Mubazir

28 Juli 2013 - 07.30 WIB > Dibaca 19199 kali | Komentar
 
Mubazir
Sebagai kata sifat (ajektiva), mubazir memiliki arti (1) menjadi sia-sia atau tidak berguna; terbuang-buang (karena berlebihan); (2) berlebih(an); dan (3) bersifat memboroskan; berlebihan; royal. Sebagai kata benda (nomina), mubazir berarti orang yang berlaku boros; pemboros (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2008:932).

Dalam kehidupan sehari-hari, orang dianjurkan untuk tidak berperilaku mubazir. Di samping tidak mendatangkan kebaikan bagi kehidupan manusia, menurut ajaran agama (Islam), perilaku mubazir juga sangat dimurkai Allah. ‘’Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.’’ (Al-Isra:27). Itulah sebabnya, orang yang gemar berperilaku mubazir dianggap sebagai (ber)teman (dengan) setan.

Salah satu contoh perilaku mubazir yang paling mudah ditemukan adalah ketidakpandaian seseorang dalam membelanjakan harta (uang)-nya. Belakangan ini, munculnya tempat-tempat keramaian (seperti mal dan pasar swalayan) membuat semakin banyak orang berperilaku mubazir. Banyak di antara mereka datang ke sana tanpa tujuan yang pasti. Awalnya, mungkin mereka hanya sekadar mau jalan-jalan, mencari ‘udara’ baru. Namun, karena malu, mereka terpaksa harus membeli sesuatu (yang bisa jadi tidak diperlukan). Atau, sering pula terjadi, mereka membeli sesuatu karena sedang ada promosi (ditawarkan harga murah), bukan karena keperluan. Padahal, sebuah hadis menyebutkan, ‘’Janganlah menghambur-hamburkan harta benda untuk keperluan yang tidak bermanfaat.’’ (H.R. Bukhari).

Berperilaku mubazir juga dapat terjadi dalam (ber)bahasa. Istilahnya saja yang berbeda: (ke)lewah(an). Salah satu arti lewah adalah ‘mubazir’. Kelewahan, dengan demikian, sama dengan kemubaziran.

Di bidang bahasa, kelewahan dimaknai sebagai penggunaan kata secara berlebih sehingga menimbulkan kemubaziran. Artinya, kehadiran kata itu sesungguhnya tidak diperlukan sehingga, jika dihilangkan pun, sesungguhnya tidak akan mengganggu informasi yang disampaikan.

Biasanya, kelewahan terjadi akibat penggunaan kata yang bersinonim (sama arti) secara bersama-sama. Contoh klisenya adalah penggunaan agar supaya, demi untuk, seperti misalnya, dan adalah merupakan. Karena agar sama artinya dengan supaya, demi sama artinya dengan untuk, seperti sama artinya dengan misalnya, dan adalah sama artinya dengan merupakan seharusnya tidak digunakan secara bersama-sama. Pilih salah satu: agar atau supaya, demi atau untuk, seperti atau misalnya, serta adalah atau merupakan.

Hal yang sama terjadi pula pada penggunaan sejak dari kemarin, dari zaman dahulu kala, dan banyak rumah-rumah. Ketiganya merupakan bentuk lewah dari sejak kemarin atau dari kemarin, dari zaman dahulu atau dari dahulu kala, dan banyak rumah atau rumah-rumah.

Ada kalanya kelewahan terjadi akibat penggunaan kata yang maknanya secara tersirat sudah terdapat pada kata berikutnya. Perhatikan contoh berikut ini.

(1) Mereka akan menikah pada (hari) Jumat, (tanggal) 10 Agustus 2013 nanti.
(2) Setiap (bulan) Ramadan ia selalu mengadakan acara berbuka bersama.
(3) Pada (tahun) 2025 nanti usianya genap lima puluh tahun.

