Wonderful Indonesia
JEJAK MELAYU TIMUR DI RETEH
Tung Tong Kelintang Kuala Patah Parang
Minggu, 27 November 2016 - 13:26 WIB > Dibaca 4163 kali Print | Komentar
Tung Tong Kelintang Kuala Patah Parang
Beberapa waktu lalu, Tim Pencari Jejak Melayu Timur Irranun – di sini disebut Melayu Timur, yang datang dari Kota Belut, Sabah, Malaysia, datang ke Indragiri Hilir. Bagaimana jejak Melayu itu di sana, penulis dan juga sastrawan Riau, MOSTHAMIR THALIB, menulis khusus untuk Riau Pos.
-------------------------------------------

SESAAT tiba, Nek Majene, wanita berusia 78, langsung duduk di depan perangkat kelintang tua dan serta-merta menalu-nalu cembul besi itu satu per satu, tong-tung.. tong tung... “Yang satu ini sumbang,” katanya seraya mengarahkan mukanya pada satu cembul kulintang yang sudah berlubang. Padahal telinganya sudah tidak begitu mendengar lagi.

Permainan kelintang tua tujuh nada peninggalan sebelum zaman Panglima Reteh Tengku Sulung (1858 M) ini dimainkan Nek Majene bersama wanita-wanita tua lainnya di Kuala Patah Parang, Indragiri Hilir (Inhil), di depan Tim Pencari Jejak Melayu Timur Irranum – di sini disebut Melayu Timur, yang datang dari Kota Belut, Sabah, Malaysia, yang zaman kerajaan Melayu dulu disebut Tempasuk. Alat-alat musik tradisional ini sendiri merupakan barang-barang lama yang dibawa dari negeri puak orang Mindanao (1787).

Tim yang terdiri dari Ketua Mahkamah Anak Negeri Sabah OKK (Orang Kaya-Kaya) Haji Masrin Haji Hassin, Abd Naddin Sahaddin dan Madin Sumalah setiba di Riau (12/11) dari Kuala Lumpur langsung dijamu Bupati Inhil HM Wardan yang berada di Pekanbaru. “Saya juga punya darah keturunan Melayu Timur. Dari sebelah nenek saya,” ujar putra Indragiri Selatan itu dalam pertemuan tersebut.

Bersama Kepala Dispora Budpar Inhil Junaidi dan didampingi dua seniman budayawan Riau Kazzaini Ks dan Mosthamir Thalib, langsung pula meneruskan perjalanan ke Tembilahan pada hari itu juga. Di Inhil  pula, tim disambut oleh Ketua MKA LAM Inhil, Datuk Syamsuri Latif, di Wisma Pancang Jermal Parit 10 Tembilahan.

 “Alhamdulillah... Misi ini sangat memuaskan,” kata Haji Masrin Haji Hassin.

Kepuasannya itu diungkapkannya sehalaman penuh pada Harian Borneo Pos yang terbit (20/11) di Sabah, Malaysia Timur, bertajuk Misi Mencari Iranum di Reteh Berhasil. Dia menyatakan rasa syukur yang dalam. “Banyak sekali maklumat dari temuan dan dari pertemuan demi pertemuan di Indragiri.”

Kampilan

Sebelum ke Kuala Patah Parang – sebuah desa di Kecamatan Enok yang penduduknya mayoritas Melayu Timur, tim ini juga sempat mengunjungi Pulau Kijang, Kecamatan Reteh. Bertemu dengan sejumlah tokoh Melayu Timur, antaranya Oteh Majemuk dari Sungai Undan, yang juga merupakan Ketua Lembaga Adat Melayu (LAM) Riau Kecamatan Reteh, Inhil, di Pulau Kijang.

Tokoh-tokoh yang berkumpul di rumah Marjuni, seorang warga keturunan Melayu Timur, sekitar 20-an orang. Mereka membawa sejumlah bukti barang pusaka warisan Melayu Timur, termasuk peralatan adat yang selalu digunakan orang Melayu Timur. Barang-barang pusaka itu antaranya berupa senjata kampilan – senjata khas Melayu Timur, skin, dan sundang.

“Ini sah peralatan perang orang Irranum,” kata Naddin, seraya memegang sebilah kampilan.  
Kampilan serupa pedang. Panjang kampilan yang diperlihatkan beragam, antara 60 cm sampai 80 cm. Bagian atas ujungnya sedikit bercabang seperti pial atau jeger kepala ayam. Ulunya berukir kepala naga dengan umbai-umbai rambut atau bulu binatang.

