CATATAN AKHIR PEKAN
Nelayan dan Kehidupan
Minggu, 21 Agustus 2016 - 11:10 WIB > Dibaca 2349 kali Print | Komentar
Nelayan  dan Kehidupan
Berita Terkait



Riau sebagai negeri yang dikelilingi lautan harusnya bisa memberi kesejahteraan bagi rakyatnya terutama rakyat yang berusaha di bidang perikanan. Negeri yang katanya strategis karena bersempadan langsung dengan Singapura dan Malaysia dan sebagai  laman terdepan rumah besar yang bernama Indonesia harusnya negeri ini diperhatikan lebih.

Tapi ironis, rata-rata nelayan di Riau masih hidup dalam serba terbatas, nelayan-nelayan di Riau bak kata pepatah kais pagi makan pagi, kais petang untuk makan petang. Sekali lagi ironi. Nelayan-nelayan di Riau (mungkin tidak semuanya) belum bisa menikmati yang katanya sejahtera. Nelayan-nelayan di Riau tidak bisa menabung, karena apa yang mereka peroleh dari melaut hanya cukup untuk hari itu.

Banyak sebab bahkan mungkin terlalu banyak sebab mengapa nelayan di Riau masih hidup serba terbatas. Mungkin tidak bisa dinafikan hidup nelayan kita masih bersikap konsumtif, namun itu wajar saja. Hal lain yang mungkin menyebabkan nelayan kita masih hidup serba terbatas karena hasil tangkapan mereka yang tidak memadai.

Ini mungkin disebabkan beragam hal. Mulai dari kapasitas kapal mereka yang tidak mampu mengarungi laut lepas untuk menangkap ikan hingga alat tangkap yang digunakan nelayan masih sangat sederhana. Alhamdulillah nelayan-nelayan kita tidak terlalu serakah dengan menghabiskan isi perut laut dengan menggunakan alat tangkap yang canggih atau pukat harimau.

Kalaulah nelayan kita berpikir serakah dengan menangkap ikan dengan menggunakan alat tangkap modern tentu hidup mereka sudah sejahtera. Cukupkah hidup sejahtera? Bagi sebagian orang mungkin cukup, tetapi apa gunanya hidup sejahtera jika alam yang kita miliki luluh lantak karena ulah kita sendiri. Kalau alam sudah luluh lantak, tidak ada gunanya hidup sejahtera, tidak ada gunanya uang banyak, tak ada gunanya hidup di alam yang serba rusak.

Ya sudahlah.itu mungkin sudah garis tangan nelayan yang hidup di negeri yang bernama Riau ini.Tidak sedikit persoalan yang mendera mereka, mulai mereka menggantungkan hidup dari tauke hingga persoalan bahan bakar minyak (BBM) yang selalu menjadi beban pikir mereka. Bagaimana tidak, BBM yang mahal tidak cukup mereka gunakan untuk pergi melaut.

Mereka para nelayan harus mengeluarkan biaya yang lebih untuk sekali pergi malaut. Terkadang apa yang mereka bawa pulang dari melaut itu tidak sebanding atau bahkan sama sekali mereka harus menelan kerugian. Tapi itu tetap mereka terima dengan lapang dada, mereka tidak banyak menuntut,  bagi mereka hidup sudah ada yang mengaturnya, roda itu pasti berputar, tinggalkan saatnya menunggu.

Masyarakat pesisir khususnya di Riau masih didominasi oleh masyarakat nelayan. Berbagai upaya pemerintah dilakukan dengan target mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir tersebut. Meski begitu, target tersebut masih belum bisa meningkatkan kesejahteraan nelayan. Pasalnya, bantuan tersebut dinilai tidak tepat sasaran.

Beberapa waktu lalu, Riau dikenali sebagai penghasil ikan terbesar nasional, bahkan di Dunia. Belakangan, hal tersebut sudah hilang bahkan biota laut produk nelayan Riau menurun. Pemerintah dikabarkan sudah melakukan upaya peningkatan produksi tersebut seperti memberikan bantuan alat tangkap atau sekadar subsidi bahan bakar.

