Wonderful Indonesia
BETERNAK LEBAH KELULUT DI RIAU
Dulu Hama, Sekarang Mesin Uang
Minggu, 18 September 2016 - 12:02 WIB > Dibaca 7253 kali Print | Komentar
Dulu Hama, Sekarang Mesin Uang
Berita Terkait



(RIAUPOS.CO) - TANGAN Sendy Nuari Kamisa SST dengan cekatan mengangkat satu log (tual kayu, red) berdiamter 15 inchi dengan panjang kurang lebih 50 centimeter. Di atas log tersebut sudah terdapat topping (penutup kayu) berbentuk bundar dan bertutup dengan terpal berwana biru.  Di tengah-tengah log tersebut tersembul sebentuk pipa bercorong namun lunak dari lubang corong tersebut berterbangan beratus-ratus koloni sebentuk lebah berukuran mini hilir mudik.

 Sepintas lalu melihat log-log berukuran sedang ini mungkin bagi sebagian orang menyangka hanyalah tual-tual kayu untuk keindahan sekeliling rumah, namun ternyata di dalam log-log ini tersimpan beratus gram madu yang khasiatnya cukup tinggi.

Perlahan tangan Sendy membuka kertas plastik terletak di topping  yang ada di atas log. Ternyata di dalam log tersebut sudah terdapat kantong-kantong kecil berdiamter sebesar ibu jari menjejali setiap ruang kayu yang berdiameter 15 inchi tersebut.

‘’Di dalam  inilah madu-madu tu bang,’’ jelas pemuda yang akrab disapa Sendy sambil jari tangannya menunjuk ke arah kantong-kantong kecil berwarna bening kecoklatan bahkan bertingkat berisi madu dan terlihat beratus-ratus koloni kelulut di dalamnya.

Dengan dibekali sebatang lidi, tangan Sendy mulai mencungkil bukit-bukti kecil itu seakan membuat lubang-lubang berdiameter pipet penyedot air teh es.Dari lubang-lubang kecil ini terlihat jelas bening-bening madu yang sudah siap dipanen.

Awalnya  Riau Pos  tak yakin di dalam kayu berukuran sedang itu memiliki madu. Namun saat mengeluarkan alat penyedot sederhana yang dibuatnya dari bekas kompresor kulkas dan diberikan selang panjang berukuran mini Sendy mulai menyedot madu yang berada dalam koloni lebah kelulut tersebut barulah Riau Pos yakin madu lebah kelulut itu memang ada.

Tangan Sendy yang memegang selang langsung mengarahkan ujung selang ke lubang-lubang kecil yang dibuat dari lidi tersebut.Mili per mili isi madu dalam kantong-kantong kecil disedot dengan alat sederhana yang diciptakan mengalir ke wadah.

Menurut Sendy beginilah cara modern pengambilan madu kelulut. ‘’Kalau dulu warga mengambil madu kelulut dengan cara memerasnya. Sehingga hasilnya tak maksimal dan bercampur dengan polan dan juga sarangnya,’’ jelas Sendy ditemani Risman (Ateng) dan Siman.

Dikatakan dia untuk pengambilan madu kelulut tidaklah sesulit dan berisiko terkena sengat seperti mengambil madu lebah sialang, Cerena atau nyuan (sebutan warga tempatan).Untuk mengambil madu lebah sialang harus menyiapkan penutup muka, pakaian harus tebal dan berlapis-lapis agar sengat lebah tak mengenai badan.

‘’Mengambil madu kelulut duduk-duduk dan berdiri-diri saja di samping sarang dan tak perlu takut terkena sengat.Kalaupun menyerang koloni kelulut paling mengarah ke rambut. Paling kita menyiapkan kapas untuk menutup telinga agar kelulut tak masuk ke telinga saja,’’ ucapnya sambil tangannya terus beraktivitas menyedot satu per satu kantong-kantong madu.

