Corny Jazz

Minggu, 18 Mei 2014 - 15:13 WIB > Dibaca 3446 kali | Komentar

Jazz itu menyerbuk dan mengangkat. Di sebuah kota nan gemeretap, jazz jadi penanda kisah tentang air mata yang meleleh. Di New Orleans, tempat jazz disemai dan bersemi. Satu sudut kota tepi Misisippi ini menjelaskan kepada yang putih, bahwa yang hitam itu berada, ada dan mengada. Karena hitam, putih menjadi terang. Tersebab zwart, blanco jadi titik bermakna. Kami, yang hitam jadi dada penjelas untuk keberadaan titik nan putih. Lalu, kota-kota bangsa putih kian dikenal dan kemilau, tersebab hitam yang bersenandung dalam kemasan sentak, falsetto, sket singing, gerutu tanpa makna. Ya, mereka menyeduh bunyi, bukan suara.

Bertanding bunyi, bersanding bunyi. Itulah jazz yang ditingkahi gerak. Suara (voice), tak merona dalam genre musik ini. Bunyi (sound) lah yang jadi mahkota. Ke mana-mana bunyi melengkung, lurus, melengking, sergah dan bas, sebagai bahan baku olahan dalam kerimbunan bebunyi instrumen musik. Kota-kota orang putih kemudian disulap seakan berada di puncak-puncak bukit, becermin kemilau teluk, selat, sungai dan samudera. Kota-kota orang putih lalu menjadi model kota-kota dunia dan mendunia. Karena mereka memikul jalur dan kisah serba alternatif yang diusung oleh manusia hitam. Mutiara hitam ini ialah bintang surga yang terjun dan meluncur untuk membangun konsientia bagi orang putih. Agar putih merefleksi diri, menukil diri dan menajam kemanusiaan. Bahwa kita setara dan segema dalam duduk dan bunyi yang tersentak.

Kota-kota di belahan timur juga sibuk menyusun dan menyerbuk diri menjadi kota-kota dunia. Karena jazz bisa dan akrab dengan sejumlah himpunan tematik, maka jazz diusung dalam ras gunung, rasa samudera, rasa selat, rasa sungai, rasa, danau, rasa lembah, bahkan rasa rawa. Sebelum ini, jazz diusung dalam rasa etnik, rasa puak dan bangsa. Agar terkesan go green (saujana hijau) jazz dilekat dengan segala penanda alam yang dilem dalam kekenyalan surrealis. Seakan teluk, laut, sungai, danau, samudera, gunung, ngarai, rawa dan paya bersenandung dalam desau serba jazzy. Lalu, kota-kota yang ingin mentabalkan dirinya untuk digoda sebagai kota-kota dunia, maka jazz menjadi instrumen penyerbu sekaligus penyerbuk. Jakarta dengan Java Jazz dan Jak Jazz. Lalu, Bandung dengan sejumlah penikmat jazz dengan aras intelektual, ada Yogya dengan gaya kampung, Pekanbaru dengan Malacca Strait Jazz, Makassar dengan Fort Rotterdam Jazz, Surabaya, Samarinda dan Balikpapan. Bali, menjadi “taman Eden” pelaku jazz dunia. Wah,…. Kini Manado.

Manado, sebuah kota manja yang tergeletak di teluk dalam kawasan basin Pasifik. Ini kota dengan sejumlah perjumpaan dunia, sebuah kota dengan sejumlah persilangan cerdas antar benua dan antar samudera. Sebuah kota yang seksi dari segi gaya dan kaya bebunyi. Sound (bunyi) seakan mendapat tahta di kota ini. Jazz hadir di Manado dalam rasa lautan Teduh. Bebunyi air dan riak alun gelombang menjadi penyuling recupnya bunga-bunga hingga menyentak Tomohon. Dan ROSE hadir dari Riau, karena Rida. Riau berkuda dengan ROSE, Rida melontar bunyi “tak” dengan “t” kecil. “t” kecil ini menggulung bak embun di lidah ketika yang mendarasnya seorang jelita Kawanua (turunan) bernama Corny. Saya menyandingkan kata ROSE dengan Corny. Sebuah nama panggilan manja untuk Cornelia Agatha.

