Depan >> Kolom >> Chaidir >>

PNS Santai, Honorer Kerja

Senin, 31 Okt 2011 - 07:28 WIB > Dibaca 1599 kali | Komentar

Terkait kebijakan penerimaan Pegawai Negeri Sipil (PNS), pemerintah tak tetap hati. Macam baling-baling di atas bukit.

Sekejap ke Barat, sekejap lagi sudah ke Tenggara. Tergantung, arah angin kuat menekan.

Terutama angin politik dan aroma kepentingan. Selalu ragu-ragu dan terlalu berorientasi administratif. Kadang iya, kadang tidak. Belum tuntas sebuah peraturan diterapkan sudah bermunculan macam-macam usulan kebijakan baru, termasuk soal sistem penerimaan yang penuh dengan karut-marut dan campur tangan gelap.

Hari ini, pemerintah menangguhkan sementara penerimaan CPNS baru di tengah bejibun-nya usulan pemerintah daerah dan kementerian, yang minta keran penerimaan  dibuka.

Alasannya, belum ada hitungan yang jelas dan betul-betul valid sesuai standar profesionalitas soal jumlah keperluan PNS di republik ini. Penerimaan pegawai honorer pun harus dihentikan. Mudah-mudahan ini keputusan yang tepat.

Begitu juga keputusan untuk menghentikan penerimaan pegawai honor. Sebab, para honorer ini, dicurigai hanya diisi oleh saudara-mara para pejabat. Bukan diterima karena keperluan pekerjaan, tapi lebih kepada kepentingan keluarga dan sanak famili mereka.

Ironisnya, di tengah keragu-raguan pemerintah itu, sistem pengukuran dan penilaian efesiensi dan efektifitas PNS sampai kini tetap amburadul alias tak jelas.

Padahal, seharusnya pemerintah memiliki standarisasi penilaian kinerja yang betul-betul terukur sehingga bisa ditemukan rumus untuk mendapatkan indeks efektifitas.

Di keseharian, kerap dijumpai, masih banyak PNS yang kerja santai dan asal-asalan. Kinerjanya sangat buruk. Kualitas pelayanannya rendah. Celakanya, PNS model begini tetap bekerja sampai masa pensiun.

Di sisi lain, banyak juga PNS yang berkerja sungguh-sungguh, tapi tidak bisa mendapatkan hak untuk dinilai sesuai kinerja.

Pada akhirnya, banyak juga PNS yang terjebak dengan ironi,kerja seribu, tak kerja lima ratus. Kerja-tak kerja, seribu lima ratus. Ujung-ujungnya, serajin apapun sang PNS ini pada awalnya, ujung-ujungnya ia akan jadi, kerja asal-asalan saja. Siapa peduli?

Lebih ironis, di instansi atau satuan kerja yang banyak honorernya, maka sesungguhnya yang betul-betul kerja itu adalah mereka. Banyak sekali Satker yang tak akan jalan kalau tak memiliki tenaga honorer.

Mengapa begitu? Karena, para honorerlah yang masih bisa di-tekan-tekan, disuruh-suruh keras dan lembur. Sementara yang PNS-nya, kebanyakan santai-santai aja. Ya, begitulah.***
KOMENTAR
BERITA POPULER
Dari Ambon Daihatsu Jelajahi Pulau Seram

Dari Ambon Daihatsu Jelajahi Pulau Seram

17 Nov 2018 - 08:31 WIB | 106 Klik
BPJS Ketenagakerjaan Gandeng Kajati Riau Eksekusi Penunggak Iuran

BPJS Ketenagakerjaan Gandeng Kajati Riau Eksekusi Penunggak Iuran

17 Nov 2018 - 09:41 WIB | 103 Klik
Harimau Terjebak di Kolong Ruko, Berhasil Diselamatkan

Harimau Terjebak di Kolong Ruko, Berhasil Diselamatkan

17 Nov 2018 - 09:50 WIB | 94 Klik
Toyota Posisi Teratas untuk Fitur Keselamatan

Toyota Posisi Teratas untuk Fitur Keselamatan

17 Nov 2018 - 09:48 WIB | 93 Klik
Telkomsel Raih Dua Penghargaan Tingkat Asia Pasifik

Telkomsel Raih Dua Penghargaan Tingkat Asia Pasifik

17 Nov 2018 - 11:01 WIB | 68 Klik

Follow Us