Ruang Baru

Minggu, 04 Mei 2014 - 10:55 WIB > Dibaca 3185 kali | Komentar

Bila hendak berbuat dan membangun, datangilah ruang-ruang baru. Jauhi ruang-ruang lama yang sudah ringkih dikeruk, dikorek, ditimbus dan direbus aspal. Ruang-ruang yang senyap dan sepi, sejatinya menyediakan dirinya bagi tegaknya monumen, penanda dan ingatan ke masa depan. Dia sebuah ruang masa lalu dan kekinian yang tergeletak bisu dan gagu. Di atas kebisuan dan kegaguan itu pula Gabriel Garcia Marquez sang sufi surrealisme itu menemukan nyawa karya; sehingga kayu, bukit, batu, air, tanjung dan teluk bernyawa. Kenyataan historikal yang “sebenarnya” mengalami candaan dalam dunia seolah-olah. Kenyataan kalender yang bergerak menjalani tahun-tahun diam, menjadi seakan-akan. Begitulah Marquez mengolah sejarah dalam ucapan-ucapan “menjadi”, “menyawa” dan seakan.

Riau dalam dua bulan ini sedang berlangsung adu nyali. Nyali yang menggiring pada kondisi homeostasis. Jelang tiba ke altar homeostasis itu, kenyataan serba bergolak. Inilah masa transisi, masa olak, masa arus balik kian mengeras. Sebab kita sudah menjalani fase-fase hidup dan berpemerintahan yang dalam model biasa-biasa saja (business as usual). Kenyataan biasa-biasa saja ini telah berlangsung sekitar 30 tahun. Pemimpin itu serba mengalami sakralisasi yang berlebihan; berpakaian, cara berjalan, digemuruhkan dengan tepukan ketika dia masuk, serba manis tampil di ruang public, hemat berkata dan berujar, senang dikelilingi pemburu berita, kemudian dia menjadi mahkota media yang memenuhi dada media saban hari. Sehingga toada lagi berita dalam sisi orang-orang kalah di kampung-kampung. Berita pembelaan terhadap si miskin, kehilangan porsi bahkan rubrik.

Pada tahap beginilah yang “seolah-olah” mengalami tahap sejati. Yang “seakan-akan” menjadi sebenarnya. Inilah tipuan dimensional, tipuan ekstraksi yang disebabkan oleh kegamangan eksistensial. Kita menjalani tahap-tahap yang di luar aluar serba biasa. Ketika kita termabukkan oleh ihwal serba biasa itu, ketika berdepan dengan kenyataan serba tak biasa, kita menyebutnya sebagai abnormalitas. Padahal, secara tak asadar sedang berlangsung proses desakralisasi terhadap yang “seakan-akan” dan “seolah-olah” itu dari mahkota pucuk menuju ruang marjinal sejuk dan gagu. Lalu kalah.

Dan orang-orang yang memenangkan masa lalu secara berlebihan itu mengalami kekalahan eksistensial, ketika mereka berdepan dengan sesuatu yang tak biasa. Maka, datangilah ruang-ruang baru dengan rasa kritis dan datangi ruang-ruang baru dengan besar jiwa dan menangkapnya dalam kaidah serba alternative. Di dunia ini, taka da kebenaran tunggal. Dulu kita menganggap seorang gubernur itu tampil sebagaimana yang dikreasi oleh konstruksi sosial serba wah, serba wangi, serba teratur dan kemas. Namun, saat ini kita menemukan kenyataan yang berbeda, berseberangan dengan konstruksi sosial selama ini. Kita memandangnya sebagai semak samun yang mesti dihumban, ditemas, hingga tak menjadi samun. Lalu, kita pun melakonkan diri menjadi para penyamun di tengah semak samun itu. Samun dan semak ialah ruang-ruang baru yang amat seksi dan menggoda untuk menegakkan sebatang momumen yang bercerita tentang perjalanan jatuh dan bangun sebuah negeri.

