Burung Kematian

3 Maret 2013 - 01.11 WIB > Dibaca 10666 kali | Komentar
 
Burung dheris yang sering berlalulalang menyuarakan bunyi seperti sobekan kain kafan yang disimbolkan dengan kematian pada salah satu keluarga yang menjadi tempat beterbangannya tidak asing lagi di daerah Kalangka. Di mana Sahri dan keluarganya berkediaman. Kebetulan pada malam itu Sahri sedang duduk bersama sanak keluarganya di teras rumahnya yang sederhana ala bangunan rumah joglo kuno. Kepulan asap rokok yang terbuat dari lapis daun jagung itu mulai menyusuri sudut-sudut rumahnya.

Isa, mertua Sahri meremek jagung untuk digilas. Sedang Hafifah, anak Isa mengemong anak Sahri yang masih berumur lima tahun. Lainnya masih sibuk dengan perbincangannya masing-masing.

Batuk para kakek terdenger sesaat akibat menghisap rokok kulit jagung yang begitu serang bagi hidung dan tenggorokan. Ketika mereka berada dalam perbincangan yang penuh penghayatan tentang Belanda dan Jepang yang menjajah daerahnya, tiba-tiba terdengar suara mengerikan sekali.

Kress...

Bagaikan bunyi kain kafan yang disobek untuk membungkus mayat. Bulu-bulu kuduk mulai berdiri mendengar bunyi tadi. Sejenak perbincangan mulai mereda mengulang untuk mendengar dengan jernih bunyi yang sepintas begitu saja langsung hilang. Sahri dengan buru-buru keluar dari bawah atap rumah. Melongok ke sana ke mari mencari arah burung tadi. Namun sayang, karena malam terlalu pekat tak ada bayangan yang menunjukkan burung tadi. Pada saat itu kebetulan bulan sedang capek setelah dua puluh delapan hari menyinari halaman rumah Sahri selama bulan Rajab.

Pipa, ada ya burung yang berbunyi tadi? tanya Isa pada Sahri dengan memanggil nama pengganti dari istrinya, Hafifah. Namun karena orang daerah itu sulit untuk bilang Hafifah jadinya dipanggil Hapipah. Atau mungkin untuk memudahkan memanggil nama seseorang yang dianggap sulit pengucapannya.

Gak ada bu, terlalu gelap, jawab Sahri putus asa sembari kembali ke tempat semula ia berbincang-bincang dengan para sanak keluarganya. Duduk dengan menekukkan kaki ke belakang sembari menopangkan kedua tangannya ke belakang.

Suasana mulai sedikit menegang dan dinginnya malam menyelimuti kulit-kulit kasar Sahri. Burung itu tidak berbunyi lagi. Biasanya berbunyi sampai tiga kali jika kematian itu sudah dekat. Keluarga Sahri membereskan tempat tidurnya untuk memulai aktivitasnya ke alam nan jauh di sana. Lampu-lampu dari kaleng susu cap nona mulai hilang sinarnya lantaran mereka menghemat minyak tanah yang dimilikinya. Tanpa listrik, karena kampung Sahri tertinggal dan jauh dari jangkauan listrik.
***

Tanggal satu bulan Syaban kini tiba, bulan mulai lagi mengumbarkan senyum di ufuk barat rumah Sahri. Kebiruan langit yang penuh pernak-pernik gemerlapan bintang membuat rumah Sahri terang benderang. Halaman rumah bagaikan laut yang biru. Biru karena sering anak-anak kecil kencing di sana-sini setelah bermain di siang hari.

Warna biru akibat kencing anak-anak kecil tak membuat para tetangga jijik. Tak seorang pun dari mereka yang mencemooh keadaan yang seperti itu. Karena selain keluarga Sahri rata-rata berperilaku baik terhadap para tetangganya, bau pesing akibat kencing tidak tercium oleh tetangganya. Sehingga hal-hal yang menjijikkan saat itu tidak dirasa sama sekali. Memang menjadi kebiasaan para tetangga dan keluarga Sahri jika awal bulan mereka jarang berkumpul untuk berbincang-bincang bersama. Mereka harus menunggu sampai bulan terbit separuh agar halaman rumah Sahri menjadi terang benderang. Keadaan yang seperti itu memang ditunggu-tunggu oleh Sahri dan para tetangganya agar bisa bekumpul berbagi nasib dan curhatan satu sama lain.
***

Tepat pada tanggal delapan bulan Syaban. Bulan kini terbit lebih dari separuh. Sinarnya memberikan secercah kebahagiaan bagi keluarga Sahri dan para tetangganya. Acara kumpul-kumpul bersama kini mulai terjalin kembali di bawah ranumnya sinar sang rembulan. Angin menerpa daun-daun kelapa hingga bayangannya melambai-lambai di halaman rumah Sahri.

