Wonderful Indonesia
WACANA FULL DAY SCHOOL
Masih Silang Pendapat
Minggu, 14 Agustus 2016 - 09:53 WIB > Dibaca 3422 kali Print | Komentar
Masih Silang Pendapat
Foto : Gema Setara/Riau Pos
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Muhadjir Effendy mewacana akan menerapkan full day school bagi siswa jenjang pendidikan Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Wacana ini mendapat tanggapan yang beragam , ada yang setuju, namun tidak sedikit pula beranggapan full day school bagi siswa belum diperlukan. Di tengah masyarakat sendiri wacana ini masih silang pendapat, kembali ada yang setuju dan tidak sedikit pula yang tidak setuju.

(RIAUPOS.CO) - WAKTU sudah me­nunjukkan pukul 15:30 WIB, Ishak sudah bersiap-siap mengerjakan salat Ashar, dia te­ngah menunggu muadzin mengumandangkan azan. Setelah azan berkumandang dia bergegas pergi ke masjid yang ada di sekitar komplek perumahannya.

Usai mengerjakan salat Ashar berjamaah  dia kembali pulang ke rumah, mengganti pakaian ibadahnya dengan pakaian sederhana kaos oblong dan celana katun. Dia melangkah keluar rumah dan menghidupkan sepeda motor dan berlalu meninggalkan rumah.

Saban hari rutinitas ini dia lakukan. Ishak menuju ke sekolah dimana anaknya menuntut ilmu. Sekolahnya anaknya memang mewajibkan anaknya dan anak-anak yang lainnya pulang setelah pukul 16:00 WIB atau setelah mengerjakan salat Ashar berjamaah.

Bagi Ishak anaknya berada satu harian di sekolah bukan masalah, dia malah bersyukur, karena dengan satu harian berada di sekolah akan semakin memantapkan pendidikan anaknya dan mengurangi aktivitas bermain.

‘’Saya pikir anak-anak pulang sampai pukul 16:00 WIB ini bagus, karena mereka berada di sekolah dan belajar. Coba kalau di rumah sebelum pukul 16:00 WIB pasti anak-anak menghabiskan waktu dengan bermain bahkan kadang-kadang sampai melalaikan ibadah salat Ashar,’’ ujarnya.

Bagi Ishak, wacana Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang menerapkan full day school bagi anak-anak jenjang pendidikan SD dan SMP sebaiknya di dukung, karena akan memberi manfaat yang cukup besar bagi si anak itu sendiri, terutama sekali mengurangi aktivitas bermain mereka.

‘’Saya sangat mendukung sekali, karena dengan kebijakan ini pasti akan mengurangi  aktivitas anak-anak bermain di luar dan bermain game. Kalau orangtua punya kesibukan kadang-kadang tidak sempat mengawasi anak-anak, karenanya dengan full day school  itu anak-anak bisa belajar sekaligus bermain di sekolah,’’ ujarnya.

Hal serupa juga dikatakan Hery. Menurutnya dia mendukung program itu, hanya saja kalau bisa pada hari Sabtu siswa diliburkan. ‘’Selama ini kan anak-anak pulang pukul 15:00 WIB, kalau full day pulangnya pukul 16:00 WIB, akan tetapi hari Sabtu tetap ke sekolah untuk mengikuti ekstra kurikuler. Kalau bisa hari Sabtu siswa diliburkan sama sekali,’’ tuturnya.

Menurutnya, bagi kedua orangtua yang bekerja sampai sore mungkin akan mendukung program yang diwacanakan menteri pendidikan ini, karena orangtua tidak khwatir meninggalkan anaknya di lingkungan sekolah karena diawasi oleh guru, sementara kalau sekolah hanya setengah hari anak-anak pulang, sementara orangtua tidak berada di rumah.

‘’Sekarang tindak kejahatan itu tidak mengenal tempat, bahkan dilingkungan tempat tinggal kita saja sama tetanga selalu tidak peduli, kalau anak-anak tinggal sendirian di rumah dikhwatirkan kalau terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, karena tidak ada pengawasan dari orangtua,’’ tuturnya.

Sisi lain, sejumlah orangtua juga tidak sependapat penerapan full day school ini.Menurut mereka, kasihan sama anak-anak di paksa belajar satu harian penuh. ‘’Anak-anak kan perlu istirahat, kalau sekolahnya sampai sore kapan waktu mereka beristirahat,’’ tutur Hamdani.

Mungkin, katanya kalau orangtua siswa itu berada atau tingkat ekonominya di atas rata-rata tidak masalah, karena mereka bisa memberi uang jajan yang lebih kepada anaknya, sementara bagi orangtua yang pas-pas­an ini akan menimbulkan masalah baru.

‘’Karenanya sebelum ini diberlakukan ada baiknya dilakukan kajian terlebih dahulu apa dampak positif dan negatifnya,’’ ujarnya.

