Wonderful Indonesia
KOLOM ALINEA
Google, Baca-Tulis, dan Anak Muda
Minggu, 05 Maret 2017 - 16:30 WIB > Dibaca 897 kali Print | Komentar
Google, Baca-Tulis, dan Anak Muda
Oleh Muhammad Al Mukhlishiddin

"Rabun membaca pincang menulis,” itulah dakwaan Taufik Ismail kepada anak muda Indonesia. Umumnya anak muda lebih suka berselancar di internet daripada membaca. Mereka lebih suka membuat status atau berkicau daripada menulis di atas kertas (dalam banyak konteks). Selain jejaring sosial, situs yang diakrabi mereka adalah Google. Situs mesin pencari itu memandu mereka mencari hal-hal yang mereka inginkan. Sebenarnya, disadari atau tidak, cara kerja Google adalah hal yang membuat penggunanya gandrung. Berdasarkan hal tersebut, bukan sesuatu yang mustahil apabila cara kerja Google diterapkan juga untuk meningkatkan minat baca-tulis orang Indonesia, khususnya minat baca-tulis sastra anak muda.

Dulu, sebelum Google ada, untuk mencari suatu laman, orang mesti menelusuri daftar panjang nama situs yang bertebaran di internet. Setelah ada Google, orang tinggal mengetikkan kata kunci yang diinginkan, lalu laman-laman yang relevan dengan kata kunci itu akan dicarikan Google dalam pangkalan datanya yang besar. Dalam sekejap, pengguna internet akan disuguhi daftar laman yang relevan dengan kata kunci berdasarkan sistem pencarian Google.

Penyuguhan itu ditampilkan dengan perwajahan yang sederhana, sehingga orang nyaman menelusuri laman-laman tersebut. Cara kerja Google yang demikian secara analogis bisa diterapkan dalam penyuguhan karya sastra kepada anak muda.

Zaman sekarang anak muda mengulik minat mereka lewat Google. Tiga unsur karya sastra (khususnya novel maupun cerita pendek), yaitu  tokoh, latar, dan permasalahan adalah kata kunci yang bisa dijadikan dasar pemilihan karya sastra untuk disuguhkan kepada anak muda.
Tahap pertama cara kerja Google adalah pendataan dan pengelompokan laman-laman berdasarkan kemiripan kata kunci di dalamnya. Penerapan cara kerja ini dalam upaya pemasyarakatan sastra adalah pendataan dan pengelompokan karya sastra berdasarkan setidaknya tiga kata kunci tadi dan anak muda. Hanya saja, sejauh pengetahuan penulis, antologi karya sastra yang terkenal disusun bukan berdasarkan empat kata kunci tadi, misalnya antologi susunan H.B. Jassin maupun Ajip Rosidi. Satu karya yang bisa dianggap mencakup empat kata kunci tadi adalah seri Antologi Cerita Pendek Remaja terbitan Yayasan Obor Indonesia. Itu belum cukup. Diperlukan pendataan dan pengelompokan lebih lanjut atas karya-karya yang bertokoh anak muda, memiliki masalah anak muda, dan berlatar lingkungan yang akrab dengan anak muda. Untuk mudahnya, sumber-sumber yang bisa dirujuk adalah majalah anak muda (Hai, Kawanku, Gadis, Bobo, Si Kuncung, dst). Meskipun begitu, karya penulis senior profesional yang mengandung kriteria tadi bisa juga dijadikan rujukan, misalnya Lupus, Balada Si Roy, Olga, Ali Topan, dst. Pendataan dan pengelompokan ini mempermudah orang ketika hendak mencari karya-karya tersebut.

Jika sudah didata dan dikelompokkan, seperti tahap cara kerja Google selanjutnya, karya-karya tersebut disuguhkan kepada pembaca dengan tampilan yang akrab dengan anak muda. Karya tersebut bisa disuguhkan lewat sarana cetak maupun daring. Secara daring, sebuah situs yang khusus memuat karya-karya tadi bisa dibuat. Agar menarik pengemasan situs tersebut bisa merujuk pada tiga situs lokal tentang perbukuan (RadioBuku, WarungArsip, dan AlineaTV). Kelebihan penyuguhan karya secara daring ini adalah kemudahan akses. Ingat, anak muda menggandrungi internet. Sementara itu, secara cetak, karya tadi bisa dikumpulkan dalam sebuah antologi. Karena, konon, media cetak kalah pamor dari media daring, maka untuk menyiasatinya perencanaan perwajahannya mesti menyenangkan. Pada marginalia tiap halaman bisa dihiasi vinyet seperti buku-buku kuno. Beberapa adegan menarik pada tiap cerita bisa dibuatkan ilustrasi. Sebagai contoh perwajahan yang menarik, buku Arsip terbitan IVAA Yogyakarta bisa dijadikan rujukan. Ketika penyuguhan karya-karya tersebut sudah menarik, anak muda akan mudah tertarik.

Modal dalam bentuk apa pun adalah bahan bakar suatu aktivitas. Informasi tentang karya-karya yang dimaksud adalah modal awal. Untuk mencetak antologi karya maupun mengelola sebuah situs dibutuhkan modal cukup besar. Dulu pendiri Google mendatangi investor-investor di Silicon Valley untuk mengembangkan Google. Dengan sokongan dana tersebut, akhirnya Google bisa sebesar sekarang. Sebagaimana hal tersebut, rencana pemasyarakatan sastra ini bisa berjalan apabila ada modal.

