Sajak-sajak Irham Kusuma

26 Mai 2013 - 06.54 WIB > Dibaca 4879 kali | Komentar
 
Topeng

Perkenalkan, kami datang bukan kembar tapi kau menyebutnya sepasang. Kami sama-sama bertelanjang dada kala berjalan. Lalu mana yang kau sebut sepasang? Bukankah kau sendiri yang mencuri pusar kami seraya meminum anggur. Kau bilang kami tak mudah dibedakan, hidung kami, mulut kami, jemari kami. Sungguh seperti pinang. Padahal kami hanya pandai menukar wajah. Tahulah kau bahwa orang pertama mencuri wajah kami, lalu ia menjadi yang kedua. Kami memang mulai menghitung kala bulan sudah sama-sama bertukar wajah. Ini bukan kau yang berkata, mestinya ada sedikit ruang untuk kau sedikit menutup mata. Tapi beruntunglah kami, kau memberi nama kembar. Ingin kami, kau menjadi orang ketiga. Kami akan merubah wajahmu sebelum purnama. Memang hanya ini kami berdahaga bila kau tak ingin bersetubuh. Sebab wajahmu sedikit prisma dari puisi kami. Perkenalkan, kami tiga kembar.

2013


Persalinan

Terlalulah ia bila menitiku dalam kedipan kelopak sayunya. Sebab hujan pastilah tahu aku bergerak menuju lusa dan lusanya lagi (seperti menunggu kelahiran). Kemana? Dalam segelas kaca, aku sudah menunggunya agar ia pandai menuangkan birahi serigala. Dalam segelas manikam yang menerbangkan tembang-tembang jiwa. Tentu malam ini ia masih memelukku dengan lilitan ular paling merah (kadang jingga). Ia pandai menjawab segala makna yang aku hunuskan ke kulitnya. “Akan aku temui malam bergetar.”

Atau aku akan mencari letak matahari. Seperti seorang bayi, yang lahir dari muntahku. Dari yang membuatku liar pada malam kesumat. Pastilah ia sendiri juga akan kembali, akan menanti. Sementara aku kini akan menaiki rimbun subuh mengejar ari-ari. “Lahirlah, lahirlah segala yang gelisah.” Tapi sungguh limabelas kepak camar melakukan aborsi, meski ia tidaklah mencuri. Yang jatuh di bulat rahim, sebelum ia berteriak di pangku cakrawala ini. “Selamat datang di rumah tak berpenghuni.” Di atas beranda bersalin, aku dan ia belumlah ada yang menangkis sampai ke putik samudra, hingga musim menjawab arti. Ia berteriak lagi.

Maka lucutilah aku. Aku sebenarnya diam seribu bahasa bila ia lebih paham akan lautan. Lautan yang tak kunjung aku selami, antara biji dan tongkat puisi. Bukankah aku meringkik? Anggaplah ini bayi-bayi malaikat yang membawa panah-panah pintu. Dan bukan sebilah kunci. Lalu mengapa ia takut akan suara bulan, kekasihnya. Bukankah ia yang akan menemui malam bergetar. “Inilah puisiku, terimalah di dadamu.” Sebenarnya aku sulit memaafkannya. Sebelum aku tahu, di mana jibril berjumpa? “Kau menyembunyikannya tanpa sebuah pintu.” Maafkanlah.

2013


Ampas Kopi

Betapa kosong hitam puisiku,
setelah kauteguk dahaga kerbau
dalam laut biru. Namun hitam
malamku tak mampu mengajari
kau bernyanyi, angkasa ini.
Seperti kepak sayap kerelaan
yang menghadap muka sunyi.
Betapa kosong kau bilang mataku,
disisipi mata tidur, sebab
dadamu yang menengadah ke lubuk
pengasingan purnama, memang.
Mencumbu kalimat di tubuh kopi,
sementara puisiku tengah terjaga
menyecap panas, kematian.

2013


Si Pelukis

Kami telah memilih sebuah kuas
di pinggir museum patung. Sepasang
wanita pandai menuliskan kolam
dengan sebuah gong melingkari
lehernya. Tapi ada buntut cicak
bersenggama, bayinya lahir dari
mata pejalan kaki. Kami mencoba
mengikuti ia. Mungkin terputus.
Sebab ada tubuh pasir mematung
(dilingkari sebuah gong). Sehingga
kami dan si pelukis tidak mampu
menulis puisi. Hanya sepasang
wanita (yang mampu) di ujung kolam,
mengganti pakaiannya dengan gaun
Lenxeus beraroma madu. Sebelum
kami kembali memilih sebuah kuas.