Namun itu dinilai masih belum bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat nelayan. Hal tersebut juga dinilai tidak tepat lagi oleh pengamat masyarakat nelayan Riau, DR Agusnimar. Pasalnya, dia melihat kondisi masyarakat nelayan masih tetap sama dan memprihatinkan.

Beberapa faktor yang dimaksud Dosen Perikanan Universitas Islam Riau ini adalah menurunnya hasil produksi ikan akibat menurunnya habitat ikan di laut sekitaran Riau. Tidak hanya itu, alat yang digunakan nelayan juga masih tradisional sehingga kalah saing dengan nelayan modern yang berasal dari negara lainnya.

Selain itu, harga jual produk tangkapan juga masih rendah sehingga tidak mampu menutupi biaya produksi yang tinggi. Satu faktor yang benar-benar mempengharuhi kondisi perikanan tangkap Riau adalah kerusakan alam yang cukup parah beberapa tahun belakangan.***  

Gema Setara - (Redaktur Pelaksana Harian Riau Pos)


Graha Pena Riau Space for Rent
KOMENTAR
Berita Update
KASUS DUGAAN PENISTAAN AGAMA
Ahli Psikologi UI Sebut Ahok Hanya Singgung Iklim Pilkada
Rabu, 29 Maret 2017 - 20:07 wib
TERKAIT PENCEGAHAN KORUPSI
Kata DPR soal MoU Tiga Lembaga Penegak Hukum
Rabu, 29 Maret 2017 - 20:03 wib
KASUS DUGAAN PENISTAAN AGAMA
Hamka Haq Minta Penyelesaian Kasus Ahok dari Rekam Jejak
Rabu, 29 Maret 2017 - 19:59 wib
MULAI 18 APRIL 2017
Liga 1 2017 Akan Dibuka Laga Persib Vs Arema
Rabu, 29 Maret 2017 - 19:55 wib
MESKI GAGAL FINIS
Debut Istimewa Zarco di MotoGP Tuai Pujian dari Rossi
Rabu, 29 Maret 2017 - 19:48 wib
TERKAIT KASUS E-KTP
BAP Miryam saat Pemeriksaan di KPK Beredar, Ini Isinya
Rabu, 29 Maret 2017 - 19:39 wib
KASUS DUGAAN PENISTAAN AGAMA
Setiap Saksi Ahli Ahok Beri Keterangan 1,5 Jam demi Efisiensi
Rabu, 29 Maret 2017 - 19:35 wib
DIUNGGAH OLEH AKUN PEMPROV DKI
Bareskrim Sudah Periksa Ahli dalam Kasus "Wifi Al-Maidah"
Rabu, 29 Maret 2017 - 18:59 wib
PENUHI TARGET TIGA EMAS
Pebulutangkis Indonesia Akan Maksimal di Sea Games dan Kejuaraan Dunia
Rabu, 29 Maret 2017 - 18:54 wib
TERUNGKAP SAAT LAKUKAN PATROLI
Ribuan Warga Asing Dikirim ke Malaysia lewat Jaringan People Smuggling
Rabu, 29 Maret 2017 - 18:44 wib
Cari Berita
Liputan Khusus Terbaru
Pengangkatan PNS Tergantung Kebijakan Pusat

Minggu, 05 Maret 2017 - 14:21 WIB

Revisi UU ASN Masih  Dianggap Wacana

Minggu, 05 Maret 2017 - 14:20 WIB

Jangan Dilakukan Secara Sporadis

Minggu, 05 Maret 2017 - 14:16 WIB

Cemas Menanti Revisi

Minggu, 05 Maret 2017 - 14:02 WIB

Satu Pelapor Minta Pengadilan Tolak Siaran Langsung Sidang Ahok
sumatranet
Ranggi Riau Pos
loading...
Follow Us