Hutan Kita

Minggu, 08 Jun 2014 - 08:29 WIB > Dibaca 3381 kali | Komentar

Mengapa hutan? Karenadi dalam nya bersarang sejumlah kiasan. Mengapa hutan? Karena tersangkut segala ihwal. Hutanlebih duluhadir sebelum kita zahir. Di dalam hutan, segala hewan berlabuh dan diajar menjadi ternak. Di dalam hutan segala mitos merawat diri, terhidang. Di dalam hutan segala mimpi ekonomi terjaga. Di dalam hutan, sistem pertahanan sebuah bangsa terbina. Dengan hutan, manusia membangun dunia dan mimpi tentang kelengkapan hidup,kemudian diuli menjadi acuan adat. Segala tamsil, segala umpama, segala kias, dan segala sampiran menjelaskan hutan sebagai gudang ungkapan nan kaya selain samudera.

Dalam hutan, kita mendengar segala nada dari segala sumber bebunyian. Dalam hutan, bangunan mitos dan Tuhan yang mendebar juga berdenyar. Dalam hutan segala mimpi masa lalu dan mimpi masa depan bersatu dalam diam, lalu senyap. Namun, hutan di tangan kapitalis taklebih dari lipatan dan lembar. Hutan jadi mainan cukong, hutan jadi mainan polisi, hutan jadi mainan politisi.Lalu ada menteri yang dihajat untuk mengurus hutan. Namun, hutan kian hancur. Ada negeri-negeri nun jauh di benua lain, tanpa menteri yang mengurus ih wal hutan, malah hutan kian rimbun. Di negeri yang punya menteri ihwal urus hutan, malah hutan bisa menjadi jebakan. Hutan dah berubah segaris dengan kehidupan yang berbuncah. Manusia bertambah, hutan bergeser makin jauh di ujungkampung, dan mencari ujung-ujung yang baru lagi.

Dengan hutan, manusia membangun kota dan pencakar langit. Dengan hutan, orang tempatan terpelanting dan dilempar di ujung peradaban, seakan menumpanghidup di tanah orang. Lalu para pendatang dalam jumlah kepemilikan lahan yang kecil, sekedar mencari hidup, dipersalah. Mereka-mereka yang di atas mempersalahkan para pendatang, kok menebang, kok membakar. Aras kesadarankita pun tersentak; bahwa kita sedang diadu-adu antara pendatang dan orang tempatan. Dalam kisah hutan, tak diperlukan pertentangan antara pendatang dan tempatan, jika mereka hanya untuk menyelamatkan hidup. Namun, yang dipersoalkan adalah para cukong dan para pemilik lahan dengan luasan di atas 100 Ha. Mereka bisa menggusur hutanlindung, lalu menanam dan tumbuh. Tanaman produksi berbasis kebun ini, khusus para cukong, tidak diganggu. Namun, tanaman rakyatdiganggu dan ditebang.

Lalu pemerintah ini hadir untuk kepentingan siapa? Untuk para cukong? Atau untuk dan demi rakyat. Hari-hari kita berbicara dengan nestapa rakyat kecil. Dan kita pun bagian dari rakyat kecil itu.Kita terlahir di tengah-tengah suasana serba minus rakyat kecil itu. Kepompong rakyat kecil tempat kita keluar dan dibesarkan itu, belum berjarak demikian jauh dalam garis masa lalu. Rakyat kecil dan miskin itu, sejatinya belum begitu jauh dengan diri kita hari ini. Jika ditarik garis datar ke kiri atau ke kanan; maka ada sepupu kita yang terbelit oleh kemiskinan berjenjang dan berjenang. Di tarik pula garis tegak vertikal, maka ada keponakan dan paman kita yang masih dibelit oleh sabuk kemiskinan yang menyayat.

