Wonderful Indonesia
CATATAN AKHIR PEKAN
Nelayan dan Kehidupan
Minggu, 21 Agustus 2016 - 11:10 WIB > Dibaca 4084 kali Print | Komentar
Nelayan  dan Kehidupan
Berita Terkait



Riau sebagai negeri yang dikelilingi lautan harusnya bisa memberi kesejahteraan bagi rakyatnya terutama rakyat yang berusaha di bidang perikanan. Negeri yang katanya strategis karena bersempadan langsung dengan Singapura dan Malaysia dan sebagai  laman terdepan rumah besar yang bernama Indonesia harusnya negeri ini diperhatikan lebih.

Tapi ironis, rata-rata nelayan di Riau masih hidup dalam serba terbatas, nelayan-nelayan di Riau bak kata pepatah kais pagi makan pagi, kais petang untuk makan petang. Sekali lagi ironi. Nelayan-nelayan di Riau (mungkin tidak semuanya) belum bisa menikmati yang katanya sejahtera. Nelayan-nelayan di Riau tidak bisa menabung, karena apa yang mereka peroleh dari melaut hanya cukup untuk hari itu.

Banyak sebab bahkan mungkin terlalu banyak sebab mengapa nelayan di Riau masih hidup serba terbatas. Mungkin tidak bisa dinafikan hidup nelayan kita masih bersikap konsumtif, namun itu wajar saja. Hal lain yang mungkin menyebabkan nelayan kita masih hidup serba terbatas karena hasil tangkapan mereka yang tidak memadai.

Ini mungkin disebabkan beragam hal. Mulai dari kapasitas kapal mereka yang tidak mampu mengarungi laut lepas untuk menangkap ikan hingga alat tangkap yang digunakan nelayan masih sangat sederhana. Alhamdulillah nelayan-nelayan kita tidak terlalu serakah dengan menghabiskan isi perut laut dengan menggunakan alat tangkap yang canggih atau pukat harimau.

Kalaulah nelayan kita berpikir serakah dengan menangkap ikan dengan menggunakan alat tangkap modern tentu hidup mereka sudah sejahtera. Cukupkah hidup sejahtera? Bagi sebagian orang mungkin cukup, tetapi apa gunanya hidup sejahtera jika alam yang kita miliki luluh lantak karena ulah kita sendiri. Kalau alam sudah luluh lantak, tidak ada gunanya hidup sejahtera, tidak ada gunanya uang banyak, tak ada gunanya hidup di alam yang serba rusak.

Ya sudahlah.itu mungkin sudah garis tangan nelayan yang hidup di negeri yang bernama Riau ini.Tidak sedikit persoalan yang mendera mereka, mulai mereka menggantungkan hidup dari tauke hingga persoalan bahan bakar minyak (BBM) yang selalu menjadi beban pikir mereka. Bagaimana tidak, BBM yang mahal tidak cukup mereka gunakan untuk pergi melaut.

Mereka para nelayan harus mengeluarkan biaya yang lebih untuk sekali pergi malaut. Terkadang apa yang mereka bawa pulang dari melaut itu tidak sebanding atau bahkan sama sekali mereka harus menelan kerugian. Tapi itu tetap mereka terima dengan lapang dada, mereka tidak banyak menuntut,  bagi mereka hidup sudah ada yang mengaturnya, roda itu pasti berputar, tinggalkan saatnya menunggu.

Masyarakat pesisir khususnya di Riau masih didominasi oleh masyarakat nelayan. Berbagai upaya pemerintah dilakukan dengan target mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir tersebut. Meski begitu, target tersebut masih belum bisa meningkatkan kesejahteraan nelayan. Pasalnya, bantuan tersebut dinilai tidak tepat sasaran.

Beberapa waktu lalu, Riau dikenali sebagai penghasil ikan terbesar nasional, bahkan di Dunia. Belakangan, hal tersebut sudah hilang bahkan biota laut produk nelayan Riau menurun. Pemerintah dikabarkan sudah melakukan upaya peningkatan produksi tersebut seperti memberikan bantuan alat tangkap atau sekadar subsidi bahan bakar.

