Wonderful Indonesia
KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN DI RIAU
Hentikan Pemberian Izin
Minggu, 04 September 2016 - 12:18 WIB > Dibaca 3834 kali Print | Komentar
Hentikan Pemberian Izin
LAHAN TERBAKAR: Ratusan hektare lahan kaplingan tanah diduga sengaja dibakar di Desa Karya Indah Kecamatan Tapung Kabupaten Kampar, Kamis (25/8/2016). MHD AKHWAN/RIAUPOS
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dipastikan akan terjadi di Riau setiap tahunnya. Saat cuaca ekstrem dengan panas yang menyengat titik api (hot spot) dipastikan akan muncul di mana-mana. Sejumlah pelaku yang diduga ikut andil membakar lahan apakah individu maupun koorporasi ditangkap, namun sayangnya akibat ulah mereka yang menyengsarakan orang banyak tidak sepadan dengan hukuman yang diterima. Malah ada yang di SP3 kan. Izin dan tata kelola hutan yang diberikan harus ditinjau ulang agar persoalan ini tuntas.
--------------------------------------------------------

(RIAUPOS.CO) - KERJA BERSAMA atau gotong royong memadamkan api di Riau pasti terjadi setiap tahunnya. Semua pihak bertungkus lumus, tidak hanya masyarakat, polisi, tentara sampai ke pejabatpun turun tangan memadamkannya, walau untuk pejabat terkadang dibungkus dengan seremonial tertentu.

Mengapa karhutla terjadi di Riau setiap tahunnya? Ada yang mengatakan bahwa daerah ini dikelilingi dengan kawasan gambut yang cukup tebal, gambut jika sudah terbakar sangat susah dipadamkan,  walau terlihat sudah padam tetapi di lapisan bawah lahan itu masih tetap membara, karenanya perlu pemadaman yang begitu ekstra terhadap lahan gambut yang terbakar.

Alasan lain karena ulah segelintir  orang  atau perusahaan yang tidak bertanggung jawab membuka areal perkebunan. Cara membakar dianggap paling mudah dan menguntungkan untuk membuka lahan karena tidak memerlukan biaya besar dan alasan ketiga mungkin ketidak pedulian  semua pihak terhadap antisipasi dini.

Bak kata pepatah api kalau kecil menjadi kawan, kalau sudah besar menjadi lawan. Harusnya sebelum api itu menjadi lawan sebaiknya jangan dibiarkan dia membesar, kalau sudah besar sulit untuk diantisipasi dan di padamkan. Apa yang terjadi selama ini di Riau seperti itu, antisipasi dini jarang dilakukan, ketika api membesar semua baru sibuk untuk memadamkannya dan itu sudah terlambat.

Hasil investigasi Eyes on the Forest (EoF) 2015 lalu menunjukkan  koorporasi Hutan Tanaman Industri (HTI)  maupun kebun sawit gagal dalam melindungi gambut sehingga pengecekan lapangan membuktikan gambut dirusak dan dibakar bersamaan dengan hutan alam, tanaman maupun lahan. Sejumlah indikasi pembakaran dengan unsur kesengajaan dirangkum berdasarkan temuan dan analisa EoF.

Seperti adanya bekas pohon kelapa sawit berusia muda diduga dibakar karena diperkirakan kurang produktif, adanya pembukaan jalan baru yang membelah konsesi tak lama setelah kebakaran, adanya temuan bekas kayu/puing kayu sebagai bahan pembakar menunjukkan dugaan unsur  kesengajaan, pembuatan parit kecil (1-1,5 meter) sebagai pembatas aliran api dari blok yang ditargetkan menuju blok yang memang sengaja dicegah dari kebakaran.

