Sajak-sajak Esha Tegar Putra

17 Maret 2013 - 08.01 WIB > Dibaca 5950 kali | Komentar
 
Orang-orang Kalumbuk

Di hitam angin Kalumbuk
aku menebak
siapa lebih dulu akan dibuat jatuh terduduk
aku, demam pada hari lalu, atau dengung pada pangkal
telingamu.

Tetapi di sini orang-orang telah lebih dulu membangun
rumah
di antara runtuhan sarang punai. Mereka telah lebih
dulu membaca
kitab segala bisa sebelum amuk tak tercatat itu telah
membakar
segala isi dapur, mereka juga telah lebih dulu belajar
memendam
sekawanan induk harimau dalam perutnya.

Aku membayangkan, di sini, kelak anak-anak dengan pupil mata
sirah membara akan terlahir dari pusaran limbubu.
Anak-anak yang pada saat lambung mereka berbunyi
akan berkata: Aku menulis sajak di karung-karung beras.
Tentang iringan karavan dari darek yang terhuyung
di penurunan Sitinjau!

Di hitam angin Kalumbuk
aku menebak hari baru serupa daging tumbuh
pada pangkal tembusumu. Sakit yang akan terus memburu.

Kandangpadati, 2013


Seukuran Tungau

Kembali aku kenang kau,
sementara udara masih mengidap tajam bau perendangan kopi
sementara kota memaku peradaban pada retakan panjang dinding
surau lama, derit lantai papan, dan gema lonceng bendi
tertahan
di sebuah minggu pagi ketika tungkai-tungkai kaki kuda
dipatahkan.

Aku atau kau yang kini mabuk seorang!

Sudah patut aku kenang kau,
jalur menikung di barisan pohon lambau dengan kulit hijau berlunau
muara dengan air dangkal seakan terus melakukan
pengingkaran
bahwa bukan ombak gadang melulu bikin sampan karam, bahwa
bukan salah mercu memberi tanda, dan bukankah lagu
tentang
tujuh malam air pasang itu telah membuat kita lupa cara
berilau.   

Aku membayangkan kota dengan tasik, dengan temasik,
dengan
kulah, dan segala ulah ini adalah sisa masalalu seukuran
tungau.
 
Kandangpadati, 2013


Di Muaro Jambi

Orang-orang dari selatan telah menitipkan mata kampak di leher
gajah batu itu. Mereka datang dari beratus tahun mimpi buruk
mereka tempuh teluk, parit-parit, hanya untuk sebuah amuk.
 
Tanda bahasa itu, dinding masa lalu itu, putih adanya,
kau berkata.
 
Tanda bahasa barangkali juga reruntuhan tuah kata-kata.
Seperti musim punai berpindah, dari kulah ke kulah, tak akan tersurat dalam
sejarah. Seperti juga pelarian kaum bertuah, dari lembah
ke lembah tak akan pernah dirapal dalam doa para peziarah.
 
Atau barangkali tanda bahasa cuma pahatan pada andesit aneh, sisa huruf pada pecahan tempayan, dan logam dingin yang menghitam.
 
2013


Air Hitam Turun Malam


Air hitam turun malam,
turun dari paran rumah orang Pauh
dari sanalah kami tahu kematian teramat piawai membikin rusuh
teramat lihai memilih mana harus ditancapkan duri mana harus
ditusukan jarum.

Air hitam turun malam,
turun dari paran rumah orang Pauh
dari sanalah kami tahu tengguli bisa bikin mabuk sebenarnya mabuk
dari sana jugalah kami tahu
gulai tembusu jika dimakan serupa maut yang terburu.

 Amai bapak mabuk air tengguli,
matanya sesirah tungku berapi,
punggungnya tipis diketam tangan sendiri.

Amai bapak mabuk tengguli,
mulutnya berasap bara disiram,
dadanya kembang-kempis menahan tangis.

Kandangpadati, 2012/13


Teringat Lansano
buat Indrian Koto

Teringat Lansano,
teringat temali dipaut tapi perahu tetap hanyut

ah, masalalu selalu seperti perempuan pecemberut.

Tapi setelah jalur penghabisan ini
adakah pada teratak itu aku pulang? Teratak dengan
batang-batang kapas gadang dan sihir masalalu
penuh cerita orang demam, cerita orang kena tinggam.

Teringatingat Lansano,
teringat bagan berangkat tenang meski laut selalu gamang

duhai, benarkah itu masalalu yang memburu.

Sebab pada teratak itu yang beranjak ke arah tikungan
akan terus hilang, yang tinggal adalah kalimat terbuang
dan pada batas mana hidup akan berpegang.

Kandangpadati, 2013


Angin Pedalaman

Ke arah hitam langit, kecuali keliaran lelawar
bulan telah sepenuhnya susut dan cakrawala kini barangkali cuma
kuburan bintang mati.

Pada akhirnya aku sajakkan juga, Irma, yang begini
yang seperti ini, seperti bintang mati. sebab malam tinggal biru
suam pada punggung ketika dendang-dendang pelayaran
itu mulai digerutukan, mulai didendangkan. Perlahan.

Beginilah cara angin pedalaman mengirim itu sakit, ke arah langit
semua disemburkan, semua diledakkan.

Tapi aku tetap memandang ke arah langit. Meski sakit itu
tak bentuk dan aku terus membayangkan jauh di balik lengkung
cakrawala, waktu akan terus menderu dan hari ini akan jadi hari lalu.

Kandangpadati, 2013


Tentang Kota Ini

Kota ini telah memberitahu banyak hal pada kita
akhir tahun dengan hujan gaduh, pohon trembesi rubuh
kapal-kapal dikaramkan gelombang, himpunan cahaya
cerlang yang membuat kita mengerti bahwa sebuah doa
senantia bisa diungkapkan dengan berlain cara.

Beginilah kota ini membuat kita untuk terus mengerti
bahwa orang-orang akan selalu datang sebentar
untuk kemudian menghilang tanpa kabar.

Kandangpadati, 2013



Esha Tegar Putra
Lahir di Solok, Sumatera Barat, 29 April 1985. Menulis puisi, cerpen dan esai, dipublikasikan di berbagai media dan antologi bersama. Diundang baca karya dalam sejumlah ivent sastra seperti Temu Penyair Empat Kota di Yogyakarta (2007), Temu Sastrawan Indonesia II di Pangkal Pinang (2009), Ubud Writers & Readers Festival di Bali (2009), dan Salihara-Utankayu Biennalle 2011. Pinangan Orang Ladang (2009) adalah buku kumpulan puisinya yang pertama. Selain menulis, ia juga mengajar di Jurusan Sastra Indonesia Universitas Bung Hatta, Padang.
KOMENTAR
Terbaru
Senin, 19 November 2018 - 11:15 wib

Buaya Pemangsa Bocah di Sontang Ditangkap Warga

Senin, 19 November 2018 - 11:00 wib

Balap Liar Mulai Marak

Senin, 19 November 2018 - 10:45 wib

Bahas APBD Sampai Tengah Malam

Senin, 19 November 2018 - 10:36 wib

LAM dan Polda Sepakat Ciptakan Pemilu Damai di Riau

Senin, 19 November 2018 - 10:30 wib

Sepakat Tak Sebar Hoaks

Senin, 19 November 2018 - 10:16 wib

Sejumlah Temuan BPK Belum Dikembalikan

Senin, 19 November 2018 - 10:16 wib

HUT Ke-61, PAPDI Gelar Pengabdian Masyarakat

Senin, 19 November 2018 - 10:00 wib

Bayi dari Hasil Hubungan Gelap

Follow Us