Depan >> Berita >> Perca >>
KOLOM HARY B KORIUN
Saung, Suu Kyi, dan Rohingya
Selasa, 05 April 2016 - 13:35 WIB > Dibaca 4424 kali Print | Komentar
Saung, Suu Kyi, dan Rohingya
... Tujuan saya yang lain dalam membeberkan berbagai kesulitan yang saya hadapi selama duapuluh tahun terlibat dalam perjuangan politik dan menjelajah kota-kota dan hutan di Burma ini adalah untuk menunjukkan mengapa tidak ada di antara kelompok yang bertahan sanggup menggulingkan pemerintahan keji itu. Sementara saya masih tetap berharap bahwa kekuatan  rakyat yang baru muncul ini sanggup mengakhiri kekuasaan militer, berbagai kendala yang sama yang menjadi penghalang di masa lampau --khususnya yang berkenaan dengan perpecahan dan nasionalisme sempit dari kelompok-kelompok oposisi-- masih harus dihadapi... (Aye Saung)

 MYANMAR (Burma), adalah kisahnya nyata tentang sebuah bangsa yang dicabik-cabik perang saudara karena perbedaan pandangan politik, ideologi,  etnis, dan agama. Dengan suku Burma sebagai etnis terbesar di sana --yang kemudian juga menjadi nama negara dengan mengensampingkan suku-suku yang lain ketika merdeka dari penjajahan Inggris dan Jepang tahun 1948-- Myanmar menjadi salah satu negara di Asia Tenggara paling tertutup bersama Laos dan Kamboja. Apa yang ditulis Aye Saung dalam buku autobiografinya, Catatan-catatan dari Bawah Tanah, menjelaskan hal itu.

Kemenangan Partai Liga Nasional Demokrasi (NLD) pimpinan Aung San Suu Kyi dalam Pemilu  Myanmar pertama yang dianggap paling demokratis akhir 2015, merupakan angin segar bagi arah demokrasi di negara tersebut. Namun banyak orang tak yakin bahwa perpecahan karena etnis dan agama akan bisa diselesaikan oleh Presiden Htin Kyaw, orang dekat yang juga penasehat Suu Kyi selama ini, yang memenangkan pemilihan presiden beberapa pekan lalu.

Masalah etnis bukan hanya tentang Rohingya yang kebetulan mayoritas muslim. Upaya marjinalisasi secara politis maupun senjata yang dilakukan junta militer sebelumnya dari Jendral Ne Win, Jendral Than Shwe, hingga Presiden Thein Sein, terhadap Rohingya, hanya satu dari sekian kasus perpecahan etnis, yang kebetulan dibalut agama. Sejarah mencatat, pergolakan bersenjata di Myanmar, selain persoalan perbedaan politik, ideologi, tetapi juga lebih tajam karena perbedaan etnis.  Di awal kemerdekaan --karena pernah dijanjikan oleh Jendral Aung San, setelah Burma merdeka, etnis-etnis yang ingin merdeka akan dibebaskan-- di  Myanmar ada etnis-etnis minoritas yang ingin melepaskan diri, seperti Karen, Karenni, Shan, Kachin, Chin, Pa O, Arakan, Naga, Mon, dan yang lainnya. Mereka berjuang melawan dominasi etnis besar berkuasa, Burma, yang di masa awal dipilih menjadi nama negara.

Tetapi, apa yang terjadi di Myanmar hari ini, setelah NLD menang telak hampir 80 persen dari partai militer berkuasa, dan terpilihnya presiden sipil setelah era "kegelapan" di bawah junta militer sejak Ne Win melakukan kudeta terhadap Presiden U Nu  pada 1962, akan menjadi jendela --kalau tak mau disebut pintu-- bagi angin kebebasan tersebut. Ini jika mengacu pada apa yang yang dilakukan NLD dan faksi-faksi lainnya yang melakukan perlawanan, baik secara politik maupun bersenjata.

***

 Ini di luar kecaman umat muslim dunia terhadap apa yang ditulis Suu Kyi dalam buku The Lady and The Generals - Aung San Suu Kyi and Burma’s Struggle for Freedom.  Dalam buku tersebut, anak Jendral Aung San, salah satu pendiri negara Burma (Myanmar) ini seperti menyesal ketika diwawancarai reporter BBC yang beragama Islam, Mishal Husain,  pada Oktober 2013.