Berbagai makanan dihidangkan oleh keluarga Sahri di tempat biasa mereka ngobrol. Hidangan dari para tetangga yang dibawa dari rumahnya. Karena pada bulan Syaban mayoritas masyarakat merayakan dengan selamatan untuk bulan Syaban. Istilahnya di daerah Sahri itu disebut Syabanan. Hidangan yang dibawa oleh para tetangganya dihidangkan kembali oleh keluarga Sahri dibantu oleh para tetangganya. Layaknya keluarga demokrasi, dari tetangga oleh tetangga dan untuk tetangga.

Perbincangan pada malam itu penuh dengan kebahagiaan. Namun sesaat mereka teringat pada peristiwa bunyi burung pada bulan Rajab. Perbincangan mereka mulai pindah topik. Sejak semula bicara mengenai anak-anak mereka agar kelak bisa bersekolah dan sukses. Namun setelah teringat dengan bunyi burung malam itu mereka mengernyitkan dahi. Saling menatap. Menolah pelan penuh keheranan dan ketakutan. Karena itu menyangkut kematian salah satu tetangganya atau sanak keluarganya yang akan meninggal dunia.

Kira-kira siapa ayang akan meninggal dunia ya di antara kita? tanya Amam, adik Ipar Hafifah membuka kebekuan di kala itu.

Hush... Bicara apa kamu sih Kang? tegur Numa, istri Amam sendiri anak dari Isa sama dengan Hafifah. Ketakutan akan mati belum siap diterima oleh Numa yang mengasuh empat anak.

Keyakinan seperti itu mari kita jadikan sebagai peninggalan orang tua kita terdahulu saja, Dullah memberikan nasehat dalam forumnya. Dia ingin aman dan nyaman meski ada bunyi burung malam yang konon katanya menandakan sebuah kematian.

Ya, benar sekali, persetujuan muncul dari Emmat tetangga terdekat Sahri dari rumahnya.

Anak-anak yang bermain di waktu malam dengan bertelanjangan merapat. Mendekat dengan kumpulan orang-orang tua tadi. Mendengarkan perbincangan yang mengerikan itu. Tanpa suara dan tanpa ikut bicara mereka melongo heran dan ikut prihatin. Sahri hanya terdiam memikirkan ocehan para kerabatnya. Sesekali dia mengunyah jagung sangngar  sisa makanan anaknya sejak siang tadi. Batuk pun keluar dari tenggrokannya. Kini forum mulai agak riuh dan gaduh akibat batuk Sahri yang keras dan nyaring. Semua tetangga yang berkumpul berusaha saling bicara sekeras mungkin akibat batuk Shari yang begitu keras. Sedikit tawa mulai tampak dari bibir-bibir tua itu. Keadaan yang mencekam kini berganti gelak tawa yang menyenangkan.

Tanda tanya yang sejak tadi menjadi bahan perbincangan hilang seketika saat itu. Suara resek-resek dari bunyi tikar yang dilipat terdengar saat mereka akan bubar. Melupakan hal menakutkan dengan bubarnya forum menjadi kebiasaan Sahri dengan memberikan sensasi yang mengubah pandangan para tetangganya.

Sepulang para tetangga dari rumah Sahri, Tarisman beranjak tidur dengan ditemani ibunya. Tarisman masih bertanya-tanya ketakutan pada dirinya yang penuh kekhawatiran. Memaksakan untuk mengarungi indahnya tidur itulah yang menjadi jawaban atas kerisauan perasaannya yang menggelisahkan dirinya.

Bu, apa benar ya kalau ada burung malam itu pasti di antara kita ada yang akan meninggal? tarisman tanya penuh keheranan pada ibunya sebelum mata sipitnya beranjak meninggalkan dinginnya malam.

Ya nak, kata orang tua kita sejak dahulu begitu, jawab Sahri yang mulai sejak tadi berbaring di ranjang sebelah dengan sepotong rokoknya. Tarisman hanya menoleh mendengar jawaban sang ayah memberikan kepastian. Begitu pula ibunya menoleh tampak kecewa dengan jawaban Sahri dengan meyakinkan anaknya terhadap mitos yang belum jelas kepastiannya.

Jangan pikirkan hal itu, kamu masih anak-anak.

Ya bu, Tarisman hanya takut bapak atau ibu yang akan meninggal.

Hhh... Ya berdoalah nak, semoga bukan di antara keluarga kita yang akan meninggal belakangan ini.

Amin.

