Diametral-Tanzih

Minggu, 01 Jun 2014 - 07:55 WIB > Dibaca 3343 kali | Komentar

Sesuatu yang berlawanan ialah penyembuh sejati. Bahwa, kemiskinan adalah pendorong utama seseorang untuk keluar dari belit kesusahan berjenang. Kemiskinan menjadi pemanggil. Demikian pula, Indonesia yang terjajah, memanggil Soekarno untuk membebaskan. Indonesia yang korup, memanggil rekan-rekan di KPK untuk hadir dan menuntaskan. Nun jauh sebelum kisah-kisah serba baru ini, kita melihat kekufuran, kegelapan hati memanggil Ibrahim, Musa, Isa, Muhammad, membawa cahaya dan kebenaran. Inilah kondisi diametral yang diperlukan, yang dirindukan oleh manusia.

Jangan melihat kemiskinan sebagai jalan sengsara dan penyumpahan. Lihatlah kemiskinan sebagai “sekolah” untuk menjadi senang dan berbahagia. Kemiskinan ialah kenyataan diametral dari kekayaan. Kebodohanlah yang memanggil kita untuk menjadi pandai. Kemiskinan, kebodohan, kegelapan, keledahan, kekemakan, menjadi sesuatu yang memanggil bagi hadirnya “lawan-lawan” yang lebih mencerahkan di depan hari. Kita semua, terlahir sebagai warga miskin di kampung-kampung, warga ledah, warga gelap, dan nyaris bodoh oleh segala tahyul yang menjilat jidat kampung dari hari-hari ke hari. Kenapa? Karena kita hanya melihat dunia hanya sebatas sangkar hidup. Selengkung ruang kampung yang serba terhad.

Maka, simetris bisa membunuh. Namun diametris malah menghidupkan bahkan memenangkan. Seseorang yang dianiaya secara fisik dan ruhani, dia akan keluar selaku pemenang. Sebab, dia telah menjalani segala bentuk “sekolahan” maqam, segala bentuk “ujian” yang diperlukan untuk kenaikan kelas. Maka, orang-orang yang menjadi korban kampanye hitam, orang-orang yang mengalami fitnah yang tak masuk di akal sehat, akan keluar selaku pemenang. Ingat, dulu sejak putaran pertama, dan amat gencar pada putaran kedua, Annas Maamun dianiaya segala macam isu miring dan bahkan “sinting” yang dialamatkan kepada seorang “tua” yang amat tak mungkin melakukan apa-apa yang difitnah kepadanya. Namun, Annas keluar sebagai pemenang. Satu-satunya jalan melawan segala fitnah yang bertabiat diametral itu adalah dengan cara diam dan mendiamkan diri.

Joko Widodo demikian pula, ketika akan memanjat dinding tinggi Jakarta, juga dianiaya dengan segala ihwal. Maka, kita selayaknya melayangkan “terimakasih” kepada mereka yang menganiaya secara moral dan mental. Sebab, Jokowi keluar sebagai pemenang dan duduk menjadi Gubernur DKI. Wah,… Indonesia memberi peluang dan mengulang perilaku yang sama dengan era-era sebelumnya. Jokowi_JK dianiaya dengan segala kampanye hitam. Ingat, kian dianiaya, maka kian kemilau dan cemerlang tampilan mereka di depan publik. Lain halnya penganiayaan terhadap partai Golkar dan Demokrat pada sebuah masa. Dua partai ini akhirnya menjadi jomblo dan bulan-bulanan partai kecil dalam permainan lontar dadu ke tengah-tengah publik Indonesia.

Nabi Muhammad juga mengalami ihwal yang sama dan lebih nista oleh kaum kerabat di lembah Makkah. Namun, ihwal aniaya dan pelecehan yang diametral ini menjadi alat kampanye bagi kuntum dan putik Islam di era awal lembah. Demikian pula Nabi Ibrahim, Nabi Musa, berada dalam lorong aniaya yang maha panjang, sepanjang usia kehidupan mereka. Dan, mari kita berkelana sejenak mengenai garis sunsang, garis siku yang mengunci, sebuah garis maya, sebuah garis imajiner. Garis itu tersedia dari sebuah peristiwa jasadi dan ruhani yang menggambar dua alam: tasybih dan tanzih, bernama Isra dan Mi’raj.