Kata-kata yang berada di dalam kurung: hari, tanggal, bulan, dan tahun pada kalimat (1), (2), dan (3) tergolong kata yang lewah atau mubazir. Tanpa kehadiran kata-kata itu, informasi yang terdapat pada kalimat (1), (2), dan (3) tidak terganggu. Bahkan, tanpa kehadiran kata-kata itu, kalimat (1), (2), dan (3) akan terasa lebih efektif. Mengapa? Karena pada Jumat sudah terkandung makna hari, pada 10 Agustus 2013 sudah terkandung makna tanggal, pada Ramadan sudah terkandung makna bulan, dan pada 2025 sudah terkandung makna tahun.

Bentuk kelewahan lainnya dapat ditemukan dengan mudah pada surat-surat dinas, seperti dalam penulisan tanggal surat, lampiran, dan tembusan. Pada umumnya, penulisan tanggal pada surat dinas masih mencantumkan tempat, misalnya Pekanbaru, 15 Juli 2013. Pencantuman Pekanbaru menjadi mubazir karena sudah tercantum pada kop surat (yang sudah memuat nama dan alamat instansi/lembaga secara lengkap). Sementara itu, sering terjadi surat dinas yang hanya selembar (artinya tidak ada yang dilampirkan) tetap ditulis Lampiran: pada bagian halnya. Lain pula halnya dengan tembusan. Bukankah tembusan itu memang dimaksudkan sebagai pemberitahuan/laporan kepada pihak yang ditembusi? Anehnya, dalam tembusan masih ditulis Kepada Yth. Bapak...  disampaikan dengan hormat sebagai laporan. Lebih aneh lagi, sering kali pembuat surat menembusi dirinya sendiri, dengan menulis sebagai arsip.   

Kelewahan juga sering terjadi pada penggunaan wilayah waktu di Indonesia: WIB, WITA, dan WIT. Pembagian wilayah waktu itu sering digunakan secara salah dan cenderung mubazir. Seharusnya hanya komunikasi tingkat nasional atau lintas wilayah waktu yang dapat menggunakan WIB, WITA, atau WIT. Komunikasi dalam wilayah waktu yang sama seharusnya tidak perlu menyebutnya lagi. Dalam surat undangan, misalnya, sering tertulis Kami mengharap kehadiran Saudara pada rapat pengurus yang akan dilaksanakan pada Minggu, 2 Januari 2014, pukul 20.30 WIB. Padahal, keduanya (baik pengundang maupun yang diundang) tinggal di wilayah waktu yang sama, sehingga tidak ada perbedaan waktu antarmereka. Berbeda halnya jika mereka berada di wilayah waktu yang berbeda, penggunaan WIB, WITA, atau WIT wajib dilakukan. Jika tidak dilakukan, kemungkinan terjadinya salah persepsi waktu akan sangat tinggi.

Begitulah, ternyata dalam berbahasa pun kelewahan atau kemubaziran itu masih sering terjadi. Padahal, dalam hal apa pun, kelewahan atau kemubaziran itu tidak disukai Allah. Untuk itu, jauhilah kelewahan atau kemubaziran dalam segala hal, tidak terkecuali dalam berbahasa. Salam.***


Agus Sri Danardana
Kepala Balai Bahasa Provinsi Riau
KOMENTAR
Terbaru
Jumat, 14 Desember 2018 - 17:00 wib

Ashanty Bangga dengan Aurel

Jumat, 14 Desember 2018 - 16:30 wib

Maia Estianty Hamil Anak Irwan Mussry?

Jumat, 14 Desember 2018 - 16:00 wib

Diduga Overdosis, Mahasiswi Ditemukan Tewas

Jumat, 14 Desember 2018 - 15:53 wib

Rapat Kerja dan Terima Gelar Adat

Jumat, 14 Desember 2018 - 15:35 wib

Bawaslu Akan Menindak APK Melanggar Peraturan

Jumat, 14 Desember 2018 - 15:30 wib

Lakukan Medical Check u p Pranikah

Jumat, 14 Desember 2018 - 15:01 wib

Jalur Padang-Solok masih Macet

Jumat, 14 Desember 2018 - 15:00 wib

6 Kilogram Sabu untuk Tahun Baru Gagal Beredar

Follow Us