Depan >> Berita >> Perca >>
CATATAN SEPAKBOLA HARY B KORIUN
Leicester, Proletar, dan Pertarungan Kelas
Rabu, 27 April 2016 - 16:20 WIB > Dibaca 4989 kali Print | Komentar
Leicester, Proletar, dan Pertarungan Kelas
Shinji Okazaki (kanan), pembelian termahal Leicester City. (GETTY IMAGES/ZIMBIO)
APAKAH perang kelas, seperti dalam sosialisme yang ditawarkan Karl Marx, berlaku dalam sepakbola? Cita-cita masyarakat tanpa kelas yang diperjuangkan sosialisme yang membuat “perang kelas” begitu kuat, sejatinya juga terjadi di berbagai sendi kehidupan, termasuk dalam olahraga.

Sentimen seperti ini pernah terjadi di tahun 1980-1990-an ketika Diego Maradona memimpin Napoli menyeruak di antara dominasi Juventus, AC Milan, Inter Milan, dan klub-klub Italia utara lainnya. Serie A yang di masa itu dianggap kiblat sepakbola dunia, liga terbaik, memang dikuasai klub-klub asal Milano, Turin, dan klub-klub kaya di utara. Kawasan utara Italia memang daerah subur dan menjadi kekuatan ekonomi Italia. Sedang di selatan, Naples (Napoli), Palermo dan Catania (di Pulau Sicilia), Bari, atau Messina, dikenal daerah miskin. Roma memang benar-benar menjadi “penengah” dua kawasan ini.

Nah, sentimen “kelas” masyarakat utara dan selatan itulah yang dikobarkan Maradona ketika itu untuk membangkitkan kekuatan masyarakat yang selama ini dipandang sebelah mata oleh para “borjuis” utara. Datang dari Barcelona tahun 1984, Maradona benar-benar mengubah Napoli dari klub biasa saja menjadi menjulang tinggi. Dua kali Napoli dibawanya menjadi juara, yakni musim 1986/87 dan kemudian 1989/1990. Di antara itu, Napoli juga menjadi runner-up, yakni di musim 1987/88 dan 1988/89. Bersama Maradona juga, Napoli mencicipi juara Copa Italia 1987, dan juara Piala UEFA 1989 setelah mengalahkan Vfb Stuttgart di final. Selama lima musim membela Napoli, Maradona mencatak 88 gol.

Di kota itu, hingga kini, dia dianggap dewa yang tak tergantikan. Sebab, hingga kini, tak pernah lagi Napoli mencicipi juara. Dua musim terakhir barangkali memperlihatkan kebangkitan Napoli dengan kedatangan beberapa bintang seperti Gonzalo Higuain, Jose Callejon, Marek Hamsik, dan sekian pemain lainnya. Tetapi tetap saja, tak mampu menghadang dominasi klub-klub kaya dari utara untuk menjadi juara. Seperti musim ini saja, Napoli gagal membendung Juventus yang untuk kelimakalinya meraih scudetto berturut-turut. Posisinya di peringkat ketiga juga rawan tergusur oleh klub ibukota, AS Roma.

Kisah antara si miskin melawan si kaya, juga terjadi di belahan bumi lainnya, yakni di Amerika Latin, tepatnya di Argentina. Mantan klub Maradona, Boca Juniors, yang mewakili “masyarakat miskin” Buenos Aires, melawan klub “bangsawan kaya”, River Plate. Pertarungan tim sekota ini sampai mengharamkan ada pemain yang menyeberang di antara klub tersebut. Sepanjang sejarah, nyaris tak ada pemain River yang menyeberang ke Boca. Juga sebaliknya.

Pertemuan kedua tim tersebut, sepanjang sejarah, juga diwarnai kekerasan yang tak pernah berakhir. Perbedaan kasta tersebut membuat otoritas Argentina sampai harus menyiapkan ribuan polisi dan pasukan berkuda, ketika keduanya bertarung, baik di markas Boca, Estadio Alberto J Armando, atau di markas River, Estadio Antonio Vespucio Liberti. Entah sudah berapa nyawa yang melayang akibat perseteruan keduanya, yang merembet juga dalam kehidupan sehari-hari di luar stadion.

***

Hari-hari terakhir ini, dunia sedang menyorot pemilik stadion di pinggir Sungai Soar, King Power Stadium, yakni Leicester City. Di stadion berkapasitas 32.000 penonton tersebut, cerita tentang si miskin yang merindukan bulan, juga terjadi. Premier League (Premieship) atau Liga Utama Inggris, saat ini dianggap liga paling ketat di dunia. Pertarungan antara klub kaya melawan klub miskin, misalnya, sama kerasnya dengan pertarungan antara raksasa dengan raksasa.

Klub besar seperti Manchester United, misalnya, tak akan mudah menaklukkan klub sekelas Sunderland. Itu cerita sesama klub Premiership. Bahkan antara klub Premiership melawan Championsip (kasta kedua), juga akan seru. Ini bisa dilihat di Piala Liga maupun Piala FA.


Graha Pena Riau Space for Rent
KOMENTAR
Berita Update
AKIBAT MELAWAN PETUGAS
Densus 88 Tembak Mati Teroris di Cilegon, Ternyata Perannya...
Kamis, 23 Maret 2017 - 18:42 wib
ENGLISH PREMIER LEAGUE
Wenger Pergi, Arsenal Kehilangan Identitas
Kamis, 23 Maret 2017 - 18:37 wib
WARGA SALING MENOLONG USAI KEJADIAN
Saksi Teror London: Orang-orang Terbang di Udara setelah Ditabrak
Kamis, 23 Maret 2017 - 18:32 wib
MELAWAN SAAT PENANGKAPAN
Dua Bandar Narkoba Ditembak Mati Bareskrim dan Polda Sumut
Kamis, 23 Maret 2017 - 18:25 wib
KASUS PENCEMARAN NAMA BAIK
Terkait Kasus Sandiaga, Polisi Sebut Masyarakat Boleh Saling Lapor
Kamis, 23 Maret 2017 - 18:18 wib
TERKAIT BANTAHAN DARI MIRYAM
Kubu Terdakwa E-KTP Minta Saksi Dikonfrontir soal Penerimaan Uang
Kamis, 23 Maret 2017 - 18:06 wib
RUU MASIH DALAM PEMBAHASAN
Saran Fadli Zon Terkait Masa Jabatan Anggota KPU dan Bawaslu saat Ini
Kamis, 23 Maret 2017 - 18:02 wib
PILGUB DKI 2017
Bantah Gelar Kampanye, Ahok Sebut Jenguk Timses
Kamis, 23 Maret 2017 - 17:57 wib
JELANG PUTARAN KEDUA
Tito Bandingkan Polisi Belanda dan Indonesia Terkait Pilgub DKI
Kamis, 23 Maret 2017 - 17:52 wib
TERKAIT NAMANYA YANG DISEBUT DI PERSIDANGAN
Fahri Hamzah Sebut KPK Langgar UU Pajak
Kamis, 23 Maret 2017 - 17:48 wib
Cari Berita
Perca Terbaru
Siska Noviana Dewi Ukir Prestasi di Cabang Olahraga Panahan
9 Sekolah di Pelalawan Lumpuh

Jumat, 17 Maret 2017 - 10:50 WIB

Anomali Leicester

Kamis, 16 Maret 2017 - 16:09 WIB

sumatranet
Ranggi Riau Pos
loading...
Follow Us