 "No one told me I was going to be interviewed by a muslim," tulisnya dalam buku tersebut.  "Tidak ada yang memberitahu jika aku akan diwawancarai oleh seorang muslim."    Pernyataan yang membuatnya dikecam karena sebagai pejuang demokrasi, kemanusiaa, dan hak azasi manusia, yang mendapat Nobel Perdamaian 1991, Suu Kyi dianggap melontarkan pernyataan SARA.

Dalam wawancara tahun 2013, Suu Kyi juga terkesan mendua saat ditanya Mishal soal etnis muslim Rohingya yang sepertinya tak dilindungi pemerintah karena dianggap bukan etnis asli Myanmar, yang akhirnya banyak yang lari mengungsi ke negara-negara tetangga. Kata Suu Kyi ketika itu: "Muslims have been targeted but also Buddhists have been subject to violence. There’s fear on both sides."  Dia bilang, pemeluk Islam memang menjadi target tetapi pemeluk Budha juga menjadi sasaran kekerasan yang membuat keduanya menjadi korban dan mengalami ketakutan.

Pernyataan-pernyataan tersebut membuat banyak pejuang demokrasi, hak azasi dan kesetaraan kemanusiaan, menjadi berang. Di Indonesia, petisi agar Nobel Perdamaian yang diberikan kepada Suu Kyi dicabut, ditandatangani banyak aktivis dari berbagai "genre". Namun di seberang, banyak orang mengatakan bahwa Suu Kyi adalah manusia biasa. Setelah sekian lama berada dalam tekanan politik, dia juga ingin mencari selamat. Rohingya adalah kasus khusus yang dianggap benalu dalam kehidupan negara tersebut. Pergesekan (bahkan sudah saling bunuh) muslim Rohingya dan pemeluk Budha (yang menjadi agama mayoritas warga) sudah mencapai taraf akut. Pemerintah berpihak ke pemeluk Budha, sehingga Rohingya menjadi bulan-bulanan. Hampir dipastikan, jika NLD dan Suu Kyi membela mereka atas nama kemanusiaan, usaha mereka untuk berkuasa tak akan didukung rakyat Myanmar. Sebuah simalakama.

***

Graha Pena Riau Space for Rent
KOMENTAR
Berita Update
AKIBAT MELAWAN PETUGAS
Densus 88 Tembak Mati Teroris di Cilegon, Ternyata Perannya...
Kamis, 23 Maret 2017 - 18:42 wib
ENGLISH PREMIER LEAGUE
Wenger Pergi, Arsenal Kehilangan Identitas
Kamis, 23 Maret 2017 - 18:37 wib
WARGA SALING MENOLONG USAI KEJADIAN
Saksi Teror London: Orang-orang Terbang di Udara setelah Ditabrak
Kamis, 23 Maret 2017 - 18:32 wib
MELAWAN SAAT PENANGKAPAN
Dua Bandar Narkoba Ditembak Mati Bareskrim dan Polda Sumut
Kamis, 23 Maret 2017 - 18:25 wib
KASUS PENCEMARAN NAMA BAIK
Terkait Kasus Sandiaga, Polisi Sebut Masyarakat Boleh Saling Lapor
Kamis, 23 Maret 2017 - 18:18 wib
TERKAIT BANTAHAN DARI MIRYAM
Kubu Terdakwa E-KTP Minta Saksi Dikonfrontir soal Penerimaan Uang
Kamis, 23 Maret 2017 - 18:06 wib
RUU MASIH DALAM PEMBAHASAN
Saran Fadli Zon Terkait Masa Jabatan Anggota KPU dan Bawaslu saat Ini
Kamis, 23 Maret 2017 - 18:02 wib
PILGUB DKI 2017
Bantah Gelar Kampanye, Ahok Sebut Jenguk Timses
Kamis, 23 Maret 2017 - 17:57 wib
JELANG PUTARAN KEDUA
Tito Bandingkan Polisi Belanda dan Indonesia Terkait Pilgub DKI
Kamis, 23 Maret 2017 - 17:52 wib
TERKAIT NAMANYA YANG DISEBUT DI PERSIDANGAN
Fahri Hamzah Sebut KPK Langgar UU Pajak
Kamis, 23 Maret 2017 - 17:48 wib
Cari Berita
Perca Terbaru
Siska Noviana Dewi Ukir Prestasi di Cabang Olahraga Panahan
9 Sekolah di Pelalawan Lumpuh

Jumat, 17 Maret 2017 - 10:50 WIB

Anomali Leicester

Kamis, 16 Maret 2017 - 16:09 WIB

sumatranet
Ranggi Riau Pos
loading...
Follow Us