2013


Pramusaji

Bukan sepotong roti pandai
meminum semua gelas.
Tapi sebutir telur
bersembunyi di balik rumah.
Bukan sebilah pisau pandai
mencium segala pintu.
Tapi bentang torso
membuka nama tersembunyi.
Bukan seekor ikan pandai
menyelam dalam lubuk ungu.
Tapi matahari duduk
di setiap ruang. Padahal
sebuah tirai ada di balik hujan.
Padahal sepasang daun pintu
mencari akar asing. Padahal
bulan tiduran ke tepian perigi.
Bersama semua gelas.
Bersama segala pintu.
Bersama lubuk ungu.

2013


Memulai Sarapan

Aku duduk di sebelah Nona,
satu meja telah ia baringkan,
satu malam telah ia lipat.
Di dalam lipatan, kuselipkan
metafor-metaforku, meski tumbuh
di atas biju dan remah sepasang
roti yang terbang. Terkadang
menjadi sepiring, terkadang itu
mengenyangkan. Aku paham
Nona ingin menyayatnya, tapi
akulah yang menuangkan ke dalam
cangkir. Seperti menggantungkan
kunyahan resah desember sebagai
gula. Atau belati tetap diam di
tempat, karena kami benar-benar
lelah melunakkannya.

12-13




Bunting

Apa yang harus aku ingat.
Bila wajahmu adalah rupa
bayang-bayang hujan april,
yang paling pecah dari gong
subuh mendengung. Yang
turun dengan suara-suara
hantaman, dan wanita
berpakaian pasmina. Tentu
aku sudahlah berpura-pura
menjadi seekor anjing, agar
aku dapat mengikat belikat
tulang palang rusuk dadamu.
Sebutkanlah, aku tak akan
kecewa bila kau mengeja
mimpi abad yang aku
pendam. Apa yang harus aku
ingat. Bila dadamu adalah
busung sukma arca belah
timur, yang paling keramat
serta membakar daun-daun
semi. Yang berdiri dekat
dengan kaki dilipat mengipas
warna air, dalam lukisan dewi
rubah. Tentu akulah yang
bertelanjang dada di atas
jembatan jiwa, dan menghukum
ombak bergulung yang tak
dapat kau minum. Apa yang
harus aku ingat. Bila rambutmu
adalah rumah burung-burung
gagak, yang paling hitam dari
berak-berak gajah bunting.
Yang masuk menusuk, ruang
kosong kalimat yang berpendirian.
Tentu sujud senja ini merebahkan
pinggangku untuk berjalan
meminta-minta di tengah pasar
perkataan orang-orang wangi.
Dan kau mendudukinya.
Lalu mengapa !

2013


Irham Kusuma
Lahir pada 1995. Puisinya tersebar di beberapa media seperti, Pikiran Rakyat, Radar Bekasi, Jejak, Buletin Patriot, Koran Bogor, Radar Seni, dan beberapa buku antologi puisi bersama. Kini aktif di Komunitas Sastra Buah Batu (KSBB) STSI Bandung.
KOMENTAR
Terbaru
Kamis, 15 November 2018 - 19:45 wib

Telkomsel Hadirkan Kerja Sama Non-Tunai dengan Adhya Tirta Batam

Kamis, 15 November 2018 - 18:35 wib

Ingin Bahasa Indonesia jadi Bahasa Internasional, APPBIPA Riau Terbentuk

Kamis, 15 November 2018 - 17:59 wib

Lagi Berenang, Bocah Tewas Diterkam Buaya

Kamis, 15 November 2018 - 17:00 wib

3 Pemain Timnas Dapat Tawaran dari Klub Luar Negeri

Kamis, 15 November 2018 - 16:15 wib

BPN Komit Realisasikan Program PTSL 2018

Kamis, 15 November 2018 - 16:00 wib

Sabhara Gagalkan Rencana Tawuran Sekelompok Pemuda

Kamis, 15 November 2018 - 15:45 wib

Pembangunan RSUD Indrasari Terlambat

Kamis, 15 November 2018 - 15:30 wib

BNNK Ringkus Pengedar Antar Provinsi

Follow Us