Selain senjata tajam,  di Pulau Kijang ini, seorang keturunan Melayu Timur,  Ahmad Mustafa dari Kotabaru, memperlihatkan bisluit (SK) Raja Kerajaan Riau-Lingga, pengangkatan Sultan Ismail, sebagai penguasa Reteh.

Selepas Pulau Kijang Kecamatan Reteh, yang bersempadan dengan Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Provinsi Jambi, dengan speed boat, tim berbalik arah balik ke Tembilahan dan singgah di Kuala Patah Parang. Inilah tempat tujuan lebih khusus itu. Sebuah desa yang penduduknya mayoritas suku Melayu Timur. Selain di Kuala Patah Parang Luar – sebagai nelayan - ini, komunitas Melayu Timur juga berdomisili di Kuala Parat Parah Dalam, berkebun.

Setelah salat Asyar di masjid di hilir Kuala Patah Parang yang banyak Suku Laut (Duanu) berdomisili, tim beranjak ke hulu. Menambatkan speed boat di sebuah ujung pelantar jerambah kayu. Di beberapa tempat di hamparan jerambah itu tampak beberapa hasil tangkapan dari laut dijemur untuk dikeringkan. Udang dan ikan. Selain itu tampak juga belacan, yang memerah dijemur di panas “hari”, hasil olahan penduduk setempat.

Di sini tim diterima imam surau Muhammad Ali Sapar – yang biasa dipanggil orang kampung dengan Cik Li. Masih muda. Tim diterima masuk di sebuah rumah yang sangat sederhana. Rumah panggung bertongkat kayu seadanya di atas dataran lumpur yang agak tinggi dari pantai lumpur. Berdinding papan-papan lama. Nyaris tidak ada daun tingkap. Sehingga angin laut pesisir pantai timur Sumatera bebas bertiup keluar-masuk.

Di rumah berukuran sekitar 4 x 6 meter itu tim duduk bersila di lantai bersama tuan rumah dan orang yang paling dituakan, Nurdin bin Syahjohan atau Long No (75) – sapaan orang-orang kampung padanya. Ketokohannya malah sampai di sekitar kawasan Indragiri Hilir bagian Selatan lainnya. Dalam sekejab saja, sudah ramai orang-orang berhimpun di dalam rumah Cik Li.

Long No segera menyuruh beberapa orang mengambil alat-alat musik kelintang peninggalan pengikut Raja Ismail yang dibawa dari Tempasuk pada tahun 1787. Satu perangkat kelintang tujuh nada dengan tiga gendang. Nek Majene yang lebih dulu datang langsung mengambil posisi di depan kelintang tua. Meminta kayu penalu pada tuan rumah, dan langsung memukul-mukul cembul-cembul kulintang itu.

Tidak lama berselang muncul pula beberapa wanita tua lainnya, pemain grup kelintang ini.  Siti Aminah binti Hamid, berusia 70-an - memainkan gendang, Semah binti Ketik - usia 90-an, juga memainkan gendang lainnya, dibantu Cik Li atau Muhammadi Ali Sapar yang menalu gong. Madin Sumalah pun ikut bermain, memainkan gendang yang paling besar.
Ada beberapa lagu khas musik tradisional kelintang yang dibawa dari negeri leluhurnya ini. Antaranya Serama, Andok-andok, Kudidi – yang terakhir di Indragiri menjadi Kedidi – nama burung. Menurut Sulaiman Merawi, seorang pemuda sana, ada sekitar belasan rentak kelintang yang ada di Patah Parang dan sekitarnya antaranya Anduk-anduk, Anduk-anduk Selor, Kedidi, Kedincing, Serame, Serame 2, Serame 3, Serame Jawa, Serama Angin, Cak Pumpung, Gubang Gubang, Gubang Gubang Kayoh, Kisak-kisak, Janda Ngagek Terong, Kedungkok, Tepai Begelot. Sendayung “Semua jenis rentak tersebut orang tetua yang pandai memainkannya,” kata Sulaiman.

Tidak ada regenerasi. Itulah yang terungkap dari penelusuran jejak Iranum ini, khususnya pada permainan kulintang. “Ini yang membuat kita sedih. Generasi muda tak ramai lagi yang tahu. Sementara Nek Uda Jena sudah 78 tahun. Kelintang itu pula, itulah satu-satunya. Sesuatu perlu dibuat untuk menyelematkan kesenian ini yang hampir pupus sebelum ia tenggelam dan dihanyutkan oleh sungai sejarah,” ujar Naddin

Itu pulalah sebab Sulaiman yang kini merantau ke Karimun berharap, kunjungan dari Sabah Malaysia ini bisa membangkitkan dan membakar semangat kaum muda untuk mempelajarinya. “Apalagi bila dapat sokongan pemerintah,” tambahnya. Kunjungan ke Pulau Kijang dan Kuala Patah Parang ini memang disertai pendamping dari Dinas Pariwisata Inhil, Raja Indra Maulana dan Haji Ahmady.

Pembakar Semangat

Menurut catatan di Tuhfat Al Nafis, dulu Raja Ismail datang ke kawasan Riau-Johor dengan sekitar 40 perahu penjajab. Dengan jumlah pasukan seluruhnya sekitar 1000 orang. Setiap penjajab dilengkapi seperangkat alat kulintang. Selalu dimainkan ketika angin tenang dan para prajurit mengayuh-ngayuh kapal penjajabnya. “Jadi fungsinya seperti alat pembakar semangat para prajurit,” kata Naddin.

Ketika berlayar menuju ke Kerajaan Riau-Lingga, menurut Naddin, kelintang yang dibawa sekitar 30 sampai 40 buah, sama dengan jumlah penjajabnya. Sekarang yang baru ditemukan sekitar lima buah. Dua di Patah Parang Dalam dan Patah Parang Luar. Dua di Reteh. Satu buah yang beradal dari Reteh dibawa ke Tanjung Uban, Kepulauan Riau. “Jadi masih ada sekitar 15 sampai 20 buah belum diketahui di mana keberadaannya.”


Graha Pena Riau Space for Rent
KOMENTAR
Berita Update
DIPREDIKSI MENANG MUDAH
Lawan Kamboja, Timnas Tak Boleh Pandang Remeh
Kamis, 24 Agustus 2017 - 01:49 wib
DIDUGA LAKUKAN PENIPUAN
Keras! Ini Kritik Din Syamsuddin ke K‎emenag Terkait First Travel
Kamis, 24 Agustus 2017 - 01:35 wib
BERTUJUAN MEMENANGKAN PERKARA
Kasus Suap Panitera PN Jaksel, KPK Bidik Keterlibatan Hakim
Kamis, 24 Agustus 2017 - 01:28 wib
DILARANG BERTANDING LIMA LAGA
Asosiasi Sepakbola Spanyol Tolak Banding Madrid Terkait Kasus Ronaldo
Kamis, 24 Agustus 2017 - 01:14 wib
ENGLISH PREMIER LEAGUE
Belum Mainkan Coutinho, Klopp: Saya Tak Punya Masalah dengan Dia
Kamis, 24 Agustus 2017 - 01:00 wib
USUL FAHRI HAMZAH
Diminta Panggil Jokowi ke DPR, Ini Tanggapan Pansus Angket KPK
Kamis, 24 Agustus 2017 - 00:48 wib
SEORANG PELAKU DIAMANKAN
Sindikat Penjual Data Nasabah Berhasil Diungkap Bareskrim, Ini Harganya
Kamis, 24 Agustus 2017 - 00:32 wib
PLAY-OFF LIGA CHAMPIONS
Bek Liverpool Enggan Remehkan Hoffenheim
Kamis, 24 Agustus 2017 - 00:25 wib
DINILAI SEBAGAI ISU LAMA
Terkait Desakan Penerbitan Perppu, KPK Akui Percaya Presiden
Kamis, 24 Agustus 2017 - 00:19 wib
TEPAT DI MOMEN HUT RI
Pembakar Umbul-umbul Merah Putih Ternyata Masih Remaja, Begini Reaksi Polri
Kamis, 24 Agustus 2017 - 00:00 wib
Cari Berita
Feature Terbaru
Nyala Hari Puisi Ini Pun Tak Akan Pernah Padam

Minggu, 13 Agustus 2017 - 00:08 WIB

Filosofi Hidup dalam Permainan Tradisi

Minggu, 13 Agustus 2017 - 00:03 WIB

Oppss! Ini Via Vallen Lho, Bukan Ayu Ting Ting atau Isyana Sarasvati...
Lama Waktu Mengemudi Maksimal Tiga  Jam

Minggu, 11 Juni 2017 - 11:05 WIB

Berkah dari Sang Penyengat

Minggu, 11 Juni 2017 - 10:59 WIB

sumatranet
Ranggi Riau Pos
loading...
Follow Us