Ya, perbanyak berdoa. Takdir kematian itu di tangan Tuhan bukan ada pada bunyi burung malam itu, tukas Sahri setelah merasa perkataannya tadi salah.

Hidup dan mati kita berada dalam kekuasaan tuhan yang telah digariskan sejak kita berada dalam kandungan, jika sudah waktunya mati, ya kita akan mati, tambah Sahri memberikan sedikit pencerahan pada Tarisman agar tidak begitu risau memikirkan bunyi burung dheris itu. Rokok yang mulai tadi diseroptnya kini mulai memendek hampir membakar jari telunjuknya, lalu puntung rokoknya dibuang sambil menyelimutkan sarung lusuhnya ke seluruh tubuhnya, tidur melingkar layaknya tenggiling bertemu manusia. Suasana sedikit sepi setelah Tarisman tidak lagi mengomel.

Malam sudah mulai beranjak menyusuri kata-kata keluarga Sahri. Sinar rembulan mulai terlihat di atap rumahnya menembus genting yang diganti dengan serpihan kaca agar ketika malam atau siang hari rumah Sahri tidak begitu gelap gulita.

Kelepak-kelepak kelelawar yang mencium harum buah pisang di atas atapnya sering membangunkan dari tidurnya. Hingga kadang sampai dini hari Sahri dibangunkan oleh kelepak sayap kelelawar yang datang dan pergi memakan pisang yang sudah menguning.
***

Sinar rembulan menunjukkan tanggal sepuluh bulan Syaban. Sinarnya mulai lebih terang dibanding malam-malam sebelumnya. Sahri pergi bertamu ke rumah Emmat sebelah barat rumahnya. Isa, nenek Tarisman pergi menggiling jagung ke rumah Dulla. Numa dan Amam pergi ke arisan rutinan setiap malam Rabu. Kini di rumah Sahri tinggal istri dan anaknya berdua. Keadaan sepi menyelimuti rumah Sahri. Tak seorang pun dari tetangganya berkunjung ke rumahnya.

Memang sejak malam Selasa para tetangga Sahri tidak mendatangi rumahnya untuk ngobrol bersama. Mereka mengunjungi rumah Sahrum yang sedang sakit parah. Sahrum hanya memiliki satu anak perempuan yang belum nikah, Hawa. Seorang istri yang juga sama dengan usianya, tua rentah yang kurang sanggup mengurusi Sahrum sakit. Sehingga para tetangganya datang membantunya.

Namun sayang, pada malam itu Sahrum dijemput oleh takdirnya menemui hidup yang abadi. Suara kerumun para tetangganya mulai ramai di rumah Sahrum. Begitu mendengar kematiaany, Hafifah dan Tarisman buru-buru berangkat melayatnya tanpa menuggnu keluarganya. Ia berangkat berdua dengan Tarisman. Meski sinar rembulan terang menyinari perjalanannya, Tarsiman membawa lampu lilin kesayangannya yang dibeli di tokoh jauh dari rumahnya. Sementara ibunya membawa lampu dari kaleng susu cap nona yang ditabiri daun pisang agar tidak padam saat diterpa angin malam.

Isak tangis di rumah Sahrum berderum bagaikan bunyi lebah pada waktu tengah hari. Tarisman tak mengerti akan arti sebuah rasa iba. Ia hanya melihat mayat Sahrum saat dimandikan pada malam itu juga. Selepas ibunya menemui Hawa, istri Sahrum, ia langsung mengajak pulang Tarisman dan Isa.

Di tengah perjalanan pulang mereka bertemu dengan Bukkul. Salah satu tetangga sekaligus keponakan ipar Sahri. Ia bingung di pinggiran jalan mencari sesuatu di bawah pohon siwalan yang agak redup dari terangnya sinar rembulan. Dengan lampu senter yang menyala sejak tadi, tiba-tiba mati seketika.

Cari apa kamu cung? sapa Isa dengan panggilan akrabnya sebagai anak yang lebih muda dari usianya.

Tadi saya melihat seseorang serba putih di sini, lalu berjalan ke bawah pohon siwalan ini. Tapi gak ada.

Kenapa dicari?

Saya khawatir maling yang mengumpat di sini.

Mungkin Thintetin, sambung Hafifah mengagetkan suasana.

Dengan spontan Bukkul melompat kaget dan takut. Tarisman memegang erat ibunya karena takut. Bulu-bulu kuduk mereka mulai berdiri setelah Hafifah mengatakan Thintetin. Isa dan Hafifah dengan menggendong Tarisman buru-buru pulang karena merasa takut. Begitu juga dengan Bukkul ia langsung menuju rumah Sahrum dengan lampu senter yang menyala seketika.