Hutan dan kekinian, juga sebuah persoalan rumit.Hutan dengan segala status itu menyajikan suasana cul-de-sac, bagi rakyat, bagi pemerintah daerah yang ingin membangun. Status  hutan yang dikuasai oleh perusahaan berbasis ekonomi hutan, yang kemudian secara gelap berubah sontak menjadi kebun-kebun rakyat, menambah rumit statusnya ketika kita hendak membangun jalan, membangun ruas-ruastransportasi berjarak pendek maupun garis panjang dan mega.

Pembangunan highway atau toll road, membangun jalan poros, jalan lintasantar kabupaten-kota, jalanlingkar kota besar, akan berdepandengan kenyataan bernama status hutan. Dalam peta tata ruang nasional, negeri kita bernama Riau ini berada dalam status serba hutan. Kampung-kampung yang kitabangunberabad-abad, tempat orang mengolah rindu keindonesiaan itu, rupanya berada dalam hutan yang lebat dan tak berubah.Seakan di siniti ada peradaban, tiada manusia yang bergerak.

Dari kampung-kampung kemudian menjelma menjadi kota. Dari kotakecil berubah dalam jelmaan kota besar dan metropolitan. Lalu Indonesia dengan perpanjangan mata dan telinganya bernama menteri kehutanan sama sekali tak dapat melihat kenyataan bergerak dan berubah dalam dimensi serba progresif itu. Di sini ada kawasan pabrik, ada kawasan industri, pendukung industri, pergudangan, kawasan bisnis, perkantoran dan pemerintahan sejalan dengan pemekaran wilayah adminsitratif. Perkembangan cepat dan serba lekas itu, seakan tak ada artinya bagi manajemen dengan hati yang mati.

Asas diskresi, memberi ampuan kepada kepentingan rakyat dan orang banyak, k etika suatu perundangan demikian kaku menerjemah kenyataan bergerak dan berubah itu. Kepentingan dan demi asas penyejahteraan rakyat, tentu lebih dikedepankan, ketimbang kita berpaut pada perundangan yang kaku dan membunuh kepentingan orang banyak. Apatah lagi kepentingan untuk menghapus kemiskinan rakyat Indonesia. Namun, hutan di Indonesia, seakan berbicara lain. Hutantetap hutan, walau kenyataan di lapangan, sebatang kayu hutan pun tak bisa ditemui lagi sebagai gejala tumbuhan. Sebab, segala tumbuhan itu telah berganti oleh serangkaian tanaman, alias telah diolah menjadi kebun.Di sini ada manusia dengan kebudayaan yang bergerak progresif sejalan dengan percepatan zaman.

Hutan dan kita, tak lebih dari akal-akalan orang singkat fikir, dangkal rasa dan ketiadaan rencana mengenai masa depan yang bertujuan untuk kehidupan yang berbahagia kepada mereka yang dibelit nestapa. Hutan dan kita di negeri ini ialah serumpun ironi yang tak terperi oleh akal sehat. Karena yang mengurus ihwal ini, berada dalam akal yang tak berapa sehat. Hutan dan kita, hanya menunjukkan bahwa Negara ini memang rapuh ketika berdepan dengan serombongan cukong.***
KOMENTAR
BERITA POPULER
Alamak... Istri Ketahuan Selingkuh dengan Brondong Penghuni Kos

Alamak... Istri Ketahuan Selingkuh dengan Brondong Penghuni Kos

24 Feb 2018 - 00:02 WIB | 509 Klik
Joko Widodo Sebut Siapa Nama yang Akan Dampingi Maju sebagai Capres

Joko Widodo Sebut Siapa Nama yang Akan Dampingi Maju sebagai Capres

24 Feb 2018 - 00:09 WIB | 419 Klik

Proyek Tol Dievaluasi

24 Feb 2018 - 09:24 WIB | 67 Klik
Ribuan Ikan Mengapung di Sungai Kerumutan

Ribuan Ikan Mengapung di Sungai Kerumutan

24 Feb 2018 - 09:02 WIB | 61 Klik

APBD Rohul 2018 Dibatalkan Masyarakat Diminta Tenang

24 Feb 2018 - 09:28 WIB | 42 Klik

Follow Us