Depan >> Opini >> Opini >>

Hasrul Sani Siregar

Dinamika ASEAN dan Permasalahannya

9 Oktober 2012 - 08.53 WIB > Dibaca 28911 kali | Komentar
 

Negara-negara di Asia Tenggara khususnya ASEAN terus dihadapkan kepada permasalahan dan tantangan dalam mencapai iklim demokratisasi, khususnya ekonomi dan politik.

Apa yang terjadi di Thailand, sejak kudeta  19 September 2006 lalu  yang menjatuhkan PM. Thaksin Shinawatra dengan dukungan militer, praktis kemunduran iklim demokrasi di negara tersebut.

Namun seiring dengan mulai tumbuhnya iklim demokrasi di Thailand, pemerintahan sekarang yang dipilih secara demokratis melalui Pemilu, telah berdampak terhadap kehidupan demokrasi di negara tersebut.

Sejak Thailand dipimpin oleh PM Yingluck Shinawatra, seorang perempuan, praktis kehidupan demokrasi di negara yang sering mengalami kudeta militer tersebut telah memulai kehidupan demokrasi yang baru.

Reformasi politik dan ekonomi telah menggairahkan iklim investasi di Thailand. Geliat ekonomi pasca-banjir yang melanda Thailand  mulai menunjukkan gerak ekonomi dan perdagangan.

Thailand di masa-masa dikuasai oleh militer terus mengalami langkah mundur, khususnya dalam hal penegakan demokrasi dan Hak Asasi Manusia (HAM).

Perubahan konstelasi politik di Thailand, menandakan bahwa negara tersebut menghadapi ujian dan tantangan dalam upaya menumbuhkan iklim demokrasi dan penegakan HAM.

Apa yang dikatakan mantan Menteri Luar Negeri Thailand yang sekarang menjabat sebagai Sekjen ASEAN, Surin Pitsuwan, Thailand selama ini mengalami kemunduran dalam hal demokrasi, namun di lain pihak mengalami kemajuan selangkah dalam hal menghadapi kebuntuan politik.

Semenjak Thaksin Shinawatra mengalami mosi tidak percaya oleh rakyatnya sendiri yang didukung oleh militer, praktis kehidupan politik di negara tersebut mengalami kemunduran.

Tantangan dan ujian yang dihadapi  negara-negara Asia Tenggara, khususnya dalam kerjasama ASEAN saat ini tentunya tidak akan jauh dari pergolakan politik (kekuasaan) dan ekonomi di masing-masing negara anggota ASEAN sendiri. Filipina belum lama ini juga mengalami krisis politik.

Kekuasaan Presiden Gloria Maccapagal juga digoyang oleh pihak oposisi yang merasa bahwa Arroyo  melakukan kecurangan dalam Pemilu dan korupsi,  namun transisi politik negara tersebut tidak mengalami gejolak dengan adanya kudeta militer.

Perubahan kepemimpinan dan pergolakan politik dalam negeri di masing-masing negara anggota ASEAN tidak menghalangi negara-negara ASEAN untuk tetap komitmen dan tetap teguh dalam menghormati dasar-dasar dan komitmen masing-masing negara anggota bagi kepentingan regional ASEAN sendiri.

Negara-negara anggota ASEAN sendiri memandang bahwa krisis yang terjadi di negara-negara ASEAN tersebut adalah sebagai fenomena dan perubahan politik dan ekonomi regional dan dunia yang ditandai oleh regionalisasi dan globalisasi ekonomi-politik dunia.

Dunia dihadapkan kepada perubahan yang semakin cepat. Krisis ekonomi dan politik yang melanda negara-negara  ASEAN beberapa tahun belakangan ini (sejak 1997) tidak hanya dirasakan di Indonesia saja,  ia juga dirasakan di negara-negara anggota ASEAN lainnya seperti halnya Malaysia, Thailand dan juga  Filipina.

Kesan kebersamaan, senasib dan sepenanggungan diantara negara-negara  ASEAN telah melahirkan komitmen untuk menyelesaikannya dan mengatasi krisis tersebut secara bersama-sama.

Tidak saja krisis ekonomi, krisis politik (kepemimpinan) yang terjadi di negara-negara  ASEAN, juga dilihat sebagai ujian dan tantangan ASEAN untuk senantiasa selalu memecahkannya secara bersama-sama dengan komitmen yang tinggi yang tentunya tidak turut campur dalam masalah dalam negeri masing-masing anggota ASEAN.

Komitmen dan kepedulian yang tinggi dalam memecahkan setiap permasalahan yang ada secara bersama-sama tersebut merupakan dasar dan arah tujuan serta komitmen dari perumusan hakekat berdirinya ASEAN.

Dasar pembentukan ASEAN adalah sebagai mempererat, meningkatkan, ikut menjaga kestabilan dan keamanan dan tidak ikut campur dalam masalah politik dalam negeri dari masing-masing anggota ASEAN.

Secara geo-politik dan geo-ekonomi, ASEAN memiliki komitmen dan kepedulian terhadap kawasannya dan hal tersebut merupakan hal yang wajar bagi ASEAN untuk selalu memberikan sumbangsihnya terhadap kemajuan, keamanan, dan kestabilan kawasan regional maupun internasional.

Perubahan ekonomi dan politik menuju era regionalisasi dan globalisasi secara terbuka tersebut yang ditandai oleh keterbukaan kawasan (open regionalism) baik regional maupun internasional merupakan agenda perubahan yang akan dihadapi oleh ASEAN ke depan.