Dikatakan Sendi untuk pemanenan madu kelulut ini memang memakan waktu cukup lama.Bahkan per log bisa memakan waktu 1-2 jam dan harus menggunakan alat penyedot.Selain itu juga kantong-kantong madunya berbeda dengan madu sialang.Kalau madu sialang atau Cerena berbentuk sambang, jadi setiap sambang atau sikat-sikat dan bisa dipanen langsung.Sedangkan madu kelulut tidak, jadi hanya melubangi kantong dan menyedot madunya.

Makanya, kata Sendy, tenggang waktu untuk panen berikutnya cukup lama bagi lebah sialang dan cerena.Sedangkan kelulut dalam tenggang waktu tiga sampai empat pekan usai dipanen sudah bisa dilakukan kembali pengambilan madunya karena kantong-kantong madunya tak diambil atau dirusak.

‘’Dulu, lebah kelulut dianggap orang sebagai hama dan mengganggu sekarang tidak lagi, harga jualnya yang selangit membuat lebah ini menjadi mesin uang bagi kami pembudidayanya,’’ tutur Sendy lagi.

Mudah Dibudidayakan


Awalnya budidaya kelulut ini hanya dilakukan beberapa orang saja di Riau.Bahkan bisa dikatakan Sandy menjadi salah seorang yang pertama melakukan pembudidayaan hasil hutan non kayu berupa budidaya madu kelulut di Riau.

Hal ini dikarenakan belum menguasainya tata cara pembuatan media atau mempermudah mengambil madu kelulut dan masih ada stigma masyarakat madu kelulut tak menjanjikan dan sangat sedikit dan hanya hama saja.

Menurut Sendy, pada awal mendapatkan log berisikan sarang kelulut sangat mudah dan mengeluarkan biaya murah. Per log awalnya hanya seharga Rp50 ribu dan paling tinggi Rp100 ribu.Namun sekarang tidak lagi.

Karena sebagian warga dan beberapa pembudidaya madu Cerena yang ada di Riau khususnya di Kabupaten Kampar sekarang mulai membudidayakan kelulut.Sekarang per lognya bisa mencapai Rp150-200 ribu. Itu belum dibuat topping. Jika dimasukkan biaya pembuatan toping per log bisa menghabiskan biaya Rp200-250 ribu.

Makanya untuk pembudidayaan awal dirinya bersama teman-teman di Dusun Jawi-jawi, Desa Kotoperambahan, Kecamatan Kampar Timur, Kabupaten Kampar memulai dengan 57 sarang atau log. ‘’Alhamdulillah hasilnya cukup maksimal.Per log bisa menghasilkan madu di atas rata-rata 500 gram,’’ jelas Sendy.

Setelah berhasil dirinya juga memberikan kepercayaan kepada Ateng untuk membudidayakan kantong-kantong atau log-log berisikan kelulut. Dalam waktu tiga bulan Ateng sudah menyelesaikan 27 log sarang kelulut.

Untuk panen perdana, kata Ateng dirinya hanya mendapatkan 600 gram.‘’Harganya membuat saya terkejut.Panen perdana langsung mendapatkan sekitar Rp350 ribu.Makanya membuat saya semangat bang,’’ jelas Ateng.

Bahkan untuk bulan pertama dimusim bunga durian, Rabu (14/9) kemarin dari tiga log yang dipanennya mendapatkan dua liter madu.‘’Ini belum semua bang. Sebab yang lain masih berumur di bawah satu bulan setelah diberikan topping. Yakin dalam dua tiga pekan lagi sudah bisa dipanen lagi,’’ jelas Ateng saat itu didampingi temannya Siman.

Selain di Kabupaten Kampar dirinya juga telah melakukan budidaya madu kelulut di Desa Okura, Kecamatan Rumbai Pesisir.Lokasinya tidak jauh dari Danau Buatan.Untuk di Desa Okura ini Sendy telah membudidayakan 32 log.