Jika didatangi secara kritis, kita menemukan bahwa kitalah yang tengah menjalani fase abnormalitas yang seharusnya dibongkar dihumban jauh-jauh ke ruang-ruang baru. Jika itu yang terjadi, malah kita menambah masalah dan siap meledakkan picu perang besar; baik ide maupun peran sosial. Dan yang terakhir ini bukan rumus bagi orang-orang berperadaban. Dan jalan yang mesti ditempuh oleh manusia beradab, demi keadaban dan peradaban itu, ialah goncangan. Suka tak suka, kita yang berkeinginan dan bermimpi terhadap kenyataan melodius ke depan, harus berhadap dengan serangkaian gegar. Namun, gegar ini hendaklah dinikmati sebagai getar rima dan melodi yang menghanyutkan secara filosofik dan sufistik. Di sini fungsi ilmu yang masuk ke hati sebagai hikmah, yang membuat orang menjadi bijak, tidak pintar. Selama ini kita mengaut ilmu melalui jalur kuliah. Jalur ini hanya menghasilkan orang-orang pintar, tapi tak bijak. Ingat, setiap orang pintar, belum tentu dia seorang yang bijak.

Namun, setiap orang yang bijak, pasti dia seorang yang pintar. Dan peradaban memerlukan itu. Peradaban adalah rumus dalam perkalian dan pembagian para orang bijak.
Untuk itu, tempuhilah ruang-ruang baru. Datangilah ruang baru. Jika hendak bertindak, dan menikmati rasa yang lain, lakonlah rasa-rasa yang baru. Jangan memberhalakan rasa yang serba lama, doktrinal, mitologi beku terhadap masa lalu,sebuah konstruksi mematikan ruhani. Kita memimpikan kehidupan yang berbahagia. Namun, jelang kebahagiaan itu terjelma, suasana kemaruk, carut-marut, akan beterjangan menghiasi rumah-rumah kita, sekolah dan kantor. Inilah tahap pembongkaran, tahap dekonstruksi.

Secara fisik, ruang-ruang baru itu bernama Okura dan Geringging di kota Pekanbaru. Jika hendak besar dan ranggi bangunlah garis-garis besar di Okura dan Geringging. Tak perlu menukangi garis jalan Sudirman yang amat ringkih itu. Jika hendak rasa nan lain, letakkan Malaysia dan Singapura dalam dimensi “ancaman”, sehingga kita melukis ruang-ruang baru sejajar selat Melaka sebuah bentang garis dari Asahan batas Sumut, menuju Pasir Limau Kapas - Kubu - Padamaran - Bagan - Sinaboi - Dumai - Bukitbatu - Buton - Telukmeranti - Sokoi - Kateman - Guntung - Tembilahan - Kuala Enok dan sampai batas Jabung Jambi. Inilah garis coastline expressway yang akan dibangun Annas untuk menghidang rasa baru. Dan garis ini berbicara tentang bagaimana menghadap ruang selat Melaka yang selama ini menjadi ruang perdagangan manusia, narkotika dan obat terlarang, bahkan bukan tak mungkin penyeludupan senjata dan dimensi terorism.

Ini sarat dengan isu pertahanan nasional (national defence). Di samping garis bolak-balik silaturahim bagi orang Tembilahan yang hendak bepergian ke Bengkalis, tak mesti melapor dulu ke Pekanbaru. Orang Pasir Limau Kapas di Rohil hendak ke Jambi, tak mesti menempuh garis konvensional selama ini. Dan inilah rasa yang baru nan terhidang berkat kemampuan membaca peta yang tak biasa. Di Teluk Meranti, Guntung, Tembilahan dan sungai Gangsal dan Enok bakal berdiri jembatan raksasa di muara-muara sungai. Demi melayani ruang-ruang baru dan rasa-rasa serba baru. Ya, dekonstrusi tentang kebaruan.***
KOMENTAR
BERITA POPULER
Alamak... Istri Ketahuan Selingkuh dengan Brondong Penghuni Kos

Alamak... Istri Ketahuan Selingkuh dengan Brondong Penghuni Kos

24 Feb 2018 - 00:02 WIB | 509 Klik
Joko Widodo Sebut Siapa Nama yang Akan Dampingi Maju sebagai Capres

Joko Widodo Sebut Siapa Nama yang Akan Dampingi Maju sebagai Capres

24 Feb 2018 - 00:09 WIB | 419 Klik

Proyek Tol Dievaluasi

24 Feb 2018 - 09:24 WIB | 66 Klik
Ribuan Ikan Mengapung di Sungai Kerumutan

Ribuan Ikan Mengapung di Sungai Kerumutan

24 Feb 2018 - 09:02 WIB | 61 Klik

APBD Rohul 2018 Dibatalkan Masyarakat Diminta Tenang

24 Feb 2018 - 09:28 WIB | 40 Klik

Follow Us