Adanya operasi alat berat pada saat asap masih mengepul maupun sejurus setelah kebakaran terjadi, adanya pembersihan lahan yang secar ahalus menghilangkan jejak bekas lahan kebakaran, namun masih ada indikasi kawasan baru saja mengalami kebakaran, adanya temuan bibit kelapa sawit di sekitar lokasi konsesi yang terbakar, menunjukkan adanya persiapan penanaman bibit tanaman di area yang baru terbakar dan diduga memiliki unsur  kesengajaan dalam pembakaran.

Sebagian besar pembakaran terjadi di lahan gambut yang jelas memicu penglepasan karbon yang besar ke udara dan kerusakan ekosistem gambut, sehngga lokasi-lokasi ini wajib dilindungi dari operasional HTI dan kebun sawit sesuai arahan pemerintah RI, hutan lindung yang luasnya sedikit tersisa  dan kurang memenuhi peraturan tata ruang HTI pun banyak yang mengalami pembakaran periode ini, koalisi EoF mempertanyakan komitmen kelestarin industry pulp dan kertas terhadap pelestarian hutan.

Berantas Mafia dan Cukong


 Tak kunjung selesainya jerebu atau kabut asap di Riau tak terlepas dari para mafia dan cukong yang berkuku besi bahkan bisa dikatakan bisa mengatur semua usahanya dari jarak jauh. Jika para cukong dan mafia ini tidak diberantas maka masalah asap di Riau tak akan selesai bahkan pemerintah akan terus menjadi kuli untuk memadamkan kebakaran hutan dan lahan sedangkan masyarakat menjadi korban dampak dari asap tersebut.

Dengan kondisi tersebut pemerintah pusat, pemerintah daerah, penegak hukum dari pusat sampai ke daerah harus benar-benar serius menindak para mafia dan cukong yang bermain dan terlibat. ‘’Jika itu tak dilakukan yakinlah setiap tahunnya masalah asap di Riau tak akan pernah selesai. Meskipun kita akui intensitas atau jumlah lahan terbakarnya makin berkurang,’’ jelas Koordinator Jikalahari Woro Supartinah kepada Riau Pos.


Graha Pena Riau Space for Rent
KOMENTAR
Berita Update
DURI
Pelaku Pembobol Rumah Tertangkap di Bukit Kapur
Kamis, 14 Desember 2017 - 09:27 wib

Akhir Tahun, Realisasi APBD Diatas 80 Persen
Kamis, 14 Desember 2017 - 09:25 wib

Himapentika Universitas Riau Belajar ke Riau Pos
Kamis, 14 Desember 2017 - 09:22 wib
ROHIL
Kementerian Desa Respon Usulan Rohil
Kamis, 14 Desember 2017 - 09:22 wib

Canadian Ambassador Kunjungi PCR Terkait PEDP
Kamis, 14 Desember 2017 - 09:20 wib

Kapolres Ingatkan Personel Tingkatkan Pelayanan
Kamis, 14 Desember 2017 - 09:17 wib
SELATPANJANG
Karantina Amankan 424 Kg Buah Ilegal
Kamis, 14 Desember 2017 - 09:15 wib

DPRD Bentuk Pansus Bahas 7 Ranperda Retribusi
Kamis, 14 Desember 2017 - 09:14 wib
TEMBILAHAN
Jelang Natal, Peredaran Miras Diperketat
Kamis, 14 Desember 2017 - 09:13 wib
PEKANBARU
DAK BOKB Riau 2018 Capai Rp51,8 Miliar
Kamis, 14 Desember 2017 - 09:13 wib
Cari Berita
Liputan Khusus Terbaru
Harus Dimulai dari Sekarang

Minggu, 01 Oktober 2017 - 13:54 WIB

Organik Masa Depan Dunia Pertanian

Minggu, 01 Oktober 2017 - 12:49 WIB

Baja Sahabat Alam

Minggu, 01 Oktober 2017 - 12:40 WIB

Terganjal karena Kepentingan?

Minggu, 24 September 2017 - 11:22 WIB

 Tidak Ada Intimidasi

Minggu, 24 September 2017 - 11:18 WIB

sumatranet
Sagang Online
loading...
Follow Us