Tebas Tebang

5 Mai 2013 - 11.04 WIB > Dibaca 5740 kali | Komentar
 
Kipo terkesiap. Jantungnya berdesir. Aliran darah di urat nadinya pun terasa mengencang. Matanya liar memandangi bibit-bibit sawit yang tampaknya baru saja ditanam. Mungkin umur sawit itu belum cukup seminggu di tanah ladang miliknya. Banyak yang sudah coklat dipanggang terik matahari. Akarnya pun diyakini belum diterima tanah. Siapa yang berani-beraninya menanami ladangnya tanpa izin. Kipo membatin.

Diperkuda rasa penasaran, Kipo mengelilingi ladang seluas dua hektare itu. Sebuah parang panjang dengan mata berkilat tergenggam di tangan kanannya.  Makin jauh dia berjalan hatinya tambah tak tenang. Pasalnya, sudah hampir separoh ladang miliknya ditanami sawit baru. Entah oleh siapa.

Tiba-tiba, Kipo menghentikan langkahnya di dekat dua pokok sawit. Dipandanginya silih berganti. Jaraknya sangat dekat. Paling hanya sekitar satu meter saja. Kedua pokok sawit muda itu seolah sengaja disandingkan. Yang satu ditanam Kipo dua bulan lewat. Sudah menghijau daunnya. Sawit baru tancap itu berwarna coklat. Ini jelas perbuatan yang sangat disengaja. Ini tantangan terbuka. Kalau tak dijawab berarti lemah. Hak miliknya telah dilanggar secara terang-terangan. Kipo tak bisa diam atau mengalah karena ini menyangkut marwah.

Jahanam!

Teriakan lelaki 54 tahun itu membahana cukup keras. Parang panjang di tangan kanannya teracung. Sekejap kemudian sebuah tebasan cepat memancung ke kiri berkelebat ke arah sawit berdaun coklat itu. Sret Pokok sawit itu pun bersepai. Polibag hitam bekas wadah bibit sawit pendatang baru di dekat kakinya terpelanting pula kena sepak.

***

Sekitar 15 menit kemudian, rekan-rekan Kipo datang. Wajah mereka tampak sangat kesal. Masing-masing menggerutu. Sumpah-serapah dan maki-hamun pun terlontar dari mulut mereka. Malah ada yang sampai bercarut bungkang. Komentar marah mereka bersahut-sahutan.

Kurang ajar. Ladang saya sudah mereka tanami semua.

Ladang saya pun sama. Sebagian belukar akasia di atas tanah saya mereka babat lalu ditanami sawit, Darin ikut melapor.

Ini penjajahan. Mereka seenaknya saja menanami ladang kita. Siapa betul mereka itu. Walau hantu atau setan dekingannya, saya tidak takut. Penghinaan ini harus dilawan.

Kesewenang-wenangan ini tak bisa kita biarkan.

Pokoknya kita harus mempertahankan ladang ini walau nyawa taruhannya. Kita memperolehnya dengan uang hasil keringat membanting tulang. Masak kita mau merelakan tanah ini mereka kangkangi seenak perut.

Kipo yang dari tadi duduk di tunggul karet yang ditanam bapak angkatnya tahun 1980 silam ikut bersuara.
Kita lihat saja nanti. Mudah-mudahan ada yang datang lalu kita tanyakan baik-baik siapa yang berada di balik penyerobotan ini. Mari kita bersembunyi di balik pokok-pokok akasia di ladang si Darin tu, ajaknya.

Tujuh pemilik lahan yang penasaran itu mencari tempat duduk masing-masing. Kipo duduk melepok bersandar ke batang akasia cukup besar. Parang panjang dia tancapkan di tanah. Dia pun berdiam diri. Sementara rekan-rekannya saling bicara dengan suara pelan.

***

Di tengah penantian itu, Kipo hanyut dibawa lamunan. Tahun 1977 silam dia datang ke Duri. Masih lajang dan diterima sebagai anak angkat sebuah keluarga dermawan di Sebanga. Kala itu ladang ini masih hutan belantara pekat. Malah pusat Kota Duri sekarang masih didominasi bangunan atap daun nipah. Di sekelilingnya masih banyak hutan belantara.

Tahun 1978, bapak angkatnya mendapat izin Penghulu setempat untuk menebas tebang kawasan hutan itu. Setiap minggu, Kipo dan rekan-rekannya sesama anak angkat dan pekerja ikut membantu membuka hutan tersebut.

