Jelang Rebah

Minggu, 06 Apr 2014 - 10:39 WIB > Dibaca 3133 kali | Komentar

Bawaan kebudayaan kita, konsumtif. Pelakunya bertabiat sebagai konsumen. Kebudayaan kita tak produktif, yang tak memungkinkan orang-orangnya menjadi produsen atau produser. Setelah mengenal warna dunia, orang-orang yang berkebudayaan konsumtif itu bertindak lebih dahsyat lagi; gila bergaya. Kebudayaan ini tak lagi diisi dengan serangkaian perbuatan yang berkaidah intelektual. Kita didorong menjadi semajelis manusia yang mengumpulkan harta dan modal sebanyak mungkin. Kaidah-kaidah yang mencerahkan telah menjadi sesuatu yang gersang dan dirindukan kehadirannya. Tak ada lagi tradisi diskusi buku besar, karya tinggi dunia yang berlangsung di kampus-kampus, di pusat-pusat kebudayaan dan kesenian. Diskusi buku memang ada, namun parasnya terasa menjemu. Buku yang didiskusi atau yang dibincangkan adalah buku-buku lokal, buku-buku tentang pencarian identitas serombongan orang-orang kalah yang hendak menegakkan tiang kemenangan di rumah sendiri.

Peluncuran buku marak menghias negeri ini yang juga diikuti dengan bedah buku. Tapi, hanya biografi singkat, hanya kumpulan tulisan, yang ditulis untuk jadi instrumen mengumpul orang dalam jumlah banyak dalam masa-masa kampanye calon legislatif dan senator DPD. Buku yang diluncurkan terasa gamang, karena hanya membesar-besarkan badan dan diri di tengah kegamangan identitas kebudayaan yang tengah diidap oleh Melayu hari ini. Ketika kita meng-arak lokalitas sebagai junjungan dan jati diri, kita seakan memencilkan diri dari gemuruh mondial, gempita global. Kita sibuk membesar-besar sesuatu yang lokal. Tapi tak berani bersaing dan bertanding dengan serombongan kebudayaan dunia lainnya. Kita malah mengisolir diri dengan kebesaran yang dikonstruksi, padahal sejatinya menyesatkan.

Seakan kita tak kenal teman, tak pandai berkawan dengan majelis warga dunia lainnya. Di satu sisi kita ingin menjadi pusat kebudayaan regional. Tapi, pada sisi yang lain kita tak berdialog dengan dunia. Tepatnya tak melakukan dialog dengan kebudayaan yang berada di sekeliling kita. Kita tak menguasai instrumen dan perangkat alat yang dijadikan media untuk berdialog dengan kebudayaan bangsa lain. Kita tak menggali kreativitas yang dalam dari diri sendiri yang berujung pada kreativitas kekinian, sehingga dia menjadi penanda kebesaran kita hari ini. Penanda kebesaran itulah salah satu bentuk dialog yang harus dihidang ke depan dunia.

Kita tak memiliki monumen yang gagah di masa lalu. Yang tersisa hanya Muara Takus. Namun, sisa monumen ini tak berdampak pada sistem kepakaran seni bina dan aristektural atau pun lanskap generasi hari ini. Para pemahat dan arsitek yang membangun Muara Takus yang gagah dan bersendi pada keseimbangan alam, tak mengalir menjadi darah dan tabiat kepada generasi sekitar candi itu berada hari ini. Seni bina rumah tempat tinggal dan gedung-gedung yang diharapkan menjadi ikon peradaban Melayu hari ini, tak menyentuh sisi seni bina yang handal dan kemuncak. Rumah yang dibangun hari ini hanya untuk memenuhi keperluan dasar tempat berteduh dan mengurus zuriat. Dia tak menjadi bagian dari ekspresi seni tinggi dan punggahan jiwa yang lentik terhadap alam makrokosmos.

Apa dan di mana salahnya? Kita pun tak tahu. Kalau dikatakan ikita hanya mewariskan tradisi arsitektural dengan bahan kayu, juga ihwal ini tak mengalir dan terbantahkan. Karena kepakaran itu kian menyusut dan menghilang, seiring dengan kian langkanya bahan baku kayu hari ini. Tradisi perkebunan, persawahan kita hanya dimaksudkan untuk memenuhi keperluan satu keluarga batih. Tidak dimaksudkan sebagai pemberi makan warga dunia. Sehingga dia tak berorientasi ekspor. Dia berorientasi ke dalam. Demi dan untuk kita dan sesame kita. Dari sini, bukti kita hanya hidup seolah-olah sendiri, tak dimajeliskan olh kehadiran orang dan bangsa-bangsa lain.

Manusia Jawa sekitar Prambanan dan Borobudur masih meneruskan tradisi kepakaran batu dan ukir batu. Seni bina rumah juga merujuk pada kepakaran batu, susun batu pecah tak beraturan. Seni ini dilanjutkan oleh generasi hari ini. Ihwal yang sama tak terjadi bagi kawasan desa Pongkai, Koto Tuo dan Muara Mahat. Mengapa bisa begini? Apakah klaim Melayu Islam dan Islam Melayu turut meredupkan tradisi kepakaran yang semestinya turun temurun ini? Apakah ketika kita memeluk Islam, sehinga segala sesuatu yang berbau masa lalu yang kebetulan bersuasana Budha, langsung dianggap zindiq, musyrik? Atau malah kita boleh berkelana dalam pelancongan pemikiran; apakah para arsitek dan para tukang yang dilibatkan membangun kompleks candi Muara Takus itu didatangkan dari luar wilayah ini? Atau malah didatangkan dari luar tanah Swarnadwipa pada suatu masa?

Yang jelas, kita bukanlah jenis bangsa perajin, bangsa kreatif dan produktif. Tetapi kita adalah sebarisan manusia konsumtif. Tak pernah membuat, berbuat dan taka da yang akan diwariskan kepada generasi dan waktu sejarah. Karena kita beranggapan, bahwa hidup ini hanya numpang lewat. Sembari lewat, maka petiklah apa yang Nampak, cabutlah aapa yang terbenam, lalu di makan, bukan malah diolah menjadi sesuatu penanda abadi, yang bisa menunjukkan tentang kehadiran kita pada sebuah lini masa, dengan seperangkat penanda yang menjadi oleh-oleh atau pun buah tangan bagi generasi maa depan yang bakal lebih konsumtif dari datuk mereka hari ini. Kenapa demikian? Karena kitalah yang mengajar dan mendidik mereka menjadi makhluk konsutif. Tak produktif. Wah ini hanya menjelang terjerembab dan rebah.***
KOMENTAR
BERITA POPULER
Alamak... Istri Ketahuan Selingkuh dengan Brondong Penghuni Kos

Alamak... Istri Ketahuan Selingkuh dengan Brondong Penghuni Kos

24 Feb 2018 - 00:02 WIB | 509 Klik
Joko Widodo Sebut Siapa Nama yang Akan Dampingi Maju sebagai Capres

Joko Widodo Sebut Siapa Nama yang Akan Dampingi Maju sebagai Capres

24 Feb 2018 - 00:09 WIB | 418 Klik

Proyek Tol Dievaluasi

24 Feb 2018 - 09:24 WIB | 65 Klik
Ribuan Ikan Mengapung di Sungai Kerumutan

Ribuan Ikan Mengapung di Sungai Kerumutan

24 Feb 2018 - 09:02 WIB | 61 Klik

APBD Rohul 2018 Dibatalkan Masyarakat Diminta Tenang

24 Feb 2018 - 09:28 WIB | 39 Klik

Follow Us