Ada tiga jalan yang memungkinkan untuk ditempuh. Pertama, penggalangan pendanaan khalayak (crowdfunding). Untuk melakukan cara ini, karya yang akan disuguhkan mesti terkumpul terlebih dahulu. Lalu, rencana pengemasan karya tersebut dan prakiraan dananya diajukan pada khalayak. Mereka diberi pilihan tentang biaya sumbangan dan keistimewaan tiap pilihan. Salah satu situs yang tekenal untuk melakukan cara ini adalah Kickstater.com. Kedua, kerja sama dengan pemerintah daerah setempat. Kita harus melakukan tindakan yang bersimbiosis mutualisme. Salah satu caranya adalah mengumpulkan juga karya-karya yang berlatarkan daerah tersebut. Laskar Pelangi karya Andrea Hirata adalah contoh kemesraan antara sastra dan pariwisata. Buku yang bisa dijadikan rujukan adalah seri Menjelajahi Lorong Dunia karya Sigit Susanto. Di dalamnya Sigit menceritakan perjalanannya ke tempat-tempat di dunia sambil menceritakan hal ihwal sastra yang berkaitan dengan tempat tersebut. Terakhir, pendanaannya diajukan pada lembaga donor. Banyak lembaga donor yang memberikan dana pada kegiatan-kegiatan budaya, misalnya Hivos dan Ford Foundation. IVAA, KUNCI, bahkan Yayasan Obor Indonesia sempat disokong oleh lembaga tersebut.

Masa sekarang anak muda memang lebih gandrung pada internet daripada membaca maupun menulis. Tapi, kita sudah tahu salah satu jalan untuk menarik minat anak muda: hal yang diminati atau hal yang mirip dengannya. Selain itu, kita sudah tahu cara kerja hal yang digandrungi anak muda: Google. Di antara kekalahan dari internet masih ada kemungkinan untuk menggairahkan kembali baca-tulis: Terapkan cara kerja Google untuk menggairahkan kembali baca-tulis, khususnya sastra.***

MUHAMMAD AL MUKHLISHIDDIN
Alumni Sastra Indonesia Universitas Padjadjaran


Graha Pena Riau Space for Rent
KOMENTAR
Berita Update
DAKWAAN JPU KPK
Dua Pejabat Kemendes Terancam 5 Tahun Penjara dalam Kasus Suap
Rabu, 16 Agustus 2017 - 19:57 wib
DITARGETKAN SELESAI TAHUN DEPAN
Kirim Jutaan Blanko, Mendagri Minta Masyarakat Segera Rekam e-KTP
Rabu, 16 Agustus 2017 - 19:52 wib
SIDANG TAHUNAN
Kritik Pidato Jokowi soal Lembaga Negara, Fadli Singgung Pembubaran Ormas
Rabu, 16 Agustus 2017 - 19:48 wib
DIJADWALKAN MEMBACA PIDATO
Absen di Pembukaan Masa Sidang DPR, Setnov Dikabarkan Sakit
Rabu, 16 Agustus 2017 - 19:44 wib
SIDANG TAHUNAN
Ternyata, Ketua MPR Sudah Izinkan Tifatul Doakan Jokowi Supaya Gemuk
Rabu, 16 Agustus 2017 - 19:38 wib
SIDANG TAHUNAN
Tidak Sesuai Realita, Pidato Jokowi soal Ekonomi Dikritik Fadli Zon
Rabu, 16 Agustus 2017 - 19:27 wib
PIDATO JOKOWI DI SIDANG TAHUNAN
Kepercayaan Tinggi dari Rakyat Harus Didapatkan Semua Lembaga Negara
Rabu, 16 Agustus 2017 - 19:24 wib
PIDATO KENEGARAAN DI SIDANG TAHUHAN
Ketika Komitmen Jokowi Perkuat KPK Terganjal Pansus dan Revisi UU
Rabu, 16 Agustus 2017 - 19:00 wib
SEA GAMES 2017
Jelang Kontra Filipina, Timnas Tiba-tiba Ubah Jadwal Latihan, Alasannya...
Rabu, 16 Agustus 2017 - 18:35 wib
DIDUGA KABUR KE LUAR NEGERI
Pencegahan Komisaris First Travel Ternyata Belum Dilakukan, Ini Alasannya
Rabu, 16 Agustus 2017 - 18:15 wib
Cari Berita
Kebudayaan Terbaru
Pengurus IKBSD Dikukuhkan

Selasa, 15 Agustus 2017 - 10:35 WIB

Pantun Menuntun Santun

Minggu, 13 Agustus 2017 - 20:56 WIB

Integritas tak Sepintas

Minggu, 13 Agustus 2017 - 17:27 WIB

Sajak-Sajak Hang Kafrawi

Minggu, 13 Agustus 2017 - 01:10 WIB

Bahasa Ibu dan Anak-Anak Milenial

Minggu, 13 Agustus 2017 - 00:54 WIB

sumatranet
Ranggi Riau Pos
loading...
Follow Us