”Apakah Kau Masih di Sana?’’

26 Mai 2013 - 06.46 WIB > Dibaca 5019 kali | Komentar
 
Apa yang bisa dilakukan jika derai air mata jatuh dalam pelukan dari wanita yang menyimpan keinginan?

‘’Aku rindu...’’ katanya lirih. Aku hanya diam.

‘’Sungguh aku masih mencintaimu...’’ ulangnya. Suara rindu dari seberang sana seakan mengoyak perasaan. Menerbitkan rasa iba dari lubuk hati yang terdalam. Apa yang harus kukatakan?

‘’Hallo...apakah kau masih di sana?’’

‘’Ya...’’ jawabku canggung.

‘’Apa kau masih mendengarkan?’’

‘’Dengan khidmat,’’ jawabku terpaksa berbohong. Padahal suaranya yang semakin mengiba itu menjelma irama sendu. Terkadang terdengar lengkap di telinga namun seringkali kuacuhkan serupa kibasan angin yang hinggap barang sejenak saja.

‘’Kapan kita ketemu?’’

‘’Ya...nanti kita atur...’’

‘’Yang pasti, Please!’’ Aku kembali membisu. Otakku berputar-putar untuk menentukan jawaban yang lebih tepat. Apakah aku harus menghindar untuk bertemu dengannya? Tidak adakah keinginan di hati untuk sekedar menatap kembali wajahnya yang dulu pernah kuanggap sempurna laksana bulan purnama? Entahlah...semua terasa berbeda. Waktu memang menjawab untuk segala perubahan yang terjadi pada manusia.

‘’Hallo.’’

‘’Ya...’’

‘’Apa kau masih di sana?’’

‘’Tentu!’’

‘’Kapan?’’

‘’Ya...kita tentukan saja kapan.’’ Suaraku mungkin saja terdengar mengalah.

‘’Kamu benar-benar mau ketemu kan?’’ Kacau! Kenapa pertanyaan yang seperti itu dilemparkan di saat-saat begini. Aku jadi bingung lagi. Pertanyaan dengan suara kesedihan yang tertahan. Selalu begitu seperti dulu.

‘’Ya...tentu saja aku mau.’’ Mencoba meyakinkannya.

‘’Hmm..aku mengenalmu lebih dari yang kau tahu, zek!’’

‘’Oya...’’ semakin bingung.

‘’Tapi ya sudahlah...pukul berapa? Di mana?’’

‘’Di cafe dekat kantorku saja, pukul delapan.’’

‘’Oke daa... miss you!’’ Kuusap muka dengan kedua tanganku sembari menarik nafas dalam-dalam. Tiba-tiba teringat olehku sensasi yang dulu di saat bersamanya. Sebuah sensasi yang begitu akrab, wajah-wajah yang saling bersitatap, tubuh-tubuh yang melekap erat menyatu dalam kerinduan berkepanjangan dan hati yang memburu bertahun-tahun sehingga akhirnya jatuh kita sama ke dalamannya. Masih adakah tersisa? Atau semuanya memang telah berubah. Kurasa tidak! Tidak cukup hanya sensasi itu sebagai pembuktian bahwa aku dan kau adalah sepasang kekasih yang akan mengikat tali kasih sampai akhir hayat. Waktu bergerak ke depan. Tentu saja sensasi yang pernah ada kini telah jauh tertinggal ke belakang. Memang kita sudah lama tidak bertemu. Jujur aku tak pernah berniat melakukan perjalanan menjauhimu atau sebaliknya. Pun tidak berniat mengembara mencari cerita yang lain. Tepatnya aku hanya melangkah sehingga banyak hal yang tak bisa aku hindari. Lalu kamu, kenangan tentangmu juga merupakan bagian yang tertinggal di belakang sama halnya dengan sensasi kita. Kini seharusnya kita menyadari dan bersepakat semuanya telah berbeda. Sejak kepergianmu ke negeri Kangguru untuk menuntut ilmu, aku sebenarnya belajar untuk tidak lagi berharap. Meskipun kulepas kepergianmu dengan senyuman. Pasrah.

