Depan >> Kolom >> Chaidir >>

Ilmu Padi

Senin, 28 Apr 2014 - 10:00 WIB > Dibaca 3711 kali | Komentar

Dimas Dikita Handoko (20), mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Marunda, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara, yang tewas dianiaya senior-seniornya (25/4) beberapa hari lalu, menambah panjang daftar kematian sia-sia anak muda kita.

Kekonyolan demi kekonyolan kembali terulang, terulang dan terulang. Masyarakat kita seakan tak pernah pandai belajar dari pengalaman.

Padahal kita memahami sebuah ungkapan klasik, bahkan keledai pun tak akan pernah terperosok ke dalam  lubang  yang sama untuk kedua kalinya.

Tapi kenapa peristiwa tragis seperti nasib yang dialami Dimas kembali terulang?

Kita sudah bukan sekali dua disuguhi berita yang menyedihkan dan menyesakkan dada seperti itu, baik ketika masa perpeloncoan maupun pasca perpeloncoan, yunior jadi bulan-bulanan sang senior, bahkan sampai tewas.

Bukankah yunior itu juga manusia? Bukankah sang senior juga manusia, yang mestinya punya akal budi?

Siapapun orangtua yang memiliki anak remaja, pasti berempati terhadap nasib malang yang menimpa keluarga Dimas.

Bersama Dimas kini terkubur cinta dan kerinduan orangtua dan saudara-saudaranya, masa depan dan juga hilangnya sebuah harapan.

Ke mana raibnya akal budi mahasiswa-mahasiswa senior (intelektual muda) yang melakukan penganiayaan itu?

Yunior adik-adik tingkat atau angkatan itu mestinya punya hak untuk dibimbing dengan semangat kasih sayang dalam jaket almamater. Yunior itu bukan bawahan bodoh dan lemah yang boleh diperlakukan sewenang-wenang oleh senior-seniornya. Bahkan institusi militer pun tak memperlakuan yuniornya seperti itu.

Yunior mungkin bodoh, mungkin salah, mungkin alpa, tapi tak ada hak senior untuk menghukum habis sang yunior, apapun alasannya.

Arogansi dan tindakan yang belebihan dari para senior yang sampai menimbulkan kematian yuniornya, baik akibat perpeloncoan maupun akibat ”pembinaan” sepanjang tahun, tidak akan pernah cukup diganti dengan hukuman atau denda apapun.

Seberat apapun hukumannya, tak akan pernah bisa menggantikan nyawa korban dan kesedihan keluarga yang ditinggalkan.

Penyesalan yang mendalam para senior itu pun tak lagi ada gunanya. Pihak institusi pendidikan mungkin akan mengatakan, biarlah Dimas menjadi martir, kejadian yang sama tak boleh lagi terulang di kemudian hari.

Tapi ungkapan klise seperti itu sudah sering kita dengar. Setiap kali ada kecelakaan perpeloncoan atau kecelakaan ”pembinaan" yang menyebabkan sang yunior tewas di sebuah institusi pendidikan, setiap kali kita mendengar biarlah itu menjadi kejadian terakhir, tak boleh lagi terulang.

Para pakar pun tak habis-habisnya memberikan pandangan, praktik-praktik seperti itu tak boleh lagi dilakukan. Beberapa pengamat bahkan menyebut dengan ekstrim bahwa cara-cara perpeloncoan dan pembinaan seperti itu dungu dan tak beradab.

Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Marunda, Jakarta Utara, tidak sendiri menggunakan cara  pembinaan disiplin dan rasa cinta almamater seperti yang dilakukan oleh mahasiswa seniornya itu, ada juga  institusi pendidikan lain.

Yang menjadi pertanyaan bagi kita, mengapa banalitas senior itu terjadi? Bukankah rasa hormat tak selalu harus diperoleh dengan unjuk kekuatan atau kekuasaan? Ingatlah  ilmu padi Pak Bro.***
KOMENTAR
BERITA TERBARU

Promo Spesial untuk Pelanggan Setia

21 Februari 2018 - 10:13 WIB

Perbaikan Jalan Ditimbun Kerikil

21 Februari 2018 - 10:10 WIB

Retail Sales Daihatsu Tembus 15.896 Unit

21 Februari 2018 - 10:08 WIB
Baru Enam OPD Sampaikan Laporan Keuangan Ditenggat Akhir Februari

Baru Enam OPD Sampaikan Laporan Keuangan Ditenggat Akhir Februari

21 Februari 2018 - 10:05 WIB

Outdoor Class, SD Cendana Duri Belajar ke Riau Pos

21 Februari 2018 - 10:00 WIB
Buat Surat Pengganti KTP-El

Buat Surat Pengganti KTP-El

21 Februari 2018 - 09:55 WIB

Biaya Operasional Tak Tertutupi

21 Februari 2018 - 09:50 WIB
Bupati Apresiasi Program YBM BRI Peduli Pendidikan  dan Pedagang Kurang Mampu

Bupati Apresiasi Program YBM BRI Peduli Pendidikan dan Pedagang Kurang Mampu

21 Februari 2018 - 09:47 WIB
BERITA POPULER
Ahok Akan Sampaikan Bukti Istrinya Selingkuh

Ahok Akan Sampaikan Bukti Istrinya Selingkuh

21 Feb 2018 - 02:17 WIB | 483 Klik
KFC Tutup Ratusan Restorannya

KFC Tutup Ratusan Restorannya

21 Feb 2018 - 01:16 WIB | 387 Klik
Seorang Pengamat Menganalisa Jokowi Bisa Ditinggal PDI Perjuangan

Seorang Pengamat Menganalisa Jokowi Bisa Ditinggal PDI Perjuangan

21 Feb 2018 - 00:31 WIB | 377 Klik
Bagi Budi Waseso, BNN Tetap di Hati

Bagi Budi Waseso, BNN Tetap di Hati

21 Feb 2018 - 00:02 WIB | 320 Klik
Retail Sales Daihatsu Januari 2018 Tembus 15.896 Unit

Retail Sales Daihatsu Januari 2018 Tembus 15.896 Unit

21 Feb 2018 - 01:56 WIB | 250 Klik

Follow Us