‘’Untuk panen perdana yang baru dilakukannya beberapa bulan lalu mencapai sembilan kilogram.Itu hasil maksimal menurut saya, karena baru berkisar 2 bulan umurnya,’’ jelas Sendi.

Selain di Pekanbaru, Kampar di Bengkalis dan Siak juga telah ada warga membudidayakan madu kelulut. Bahkan jumlah lognya cukup besar. Seperti di Bengkalis temannya sudah membuat 200 log sarang kelulut. ‘’Itu kelulut yang berada di tepian sungai atau di pohon-pohon mangrove.Pada umumnya bersarang di pohon nyirih,’’ jelas Sendi.

Dikatakan Sendi mengapa mudah dibudidayakan, karena sarang kelulut mudah didapatkan di Pulau Sumatera ini.Sebab sampai sekarang kualitas madu kelulut terbaik masih berada di Pulau Sumatera dan Kalimantan. ‘’Di Pulau Jawa ada, akan tetapi jenisnya berbeda dan koloninya kecil-kecil dan hasil madunya juga sedikit,’’ jelasnya.

Untuk lebah madu seperti kelulut  ini selagi pakannya terpenuhi terutama nekter, polan dan air ada diyakini koloninya akan terus bertambah dan yakin madunya akan diproduksi terus. Makanya perlu dicari jalan agar keperluan makannya terpenuhi terutama dari tiga unsur itu.

Mengapa lebah mudah berkembang di tepian kebun karet, akasia, kaliandra dan tumbuhan-tumbuhan yang tak pernah berhenti berbunga.Karena keperluan pakannya terpenuhi terutama nektar, polan dan juga air.‘’Kita sarankan jika ingin membudidayakan madu kelulut berdekatan dengan lahan perkebunan karet, akasia, kaliandra dan kopi,’’ jelasnya..(fiz)


Graha Pena Riau Space for Rent
KOMENTAR
Berita Update
DURI
Pelaku Pembobol Rumah Tertangkap di Bukit Kapur
Kamis, 14 Desember 2017 - 09:27 wib

Akhir Tahun, Realisasi APBD Diatas 80 Persen
Kamis, 14 Desember 2017 - 09:25 wib

Himapentika Universitas Riau Belajar ke Riau Pos
Kamis, 14 Desember 2017 - 09:22 wib
ROHIL
Kementerian Desa Respon Usulan Rohil
Kamis, 14 Desember 2017 - 09:22 wib

Canadian Ambassador Kunjungi PCR Terkait PEDP
Kamis, 14 Desember 2017 - 09:20 wib

Kapolres Ingatkan Personel Tingkatkan Pelayanan
Kamis, 14 Desember 2017 - 09:17 wib
SELATPANJANG
Karantina Amankan 424 Kg Buah Ilegal
Kamis, 14 Desember 2017 - 09:15 wib

DPRD Bentuk Pansus Bahas 7 Ranperda Retribusi
Kamis, 14 Desember 2017 - 09:14 wib
TEMBILAHAN
Jelang Natal, Peredaran Miras Diperketat
Kamis, 14 Desember 2017 - 09:13 wib
PEKANBARU
DAK BOKB Riau 2018 Capai Rp51,8 Miliar
Kamis, 14 Desember 2017 - 09:13 wib
Cari Berita
Liputan Khusus Terbaru
Harus Dimulai dari Sekarang

Minggu, 01 Oktober 2017 - 13:54 WIB

Organik Masa Depan Dunia Pertanian

Minggu, 01 Oktober 2017 - 12:49 WIB

Baja Sahabat Alam

Minggu, 01 Oktober 2017 - 12:40 WIB

Terganjal karena Kepentingan?

Minggu, 24 September 2017 - 11:22 WIB

 Tidak Ada Intimidasi

Minggu, 24 September 2017 - 11:18 WIB

sumatranet
Sagang Online
loading...
Follow Us