Hal yang sama juga disampaikan, Irwan Hanafi. Dia berharap pemerintah  bersikap bijak dalam hal ini, karena kalau dipaksanakan anak belajar satu hari penuh apakah akan baik terhadap perkembangan psikologis anak-anak.

‘’Satu harian mereka belajar, terus malam harinya mereka dibebankan dengan pekerjaan rumah yang harus mereka selesaikan, kan kasihan anak-anak di paksa untuk belajar terus, saya khawatir ini akan berdampak terhadap psikologis anak-anak,’’ ujarnya.

Sebelumnya Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy menjelaskan, bersekolah sepanjang hari alias full day school sebenarnya sudah dijalankan banyak sekolah, terutama sekolah swasta.

Menurut dia, sistem bersekolah sepanjang hari banyak memberikan kesempatan kepada sekolah untuk menanamkan pendidikan karakter kepada peserta didik.

"Bahkan nanti kami ciptakan lingkungan sekolah yang lebih menggembira­kan. Kalau perlu ngaji, nanti kami undang ustaz ke sekolah," kata dia.

Selain itu, program itu juga menghindari penyim­pangan-penyimpangan yang terjadi di luar jam sekolah. Muhadjir menyebutkan jam pulang sekolah akan disamakan dengan jam pulang kerja sehingga anak didik tidak dilepas begitu saja setelah jam sekolah.

"Jadi, anak pulang pukul lima sore, orangtuanya bisa jemput. Sehingga anak kita tetap ada yang bertanggung jawab setelah dilepas pihak sekolah," kata dia.

Kalau program itu diterapkan, dalam sepekan sekolah akan libur dua hari, yakni Sabtu dan Minggu. Sehingga, ini akan memberikan kesempatan bagi peserta didik bisa berkumpul lebih lama dengan keluarga.

Diterima dengan Syarat
Wacana Menteri Pendidi­kan melakukan full day school  p­a­da semester selanjutnya di sekolah negeri maupun swasta mengundang berbagai pendapat. Sebagai barometer Provinsi Riau, Kota Pekanbaru nyatanya sudah ada beberapa sekolah melaksanakannya. Baik swasta maupun negeri sudah melaksanakan sistem pendidikan terpadu ini.


Graha Pena Riau Space for Rent
KOMENTAR
Berita Update
RESMI JADI KADER
Elektabilitas Prabowo Dibebankan kepada Ahmad Dhani? Ini Kata Gerindra
Kamis, 18 Oktober 2017 - 21:00 wib
REGISTRASI SIM CARD PRABAYAR
Unik, Kemenkominfo Gunakan Ibu "Pengabdi Setan" untuk Pemberitahuan
Kamis, 18 Oktober 2017 - 20:45 wib
TIMBULKAN PRO DAN KONTRA
Belum Bersikap, Mendagri Pelajari Teks Pidato Anies Singgung Pribumi
Kamis, 18 Oktober 2017 - 20:30 wib
JADI PERTIMBANGAN
Tolak Pembentukan Densus Antikorupsi, JK Diyakini Sudah Tanya Menteri
Kamis, 18 Oktober 2017 - 20:15 wib
PILIH LIBURAN KE LABUAN BAJO
Djarot Tak Hadir Sertijab, Pengamat: Kelihatan Panggung Aslinya
Kamis, 18 Oktober 2017 - 20:00 wib
HASIL SURVEI MEDIAN
Ternyata, Prabowo Jadi Pilihan Konstituen Parpol Pendukung Pemerintah
Kamis, 18 Oktober 2017 - 19:40 wib
BUTUH WAKTU 27 MENIT
Denmark Open, Tunggal Putra Indonesia Melaju ke Babak Kedua
Kamis, 18 Oktober 2017 - 19:30 wib
SIRATKAN KETIDAKSETUJUAN
Jusuf Kalla Dikritik Fahri Hamzah Terkait Densus Tipikor
Kamis, 18 Oktober 2017 - 19:20 wib
PERNAH IKUT KONVENSI DEMOKRAT
Mungkinkah Anies Berambisi Maju Pilpres 2019? Ini Kata Pengamat
Kamis, 18 Oktober 2017 - 19:10 wib
PANDANGAN PENGAMAT
Anies Berpeluang Diusung Tiga Partai Ini di Pilpres 2019
Kamis, 18 Oktober 2017 - 19:00 wib
Cari Berita
Liputan Khusus Terbaru
Harus Dimulai dari Sekarang

Minggu, 01 Oktober 2017 - 13:54 WIB

Organik Masa Depan Dunia Pertanian

Minggu, 01 Oktober 2017 - 12:49 WIB

Baja Sahabat Alam

Minggu, 01 Oktober 2017 - 12:40 WIB

Terganjal karena Kepentingan?

Minggu, 24 September 2017 - 11:22 WIB

 Tidak Ada Intimidasi

Minggu, 24 September 2017 - 11:18 WIB

sumatranet
Sagang Online
loading...
Follow Us
Populer hari ini