ASEAN sebagai kerja sama kawasan yang wujud dan berkembang pada saat percaturan dan pertentangan konstelasi politik dunia di era Perang Dingin (Cold War).

Dunia menjadi dua kekuatan yang saling bertentangan dan bermusuhan. Di satu pihak ada kekuatan komunis dan di pihak lainnya ada kekuatan kapitalis dengan pengaruhnya masing-masing.

Oleh sebab itu, ASEAN dihadapkan kepada dilema untuk dapat menjaga posisinya terhindar dari pengaruh pihak asing tersebut.

Kita tentunya sepakat bahwa tujuan dan cita-cita ASEAN adalah menghindari dari pengaruh asing yang ingin menjadikan kawasan Asia Tenggara menjadi wilayah pengaruhnya.

Dialog dan kerja sama dengan mitranya seperti dengan  Uni Eropa, Amerika Serikat, Cina, Korea Selatan dan Rusia akan terus dilaksanakan mengingat negara-negara tersebut memiliki andil yang cukup besar dalam menjaga keamanan dan kestabilan regional, khususnya Asia Tenggara.

Dalam konteks politik regional, ASEAN memiliki komitmen dan moral dalam menjaga keamanan dan kestabilan politik kawasannya.

Negara-negara ASEAN sebagai kekuatan regional akan lebih aktif untuk melihat perkembangan dan perubahan ekonomi dan politik baik perubahan politik-ekonomi regional maupun internasional yang secara tiba-tiba dapat berubah dengan cepatnya.

Dalam kerangka kerjasama regional, ASEAN juga akan dihadapkan kepada perbedaan dan kepentingan dari masing-masing anggotanya.

Perbedaan tersebut terjadi sebagai akibat dari perubahan misi dan visi dalam suatu kerjasama regional dan perubahan konstelasi politik-ekonomi dunia.

Perbedaan tersebut akan menjadi keragaman menuju ASEAN yang memiliki visi ke depan menuju apa yang dicita-citakan oleh ASEAN yaitu “ASEAN Community 2015”.

Mitra Dialog ASEAN
ASEAN pada bulan November 2012 ini akan melaksanakan KTT tingkat Kepala Pemerintahan di Phnom Penh, Kamboja. Kamboja yang merupakan Ketua ASEAN untuk tahun 2012 berkomitmen terus meningkatkan komitmen dan kerja sama sesama negara-negara anggota ASEAN lainnya.

KTT ASEAN nantinya merupakan konferensi yang merupakan agenda tahunan bagi negara-negara anggota ASEAN dan mitra dialog ASEAN untuk saling mengadakan dialog dan kerja sama dalam rangka membangun kepercayaan sesama negara-negara anggota dan mitra dialog ASEAN lainnya seperti Cina.

Keputusan Cina untuk membuka perwakilan mereka di ASEAN terhitung semenjak tanggal 1 Oktober 2012, merupakan keberhasilan ASEAN sebagai organisasi regional yang menjadi mitra Cina dalam hal kerja sama khususnya dalam bidang perdagangan dan investasi.

 Cina membuka dan memiliki wakil mereka di Sekretariat ASEAN di Jakarta. Tujuan pembukaan perwakilan mereka di ASEAN adalah sebagai upaya memperkuat kerja sama yaitu antara ASEAN dan Cina.

Peluncuran misi Cina di ASEAN ini adalah sebagai mendemonstrasikan komitmen Cina untuk menjadi negara tetangga, sahabat dan mitra yang baik dalam menghadapi tantangan bersama, dengan cara yang saling menguntungkan dalam upaya meningkatkan kemitraan strategis kata Sekretaris Jenderal ASEAN, Surin Pitsuwan.

Cina adalah salah satu mitra dagang utama ASEAN di kawasan Asia Tenggara.

Semenjak zona perdagangan bebas ASEAN-Cina diterapkan pada 2010 lalu, total perdagangan kedua belah pihak (ASEAN dan Cina) mencapai nilai tertinggi pada 2011 yaitu 363 miliar dolar AS.

Dalam delapan bulan pertama 2012, jumlahnya meningkat pesat.

Duta Besar Cina untuk ASEAN, Yang Xiuping, dalam peresmian perwakilan Cina di Sekretariat ASEAN di Jakarta, menegaskan bahwa kerja sama kedua pihak akan menguntungkan bagi ekonomi dan keamanan kawasan.

Kerja sama yang komprehensif antara Cina dan ASEAN tidak hanya memberikan dorongan bagi perkembangan sosial dan ekonomi, namun juga menyumbang bagi perdamaian, stabilitas dan kemakmuran kawasan dan dunia secara keseluruhan.

Dia menambahkan, misi Cina di ASEAN akan menjadi jembatan komunikasi, kerja sama, persahabatan, serta kemitraan strategis ASEAN dan Cina.***

Hasrul Sani Siregar, Master Ekonomi-Politik Internasional, IKMAS, UKM Bangi, Malaysia.

KOMENTAR
Terbaru
Brankas Bank Syariah  Dibongkar Maling

Rabu, 26 September 2018 - 09:52 WIB

Informasi Kondusif Pengaruhi Jumlah Kunjungan Wisatawan
Dipinjam, Sepeda Motor Tak Dikembalikan

Rabu, 26 September 2018 - 09:39 WIB

Dua JH Kloter Terakhir Tiba

Rabu, 26 September 2018 - 09:39 WIB

 Kawan Kabur, Nyaris Dikeroyok Warga

Rabu, 26 September 2018 - 09:16 WIB

Follow Us