Namun itu dinilai masih belum bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat nelayan. Hal tersebut juga dinilai tidak tepat lagi oleh pengamat masyarakat nelayan Riau, DR Agusnimar. Pasalnya, dia melihat kondisi masyarakat nelayan masih tetap sama dan memprihatinkan.

Beberapa faktor yang dimaksud Dosen Perikanan Universitas Islam Riau ini adalah menurunnya hasil produksi ikan akibat menurunnya habitat ikan di laut sekitaran Riau. Tidak hanya itu, alat yang digunakan nelayan juga masih tradisional sehingga kalah saing dengan nelayan modern yang berasal dari negara lainnya.

Selain itu, harga jual produk tangkapan juga masih rendah sehingga tidak mampu menutupi biaya produksi yang tinggi. Satu faktor yang benar-benar mempengharuhi kondisi perikanan tangkap Riau adalah kerusakan alam yang cukup parah beberapa tahun belakangan.***  

Gema Setara - (Redaktur Pelaksana Harian Riau Pos)


Graha Pena Riau Space for Rent
KOMENTAR
Berita Update
RESMI JADI KADER
Elektabilitas Prabowo Dibebankan kepada Ahmad Dhani? Ini Kata Gerindra
Kamis, 18 Oktober 2017 - 21:00 wib
REGISTRASI SIM CARD PRABAYAR
Unik, Kemenkominfo Gunakan Ibu "Pengabdi Setan" untuk Pemberitahuan
Kamis, 18 Oktober 2017 - 20:45 wib
TIMBULKAN PRO DAN KONTRA
Belum Bersikap, Mendagri Pelajari Teks Pidato Anies Singgung Pribumi
Kamis, 18 Oktober 2017 - 20:30 wib
JADI PERTIMBANGAN
Tolak Pembentukan Densus Antikorupsi, JK Diyakini Sudah Tanya Menteri
Kamis, 18 Oktober 2017 - 20:15 wib
PILIH LIBURAN KE LABUAN BAJO
Djarot Tak Hadir Sertijab, Pengamat: Kelihatan Panggung Aslinya
Kamis, 18 Oktober 2017 - 20:00 wib
HASIL SURVEI MEDIAN
Ternyata, Prabowo Jadi Pilihan Konstituen Parpol Pendukung Pemerintah
Kamis, 18 Oktober 2017 - 19:40 wib
BUTUH WAKTU 27 MENIT
Denmark Open, Tunggal Putra Indonesia Melaju ke Babak Kedua
Kamis, 18 Oktober 2017 - 19:30 wib
SIRATKAN KETIDAKSETUJUAN
Jusuf Kalla Dikritik Fahri Hamzah Terkait Densus Tipikor
Kamis, 18 Oktober 2017 - 19:20 wib
PERNAH IKUT KONVENSI DEMOKRAT
Mungkinkah Anies Berambisi Maju Pilpres 2019? Ini Kata Pengamat
Kamis, 18 Oktober 2017 - 19:10 wib
PANDANGAN PENGAMAT
Anies Berpeluang Diusung Tiga Partai Ini di Pilpres 2019
Kamis, 18 Oktober 2017 - 19:00 wib
Cari Berita
Liputan Khusus Terbaru
Harus Dimulai dari Sekarang

Minggu, 01 Oktober 2017 - 13:54 WIB

Organik Masa Depan Dunia Pertanian

Minggu, 01 Oktober 2017 - 12:49 WIB

Baja Sahabat Alam

Minggu, 01 Oktober 2017 - 12:40 WIB

Terganjal karena Kepentingan?

Minggu, 24 September 2017 - 11:22 WIB

 Tidak Ada Intimidasi

Minggu, 24 September 2017 - 11:18 WIB

sumatranet
Sagang Online
loading...
Follow Us
Populer hari ini