Perempuan yang Menunggu

17 Februari 2013 - 07.58 WIB > Dibaca 7718 kali | Komentar
 
TELAH lima hari, Jefri memperhatikan perempuan itu duduk  di samping jendela. Ia memandang arah keluar jendela, seperti sedang menunggu seseorang. Perempuan itu hanya memesan secangkir cappuccino dengan gambar cinta menghiasi. cappuccino tidak langsung diminumnya, ia memandang ke dalam cangkir itu, seakan menikmati gambar cinta yang mengambang di atas secangkir cappuccino tersebut.

Kedatangan perempuan itu di cafi, menjadi perbincang hangat di antara kami, pelayan cafi ini. Ada berbagai asumsi mengenai perempuan tersebut.

Aku yakin perempuan itu sedang menunggu kekasihnya.

Namun kenapa kekasihnya tak juga datang?

Ya, perempuan itu hanya duduk, memesan secangkir cafucino, memandangi gambar cinta lalu meminumnya dengan sangat perlahan. Lalu kembali dia memandang keluar. Entah apa yang diperhatikannya di jalan itu.

Aku rasa dia bukan menunggu kekasih, aku yakin dia seorang dektektif perempuan, ataumata-mata dari CIA.

Huuuuu.korban film trhiler kamu!

Sssst... bisa jadi betul apa yang dikatakan Jono, lalu apa kamu punya asumsi lain kenapa perempuan itu duduk di tempat yang sama, di jam yang sama, dengan kegiatan yang sama pula?

Perempuan itu duduk di tempat yang sama, di jam yang sama dengan kegiatan yang sama karena dia merasa kegiatan itulah yang disukainya, dia mungkin perempuan kesepian dan menunggu seseorang menyapanya.

Aku rasa asumsimu salah besar, perempuan kesepian? Tidak tercermin dari dirinya. Dia tidak berupaya menarik perhatian orang-orang di sekitarnya, dia hanya asik dengan dirinya sendiri, kalian perhatikan saja, kadang selain memandang keluar, dia terus saja memutar cincin yang melingkar di jari manisnya itu. Berarti dia perempuan yang sudah menikah bukan? Sekarang pertanyaan kita, apa yang dilakukan perempuan yang telah menikah di jam sekarang ini. Tentu perempuan berada di rumah, berada di tengah-tengah keluarganya, namun perempuan ini tidak, dia lebih memilih duduk di cafe.

Mungkinkah dia sudah bercerai dengan suaminya? Dan dia tidak tahan dengan tingkah laku suaminya lalu memilih untuk duduk di cafi ini. Atau perempuan itu habis disiksa lakinya dan berlari ke cafi ini untuk menghirup udara segar sejenak.

Bisa jadi, namun ada satu pertanyaan lagi, bukan..bukan... masih banyak lagi pertanyaan. Ya, kenapa dia memesan cappuccino dengan gambar cinta? kenapa dia memandangi terlebih dahulu cappuccino itu baru ia meminumnya dengan sangat hati-hati agar gambar cinta itu tidak ikut terhirup olehnya? Kenapa setelah meminum seteguk cappuccino dia kembali memandang keluar jendela. Seperti ada sesuatu di luar saja, kemudian kenapa...

Satu-satu pertanyaanmu itu, kita harus mememecahkannya satu persatu, kalau tidak kita akan lebih dilanda kebingungan.

Yang pertama yaitu pertanyaanmu kenapa  memesan cappuccino dengan gambar cinta? Mungkin saja dia sedang jatuh cinta atau sebaliknya, ia sedang patah hati. Dengan meminum cappuccino dengan hiasan gambar cinta, ia seperti mendapatkan kekuatan.

Ya..itu masuk akal.

Kedua, kenapa dia harus memandangi gambar cinta itu sebelum menghirup dan menghabiskan secangkir cappuccino tersebut? Mungkin saja dia ingin menikmati keindahan gambar cinta itu dan meresapi makna gambar itu.

Pintar juga kau Jef, nah lalu...

Lalu yang ketiga, kenapa setelah dia menghirup seteguk cappuccino dia kemudian  memandang keluar, mungkin saja dia ingin memastikan kedatangan seseorang, seseorang yang begitu dekat di hatinya.

Ok. Sekarang kita sepakati, dia perempuan yang menunggu seseorang yang ia cintai namun tidak kunjung datang, tapi dia tidak menyerah dan tetap menunggu seseorang itu, bukan begitu?       

Yapasti begituatau dia menunggu suaminya yang tak kunjung pulang.