Karena ada “ihwal” atas, maka memanggil yang berada di bawah. Tersebab ada yang di depan sana memanggil “kekinian”. Gerakan Isra, ialah sebuah perjalanan terrestrial, perjalanan “kini” menuju “akan” di Bait al Maqdis (Al Quds). Bayangkan gerakan ini sebagai garis datar. Dan inilah perjalanan “tasybih”. Lalu, sesampai di Bait al Maqdis, perjalanan dilanjutkan dengan garis “menegak”, tidak terrestrial lagi, namun vertikal. Inilah “garis siku” yang mengunci. Keamanan dan kenyamanan ruhani, dikunci oleh garis siku yang diametral, bukan simetral. Kenyamanan dan keamanan rumah tempat hinggap dan berlindung, kantor tempat bekerja dan berniaga, juga dikatup oleh garis-garis siku; bisa di jendela, di pintu, sudut tembok, pintu pagar, pintu lemari, sampai lidah laci sebuah meja kerja untuk menyimpan ihwal dan arsip berharga. Semua itu dikunci oleh garis siku. Untuk meletak kipas AC di sebelah luar dinding rumah, hanya garis siku yang diametral itu yang paling aman dari segala bentuk pencerobohan yang datang dari luar, sebagai ancaman.

Mi’raj, tidak menjadi sesuatu yang bermakna secara ummat, kalau dia tak melalui jalan “terrestrial” sebelumnya. Mi’raj, bisa hanya untuk keperluan perseorangan Nabi Muhammad, namun, ketika dia menjadi pelengkap garis datar terrestrial, dia menjadi siku bagi tegakan “ajaran” langit yang kuat dan kukuh dan berpaku pada bentangan, hamparan yang menjadi tempat hinggap dan ‘meratibkan’ nilai-nilai langit itu. Sebelum Nabi menjalani dua jenis perjalanan ini, beliau “harus” menjalani sejumlah penganiayaan fisik dan mental oleh kaum-kaum yang sehamparan hidupnya secara terrestrial dengan baginda Nabi. Dua jenis perjalanan ini, menjabarkan dua alam: isra-tasybih dan mi’raj-tanzih.

  Batu mulia, logam mulia hanya tersimpan dalam gumpalan lumpur berkubang dan bau. Hanya dengan cara begitu, dia menjadi juluran cerita yang bertandan-tandang. Logam mulia, dan lumpur berbau, ialah kenyataan diametral. Lumpur berbau itulah yang memanggil benih dan lahirnya batu mulia. Cerita mengenai kisah ini pun menyeruak wangi dan meruap bak embun, berpindah dari kampung ke kampung. Coba bayangkan pula, jika logam mulia ini, tersadai di atas tahta diraja, dia hanya menjadi kisah dan penceritaan pendek dan mudah dan longkah untuk dilupakan. Lumpur bau itu, bisa menjadi wakil dari tanzih, dan batu mulia itu hanya sebagai akibat yang mengeluar alam kasat nan elok bernama tasybih. Wah… siku? Inilah kenyataan diametral yang dirindukan oleh semua orang. Tapi? Amat berat menjalaninya… walau terhidang wangi di ujung sana.***
KOMENTAR
BERITA POPULER
Alamak... Istri Ketahuan Selingkuh dengan Brondong Penghuni Kos

Alamak... Istri Ketahuan Selingkuh dengan Brondong Penghuni Kos

24 Feb 2018 - 00:02 WIB | 509 Klik
Joko Widodo Sebut Siapa Nama yang Akan Dampingi Maju sebagai Capres

Joko Widodo Sebut Siapa Nama yang Akan Dampingi Maju sebagai Capres

24 Feb 2018 - 00:09 WIB | 419 Klik

Proyek Tol Dievaluasi

24 Feb 2018 - 09:24 WIB | 67 Klik
Ribuan Ikan Mengapung di Sungai Kerumutan

Ribuan Ikan Mengapung di Sungai Kerumutan

24 Feb 2018 - 09:02 WIB | 61 Klik

APBD Rohul 2018 Dibatalkan Masyarakat Diminta Tenang

24 Feb 2018 - 09:28 WIB | 42 Klik

Follow Us