Menjadi, Bukan...

Minggu, 11 Mei 2014 - 08:02 WIB > Dibaca 3435 kali | Komentar

Wisata kemiskinan sepanjang pantai timur. Mengapa terjadi? Karena kawasan ini terbiar, diabai dalam gemuruh dan lalu lintas pembangunan kesadaran. Walhasil, kita hanya mengurus kesadaran orang-orang digaris-garis muda. Garis-garis baru. Bukan garis romantik kampung-kampung tua sepanjang selat Melaka. Juluran garis sejak Kubu di Rokan Hilir hingga Enok di selatan batas Jambi, seolah tiada derap kepedulian dan kesadaran membangun. Ada pembangunan, tapi tak serancak apa yang terjadi di pusat remote Pekanbaru. Pembangunan di Riau seakan hanya bertumpu di kota besar bernama Pekanbaru.

Seakan anggaran yang besar dicurah di sebuah titik saja. Negeri-negeri bawah angin Pekanbaru harus menjalani masa-masa senyap. Terutama kawasan pantai timur Riau. Kawasan ini menjadi wajah terdepan kita dengan kekayaan bangsa lain. Dia menjadi selasar atau koridor, serambi atau teras depan rumah besar bernama Riau. Selasar yang salah, serambi yang malap, teras yang rapuh. Lalu di seberang sana, manusia semenanjung membangun kecemerlangan puncak capaian ekonomi yang menusuk langit akal ekonomi. Dan selanjutnya? Manusia Riau terkecoh hendak menjadi bagian dari kemajuan semenanjung. Namun, tak kan kesampaian. Dia dipisahkan oleh jarak  batas negara politik yang tak mungkin direngkuh. Walhasil kenyataan cerlang di seberang sana, hanya jadi sandaran membangun angan-angan manusia Riau tentang kemajuan, tentang gerak progresif gelegak pasar dan mekanisme pasar yang tak terengkuh oleh kesombongan Riau semata.

Kita tak mesti menjadi seperti semenanjung. Tapi, menjadilah diri sendiri. Jadilah Melayu dengan cara kita, dengan jalan kita. Tak mesti meniru apa yang ada di seberang sana. Seberang adalah ihwal seberang, sebaliknya, kita adalah ihwal kita. Ketika kita bisa membangun garis batas dan jarak kesadaran antara sana dan sini, maka kita akan berdiri di atas fondasi realitas. Selama ini kita tegak di atas fondasi besar tapi ditopang oleh sejumlah “kebohongan”. Kita menegakkan pilar kebesaran Melayu dan keagungan Riau dalam wilayah imajinasi menyesatkan. Kita mengalami penyasaran demi penyasaran dalam pelayaran panjang kebudayaan. Kita memang mencapai, tapi yang kita capai tak lebih dari angan-angan, atap angan, pucuk imajinasi. Tapi tak pernah membumi. Untuk itu kita harus melakukan tindak balik, mencari ruang-ruang baru untuk membangun tapak pijak sebenarnya.

Di tapak pijak inilah, walau sempit atau kecil, namun tapak ini diisi dengan “kebenaran-kebenaran” kebudayaan. Maka dampak ikutannya, kita baru bisa membangun kebesaran di atas realitas walau ditopang oleh fondasi yang kecil. Lebih realistis, dari pada kita berkicau di atas tapak kebohongan menyesatkan. Selama ini kita dihanyutkan oleh sejumlah mitos yang menyesatkan. Tiada memberi daya tarung, ketika berdepan dengan kekuatan dan keperkasaan orang lain. Kita membangun Riau demi memudahkan gerak menuju semenanjung. Ini sebuah fantasi yang tak berpijak di atas tapak kebenaran realistik. Sejatinya, kita membangun Riau, adalah bagian dari cara membahagiakan tetangga-tetangga jiran bernama Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jambi dan Kepulauan Riau. Dampak dari kemajuan Riau memiliki eskalasi gradatif terhadap provinsi tetangga itu. Sehingga dia menjadi wacana dan paradigma yang seksi bagi Jakarta untuk meluahkan waktu dan bantuan kepada Riau.