Pokoknya menunggu seseorang lah...

Atau bukan menunggu seseorang, tapi menunggu sesuatu, mungkin menunggu merahnya Senja yang akan menghampirinya, menunggu malam yang akan memeluknya dengan purnama, atau menunggu siang dengan matahari yang membakar dirinya atau...

Ah!!!!!! Kan dari awal lagi kalau kau memaparkan banyak asumsi seperti itu, membuat kita semua kembali bingung.
***

Kedatangan perempuan itu di cafi tempatnya bekerja menjadi suatu keasikan tersendiri bagi Jefri, perempuan itu tidak ada sedikitpun melakukan aktifitas seperti tamu-tamu lainnya. Kebanyakan dari pelanggan yang datang, ada sekelompok orang berbincang, merokok, minum. Dan bila ada tamu yang datang sendirian pun, mereka sibuk dengan lektop membuka  file atau sekedar up to date status di jejaring sosial. Ada yang asik dengan mengotak-atik BB dan tersenyum sendiri ketika membaca di BBM. Namun perempuan ini tidak melakukan aktifitas semua itu. Dia tampak duduk tenang, memandang keluar dan tetap memesan cappuccino yang sama yaitu dengan hiasan cinta mengambang di cappuccino tersebut.

Ingin rasanya jefri mendekati perempuan tersebut dan mengajak dia berbicara, namun setiap saat Jefri mendekatinya dan menanyakan pesanan perempuan itu, dirinya begitu enggan untuk memulai percakapan yang lebih intens. Jefri merasakan perempuan itu hanya ingin kesendirian. Dan kehadiran Jefri nantinya malah akan mengganggu ritual hariannya. Akhirnya Jefri memutuskan memandang perempuan tersebut dari balik mejanya.

Namun hari ini, kebiasaan yang ia lakukan, menanyakan pesanan kepada perempuan itu lalu kembali ke mejanya dan memandangi perempuan tersebut terhenti. Karena perempuan itu tidak kunjung datang hingga cafi tutup. Apa yang terjadi pada dirinya? Pikiran Jefri berkecamuk dan pertanyaan berputar-putar di kepalanya. Absennya perempuan itu menjadikan perbincangan tak kalah hangat daripada perbincangan mengenai kasus Korupsi di negeri ini di kalangan pelayan di cafi tersebut.

Aku rasa asumsiku yang semula yang betul, perempuan itu ternyata seorang intel atau dektektif yang melacak penjahat di luar sana, dia lagi menyelidiki seseorang...

Sudah lah Wan, imajinasimu terlalu liar.

Aku khawatir karena perempuan itu tidak datang.

Kenapa kau khawatir?

Bisa jadi perempuan itu terbaring sekarang di rumah sakit karena disiksa oleh suaminya yang kejam. Dia selama ini duduk di cafi mungkin untuk melarikan diri dari siksaan suaminya itu.

Kau lagi... sama saja sama si Wawan, kau kebanyakan nonton sinetron nih!

Jadi menurutmu apa, kenapa tiba-tiba perempuan itu tidak datang? Padahal sudah hampir dua bulan ia datang ke cafi ini, dengan jam yang sama, pesanan yang sama dan tiap hari melakukan kegiatan yang sama. Lalu tiba-tiba perempuan itu menghentikan kegiatannya itu dan menghilang begitu saja, apa asumsimu yang paling tepat untuk kasus ini?

Aku rasa dia telah menemukan seseorang itu, seseorang itu telah menepati janjinya, dan dia telah hidup bahagia dengan orang tersebut. Dia tidak perlu lagi menikmati kesendiriannya duduk di cafi ini menunggu orang itu. Karena seseorang itu telah berada di rumah bersamanya.

Akhir yang bahagia, tapi bagaimana kalau hal sebaliknya terjadi, dia merupakan perempuan korban kekerasan rumah tangga secara pisikis dan jasmani. Kemarin mungkin ia tertekan dan sekarang ia mengalami kekerasan fisik. Mungkin saja sekarang perempuan itu berada di rumah menahan sakit dan perih akibat kekejaman suaminya?

Ah! Kalau asumsimu benar, gawat itu, kita harus segera menolongnya, kita harus melaporkan ke polisi hal ini.

Semprul! Melaporkan bagaimana, kita tidak tahu siapa dia, alamatnya dan dia ada dimana pun kita tak tahu, kasus yang jelas saja sering tidak ditindaklanjutkan oleh pihak berwajib apalagi yang tak jelas seperti ini.

Atau bisa jadi dia menemukan tempat baru...