Setiba di rumah, Isa langsung berbaring di atas ranjang reotnya dengan alas tikar dari anyaman daun siwalan. Hafifah menyiapkan tempat tidur Tarisman. Dengan rasa kebelet yang tak dapat ditahan lagi, Tarisman pamit minta diantar kencing di teras halaman rumahnya.

Bu, antar... Aku kebelet kencing.

Ya bentar, pake sarung ya... sahut Hafifah dari dalam kamar menyelesaikan persiapan untuk tidur anaknya. Namun Tarisman tidak menggubris kata-kata ibunya tadi. Ia kencing di teras halaman rumahnya dengan telanjgan bulat. Lalu ibunya menyusu dari kamar menuju halaman rumahnya.

Di bawah terangnya sinar rembulan malam itu aliran air kencing Tarisman kelihatan bagai segumpal awan yang dibawa angin di halaman rumahnya. Dengan tidak disengaja ia melihat ke gang rumah bibinya di sebelah selatan. Tiba-tiba melihat sosok manusia berjubah serba putih dan berjalan bagaikan sorang pengantin. Pelan, pelan sekali. Dia hanya terheran-heran.

Masak malam-malam seperti ini ada orang di sana, gumamnya dalam keadaan bejongkok menuntaskan air kencingnya.

Bu, itu siapa ya berjalan di selatan rumah bibi? tanya Tarisman penuh keheranan.

Mana nak? Tidak orang kayaknya.

Sudah, berlalu ke arah timur bu. Ayo kita lihat bu....

Gak ah, takut. Ibunya langsung mengajak Tarisman masuk rumah. Namun tarisman masih penasaran. Ia mengajak neneknya untuk melihat lebih jelas lagi.

Mana orangnya nak? tanya Isa tidak betah ingin cepat melihat orang yang dimaksud cucunya tadi sambil menjingjing sarung cucunya.

Bentar nek, jalannya sangat pelan, pelan sekali. Masih dalam keadaan telanjang bulat Tarisman membujuk neneknya.

Sudah lama menunggu. Tak muncul-muncul juga. Isa mulai merasa dibohongi oleh cucunya sendiri. Setelah mulai putus asa karena kelamaan menunggu. Isa mengajak kembali ke kamar untuk tidur. Namun Tarisman ngotot tak mau atas ajakannya.

Nek, itu dah kelihatan berjalan ke arah timur, Tarisman menunjukkan dengan menudingkan jari telunjuknya.

Mana? Nenek gak melihat kok, Isa pura-pura heran, meski sebenarnya ia sangat takut denan bulu kuduknya berdiri semua.

Namun ia sadar bahwa yang dilihat oleh cucunya itu sosok Thintetin atas kematian Sahrum tadi. Cuma ia tidak bilang pada Tarisman, agar dia tidak ketakutan dan pingsan.

Pada pagi hari Hafifah menasehati Tarisman. Bahwa kalau mau kencing pada waktu malam, apalagi kebetulan ada orang yang meninggal jangan telanjangan. Orang yang telanjangan, meski usianya sudah dewasa masih bisa melihat Thintetin. Apalagi anak-anak yang masih belum baligh. Meskipun tidak telanjangan bisa melihat.

Seandainya kamu tahu yang kamu lihat tadi malam itu Thintetin, maka kamu akan segera pingsan, pertegas Hafifah pada Tarisman. Selain bisa melihat Thintetin, larangan telanjang di daerah Sahri menjadi sebuah kebiasaan agar anak-anak mereka terbiasa dengan selalu memakai busana.***

Surabaya, 04 Mei 2012



Junaidi Khab
Bergiat di Komunitas Sastra IAIN Sunan Ampel Surabaya dan bergabung di Pondok Budaya Ikon Surabaya.
KOMENTAR
Terbaru
Minggu, 20 Mei 2018 - 11:52 wib

Pentingnya Terapi untuk Orangtua Anak Autis

Minggu, 20 Mei 2018 - 11:50 wib

Awali Kebangkitan Superhero Indonesia

Minggu, 20 Mei 2018 - 11:41 wib

Kado Terakhir Iniesta

Minggu, 20 Mei 2018 - 11:40 wib

Petasan Dilarang, Satpol PP Patroli Pasar Ramadan

Minggu, 20 Mei 2018 - 11:37 wib

Tiga Kali Panggilan Hearing Tak Digubris

Minggu, 20 Mei 2018 - 11:31 wib

Tegang Jelang Ucap Janji

Minggu, 20 Mei 2018 - 11:27 wib

Menulis Tradisi dalam Bait-bait Puisi

Minggu, 20 Mei 2018 - 11:24 wib

Bandar Kayangan, Unik nan Menarik

Follow Us