Wonderful Indonesia
Depan >> Berita >> Perca >>
KOLOM PERCA HARY B KORIUN
Generasi Pengeluh
Kamis, 14 April 2016 - 14:05 WIB > Dibaca 3947 kali Print | Komentar
Generasi Pengeluh
SUATU siang di hari Ahad,  Pandapotan MT Siallagan, sastrawan yang pernah lama tinggal di Riau dan kini bekerja sebagai wartawan di Siantar, Sumatera Utara (Sumut), berkirim SMS. Isinya: “Bang, bacalah Horison edisi bulan ini, ada cerpenku dimuat di sana. Kasih masukan, ya...”

Di lain waktu, dia mengirim SMS lagi: “Udah baca sajak saya di Kompas, Bang? Saya perlu masukan Abang...”

Saya mengenal Panda –begitu koleganya memanggil— pertama kali bukan langsung bertemu muka, melainkan lewat cerpen, esai dan sajak-sajaknya di media Riau, terutama Riau Pos, sebelum saya bekerja di koran ini. Ketika kemudian saya diberi tanggung jawab untuk menjaga rubrik Budaya (selama hampir 7 tahun), dia intens mengirim naskah.

Panda "lahir" hampir satu generasi dengan M Badri, Sobirin Zaini dan Binoto H Balian (kini juga kembali ke kampungnya di Sumut), plus beberapa penulis muda lainnya seperti Ellizan Katan, Syaiful Bahri, dan beberapa nama lainnya. Plus penulis perempuan Dien Zhurindah, mereka kemudian menginisiasi berdirinya sebuah komunitas sastra bertama Senapelan Writers Association  (SWA).

Mereka berlomba-lomba mengirim naskah sebanyak-banyaknya ke Riau Pos --juga media lainnya--  dan pada suatu saat naskah mereka tidak saya muat. Ada yang bertanya langsung, ada yang kirim SMS atau e-mail dan ada yang tak bereaksi apa-apa. Dalam sebuah pertemuan sambil minum kopi di Bandar Serai, kepada Badri, Sobirin, dan Panda, saya katakan mengapa saya menahan naskah mereka.

“Kalian sudah katam di Riau Pos dan koran lokal Riau, saatnya kalian ‘pergi’, bangun jaringan, jangan hanya bermain di kandang. Kirim naskah kalian ke koran lain di luar Riau, entah ke Lampung, Padang, Surabaya, Semarang, Bandung atau Jakarta, di mana ada koran yang ada halaman budayanya. Sekali-kali, bolehlah kirim ke Riau Pos untuk melepas kangen...”

Beberapa waktu setelah itu, saya mendengar Panda dan Binoto kembali ke Sumut, Syaiful Bahri ke Jakarta (kemudian kembali ke Pekanbaru), Badri ke Bogor meneruskan studi S2 hingga S3-nya, dan Sobirin masih tetap di Pekanbaru sebelum akhirnya kembali ke Pambang, Bengkalis, memilih hidup menyepi di desa.

Beberapa waktu lagi setelah itu, saya mendengar Badri juara lomba cerpen CWI-Diknas (cerpen “Loktong”, 2006), cerpen dan puisinya memenangkan beberapa lomba lagi, tembus di koran Jakarta, Lampung, Semarang dan sebagainya. Begitu juga dengan Pandapotan yang mampu menembus Republika, Suara Merdeka, Horison, Kompas, masuk dalam Jurnal Cerpen Indonesia edisi penulis muda dan sebagainya.

Bagi seorang penulis, jaringan itu penting, publikasi itu harus, karena di sanalah kita nanti tunak. Media massa tetap menjadi barometer dan ayakan yang objektif yang akan memposisikan di mana kita dalam peta sastra Indonesia. Memang tidak salah memfokuskan diri hanya menulis ke koran lokal daerah masing-masing, tetapi seharusnya sang penulis tidak puas dengan pencapaian itu. Selain namanya tak terpublikasikan secara luas, juga bisa seperti katak dalam tempurung: merasa besar di rumah sendiri, keluar tak dikenal siapapun.

Dulu, kata sastrawan Hasan Junus (HJ), ketika Riau belum punya koran harian, para sastrawan Riau seperti dirinya, Fakhrunnas MA Jabbar, Husnu Abadi, Ediruslan Pe Amanriza, Idrus Tintin, BM Syam, Rida K Liamsi,  dan yang lain, harus berjuang keras bertarung dengan penulis lainnya di Koran Haluan (Padang), dan media-media Jakarta. Penulis perlu tempat untuk menyiarkan naskahnya, dan itu tak peduli di mana.

“Ketika itu honornya kecil, tapi bukan itu tujuan kami. Kami harus berkarya dan menyiarkan karya itu. Persaingan di Padang sangat ketat karena di sana juga banyak penulis bagus...” kata HJ.


Graha Pena Riau Space for Rent
KOMENTAR
Berita Update

Pesantren Babussalam Kerja Sama dengan KUIS Selangor
Minggu, 24 September 2017 - 14:21 wib

Myanmar Bersalah atas Genosida Rohingya
Minggu, 24 September 2017 - 14:13 wib
Apotek Sentral Sehat Disegel
PCC Nihil, Obat Kedaluarsa Ditemukan
Minggu, 24 September 2017 - 13:49 wib

Polisi Buru Pelaku Penembakan Buaya Raksasa
Minggu, 24 September 2017 - 13:32 wib

Bulutangkis Riau Berjaya Di Fastron Open
Minggu, 24 September 2017 - 12:45 wib
POLITIK
Rakerda PG Sempat Ricuh
Minggu, 24 September 2017 - 12:03 wib
Satu Beroperasi di Pekanbaru
OJK Stop Lima Investasi Bodong
Minggu, 24 September 2017 - 11:51 wib

Kominfo Blokir Situs Nikah Siri
Minggu, 24 September 2017 - 11:47 wib

Reputasi Rekor Tandang
Minggu, 24 September 2017 - 11:42 wib
TAMU REDAKSI
Asah Literasi Siswa dengan Berkunjung ke Redaksi Riau Pos
Minggu, 24 September 2017 - 11:37 wib
Cari Berita
Perca Terbaru
Beratnya Perjuangan Sepakbola di SEA Games

Kamis, 17 Agustus 2017 - 00:12 WIB

"Legends of the Fall": Tentang Cinta dan Kesetiaan tanpa Batas
Antara Sri Bintang Pamungkas dan Amien Rais

Kamis, 08 Juni 2017 - 17:10 WIB

 Pertahanan Terbaik atau Ketajaman Mencetak Gol?

Minggu, 04 Juni 2017 - 01:11 WIB

Keberuntungan atau Kecerdasan Zidane?

Kamis, 20 April 2017 - 03:04 WIB

sumatranet
Ranggi Riau Pos
loading...
Follow Us