Wonderful Indonesia
AL AZHAR, KETUA HARIAN LAM RIAU
Orang Melayu dan Alam Saling Berbagi Berkah
Minggu, 04 September 2016 - 12:48 WIB > Dibaca 6538 kali Print | Komentar
Orang Melayu dan Alam Saling Berbagi Berkah
Selama ini orang Melayu Riau bersikap arif dan bijaksana, bagi orang Melayu alam sebagai tempat berbagi berkah, karenanya orang Melayu senantiasa menjaga alam dengan sebaik-baiknya. Alam dijaga dengan bijaksana, sehingga alam senantiasa memberikan berkah bagi ummat manusia, bukan musibah seperti yang terjadi saat ini.

--------------------------------------------

(RIAUPOS.CO) - Hari ini, maunsia tidak lagi memposisikan alam sebagai subjek tetapi sebagai objek.   Seperti halnya yang disampaikan Ketua Harian Lembaga Adat Melayu (LAM) Riau, Al Azhar. Hubungan manusia Melayu itu dengan alam disebut interaktif dialogis atau  hubungan dialog dengan alam.

Orang Melayu membaca lingkungan alamnya itu, membaca alam sekitar kemudian mengekplorasinya , menjelajahinya, menelisiknya serta  mengakrabinya kemudian alam sekitar diposisikan sebagai subjek bukan objek. “Sebagai sosok kawan berbagi, suatu budaya yang bersifat ekologikal determinisme,” ungkap Al Azhar.

Kebudayaan Melayu mengkespresikan hubungan lingkungan itu dalam dua sikap. Pertama ada yang dinamakan kepatuhan referensial, kebudayaan Melayu itu dalam satu pola bergerak mengikuti gerak ekologis.

Dalam hal itu, dicontohkannya, ada sejumlah bentuk ekspresi budaya itu menampilkan penerimaan alam semesta sebagaimana adanya, ditafsirkan dalam semangat kepatuhan yang dihidangkan dalam berbagai upacara ritual seperti semah laut, tolak bala dan lain-lain.

“Ritual-ritual seperti itu salah satu contoh yang menunjukkan kepatuhan referensial manusia kepada gerak alam sekitarnya,” jelas budayawan Riau itu.

Kedua hubungan manusia Melayu itu dengan alam disebut interaktif dialogis atau  hubungan dialog dengan alam. Orang Melayu, lanjut Al Azhar  menempatkan lingkungan alamnya itu sebagai sosok kawan berbagi. Berbagi pengetahuan, perasaan, dan berbagi keperluan-keperluan dan berbagi berkah.   

“Inilah kita sebut alam terkembang menjadi guru. Alam berfungsi sebagai guru. Berbagi pengalaman atau dialog itu tadi. Kreasi-kreasi dan ekpresi budaya bersumber dari nilai-nilai yang dibentuk melalui keakraban dengan alam itu,’’ ujarnya.

Misalnya, ada ekspresi budaya yang memperlihatkan hubungan harmonis manusia dan komuntias Melayu itu dengan lingkungannya. ‘’Jadi, antara manusia dengan alam itu berbagi berkah, Jadi, ekologi alam sekitar dan ekspresi budaya serta nilai-nilainya jika dianalogikan ibarat hubungan sarang dan burung, antara tanah dan tumbuh-tumbuhan, air dan ikan, adanya penyatuan,” ucapnya.

Sedangkan hari ini, menurut Al Azhar terjadi perubahan yang bertolak belakang dengan keadaan tersebut. Yang bermunculan belakangan adalah relasi hubungan dalam bentuk objektif eksploitatif, lingkungan dijadikan sebagai objek untuk hal-hal yang memusat kepada keperluan manusia.

Keperluan ini tentu tak terbatas karena jelas, apa yang diperlukan manusia dalam hidupnya dalam memenuhi kebutuhan tidak akan pernah puas, itu sudah hakikatnya. Padahal petatah-petitih sudah menyebutkan, minum jangan mengeringkan, makan jangan menghabiskan.

“Tapi hal itu berlawanan dengan paham kapitalisme. Sebab dia berkosentrasi pada keperluan manusia. Keperluan manusia yang tak terbatas,” ucap Al Azhar.