Kipo pun ingat pondok yang dia bikin di tengah hutan lebat itu. Waktu libur kerja, dia sering bermalam sendirian di sana. Sekali-sekala, datang rekan-rekannya untuk belajar silat. Berbekal ilmu kebatinan yang memadai disertai kepiawaian bersilat, Kipo tak mengenal takut saat itu. Auman harimau, lengkingan gajah, suara babi hutan maupun gangguan makhluk halus penghuni rimba pekak itu sudah sangat akrab di telinganya. Malah pada suatu malam, dia terlibat duel sengit dengan makhluk hitam besar penghuni hutan tersebut. Dia menang.

Tahun 1983, sebidang tanah di bekas hutan tebas tebang itu dia beli dari bapak angkatnya. Saat itu terdapat puluhan pokok getah di atas ladangnya ini. Satu tunggulnya masih ada dan sempat diduduki Kipo tadi. Di sini, dia juga pernah menanam rambutan, kelapa hibrida, dan sawit. Kepala dan sawit itu habis dilumat gajah sebelum sempat berbuah. Beberapa waktu lalu di atas lahan ini, dia masih melihat lima sawit tersisa setinggi pohon kelapa. Kini sudah lenyap entah ke mana. Dua bulan lewat, Kipo kembali menaman sawit di ladangnya. Kini ada pula tumbuhan baru yang sengaja ditanam disela-sela anak sawitnya yang mulai menghijau. Sampai di situ, Kipo tersentak dari lamunan.

Ini tak bisa dibiarkan, desisnya antara terdengar dan tidak.

***

Menjelang tengah hari, segerombolan orang terlihat berjalan dari arah dua rumah macam barak tak jauh dari rimbunan pokok akasia di tanah Darin. Mereka makin mendekat. Di balik pepohonan, Kipo dan teman-teman bisa menghitung jumlah mereka. Sekitar 20 orang. Lima diantaranya perempuan. Di bahu mereka terpanggul cangkul dan bibit sawit. Satu tangan lagi menenteng parang, golok atau pisau. Kipo dan kawan-kawan berpandangan satu sama lain. Mereka pun diam menunggu saat yang pas.

Rombongan asing itu mulai menggali tanah. Bibit sawit yang mereka panggul langsung dibenamkan. Krosakk Anggota rombongan itu pun terkejut. Kipo dan kawan-kawan dengan parang tertenteng di tangan mendekat. Orang-orang asing itu tak lari. Wajah mereka tampak tenang-tenang saja seolah tanpa dosa.

Siapa kalian? Seenaknya saja menanami lahan orang tanpa izin. Hentikan pekerjaan kalian. Cabuti sawit itu kembali. Kalau tidak, akan buruk padahnya, kata Kipo dengan suara pelan tapi bernada mengancam.

Maafkan kami. Kami ini adalah pekerja dari PT Anu. Kami hanya orang upahan yang disuruh menanam sawit di sini. Kami hanya cari makan dan tak akan mengusik tanaman bapak. Kalau bapak-bapak mau menanam juga tak akan kami ganggu. Namun kami harap, kami pun dibiarkan bekerja, katanya.

Seenaknya saja kalian. Ini tanah milik kami. Pokoknya kalian tak kami izinkan mengusik tanah kami. Titik! Darin ikut bersuara lantang.

Kalau begitu permintaan bapak, kami akan pergi dari sini, balas lelaki yang tampaknya kepala regu pekerja perusahaan perkebunan itu. Mereka pun balik kanan memanggul semua alat peragatnya. Baru dua puluh langkah mereka berjalan, tiba-tiba dari arah barak datang serombongan orang. Melihat itu, para pekerja tadi menghentikan langkahnya.

Apa yang terjadi? Kok kalian balik kanan? tanya salah seorang dari anggota rombongan yang pertama sampai.

Kami dilarang bapak-bapak itu. Mereka mengaku pemilik tanah ini, jawab kepala regu pekerja.

Dalam hitungan detik, Kipo cs yang berjumlah hanya tujuh orang langsung berhadap-hadapan dengan sebelas orang yang baru datang plus 20 pekerja yang tak jadi pergi. Wajah kedua belah pihak tampak tegang.  Tiga orang dari kelompok perusahaan itu maju.