Lalu kenapa mesti sekarang kau ingin bertemu? Setelah sekian tahun tak memberi kabar dengan alasan untuk melukiskan kerinduan di antara kita agar lebih terasa indah. Ah...kau terlalu banyak membaca novel, Insania. Atau jangan-jangan itu hanya alasan? Terlambat...! terlambat untuk yang namanya kisah antara kau dan aku. Kuusap mukaku untuk kesekian kali. Kupandangi layar komputer. Masih banyak berita yang belum kuedit untuk segera dikirimkan ke redaksi. Menyadari hal itu, aku pun mengerjakannya.

Senja telah pun merayap. Sebentar lagi gelap. Setelah bersusah payah untuk kosentrasi, akhirnya kutuntaskan juga pekerjaanku. Lalu kuklik menu shut down, sejenak kutatap layar hitam kosong. Kekosongan yang kini menyeruak bagaikan menelan segala kamampuanku untuk mengambil sikap. Haruskah aku menemuinya? Mungkin sesekali perlu juga untuk tidak bersikap dalam artian berjalan apa adanya. Apakah orang yang melangkah apa adanya tidak mempunyai sikap? Apakah sesungguhnya sikap? Seberapa perlukah sikap dalam diri seseorang untuk menunjukkan eksistensinya? Ah...terlalu banyak pertanyaan dan pertimbangan. Bukankah itu membuat kita semakin akrab dengan kegamangan. Sudahlah. Aku berdiri, bergegas menghampiri kontak lampu dan klik...gelap. aku pergi!

***

Lampu cafe yang temaram. Aku bagaikan terpejam. Terlalu banyak yang kubenam. Sedangkan engkau yang dulunya adalah cahaya tapi kini menjelma laksana kegamangan yang menyala.

‘’Oh...aku sangat merindukanmu...’’ serasa tak percaya bibirnya masih mengucapkan kata-kata demikian. Tiba-tiba aku berkhayal tentangmu, tentang rindu. Tapi tak dapat kutemui arti dari tiap-tiap khayal itu. Dan sungguh kini aku tak mampu memahami kenangan kamu dan aku.

‘’Ah...kamu masih seperti yang dulu ternyata. Tak banyak bicara...’’ Ya, aku di sana memandangimu saja. Tak berani menyapa bahkan untuk tersenyum saja serasa hambar. Takut kamu akan mengenali diriku yang sekarang ini dan membuatmu terkejut. Aku juga takut kamu akan memelukku sedang aku sendiri kini bimbang dengan keberadaan kita di sini. Ah...betapa menciutnya tubuhku kurasakan. Kecil serupa ujung sapu lidi. Mengecil dan terus mengecil sampai aku menyadari sebenarnya ada secuil harap yang hinggap untuk segera mendekapmu. Samar-samar tapi pasti.

‘’Masih menulis?’’ tanyamu kemudian mengalih suasana sekaligus membuyarkan lamunanku.

‘’Ya...’’ semoga dia tidak membaca kecanggunganku mengucapkan itu.

‘’Puisi?’’

‘’Tidak lagi. Maksudku, sudah lama tidak mencobanya.’’

‘’Terus menulis apa?’’

‘’Nulis berita karena aku kan wartawan.’’

‘’Oya, I’m forget...sorry. Kamu menikmatinya?’’ Aku menatap matanya. Masih sama. Keluguan yang menggemaskan, menyatu dengan kemanjaan. Pesona yang menyerap kelakian untuk segera menyerahkan cinta tanpa ada yang tersisa.

‘’Hei zek...apa kamu masih mendengarkan?’’

Tertangkap basah, aku gugup. ‘’Ya...ya beginilah aku. Tak ada masalah. Berkutat dengan pekerjaan, melakukannya dengan sungguh-sungguh, tentu saja nikmat.’’

‘’Hhmm...’’ Dia tersenyum lalu diam menghampiri kami berdua untuk beberapa saat.

‘’Hei...what’s wrong?’’ Kugelengkan kepala. Taukah dia, di saat pertemuan dari sekian lama tidak bertemu sebenarnya lebih baik diam. Aku justru menikmatinya. Diam yang menghanyutkan. Rasanya rindu itu larut. Terasa hangat seandainya bisa diseruput.

