Depan >> Berita >> Hukum >>
DITANGKAP DINIHARI TADI
Pegamat: Sulit Menyebut WNI Pembunuh Kim Jong-nam sebagai Mata-mata Asing
17 Februari 2017 - 01:24 WIB > Dibaca 836 kali Print | Komentar
Pegamat: Sulit Menyebut WNI Pembunuh Kim Jong-nam sebagai Mata-mata Asing
Ilustrasi. (JPNN)
JAKARTA (RIAUPOS.CO) - Otoritas keamanan Malaysia telah menetapkan Siti Aisyah sebagai tersangka  pembunuhan terhadap Kim Jong-nam, kakak tiri pemimpin Korea Utara Kim Jong-un,. Namun, kronologi kejadian dugaan pembunuhan tersebut masih belum jelas hingga saat ini.

Pasalnya, ada yang mengatakan kalau Jong-nam disemprot dengan cairan kimia. Di sisi lain, ada yang menyebut wajahnya dibekap dengan kain hingga pada akhirnya meninggal dalam  perjalanan menuju Rumah Sakit. Banyak yang menduga wanita kelahiran Serang yang memegang paspor Indonesia ini  merupakan agen intelijen asing demi kepentingan pihak tertentu.

Dalam hal ini musuh dari Korea Utara maupun pemerintahan itu sendiri. Akan tetapi, dunia intelijen memang sangat abu-abu. "Namanya intel itu, kerja abu-abu. Dia itu mati tidak dicari, sukses tidak dipuji, gagal dicaci maki," sebut Susaningtyas Nefo Handayani Kertopati, Pengamat Intelijen, seperti dikutip dari JawaPos.com, Kamis (16/2/2017).

Dunia intelijen, kata dia lagi, sulit sekali diraba. Begitu pula mereka yang bekerja di dalamnya. "Itukan suatu hal yang terbungkus. (Intelijen itu menggunakan) covered identity atau identitas yang tak sebenarnya, covered action atau sebuah aksi terselubung dengan aksi lain," kata Nuning, sapaannya.

Meski begitu, siapa saja memang bisa menjadi agen intelijen, termasuk warga negara Indonesia (WNI) yang menjadi agen intelijen asing dengan berbagai covered identity. Alasan yang mendasari seseorang menjadi intelijen pun ada beberapa faktor.

Di antara faktor tersebut, yakni ideologi, kebutuhan materialistik atau ekonomi, teknologi, dan masih banyak lainnya. Hanya saja, sekali lagi dia menegaskan bahwa untuk membuktikan seseorang menjadi intelijen asing akan sulit dilakukan.

"Ada atau tidak ada kan kita tidak bisa tuduh bila tidak ada bukti awal. (Seorang intel) tidak boleh ada yang tahu pekerjaan dia intelijen," tuntasnya. (dna)

Sumber: JPG
Editor: Boy Riza Utama
Graha Pena Riau Space for Rent
KOMENTAR
Berita Update

Warga Hibahkan Tanah Kepada TNI AU
Senin, 27 Februari 2017 - 09:09 wib

Belum Ditemukan Liquid Vape Mengandung Narkoba
Senin, 27 Februari 2017 - 09:06 wib
DISKUSI SASTRA
FLP Bedah Luka dan Dendam Megat
Senin, 26 Februari 2017 - 14:16 wib
DISKUSI SASTRA
Cinta dan Perempuan dalam Kelas Menulis IV
Senin, 26 Februari 2017 - 13:20 wib
Perempuan dalam Tubuh Puisi
ESAI SASTRA
Perempuan dalam Tubuh Puisi
Senin, 26 Februari 2017 - 12:02 wib
Mari Berbahasa Ibu
KOLOM ALINEA
Mari Berbahasa Ibu
Senin, 26 Februari 2017 - 11:37 wib
CERPEN IDA FITRI
Sibylla
Senin, 26 Februari 2017 - 11:26 wib
FILM
Menunggu Kelahiran "Mafia, Agaknya Geng!"
Senin, 26 Februari 2017 - 11:01 wib
Ke Toba
PERISA YUSMAR YUSUF
Ke Toba
Senin, 26 Februari 2017 - 10:51 wib
TERKAIT PERKEMBANGAN TEKNOLOGI DAN INFORMASI
Oh, Ternyata Ini Maksud Demokrasi Kebablasan Pak Jokowi
Senin, 26 Februari 2017 - 05:00 wib
Cari Berita
Hukum Terbaru
MUI: Bersyukurlah Indonesia Masih Punya UU Penistaaan Agama
Hoax! Penggerebekan Rumah Anies Baswedan Itu Tidak Benar
Sudah "Zero Tolerance", tapi Peredaran Narkoba di Lapas kok Tak Menurun?
Polisi Tangkap 4 Pria di Singingi Hilir

Sabtu, 25 Februari 2017 - 11:18 WIB

Dua Pelaku Judi Togel Dibekuk

Sabtu, 25 Februari 2017 - 11:07 WIB

sumatranet
Ranggi Riau Pos
loading...
Follow Us