Jenawi

3 Maret 2013 - 01.45 WIB > Dibaca 6757 kali | Komentar
 
Jenawi
Tiada senjata seindah pedang. Jauh sebelum manusia mengenal era senjata dan artileri bertenaga tinggi yang berhadapan langsung dalam pertempuran, pedang telah memainkan peranan penting. Dulu, selain ahli strategi militer, panglima perang juga adalah ahli pedang nan piawai. Dalam beberapa kebudayaan, pedang biasanya memiliki prestise lebih dan paling tinggi jika dibanding senjata lain.

Untuk para ‘singa’ medan tempur, pedang dibuat oleh pandai pedang termashyur. Ia dihias sedemikian rupa bahkan ada yang berlapis emas serta diberi nama-nama yang indah. Ia pun dibuat dengan berbagai teknik. Ada yang terbuat dari baja yang dikeraskan selama 100 kali. Bahkan ada pula yang dibuat dari campuran pedang dari 100 tentara musuh untuk memperlihatkan ketangguhan.

Dalam banyak tradisi seperti Shogun dan klan Napoleon Bonaparte, pedang senantiasa diwariskan dari generasi ke generasi. Pedang juga merupakan penyambung sejarah yang penting dalam menunjukkan hubungan antara negara.

Dalam sudut pandang Islam, pedang adalah salah satu simbol yang dikagumi banyak orang. Zulfikar adalah pedang yang diberikan Nabi Muhammad Saw kepada Syaidina Ali ketika Perang Uhud. Di lain masa, Khalid Bin Walid mendapat julukan dari Rasulullah sebagai ‘’Pedang Allah yang Terhunus’’.

Saat Perang Salib, pasukan Eropa dikejutkan oleh pedang pasukan Arab dan Persia. Pedang mereka dengan mudah menembus baju zirah pasukan crusader, bahkan mampu membelah tameng. Semua itu tak lain karena pedang damaskus yang terbuat dari baja yang diolah dengan teknik khusus. Permukaannya sangat kuat dan tajam tak terkira.

Teknik pembuatan pedang ini begitu rahasia sehingga hanya beberapa keluarga pandai besi di Damaskus yang menguasainya –yang juga jadi penyebab teknik pembuatan baja Damaskus akhirnya punah. Hingga kini, teknologi metalurgi yang paling canggih sekalipun belum mampu membuat pedang yang lebih tajam dari pedang damaskus. Ia sekaligus ditahbiskan adalah pedang yang paling tajam di dunia, lebih tajam daripada katana Jepang maupun keris Nusantara.

Baja Damaskus juga sangat lentur sehingga betul-betul sempurna untuk dijadikan pedang atau pisau. Pedang ini mampu membelah sutera yang dijatuhkan ke atasnya. Juga mampu membelah pedang lain atau batu tanpa rusak sama sekali. Sebuah penelitian mikroskopik menemukan, pedang ini ternyata memiliki semacam lapisan kaca di permukaannya. Ini bukti bahwa para ilmuwan muslim telah mencapai teknologi nano sejak seribu tahun yang lalu.

Setakat ini, meski beberapa ahli metalurgi modern mengaku berhasil membuat baja yang sangat mirip dengan baja Damaskus, namun tetap belum berhasil meniru seutuhnya. Sebab itu tak heran, pedang, tombak, dan pisau damaskus menjadi incaran museum di serata dunia.

Dalam alam Melayu, dikenal pula nama pedang jenawi. Mata pedangnya terbuat dari besi kualitas baja sedangkan hulunya terbuat dari tembaga. Pedang jenawi inilah yang dipakai oleh para mujahid Melayu di Riau sewaktu agresi menentang Belanda dalam kurun waktu 1947-1949. Daerah pertempuran yang cukup dahsyat antara lain adalah Cerenti dan Kuala Indragiri, di mana Pak Boyak (abang budayawan Riau Idrus Tintin) gugur sebagai syuhada.

Keunggulan pedang jenawi adalah bisa ditebaskan ke kiri dan ke kanan, di samping dapat menjadi tombak diarahkan ke depan. Dengan demikian pedang jenawi dapat memberikan ancaman dari tiga arah. Kalau orang Melayu sedang mengamuk dengan pedang jenawi, menentang musuhnya (kafir Belanda) maka dia dengan pedang jenawi akan mengatakan: “rambah ke kanan rambah kelayau. Rambah ke kiri rambah keladi”. Artinya, pedang itu bisa merambah sasarannya seperti lembutnya batang kelayau dan batang keladi: tidak terasa tapi mematikan.