Itu tidak mungkin!

Kenapa tidak mungkin?

Karena cafi kita adalah kedai kopi yang terkenal keharuman dan kelezatan kopinya. Dan aku melihat perempuan itu seorang pencinta kopi. Ia akan memilih tempat terbaik untuk menunggu seseorang.

Semua pelayan cafi terdiam, mereka tak kunjung mendapatkan jawaban mengapa tiba-tiba perempuan itu menghilang, kenapa perempuan itu tidak datang lagi ke cafi dan melakukan kegiatan yang biasa ia lakukan setiap hari. Duduk di jendela yang mengarah ke jalan yang banyak dilalui oleh para pejalan kaki, memesan secangkir cappuccino dengan hiasan gambar hati, memandangi gambar hati lalu menghirup seteguk cappuccino itu dan kembali memandang keluar jendela.
***

Hari itu, cukup membuat lega para pelayan cafe, karena perempuan itu kembali datang, setelah absen datang tiga minggu lamanya. Jefri menghampiri perempuan tersebut dan menanyakan pesannya walau jefri tahu, pasti perempuan itu akan memesan cappuccino dengan bentuk yang sama yaitu gambar cinta yang menghiasi cappuccino tersebut.

Pesan apa Mbak?

Secangkir cafucino, namun tolong letakkan rembulan ke dalamnya ya?

Pena Jefri terhenti menulis, ia memandangi perempuan tersebut.

Perempuan itu tersenyum, kenapa? Heran kenapa aku meminta gambar rembulan? kata perempuan tersebut lalu dia menghela nafas. Ada perempuan yang merasa kiamat telah mendatangi dirinya, saat suatu malam ia dipaksa diseret oleh laki-laki ke dalam gudang tua, dipaksa melepaskan bajunya dan ia dihujamkan berpuluh puluh belati di selangkang vaginanya. Tidak sedikit perempuan yang hidup dibalik jeruji penjara yang diciptakan oleh dirinya sendiri lalu ia menangis  karena tidak mampu keluar dari penjara tersebut, bahkan ia berupaya mengutuk setiap orang yang melewatinya, namun suaranya tak kunjung keluar. Hanya sebatas itu.

Namun tak sedikit juga perempuan yang berlayar di samudera luas, tak gampang dihantam gelombang ke batu karang, karena ia tahu percuma mengutuk hidup itu, hidup ya begitulah, seperti para ibu yang rela tangannya berlumuran darah, kakinya tak lagi halus menawan demi  kehidupan janin yang semakin membesar di perutnya.  Banyak perempuan sekarang menjadi pelayan tanpa bayaran sepadan tapi tak sedikit pula yang memilih menjadi cukong dan melepaskan beribu anak panah pada perempuan lain yang berada di bawah kekuasaanya. Apakah kita bisa memilih nasib mana yang ingin kita lalui? Apakah kita mampu menentukan takdir kita? Aku melihat sibuknya orang-orang lalu lalang di jalan, dengan berbagai macam kehidupan mereka, perempuan-perempuan menghitung setiap langkah kakinya. Apakah perempuan-perempuan itu mencapai apa yang mereka tuju? Sebelumnya aku berpikir, dengan cinta akan mengantarkan kita kepada apa yang kita inginkan, mengantarkan ke nasib yang lebih baik menurut keinginan kita. Tapi ternyata tidak, aku masih memerlukan rembulan. Karena cintaku belum ada cahaya, masih bersembunyi dalam pekatnya malam, lanjutnya panjang lebar, lalu mengeluarkan sebuah buku dari tasnya meletakkan buku tersebut di atas meja.

Jefri terdiam dan memandang nanar kepada perempuan tersebut.

Perempuan tersebut memandang Jefri dan berkata, Jadi aku memutuskan kembali ke sini dan memesan cappuccino dengan rembulan di dalamnya, aku sangat berharap cahaya itu datang, kata perempuan itu sambil tersenyum.

Jefri mencatat pesanan perempuan itu dan kembali ke mejanya, ia membuatkan pesanan dan mengantarkan kepada perempuan tersebut.

Perempuan itu memandangi secangkir cappuccino itu sebelum ia menghirupnya, rembulan masih tetap di cangkir tersebut hingga tetes terakhir, rembulan pun bermain dalam diri perempuan tersebut.***

Pekanbaru, 16 Oktober 2012


DM Ningsih
Anggota Teater Matan, bekerja di Sekolah Tunas Bangsa sebagai Wakil Kepala Sekolah PG/TK.
KOMENTAR

Follow Us