Wonderful Indonesia
KOLOM ALINEA
Meneladan Suryono
Minggu, 12 Maret 2017 - 14:57 WIB > Dibaca 1207 kali Print | Komentar
Meneladan Suryono
Oleh Agus Sri Danardana

TAYANGAN  Kick Andy pada 3 Februari 2017 lalu, di samping pantas mendapat apresiasi, juga patut dipuji. Bukan karena judulnya, “Wong Ndeso Go Internasional”, melainkan karena tokoh (narasumber) yang ditampilkannya.

Salah satu tokoh yang ditampilkan itu bernama Suryono. Konon, petani hortikultura (asal Perawang, Siak Sri Indrapura, Riau) itu berhasil “manggung” di forum internasional. Pada 7--18 November 2016 lalu, Suryono menjadi delegasi Indonesia untuk menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Perubahan Iklim Ke-22 di Marrakech, Maroko. Bukan hanya sebagai peserta, Suryono hadir di KTT yang ditaja PBB itu, melainkan sebagai pembicara.

Lalu, apa yang dapat diteladan atas prestasi yang diraih Suryono itu? Di samping memperlihatkan keteladanan dalam bertani, Suryono juga memperlihatkan keteladanan dalam berbahasa. Dalam berpidato, Suryono tidak hanya fasih menjabarkan ihwal pengolahan lahan miliknya secara ramah lingkungan (yang semula berupa kebun sawit menjadi kebun sayur dan buah-buahan) untuk mengurangi emisi gas rumah kaca, tetapi juga bangga dan penuh percaya diri mengemas pidatonya dalam bahasa Indonesia.

Suryono memang hanya lulusan sekolah dasar. Ia pun mengaku tidak dapat berbahasa Inggris. Namun, keberanian dan kebanggaannya berbahasa  Indonesia untuk “manggung” di forum internasional, sungguh pantas diacungi jempol. Tidak seperti para pemimpin, pejabat, akademisi, dan kaum cerdik-pandai lainnya (yang pada umumnya mengidap fobia bahasa Indonesia), Suryono justru bangga dan tidak merasa minder sedikit pun berpidato di forum internasional dengan bahasa Indonesia.

Betulkah sebagian besar pemimpin, pejabat, akademisi, dan kaum cerdik-pandai lainnya itu mengidap fobia bahasa Indonesia? Kemungkinan besar, betul. Baca, lihat, dan dengarlah berita-berita di media massa, hampir seluruh kepala negara dan pejabat Indonesia (kecuali Presiden Soeharto) gemar menggunakan bahasa Inggris, terutama di forum-forum internasional. Padahal, pada Pasal 28, Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009, jelas-jelasdinyatakan bahwa bahasa Indonesia wajib digunakan dalam pidato resmi presiden, wakil presiden, dan pejabat negara yang lain yang disampaikan di dalam dan di luar negeri. Bahkan, Pasal 32 pun mewajibkan penggunaan bahasa Indonesia dalam forum yang bersifat internasional di dalam negeri.

Contoh di atas memperlihatkan bahwa, di samping melanggar hukum (tidak melaksanakan undang-undang), mereka juga tidak memiliki sikap positif terhadap bahasa Indonesia. Jangankan menggunakannya secara baik dan benar, berbahasa Indonesia pun mereka enggan. Bahkan, karena tidak memahami konsep bahasa Indonesia yang baik dan benar, tak jarang mereka justru menganggap anjuran penggunaan bahasa itu telah membelenggunya dalam berkomunikasi. Hal itulah yang kemudian mereka jadikan alasan untuk tidak menggunakan bahasa Indonesia dan lari ke bahasa asing (Inggris).

Sikap “keinggris-inggrisan” seperti itu ternyata tidak diperlihatkan oleh pejabat pemerintah negara lain. Menurut amatan Abdillah Toha (Kompas, 13 November 2015),  Presiden Vladimir Putin dari Rusia, Presiden Francois Hollande dari Perancis, Presiden Xi Jinping dari Tiongkok, dan PM Shinzo Abe dari Jepang tidak pernah terlihat menggunakan bahasa Inggris dalam forum resmi internasional. Bukan karena mereka tak mampu, melainkan karena mereka tak mau.Mereka tak malu dan tak khawatir disangka bodoh.Mereka justru merasa bangga dapat menggunakan bahasa sendiri.

Nah, bagaimana dengan Suryono?