Pedang jenawi hanya dipegang oleh para pejuang yang bukan sembarangan. Orang ini niscaya andal dalam bersilat tetapi lebih-lebih adalah orang yang cukup zuhud dalam Islam. Karena itu langkahnya, dipandang oleh anak buahnya bukan langkah sembarangan tapi langkah yang telah meminta ridha pada Allah Swt. Ia mungkin bersembahyang dua rakaat sebelum membawa pedang jenawi ke medan jihad.

Setiap orang, kaum dan negeri sejatinya memiliki ‘pedang’ dalam dirinya. Pedang itu bisa berwujud kecerdasan ilmu, ketangguhan raga, kekayaan sumber daya alam dan lain sebagainya. Tapi apa daya, semua ‘pedang’ itu menjadi musnah dan mansukh akibat keserakahan dan kecuaian kita memeliharanya.

Hutan yang dulu tak terpermanai, kini lesap seluas enam lapangan sepakbola per menit karena dijadikan areal perkebunan. Memang, sepintas kita merasa ‘kaya’ karena target produksi yang serba gergasi selalu tercapai dan menjadi produsen jumbo untuk komoditas tertentu.

Namun, semua harus ditebus dengan harga mahal. Khususnya bagi hutan hujan tropis dan kehidupan alam liar yang tinggal di dalamnya. Menurut studi Global Change Biology, selama periode 2000-2010, kawasan hutan seluas negara Denmark telah musnah di seluruh Indonesia. Dan penghancuran hutan ini tampaknya belum akan mereda dalam waktu dekat.

Kini, kicau burung telah berganti deru gergaji mesin. Ribuan satwa terusir dari habitatnya. Hutan alam yang dulu kaya ‘gizi’ dan menjadi lumbung pangan para hewan, kini bersalin rupa menjadi hutan tanaman industri yang miskin nutrisi. Ketika meminta sedekah ke kampung manusia, mereka justru menerima moncong bedil senapang. Sejumlah spesies pun terancam punah dan negeri ini tak putus dirundung bencana ekologis.

Keserakahan terhadap hutan juga berdampak pada suku-suku asli yang tinggal di pedalaman hutan. Ratusan konflik pertikaian lahan sudah mempengaruhi kehidupan ribuan warga masyarakat adat. Mereka terasing dan terusir dari tanah kelahirannya sendiri. Di wilayah yang lebih ‘elite’, kita terjejas oleh kleptokrasi, yakni birokrasi yang korup. Kiatnya bahkan telah berubah wujud dengan canggih dan sistemik serta menyeret kaum intelektual.

Kita sangka, pengganti yang kita dapat adalah seligi tajam bertimbal. Rupanya tak lain hanya sebatang kayu lapuk nan rapuh. Kita hari ini, tak lebih hanya dari barisan laskar yang membuang pedang dan meninggalkan zuriat yang tersandera hutang. Dan negeri ini adalah kuda tunggangan yang sudah ringkih, letih dan tertatih…***


Purnimasari
Pemimpin Redaksi Majalah Riaupos.co
KOMENTAR
Terbaru
Sabtu, 22 September 2018 - 15:49 wib

Menteri Keuangan Imbau Perusahaan Gunakan Rupiah

Sabtu, 22 September 2018 - 14:47 wib

Stroberi Berjarum Repotkan Australia

Sabtu, 22 September 2018 - 12:46 wib

Waspadai Akun Robot Jelang Pemilu

Sabtu, 22 September 2018 - 12:43 wib

Riau Pos Terima Dua Penghargaan dari Bawaslu

Sabtu, 22 September 2018 - 09:53 wib

Festival Zhong Qiu Berpusat di Jalan Karet

Jumat, 21 September 2018 - 23:41 wib

Event Tour de Siak Tahun 2018 Resmi Ditutup Bupati Siak

Jumat, 21 September 2018 - 19:00 wib

Dua Kali Runner up, SMA Darma Yudha Targetkan Champion

Jumat, 21 September 2018 - 18:30 wib

Tak Mudah Raih Maturitas SPIP

Follow Us