‘’Ayolah...cerita atau... bersenandung. Ya... ya dulu kamu kan suka bersenandung. Aku ingat! Senandung lagu Melayu lama, katamu sangat menggairahkan bila dilakukan sebab dalam tiap irama yang dinandungkan seolah mensugesti diri untuk memperkuat identitas sekaligus ada keterlenaan di sana. Keterlenaan yang menyadarkan. Unik kan? Awal dulu aku bingung apa maksudmu tapi kemudian ketika aku sudah ketagihan untuk disenandungkan barulah kutahu aku terlena dan menyadari betapa aku telah jatuh cinta pada teruna Melayu. Ayolah...zek...! Kutarik nafas dalam-dalam seraya mengalihkan pandang.’’

‘’Ke mana saja kamu selama ini Insania?’’

‘’I’m here...’’ jawabnya tak berjeda.

‘’Kamu egois!’’ kataku.

‘’Maksudmu?’’

‘’Aku sudah menikah...!’’ suaraku meninggi. Kini giliran dia yang menatapku. Aku tak dapat menangkap makna tatapannya itu. terlalu menukik. Serasa ada yang dia cari dari ucapanku barusan.

‘’So...tak masalah. It’s not problem! Dulu aku mencintaimu dan sekarang pun masih begitu. Tapi cintaku bukanlah mengharapkan sesuatu. Aku tulus mencintaimu. Bagiku cinta adalah gambaran yang kita buat sendiri. Sebuah gambar bisa saja jadi asing bagi kamu atau siapa saja. Tak semua hati bisa menerimanya. Lalu aku menegakkan pancang cinta itu kepadamu serupa keyakinan yang dibawa mati.’’

‘’Begitu? Dengan meninggalakanku sekian lama tanpa harus berkirim kabar, apa itu cinta namanya?’’

‘’Zek...kamu tahu apa yang menjadikan cinta begitu berharga? Liku-liku derita, relung-relung dingin dan sepi, sebuah rumah rindu yang dikenang karena menyimpan setumpuk kenangan, saat kita berjalan kaki di sepanjang jalan Diponogoro sambil engkau tetap bersenandung, di saat kita menorehkankan nama kita di tembok-tembok mall, kemudian bergurau senda di setiap tugu kota di negeri bertuah ini. Itulah yang kuyakini kenapa cinta jadi begitu berarti.’’

‘’Insania, kamu tidak realistis. Terlalu banyak membaca novel akhirnya kamu terlarut di dalamnya. Ayolah buka matamu bahwa kenyataannya aku bukan lagi kekasihmu, aku adalah suami seorang perempuan yang sedang menungguku di rumah. Disebabkan apa kamu tahu? Kamu dan serentetan ketidakpastian itu!’’ Dia tertunduk layu. Betapa aku menyadari segala keriangan dan gelora dari pertemuan ini perlahan-lahan padam. Setidaknya tampak malap tak bermaya. apakah aku telah menghancurkan semuanya? Tidak! Aku hanya ingin bertindak real. Tidak lagi hendak berlarut-larut dalam suasana cinta yang dikepung dengan segudang imajinasi yang indah sekaligus menyesakkan. Ini bukan lagi cerita cinta yang diindah-indahkan tetapi sebuah bentangan kenyataan yang harus dijalani.

‘’Zek...tampaknya kau begitu emosi, kau marah padaku?’’ suaranya mulai merengek. Aku tahu itu dan aku menangkap sinyalnya. Seperti yang kuduga ternyata telah basah kelopak matanya oleh air mata. Kini seorang wanita menangis di depanku. Air mata yang mengurai itu dan kecanggunganku yang semakin membatu adalah belenggu. Maka lengkap sudah malam ini dengan segala hal yang menyesakkan.

‘’Aku tidak kemana-mana Zek!’’ katanya mengiba. ‘’Apa salahnya aku mengagumi tokoh-tokoh dalam cerita yang kubaca? Mereka semua adalah bagian dari kita semua. Mereka adalah bayang-bayang yang kerapkali tak bisa lepas dari diri kita. Aku menerima kehadiran mereka semua seperti aku menerima kenyataan hidup ini. Mereka nyata seperti nyatanya dirimu Zek!. Seperti sebagian tokoh dalam cerita, aku berbenah menutupi kecemasan selama ini. Kecemasan akan berakhirnya hubungan kita. Dengan cara apa? Dengan cara mengumpulkan novel-novel tentang bagaimana sebuah cinta berakhir. Kau tahu? Betapa aku tidak menginginkan berakhirnya cinta kita serupa dengan mereka. Tak sudi aku seperti kisah romeo and juliet, memutuskan kematian untuk sebuah pengorbanan atas nama cinta. Juga tidak ingin aku menjelma sepasang merpati, hidup bahagia selama-lamanya, bebas bercinta serupa kisah Sam Pek-Eng Tay justru melewati kisah bahagia berdua setelah melewati kematian. Dan aku juga tidak mau menerima jika di antara kita menjadi tokoh dalam novel A Tale of Two Citeis karya Charles Dickens. Seorang tokoh utamanya rela mengorbankan jiwanya demi sang kekasih. Bullshit semua itu! I love you perfect, Zek! Tapi tidak dengan cara menempuh kematian.’’