Lebih jauh dijelaskan Al Azhar, budaya Melayu dengan sangat tegas dan jelas menata ruang. Tata ruang dalam budaya Melayu itu jelas. Mana yang disebut dengan tanah kampung yaitu berarti tempat rumah tegak berjajar. Kemudian, ada yang disebut tanah dusun, tempat orang Melayu menamam tanaman keras, buah-buahan. Tanah dusun itu biasanya terletak di belakang rumah.

Ada pula yang disebut tanah perladangan yaitu tempat berladang, Sesudah itu ada hutan tanah cadangan, diperuntukkan bagi perkembangan jumlah penduduk. Sesudah itu, rimba larangan, hutan di rimba larangan inilah yang dijadikan sebagai simbol marwah orang Melayu.

Ke semua yang tersebut di atas, merupakan tanah mineral, sedangkan tanah gambut, bagi orang Melayu, bukan untuk usaha-usaha tanaman produktif, tetapi mereka mengambil produk-produk dari hutan itu yang non kayu seperti rotan dan lainnya.

Gambut ini juga, kata Al Azhar dikenal dengan pengertian rawa. Disana, orang membangun dan membuat rumah-rumah rakit tempat mencari ikan. Jadi hasil airnya diambil tapi hutan dibiarkan merimbun. Tetapi di Riau, kira-kira di akhir tahun 80an, gambut inipun dikapling-kapling oleh berbagai pihak yan hendak mencari keuntungan.

Yang perlu pula diketahui kemudian, lanjutnya, orang-orang Melayu juga melakukan kegiatan menebas tebang serta membuka ladang hanya untuk keperluan setahun, bukan untuk tujuh turunan seperti halnya yang berlaku pada paham-paham kapitalis, dalam posisi amat kaya raya, untuk sekurang-kurangnya tujuh keturunan.

“Orang-orang Melayu bukan embat saja, lain halnya kalau kapitalis, mereka membuat skedulnya, yang semata-mata mempertimbangkan kepada kepentingn manusia. Sedangkan pada budaya Melayu tradisional itu tidak, tetap mengikuti gerak alam yang dibaca, baru muncul siklus. Kepatuhan dan hubungan dialogis dengan alam itu tadi,” tutupnya.(gem)

Graha Pena Riau Space for Rent
KOMENTAR
Berita Update
DURI
Pelaku Pembobol Rumah Tertangkap di Bukit Kapur
Kamis, 14 Desember 2017 - 09:27 wib

Akhir Tahun, Realisasi APBD Diatas 80 Persen
Kamis, 14 Desember 2017 - 09:25 wib

Himapentika Universitas Riau Belajar ke Riau Pos
Kamis, 14 Desember 2017 - 09:22 wib
ROHIL
Kementerian Desa Respon Usulan Rohil
Kamis, 14 Desember 2017 - 09:22 wib

Canadian Ambassador Kunjungi PCR Terkait PEDP
Kamis, 14 Desember 2017 - 09:20 wib

Kapolres Ingatkan Personel Tingkatkan Pelayanan
Kamis, 14 Desember 2017 - 09:17 wib
SELATPANJANG
Karantina Amankan 424 Kg Buah Ilegal
Kamis, 14 Desember 2017 - 09:15 wib

DPRD Bentuk Pansus Bahas 7 Ranperda Retribusi
Kamis, 14 Desember 2017 - 09:14 wib
TEMBILAHAN
Jelang Natal, Peredaran Miras Diperketat
Kamis, 14 Desember 2017 - 09:13 wib
PEKANBARU
DAK BOKB Riau 2018 Capai Rp51,8 Miliar
Kamis, 14 Desember 2017 - 09:13 wib
Cari Berita
Liputan Khusus Terbaru
Harus Dimulai dari Sekarang

Minggu, 01 Oktober 2017 - 13:54 WIB

Organik Masa Depan Dunia Pertanian

Minggu, 01 Oktober 2017 - 12:49 WIB

Baja Sahabat Alam

Minggu, 01 Oktober 2017 - 12:40 WIB

Terganjal karena Kepentingan?

Minggu, 24 September 2017 - 11:22 WIB

 Tidak Ada Intimidasi

Minggu, 24 September 2017 - 11:18 WIB

sumatranet
Sagang Online
loading...
Follow Us