi juara Liga Inggris— ini menyingkirkan salah satu tim cadas Spanyol, Sevilla. Kalah 1-2 di kandang lawan, Shinji Okazaki dkk membayar lunas 2-0, di kandang sendiri.

Lolos ke 8 besar, adalah sejarah tersendiri bagi Si Rubah. Seperti kata sang kapten, Wes Morgan, keberhasilan ini setara dengan kesuksesan mereka akhir musim lalu ketika menjadi juara yang sebelumnya tak ada yang berani memprediksi. “Keberhasilan ini sama dengan apa yang kami dapatkan akhir musim lalu ketika menjadi juara Liga Inggris. Ini luar biasa,” ujar pemain yang juga kapten Jamaika ini.

Menjulang di Liga Champions,  di kompetisi dalam negeri, English Premiership League (EPL), Leicester justru kedodoran. Mereka sempat masuk zona merah (degradasi) sebelum kini berada di posisi 15, tiga strip dari zona degradasi, namun nilainya hanya berjarak 3 dengan Hull City yang berada di posisi 18, posisi terakhir yang harus turun kasta jika itu klasemen akhir. Artinya, itu posisi yang sangat rawan dan berbahaya. Terpeleset sedikit bisa berujung maut.

Banyak orang mengatakan, keberhasilan Leicester lolos hingga fase 8 besar karena dinaungi keberuntungan. Berada satu grup dengan FC Porto, Copenhagen, dan Club Brugge, dianggap memberikan karpet merah kepada Leicester. Padahal, semua orang tahu, Leicester tak memiliki skuad yang mentereng selayaknya klub lainnya, dan ini pengalaman pertama bermain di level atas kompetisi Eropa ini.

Namun, benar, Leicester bertarung selayaknya tim berpengalaman. Dari enam pertandingan babak utama penyisihan grup itu, The Foxes hanya kalah 0-5 dari Porto di pertandingan akhir yang tak menentukan lagi karena sudah pasti menjadi juara grup. Undian di babak knockout juga dianggap memberi peluang kepada Leicester untuk berbicara lebih jauh. Lawannya “hanya” Sevilla.

Namun orang lupa, Sevilla di setiap musim memiliki tim yang stabil, dan selalu melahirkan pemain-pemain hebat yang kemudian berkembang di tim-tim raksasa seperti Real Madrid, Barcelona, dan yang lainnya. Di musim ini, bahkan Sevilla masuk dalam barisan penantang juara La Liga dengan masih berada di posisi ketiga, dengan jarak nilai yang tak jauh dari Real Madrid dan Barcelona. Jika Madrid dan Barcelona terpeleset, Sevilla bisa mengambil keuntungan.

Tetapi, begitulah, mungkin hasilnya akan berbeda jika Leicester bertemu para raksasa seperti Madrid, Barcelona, Bayern Muenchen, atau Paris Saint Germain. Namun, sepakbola bukan hitungan matematika seperti itu. Semuanya bisa saja terjadi. Keberhasilan Barcelona menyingkirkan Paris SG dari ketertinggalan agregat 0-4, adalah sebuah drama yang membuat sepakbola menjadi menarik. Begitu juga, apa yang dilakukan Arema Malang ketika lolos  ke final Piala Presiden 2017 dengan menyingkirkan Semen Padang, juga bagian drama yang lain.

Lalu, apakah yang dilakukan Leicester ini juga sebuah drama? Bisa iya, bisa tidak. Tetapi pada kenyataannya, Leicester memiliki kekuatan yang sebenarnya juga dimiliki klub lain. Hanya saja, Leicester bisa memaksimalkannya dengan baik. Keberhasilan Leicester seratus persen mengamankan kemenangan di kandang sendiri, sampai membuat kapten dan kiper Juventus, Gianluigi Buffon, dibuat keder. Salah satu pemain tertua di Liga Champions itu mengatakan, jika boleh memilih, Juventus tidak bertemu Leicester di perempatfinal.

“Tidak bertemu Leicester di perempatfinal akan lebih baik bagi Juventus,” kata mantan pemain Parma ini.

Artinya, Buffon lebih rela timnya bertemu Bayern Muenchen, Madrid, Barcelona, Borussia Dortmund atau (kemungkinan) Manchester City?

Mungkin orang menganggap Buffon mengada-ada karena pada kenyataannya, dari enam tim yang sudah lolos (tinggal menunggu City atau Monaco dan Atletico Madrid atau Beyer Leverkusen), memiliki materi pemain yang jauh lebih baik dari Leicester. Faktanya, Leicester adalah tim terlemah dari sisi materi pemain  disbanding 7 kontestan 8 besar lainnya. Ini nyata. Dilihat dari sudut pandang manapun, Leicester tetap yang terendah.


Graha Pena Riau Space for Rent
KOMENTAR
Berita Update
DITANGKAP DIN BANDARA HANG NADIM BATAM
2000 Ekstasi di Balik Bra, Sabu 24 Gram di Celana Dalam
Jumat, 24 Maret 2017 - 01:05 wib
KORUPSI E-KTP
Diperiksa KPK, Andi Narogong Bakal Ditahan
Jumat, 24 Maret 2017 - 00:42 wib
DARI 52 PATI POLRI YANG NAIK PANGKAT
Satu Lagi Putra Riau Jadi Jenderal
Jumat, 24 Maret 2017 - 00:28 wib
UNTUK POSISI KOMISIONER
Unsur Jujur dan Adil Akan Terhapus jika Kader Parpol Ada di KPU
Jumat, 23 Maret 2017 - 20:45 wib
MINTA MK GELAR INVESTIGASI
Wakil Ketua DPR Sebut Hilangnya Berkas Pilkada sebagai Kesengajaan
Jumat, 23 Maret 2017 - 20:35 wib
TERKAIT EKSTRIMIS GARIS KERAS
Pelaku Teror London Pernah Diinvestigasi M15
Jumat, 23 Maret 2017 - 20:22 wib
PASCA SERANGKAIAN SERANGAN
Theresa May Tegaskan Inggris Tidak Takut Hadapi Terorisme
Jumat, 23 Maret 2017 - 20:16 wib
USAI ANGGARAN DISETUJUI DPR
Kasus E-KTP, Tiga Anak Buah Sri Mulyani Ini Ternyata Kecipratan Bagian Uang
Jumat, 23 Maret 2017 - 20:09 wib
PILGUB DKI 2017
Kata Fadli Zon, Tamasya Al Maidah untuk Pantau Adanya Kecurangan
Jumat, 23 Maret 2017 - 20:02 wib
TERMASUK KEJAHATAN LUAR BIASA
MUI Minta Pemerintah Hukum Berat Pelaku Pedofilia
Jumat, 23 Maret 2017 - 19:45 wib
Cari Berita
Perca Terbaru
Siska Noviana Dewi Ukir Prestasi di Cabang Olahraga Panahan
9 Sekolah di Pelalawan Lumpuh

Jumat, 17 Maret 2017 - 10:50 WIB

sumatranet
Ranggi Riau Pos
loading...
Follow Us