Aku semakin lemas dalam gelombang kata-katanya yang bersigau. Demikian pula arus air mata itu serasa menghanyutkanku. Aku bagai timbul tenggelam di antara genangan air yang semakin meninggi.

‘’Aku ingin mencintaimu selama hayatku. That’s all! Seperti kebanyakan orang, aku hanya memimpikan engkau tetap memelukku walaupun rambutku sudah mulai memutih, keriput di mukaku tak lagi dapat dihindari dan pada akhirnya kita kembali ke keabadian. Itulah cinta yang kudambakan. Demikianlah puncak kesejatian cinta antara sesama manusia. Lalu siapakah yang lebih real di antara kita? Siapakah yang lebih normal jika memang ada yang namanya normal dalam hidup? Siapakah yang memiliki segenggam kepastian?’’ kata-kata itu diucapkannya dengan sedu-sedan yang menikam perasaan. Aku berusaha tidak memandangnya.

Aku juga mengumpulkan seluruh kekuatan, meski belum dapat diputuskan untuk apa. Apakah lari atau memeluknya? Kini aku bagai merayap dalam kubangan sementara cahaya menyilau sudah pula membutakan mata. Aku telah sampai kepada lembah ketidakmengertian atas semua yang berlaku.

Kulihat ke luar. Riuh kendaraan seolah tak mengeluarkan suara keributan. Remang lampu semakin redup. Orang-orang di sekitarku menjelma patung. Aku berdiri lalu kemudian kubiarkan kakiku yang menentukan ke mana akan menghala. Tak tahu siapa yang memulainya, akukah yang meraih tangannya dan memeluknya? Tak sadar berapa lama pelukan itu berlangsung. Sampai akhirnya aku tersentak karena HP di kantong celanaku bergetar.

‘’Hallo!’’ suaraku memelas.

‘’Abang di mane? Kenape belum balik? Hari dah jam berape ni? Inah rase tak sehatlah bang.’’ Tubuhku tiba-tiba mengeras bagai batu.

‘’Hallo...hallo...bang...oi bang...Abang masih di sane kan?’’

Tuuuuuuttt...! telepon kumatikan. Di manakah aku sesungguhnya ketika berada di antara suara istri dan seorang wanita yang matanya lambah  oleh air mata?

****

Pulau Rindu, Oktober 2012-Febuari 2013



Jefri al Malay
Lahir di Sungai Pakning, Kabupaten Bengkalis, Riau. Aktif menulis saja, cerpen dan esai. Karya-karyanya tersebar di berbagai media massa dan antologi. Bermastautin di Bengkalis.
KOMENTAR
Terbaru
Rabu, 17 Oktober 2018 - 17:00 wib

Mayat Tanpa Identitas Ditemukan

Rabu, 17 Oktober 2018 - 16:38 wib

Cantik Dengan Kilau Warna Rose Gold

Rabu, 17 Oktober 2018 - 16:30 wib

Pelamar CPNS Salah Unggah Informasi

Rabu, 17 Oktober 2018 - 16:00 wib

STIE Syariah Bengkalis Wisuda 174 Lulusan

Rabu, 17 Oktober 2018 - 15:59 wib

Bangga Nyanyi Lagu Batak di Penutupan IMF

Rabu, 17 Oktober 2018 - 15:33 wib

Roro Fitria Sedih Belum Penuhi Wasiat Ibu

Rabu, 17 Oktober 2018 - 15:30 wib

Pelaku Judi Togel Ditangkap Polisi

Rabu, 17 Oktober 2018 - 15:12 wib

SMA Darma Yudha Juara 1 Lomba Fermentation di Malang

Follow Us