Wah, Rida K Liamsi menyeduh jazz? Selama jazz di Pekanbaru, dia tak pernah hinggap di reranting jazz. Ini, jalan proses, jalan “menjadi”, bukan memiliki. Rida tak pernah “memiliki” jazz. Dan bagi Rida, jazz ialah jalan “menjadi” (to become), bukan “memiliki” (to having). Untuk menjadi, Rida menyunting media perantara untuk menjilat jazz. Media itu “bunga” dan “wanita”; ROSE dan Corny. Mungkin bunga menurut saya, tapi “tak” menurut Rida. Mungkin “wanita” versi saya, tetap “tak” simpul Rida. Inilah jalan jazzy. Lalu, saban orang yang menyapa jazz, apalagi melantun jazz, pasti merasa dialah yang paling handsome, paling gagah, paling sanggam. Maka, jazz ialah “gaya hidup”. Jazz itu, memuda, menggali, menggali dan memuda terus dan terus.

Corny ialah media jelita untuk mengusung bunyi (kata-kata dengan sentak serba “tak”). Lalu, jazz menghadirkan diri di sebuah kota di teluk dalam, untuk menyeruakkan diri dan mengumumkan dirinya, bahwa kami telah masuk dalam “rezim” kota-kota dunia. Karena kami memanfaatkan dengan cergas dan cerdas instrumen penakluk dunia bernama musik. Dan musik yang dipilih untuk menyapa dan menyentak dunia itu masuk dalam aras dan kategori “Mawarnya Musik”. Ya, jazz ialah mawarnya musik. Lalu puisi ialah mawarnya sastra. Dua mawar bersua dalam sebatang tubuh Corny yang mengembunkan bunyi serba “tak” dari larik dan bait puisi Rida dari Riau yang menyergah langit Kawanua.

Rasa rinduku padamu ROSE/ adalah kuda/ di padang terbuka/ tak henti lari/ tak sian g tak malam/ tak panas tak hujan/ tak perih tak luka/ tak satu tak dua/ tak/ tak/ tak/ tak nyerah/ tak kalah/ tak menyimpan pedang/ tak gantung kapak/ tak kemas tali/ tak kubur mimpi/ tak sebelum rinduku/ tenggelam dalam kalbu/ tidur dalam nadimu… seakan bersenda, berepistemi dengan bunyi “tak”. Ini jalan jazzy bebunyi Melayu yang menyentak.”tak”, bukan dimensi negatif, bisa berdimensi positif. Bukan pasif, tapi bisa pula aktif. Bukan regresif, tapi juga progresif. Yang jelas, “tak” itu menguar anti kemapanan, anti mitos, anti doktrinal. Dan Corny? Dia sosok yang menggeluti serba “anti”; dulu pemain sinetron, lalu nyanyi, lalu teater. Lalu diam berkemas, dan diam-diam merantingkan kuncup mawar jazz di paruh usia seorang wanita era “perak” sebelum masuk “golden era”.

Rida dan Corny (Cornelia) itu pemilih dan memilih. Dia dan Corny ternyata mampu memilih dan meniti jejalan sempit ranting jazz yang menjuntai di sebuah kota yang sedang gemeretak. Di ujung semenanjung Kawanua sana. Tak di Riau, tak Johor, tak Melaka, tak pula tanah Jawa. Maka, menggenaplah!!!
KOMENTAR
BERITA POPULER
Alamak... Istri Ketahuan Selingkuh dengan Brondong Penghuni Kos

Alamak... Istri Ketahuan Selingkuh dengan Brondong Penghuni Kos

24 Feb 2018 - 00:02 WIB | 509 Klik
Joko Widodo Sebut Siapa Nama yang Akan Dampingi Maju sebagai Capres

Joko Widodo Sebut Siapa Nama yang Akan Dampingi Maju sebagai Capres

24 Feb 2018 - 00:09 WIB | 418 Klik

Proyek Tol Dievaluasi

24 Feb 2018 - 09:24 WIB | 65 Klik
Ribuan Ikan Mengapung di Sungai Kerumutan

Ribuan Ikan Mengapung di Sungai Kerumutan

24 Feb 2018 - 09:02 WIB | 61 Klik

APBD Rohul 2018 Dibatalkan Masyarakat Diminta Tenang

24 Feb 2018 - 09:28 WIB | 39 Klik

Follow Us