Sungguh, dialah yang tidak mengalami fobia bahasa Indonesia. Terlepas dari ketidakbisaanya berbahasa Inggris, dialah yang pantas dicontoh, tidak hanya oleh rakyat jelata, tetapi juga oleh para pejabat dan/atau penguasa di negara ini. Bagaimana tidak, setidak ada satu hal penting yang harus dipikirkan dan dilakukan pemerintah agar muncul “Suryono-Suryono” lainnya, yakni menyediakan penerjemah.

Harus diakui bahwa salah satu penyebab karya anak bangsa ini tidak mendunia adalah lemahnya penguasaan bahasa asing (Inggris). Namun, hal itu tidak berarti bahwa seluruh anak bangsa ini harus menguasai bahasa Inggris. Lalu, didirikanlah sekolah-sekolah bertaraf internasional (SBI) yang menjadikan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar itu. Di samping melanggar konstitusi, menjadikan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar di sekolah juga dapat mengikis rasa nasionalisme dan jatidiri anak didik sebagai anak bangsa: Indonesia.

Untuk menanggulangi hal itu, pemerintah sebenarnya cukup menyediakan penerjemah. Konon, hal seperti itu juga dilakukan oleh pemerintah di banyak negara. Jepang dan Tiongkok, misalnya, telah mengembangkan pendidikan dan fasilitas khusus bagi penerjemah profesional. Di dua negara itu terdapat ribuan penerjemah profesional.

Lahirnya manusia Indonesia yang cerdas dan kompetitif (sebagaimana diperlihatkan oleh Suryono) sesungguhnya dapat dimulai dari penanganan masalah kebahasaan. Dalam konteks Indonesia, manusia yang cerdas itu setidaknya dapat digolongkan ke dalam tiga kompetensi: lokal, nasional, dan internasional. Artinya, manusia cerdas berkompetensi lokal sesungguhnya cukup menguasai bahasa daerah tempat tinggalnya. Ia baru akan menjadi manusia cerdas berkompetensi nasional jika menguasai pula bahasa Indonesia. Begitu seterusnya, ia baru akan menjadi manusia cerdas berkompetensi internasional jika menguasai pula bahasa asing. Dengan demikian, manusia Indonesia yang cerdas dan kompetitif itu adalah manusia Indonesia yang berjatidiri. Di tingkat nasional, ia dapat dikenali kelokalannya. Di tingkat internasional, ia dapat dikenali keindonesiaannya.

Begitulah, Suryono pantas menjadi teladan. Ia telah membuktikan bahwa, di samping berfungsi sebagai sarana komunikasi dan menjadi jatidiri bangsa, bahasa Indonesia juga berperan sebagai pendorong terciptanya peradaban baru yang santun.***

Agus Sri Danardana, adalah Kepala Balai Bahasa Sumatera Barat dan mantan Kepala Balai Bahasa Riau.






Graha Pena Riau Space for Rent
KOMENTAR
Berita Update

Syamsuar Ajak Warga Introspeksi Diri
Jumat, 22 September 2017 - 15:47 wib

Tenda Bantuan Berhasil Dibangun
Jumat, 22 September 2017 - 14:54 wib

18 CSO Tinjau Pembangunan Lingkungan Siak
Jumat, 22 September 2017 - 14:44 wib

Auditor BPK Terima Suap
Jumat, 22 September 2017 - 14:41 wib

KPU Ajak Peretas Bantu Jaga Sipol
Jumat, 22 September 2017 - 14:41 wib

Balon Wagubri Khairuddin Bentuk Tim Relawan
Jumat, 22 September 2017 - 14:30 wib

Siak dan Rohil Buka Pendaftaran Panwascam
Jumat, 22 September 2017 - 14:30 wib

Titip Kepedulian untuk Rekan Alumni SMAN 428
Jumat, 22 September 2017 - 13:59 wib

SSBI Muda Empat Balai Bernuansa Islami
Jumat, 22 September 2017 - 13:04 wib
KAB BENGKALIS
Tiga Kecamatan Belum Terdaftar Di Kemendagri sebagai Pemilih
Jumat, 22 September 2017 - 12:55 wib
Cari Berita
Kebudayaan Terbaru
Dosen IPB Ciptakan Obat untuk Luka Bakar dan Telur Antidiare dari Bakteri
Ngopi Sastra Bahas Buku Puisi "Jangan Kutuk Aku Jadi Melayu"
Berpuncak di Malam Botak

Minggu, 17 September 2017 - 14:29 WIB

Menyembelih Demokrasi

Minggu, 17 September 2017 - 14:24 WIB

Indeks Kebahagiaan

Minggu, 10 September 2017 - 11:19 WIB

sumatranet
Ranggi Riau Pos
loading...
Follow Us