Sebab, kehadiran Riau menjadi pemicu bagi persemakmuran Sumatera, sekaligus kepada Indonesia. Kita sudah mencoba paradigma pembangunan dengan orientasi selat Melaka, selama hampir 15 tahun. Namun paradigma ini tidak menjadi sesuatu yang menggoda bagi Jakarta. Paradigma ini harus diubah, harus disesuaikan dengan kenyataan-kenyataan politik dan kebudayaan. Menjadi Melayu, sejatinya bisa di dalam sangkar besar bernama Indonesia. Menjadi Melayu, tidak mesti “menjadi” Malaysia. Selama ini, kita mengalami pengecohan kebudayaan, penyasaran kebudayaan dan penyesatan konstruksi kebudayaan. Lalu, paradigma pertama yang ingin meletakkan diri dalam wadah gemuruh regional, Riau tampil gagal. Bukti gagal? Lihatlah capaian visi 2020 itu. Dan rasakan. Tak perlu dijawab dan dipertengkarkan.

Pergeseran paradigma itu, sebuah imperatif, sebuah kepastian dan perintah kebudayaan jika kita hendak berlari di dalam keindonesiaan ini dengan bijak. Jangan dibawa lagi rakyat ini dalam sejumlah “dunia fantasi” mengenai langit yang tak mungkin dijangkau. Yang hendak diselesaikan dalam penyelesaian-penyelesaian naratif itu, hendaklah sesuatu dengan kadar yang nampak di depan mata. Namun, berdampak jauh ke masa depan. Riau, hari ini masih berhadap dengan persoalan infrastruktur akses kampung ke kampung, kampung ke kota, kampung ke akses-akses pasar dan pusat perubahan. Ini tak lebih dari persoalan klasik yang tak pernah diselesaikan secara tematik dengan tumpuan perhatian yang besar oleh pemerintah sebelumnya. Perhatian hanya setingkat wacana; mau itu, mau ini.

Ini jualan yang tak laku lagi. Ini produk yang tak seksi lagi dalam gempita dunia nan berubah cepat. Untuk itu, mulailah dari batang tubuh birokrasi yang kaya namun rapuh itu. Birokrasi selama ini terkesan bermental paduka, yang kemudian disambut secara bergempita oleh lembaga-lembaga pucuk adat yang menjadi mainan orang-orang kota. Bukan oleh masyarakat yang berbasis komunitas adat. Adat secara lembaga dipermainkan, menjadi lembaga yang menempel pada struktur negara. Adat diterjemah sebagai struktur lurus dengan struktur negara yang baru datang kemudian. Sejatinya, tidak harus demikian. Maka, menjadi Melayulah dalam Riau. Maka, kita harus belajar pula menjadi Melayu di dalam Indonesia. Menjadi Melayu dengan rasa Indonesia, bukan rasa Malaysia. Inilah sejumlah kesesatan yang tengah berlangsung dan sedang dilayari. Kita tengah berdepan dengan gempa pemikiran, tsunami pemikiran, tentang perubahan yang datang, tidak dengan assalamulaikum. Haii wahai!!!…***
KOMENTAR
BERITA POPULER
Alamak... Istri Ketahuan Selingkuh dengan Brondong Penghuni Kos

Alamak... Istri Ketahuan Selingkuh dengan Brondong Penghuni Kos

24 Feb 2018 - 00:02 WIB | 509 Klik
Joko Widodo Sebut Siapa Nama yang Akan Dampingi Maju sebagai Capres

Joko Widodo Sebut Siapa Nama yang Akan Dampingi Maju sebagai Capres

24 Feb 2018 - 00:09 WIB | 419 Klik

Proyek Tol Dievaluasi

24 Feb 2018 - 09:24 WIB | 67 Klik
Ribuan Ikan Mengapung di Sungai Kerumutan

Ribuan Ikan Mengapung di Sungai Kerumutan

24 Feb 2018 - 09:02 WIB | 61 Klik

APBD Rohul 2018 Dibatalkan Masyarakat Diminta Tenang

24 Feb 2018 - 09:28 WIB | 42 Klik

Follow Us