Kami harap bapak-bapak tenang. Perusahaan kami bermaksud membikin kebun sawit di sini. Makanya sekeliling lahan ini sudah kami gali parit agar gajah tak masuk. Bapak-bapak tak usah risau. Izinkan kami menanam dulu. Tanaman bapak tak akan kami usik. Kalau memang bapak yang punya lahan ini, nanti pasti diganti rugi, kata lelaki berpakaian necis yang tampak berwajah licik.

Tak bisa begitu. Belum diganti rugi kok kalian sudah berani main tanam. Hukum mana yang kalian pakai. Itu sewenang-wenang namanya. Cara yang kalian tempuh macam perampok saja, ujar Kipo sengit.  

Begini Pak. Dengan cara menanami lahan ini terlebih dulu, kami akan tahu siapa pemilik lahan ini sebenarnya. Yang merasa lahannya diusik pasti akan datang. Dengan begitu mudah bagi perusahaan dan pihak terkait untuk mengetahui dan mendata siapa pemilik lahan sebenarnya. Sebab di sini banyak yang mengaku-ngaku pemilik di atas lahan yang sama, lelaki mirip security angkat bicara.

Pokoknya tidak bisa. Hentikan pekerjaan kalian di atas tanah kami. Cabuti seluruh sawit yang telah kalian tanam. Tanah ini milik kami. Kami beli dengan hasil tetes keringat dan air mata kami, suara Kipo meninggi.

Lelaki yang tampaknya pemuka kampung setempat tampil selangkah ke depan lalu bicara.

Saya pemuka kampung sini. Bapak jangan tunjuk lagak. Bapak punya surat, kami juga punya. Tanah ini punya datuk-moyang kami. Kami berhak menjualnya kepada siapapun. Termasuk kepada perusahaan ini. Makanya, kami harap bapak-bapak jangan bersikeras. Kami pun bisa. Tolong beri izin perusahaan ini menanam dulu. Ganti rugi bapak-bapak nanti kita bicarakan lagi, katanya.

Mendengar itu, Kipo tak bisa lagi menahan emosi. Darahnya menggelegak. Tubuhnya tiba-tiba mengejang. Mukanya memerah. Otot seluruh tubuhnya mengeras. Kedua lengannya dari siku ke bawah pun tampak membara. Lalu parang di tangan kanannya terangkat. Matanya berkilat siap menebas semua yang menghadang di depannya. Terbujur lalu, terbelintang patah.

Ciaaat! Kipo melompat tiba-tiba. Parang panjang di tangannya berkelebat terayun ke sana-ke mari mencari mangsa. Dalam pandangannya, cahaya sekitar meredup lalu gelap seperti malam. Rasanya dia kembali ke masa 32 tahun silam saat berduel sengit dengan makhluk hitam besar penghuni belantara yang datang mengganggu tidurnya pada suatu malam. Berbekal ilmu kebatinan dan keris pusaka warisan datuk-neneknya, Kipo bertarung habis-habisan hingga makhluk hitam legam itu melarikan diri setelah rusuknya tertikam pedang pusaka Kipo. Anak-kayu dan semak di sekitar pondok bertumbangan karena tebasan keris Kipo dan cakaran Si Hitam.

Di tengah amukan Kipo, rombongan perusahaan dan para pekerjanya berpekikan. Ada yang meraung terlolong-lolong. Mereka lari pontang-panting dalam kondisi kacau-balau. Tujuh dari mereka terluka. Tiga cukup parah terkena golok dan pisau. Selebihnya mengalami luka tusuk, luka robek dan memar-memar terkena pancungan anak kayu. Semua mereka berlarian tak tentu arah.  Teman-teman Kipo pun ikut tunggang-langgang menghindar.

Tak lama antaranya, suasana jadi hening. Kipo tegak dengan parang masih tergenggam di tangan. Lamat-lamat matanya melihat cahaya terang. Pandangannya beredar. Belukar akasia di tanah Darin sudah rata. Kini lahan dekat hutan lindung Talang dan diduga masuk kawasan hutan suaka itu siap untuk segera ditanami sawit.***

Duri, 22 April 2013


Syukri Datasan Al-Pauhi,
wartawan juga menulis karya sastra. Bermastautin di Duri, Bengkalis.
KOMENTAR

Follow Us