KETIKA AKSI PERAMPOKAN BERSENJATA KIAN MENGGILA (1)

Ditembak, Syahrul Teriakkan Allahu Akbar

Riau | Sabtu, 06 Agustus 2011 - 09:13 WIB

BAGIKAN


BACA JUGA

Laporan Gema Setara, Bagan Batu gemasetara@riaupos.com

Menjelang Idul Fitri, aksi perampokan dengan menggunakan senjata api, semakin menggila. Pelaku beraksi secara berkelompok. Dalam aksinya mereka tidak segan-segan membunuh korban.

Seperti yang dialami warga perumahan Jati Mulya, di jalan Lintas Pujud, Dusun Tangga Batu, Kepenghuluan Tanjung Medan, Rabu (3/8) pukul 01.00 WIB silam. Bagaimana saja aksi mereka?


Jajaran Kepolisian Resort Rokan Hilir, melibatkan tim Polsek Bagan Sinembah dan Polsek Pujud melakukan penyergapan dan penangkapan seseorang yang dicurigai merupakan salah satu pelaku perampokan bersenjata api yang menewaskan Syahrul, warga perumahan Jati Mulya, di jalan Lintas Pujud, Dusun Tangga Batu, Kepenghuluan Tanjung Medan, Rabu (3/8) pukul 01.00 WIB silam.

Aksi penyergapan terjadi di jalan lintas Dumai, di kawasan yang berdekatan dengan areal perkantoran Camat Bagan Sinembah, Kamis (4/8), malam Jumat, pukul 07.30 WIB.

Mengantongi sejumlah informasi, tim terpadu kepolisian mencegat sebuah mobil armada Karya Agung, dengan nomor pelat BK 7295 TL. Di dalamnya, terdapat tiga penumpang perempuan, supir dan seorang kernet.

Meski tidak ditemukan senjata api saat dilakukan pengeledahan, namun kepolisian menahan kernet. selain memperlihatkan gelagat yang mencurigakan, sejumlah ciri-ciri fisik sang kernet menunjukkan persamaan dengan ciri yang diterangkan beberapa saksi yang mengalami penyekapan dan penyiksaan pada malam peristiwa terjadi.

“Sebelumnya kuat dugaan kawanan rampok mengunakan satu mobil bersama, yang diperkirakan tujuh orang dengan supir. Namun saat penyergapan yang ada hanya seorang yang dicurigai sebagai salah pelaku,” terang seorang narasumber kepada Riau Pos.

Modus operandi perampok yang meloloskan diri dengan cara menjadi kernet disinyalir bukan lagi hal yang baru. Tak mau kecolongan tim, menahan pria yang dicurigai dan dimintai keterangan di Mapolsek Bagan Sinembah.

Beberapa saksi mata menuturkan bagaimana peristiwa  naas itu ketika terjadi. Sukoco (46), tetangga sebelah rumah Syahrul pulang ke rumah pukul 12.30 WIB (Rabu, 3/8) malam itu. Sembari menghabiskan kolak dan menonton televisi, Sukoco memasukkan kereta ke dalam rumahnya. “Tidak ada firasat buruk sama sekali,” tukas pria tersebut.

Mendadak ia mendengar suara pintu belakang rumah Syahrul didobrak berulang kali. Saat berupaya melihat ke tempat kejadian, untuk memastikan apa yang terjadi, mendadak Sukoco ditodong dengan senjata api pistol. “Kalau mau selamat jangan macam-macam,” Sukoco menirukan ancaman sang perampok terhadap dirinya.

Di bawah todongan pistol Sukoco pasrah digiring masuk rumahnya. Di dalam rumahnya, Sukoco sembunyi-sembunyi mengirimkan pesan singkat (SMS) ke teman-temannya meminta pertolongan. Ia sempat berupaya kabur lewat pintu belakang, namun upaya itu ketahuan dan kali ini ia dibentak lebih keras.

“Setelah itu saya tidak berani mencoba kabur lagi, masih mendekap dalam rumah itulah saya mendengar bunyi letusan senapan, dua kali,” tukas Sukoco.

Di rumah Syahrul, suasana lebih mencekam menyelimuti seisi rumah. Andriyani, sang isteri memergoki kawanan rampok yang berupaya mencongkel masuk. Ia membangunkan sang suami, mengambil handphone, menghubungi dan mengirimkan pesan ke keluarga terdekatnya perihal tersebut, dan mengharapkan pertolongan segera.

Sementara pembantu, Mila (30) diperintahkan untuk menjaga anak-anak. Syahrul sendiri berupaya menahan laju perampok, dengan mengunakan kulkas, ia menghalangi pintu. Beberapa perampok menggedor pintu dengan mengunakan kayu broti, sayangnya tinggi kulkas tidak mampu menutupi seluruh pintu.

Bagian atas pintu berhasil dijebol, saat masih sekuat tenaga memberikan perlawanan itulah, Syahrul ditembak. “Saya sempat mendengar almarhum meneriakkan takbir, Allahu Akbar pada letusan yang pertama,” ujar Mila.

Bagian kanan tubuh Syahrul yang tidak terhalang pintu, menjadi sasaran peluru. Dada bawah bahu kanan dan perut kanan ditembus timah panas. Mila menuturkan tidak mendengar lagi tembakan kedua, karena merasa kehilangan kesadaran. Dalam kondisi ketakutan, ia memeluk anak-anak majikannya.

Suara ribut-ribut itu, terdengar oleh Deri (22), anak Sukoco yang sedang jalan ke luar. “Saya sangka orang tua saya sedang bertengkar,” kata Deri.

Ia bergegas pulang, sesampai di rumah nalurinya terusik melihat tiga tiga kereta terparkir di kediaman Syahrul yang bersebelahan itu. Kereta tersebut berjenis King, Jupiter MX dan Revo. Saat berupaya melihat-lihat, Dery ditodong perampok dan dihujani dengan pukulan.

“Kau mau sok jadi pahlawan ya,” ujar Deri menirukan teriakan rampok pada dirinya. Deri tidak berkutik sama sekali menjadi bulan-bulanan kawanan rampok. Tidak hanya itu, handphone Deri juga dipaksa berpindah tangan.(*3/ade/Bersambung)




loading...

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook